
Bab 107
Bukan Tanggung Jawabku
(POV Author)
Dari percakapan teman-teman Siska yang Fandi dengar, pria itu menarik kesimpulan bahwa yang bernama Arjuna adalah lelaki yang telah menghamili Siska. Fandi pun segera mencari tahu siapa si Juna ini. Fandi menyuruh orang untuk mencari tahu sosok Juna di kampus, lalu di tempat-tempat di mana Siska sering nongkrong. Siapa saja teman lelaki yang dekat dengannya bahkan juga teman-teman sesama wanita pun tidak luput dari keinginan Fandi untuk tahu.
Fandi yang begitu sibuk tidak banyak memiliki waktu untuk mengurusnya sendiri. Ia pun menyuruh seorang informal untuk mencari tahu walaupun harus merogoh uang cukup banyak.
Fandi berharap seminggu sebelum berangkat bulan madunya bersama Nuning, masalah Siska sudah bisa diatasi dan menemukan solusinya.
Sementara itu, Siska terlihat depresi ia mengurung dirinya di kamar dan tidak ingin bertemu siapapun. Matanya selalu sembab oleh karena ia masih saja menangis sesekali. Tubuhnya lemah dan matanya sayu, serta rambutnya kusut acak-acakan. Siska yang biasa merawat dirinya kini tampak kusam. Hal itu membuat pilu hati Sang Ibu yang melihatnya setiap hari ketika mengantarkan makanan.
"Fand, Apa sudah kamu tahu siapa lelaki itu?" Tanya sang ibu ketika Fandi mampir sebentar ingin mengetahui keadaan siska pasca tiga hari setelah pernikahannya dengan Nuning.
"Sebentar lagi informasinya akan dikumpulkan Bu. Aku sudah menyuruh informan, dan dia meminta waktu selama 3 hari."
"Kamu harus memaksanya bertanggung jawab Fandi, harus! Ibu tidak tega melihat Siska seperti itu. Walaupun dia banyak melakukan kesalahan dan membuat Ibu kecewa tapi bagi Ibu dia tetaplah seorang anak. Ibu ingin yang terbaik untuknya. Ibu tidak mau melihatnya tersakiti seperti itu."
Bu Naima mengeluarkan keluh kesahnya. Sesekali ia menghela napas berat menghadapi kenyataan yang harus di lalui.
"Cobalah kamu berbicara dengannya Fandi, Ibu takut mentalnya akan semakin terganggu." Ujar Ibu Naima lagi.
"Dia tidak akan bisa lepas dariku jika aku masih saja di dekatnya Bu. Biar saja ada orang lain di dekatnya agar perhatian dan curahan kasih sayang pindah kepada orang itu. Mengobati orang yang Obsesi terhadap cinta bukanlah mudah. Aku harus memiliki kesalahan dan kejelekan di matanya sehingga ia menurunkan kadar cintanya kepadaku. Sebagai gantinya, harus ada seseorang yang berada di sampingnya yang tulus memberikan kasih sayang terhadapnya Jika seperti itu, aku yakin nantinya obsesinya lama-lama akan hilang dan akan tumbuh cinta baru untuk orang yang berada dekat di sampingnya." Jelas Fandi.
"Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar. Sungguh Ibu tidak tega melihat adik mu seperti itu."
Fandi memutuskan untuk mengakhiri pembicaraannya pagi itu dengan sang ibu.
"Aku berangkat kerja dulu Bu. Kalau ada apa-apa, kabari saja."
"Ya baiklah, berhati-hatilah."
Fandi mengangguk menjawab ucapan ibunya. Ia pun masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju ke kantornya.
__ADS_1
Keadaan jalan seperti biasanya, sedikit macet namun masih bisa di lewati. Hingga pukul 07.56 Fandi baru tiba di kantornya.
Sesampai di kantor, ia pun meletakkan tas kerjanya dan duduk di kursiny dalam ruangannya.
"Natalie, tolong panggilkan Roy ke ruangan saya ya."
"Maaf Pak. Sepertinya Pak Roy belum datang." Jawab sekretaris Fandi.
Fandai melirik ke arloji di tangannya. Keningnya berkerut dan tampak berpikir.
"Baiklah, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu."
"Baik Pak, permisi."
"Tumben dia datang kesiangan. Apalagi tidak memberi kabar terlebih dahulu." Gumam Fandi pada angin.
Sementara itu di rumah orang tua roy.
Roy dan Indah membatalkan kepergian mereka ke tempat kerja masing-masing. Bahkan Abi dan Uminya pun sampai tidak pergi ke toko mereka hari ini.
Wajah Umi tampak syok ditemani sang Abi yang duduk di sampingnya. Sedangkan Roy dan Indah duduk berdekatan bersama tampak tenang.
Roy dan Indah sudah kenal siapa wanita itu. Mereka sebelumnya sudah pernah bertemu di sebuah Kafe.
"Bisa kamu jelaskan kepada Umi Roy? Sebenarnya ini apa yang terjadi?" Tanya sang Umi dengan wajah bingung.
"Sebaiknya kita dengarkan dulu tujuan wanita ini ke sini Umi." Jawab Roy tapi pandangannya datar menatap wanita yang begitu santai mengacaukan suasana pagi itu.
"Katanya ini anakmu Roy. Dia menunjukkan foto kalian semasa masih pacaran. Jadi kamu selama ini membohongi Umi? Kamu tidak pernah jujur sama Umi kalau ternyata kamu juga bisa berpacaran. Umi kira selama ini kamu tidak normal Nak."
"Ck, aduh Umi... Dari dulu aku sudah bilang aku ini normal. Siapa yang pacaran Mi? Roy tidak pernah pacaran kok, beneran Mi."
"Lalu dia siapa Roy? Bawa-bawa anak mana mirip pula dengan kamu wajahnya."
Roy gemes dengan Uminya yang mudah di perdaya oleh wanita itu. Pria itu kebingungan sendiri. Pasalnya sang istri anteng saja, malah sang Ibu yang kebakaran api cemburu eh, kebakaran jenggot walau tidak punya.
__ADS_1
Roy menarik napas dan membuangnya perlahan untuk menambah ekstra kesabaran dalam dirinya.
"Dia itu Sintia, Umi. Wanita yang dicari-cari Ray dulu."
"Haaah?! Apa?! Jadi dia..."
Umi tampak terkejut bukan sebuah rahasia dalam keluarga itu bahwa kematian Ray, putra tertuanya kembaran Roy akibat depresi berat dan stres karena ditinggal kekasih yang tercinta.
"Kamu jangan diam saja Sintia! Cepat jelaskan kepada Umiku?!" Sergah Roy.
Wanita yang bernama Sintia itu menghela napas sebelum memulai bicara.
"Aku minta maaf. Dulu aku memang berpacaran dengan Ray dan aku juga berpacaran dengan Robert. Ketika aku hamil, aku bingung anak siapa yang aku kandung jadi aku memilih Robert itu yang lebih terlihat mapan daripada Ray. Rupanya aku salah. Ketika anak ini lahir dan semakin besar, wajahnya semakin mirip dengan Ray lalu Robert mencampakkanku dan aku di ceraikan. Saat aku kembali kesini ingin menemui Ray, tapi ternyata dia sudah meninggal. Lalu bagaimana dengan nasib anakku?! Setidaknya harus ada yang bertanggung jawab."
"Maksudmu tanggung jawab bagaimana?" Tanya Roy ingin lebih jelas.
"Nikahi aku, agar anakku memiliki seorang ayah tentu. orang tidak akan menduga jika ini adalah anak Ray karena kalian kembar."
Roy meradang, darahnya naik ke level atas.
"Kamu jangan gila ya!! Aku sudah menikah dan dia Ini istriku." Ujar Roy menunjukan genggam tangannya dengan Indah. "Soal bertanggung jawab kurasa tidak perlu menikah. Jika kamu tidak bisa membesarkan anak itu, berikan saja kepada kami. Umiku pasti akan dengan senang hati merawatnya. Iya kan Mi ?" Ujar Roy yang langsung bernada lembut ketika bicara dengan Uminya.
Walau kesal harus menyetujui dan membenarkan apa yang anaknya katakan, Umi tidak bisa menyangkal karena apa yang Roy katakan adalah benar. Ia tidak mungkin menelantarkan darah dagingnya sendiri. Apalagi itu adalah cucu pertamanya.
"Bagaimana dengan aku? Aku tidak punya tempat tinggal sekarang. Aku hanya hidup di kos-kosan dan juga tidak mempunyai pekerjaan. Selama ini aku membesarkan Aditya sendirian. Bahkan tabunganku sudah habis. Apa kalian tega padaku?!"
"Biarkan anakmu, Umiku yang mengasuhnya dan membesarkannya. Kamu bisa memulai hidupmu yang baru. Tapi ingat, jangan pernah untuk mengambil kembali anak ini! Kamu boleh menjenguknya sesekali. Aku akan memberikan pekerjaan untukmu dan tempat tinggal yang cukup layak. Dan ingat semua ini harus ada perjanjian hitam di atas putih!" Ucap Roy tegas.
Roy tidak ingin kecolongan. Ia melakukan segala cara untuk mengamankan rumah tangganya. Ibarat kata sedia payung sebelum hujan.
Kita tidak pernah tahu dalam keadaan seperti apa dan dalam kondisi bagaimana atau hal apa yang dapat menghancurkan rumah tangga kita. Bila ada ciri-ciri yang akan menghancurkan rumah tangga, lebih baik kita mengantisipasi dari sekarang. Seperti itulah yang dilakukan Roy untuk rumah tangganya.
Lama wanita itu terdiam dan tampak berpikir. Lalu akhirnya membuang napas berat.
"Baiklah. Lakukan apa yang kalian mau."
__ADS_1
Bersambung...