
Bab 103
Melamar Nuning
(POV Author)
Tiga hari kemudian, Nuning memberikan jawabannya kepada Fandi. Dan soal lamaran Fandi pun, ia sampaikan kepada orang tuanya serta saudara-saudaranya yang lain.
Lalu malam itu, Fandi mengunjungi rumah Nuning untuk melamar kepada orang tuanya. Fandi hanya didampingi oleh Ibunya, sedangkan Siska tidak diajak olehnya, karena takut wanita itu akan membuat rusuh lagi.
Padahal ini bukan yang pertama, tapi hati Fandi tetap saja merasa deg-degan menghadapi orang tua Nuning.
"Jadi, maksud dan tujuan saya datang ke sini malam ini adalah, ingin melamar putri Bapak yang bernama Nuning swarastika menjadi istri saya. Saya memang banyak kekurangan, akan tetapi saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Nuning dan membahagiakannya." Ucap Fandi. Kemudian ia diam sejenak, menunggu jawaban dari pihak keluarga Nuning.
Fandi merasa tegang meminang wanita yang perlahan menghangatkan hatinya. Meski mereka baru mengenal satu bulan, Fandi cukup yakin Nuning adalah wanita yang sempurna untuknya dan Almira.
"Ya, Nuning sudah menyampaikan kepada saya sebelumnya. Untuk keputusan diterima atau tidaknya, saya hanya bisa menyerahkan kepada yang bersangkutan. Karena Nuning lah yang akan menjalani kehidupan dalam rumah tangganya nanti. Sebagai orang tua, saya hanya bisa memberikan restu dan doa yang terbaik untuk anak. Nuning, bagaimana pendapatmu Nak? Apa kamu bersedia menikah dengan Fandi ini?"
"Ya, Ayah Nuning bersedia." Jawab Nuning malu-malu sambil tertunduk.
"Alhamdulillah..." Ucap puji syukur Fandi.
"Jadi satu bulan ini saya akan mempersiapkan segalanya. Bulan depan rencananya saya akan menggelar acara pernikahan itu. Dan ada lagi hal penting yang ingin saya sampaikan. Bahwasanya saya akan menikahi dua wanita sekaligus hari itu. Yang menjadi istri yang tercatat dalam hukum negara nantinya adalah Nuning dan yang kedua adalah Siska yang hanya akan saya nikahi siri."
Kembali Fandi terdiam menunggu jawaban dari pihak warga Nuning. Kali ini rasa tegang semakin menyelimuti dirinya akan perihal yang baru saja ia sampaikan. Karena tidak semua keluarga bisa menerima apa yang ia inginkan.
"Ya, saya sudah mendengarnya dari Nuning. Walau sebenarnya menurut saya kurang tepat rasanya anak saya harus dimadu, tapi itu semua adalah pilihan Nuning. Jika dia merasa sanggup, maka saya akan merestui. Jika dia tidak merasa bahagia dan ingin meminta pulang kepada saya, tolong pulangkan anak saya secara baik-baik seperti kamu memintanya secara baik-baik malam ini."
"Baik Pak. Saya berjanji, saya tidak akan menyakiti Nuning. Insya Allah tidak akan terjadi perceraian atau apapun itu di antara kami, karena saya mencintai Nuning."
Tersipu Nuning mendengar kalimat terakhir Fandi. Senyum bahagianya ia sembunyikan agar rona di pipinya tidak tampak jelas terlihat.
"Jangan sampai bersikap kasar kepada adikku ya?! Jika kamu berani melakukannya, maka kamu akan berhadapan denganku!"
Rendy yang selama ini hanya mendengarkan dan diam, kali ini turut bicara. Ancaman halus pun terdengar di bibir Rendi walau ia berkata dengan santai.
"Insya Allah tidak. Karena saya pantang berbuat kasar terhadap wanita." Jawab Fandi percaya diri dan tegas.
Lamaran disetujui, kesepakatan pun telah diambil bersama, bahwa rencana pernikahan akan digelar 1 bulan kemudian. Mereka lalu menikmati jamuan hidangan yang telah dipersiapkan Nuning dan Tya. Mereka pun mengobrol santai dan Fandi sangat menyukai keharmonisan dalam keluarga Nuning. Terutama sikap ramah Pak Wawan, walaupun Rendy tidak banyak bicara kepadanya.
Sementara itu di tempat berbeda.
Siska melemparkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Ia meraung, menjerit marah karena pintu kamarnya dikunci oleh Fandi dari luar. Fandi sengaja mengurung adiknya agar tidak mengacaukan rencananya malam ini. Pria itu sudah mulai tahu sikap keras kepala Siska yang mau menang sendiri itu pasti akan menghalalkan segala cara untuk menggagalkan rencananya.
__ADS_1
"Si*ala*n kamu Nuning!! Dasar pel*a*kor!! Wanita mu*ra*ha*n!! Jangan berpikir kamu sudah menang dariku?! Lihat saja, akan ku buat kamu menderita!! Aku tidak terima penghinaan ini! Fandi hanya milikku! Hanya milikku, tidak boleh untuk yang lain!!" Teriak Siska mengumpat kasar di dalam kamarnya.
"Aaarggh... !!"
" PRAANG!"
Cermin meja rias baru saja pecah dilempari Siska dengan figura yang ada di kamar itu. Siska benar-benar meraung, menjerit seperti orang kesetanan. Bahkan ia lupa bahwa dirinya sedang hamil dan usia kandungannya sudah memasuki 2 bulan.
Nurma yang mendengar keributan itu mulai panik. Wanita tua itu bingung menghadapi sikap Siska yang sedemikian rupa. Nurma lalu menghubungi Kakaknya, Naima. Tidak butuh waktu lama panggilan pun diangkat oleh Naima.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ada apa Nur?".
"Naim Cepatlah pulang! Aku takut Siska kenapa-kenapa. Ia mengamuk di dalam kamarnya. Sepertinya dia membanting banyak barang, aku takut ada kaca dan melukai dirinya."
"Astaghfirullahaladzim..." Ucap Bu Naima sambil mengelus dadanya. "Baiklah. Kamu tolong jaga di sana jangan sampai dia keluar. Kami sudah di perjalanan dan akan segera sampai."
Fandi yang menyetir mendengar percakapan Ibunya dan bibinya. Ibunya yang menggunakan loudspeaker memudahkan Fandi untuk mendengarkan percakapan mereka.
" Kamu dengarkan Fan? Siska mengamuk. Ayo, sebaiknya kita cepat segera sampai."
Fandi menghela nafas kasar. Dalam hatinya begitu kesal terhadap Siska yang tidak ada habis-habisnya adiknya itu berbuat ulah.
Sampai di rumah Fandi segera menuju kamar Siska. Iya lalu membuka pintu itu dengan kunci yang berada dalam saku celananya.
Bu Naima yang berada di samping Fandi ternganga melihat keadaan kamar Siska yang seperti kapal pecah. Potongan-potongan kain serta kaca berserekan di lantai. belum lagi kapas-kapas bantal yang berhamburan di sana-sini.
Siska terlihat meringkuk di atas tempat tidurnya. Matanya sudah sembab dan menjadi sipit karena terus-terusan menangis. Rambutnya acak-acakan lalu terlihat ada noda darah di atas sprei yang sudah sobek-sobek itu.
Ternyata Siska menginjak pecahan beling hingga menyebabkan telapak kakinya terluka.
"Astaghfirullahaladzim Siska! Apa yang kamu lakukan?"
"Biar aku saja Bu, dan tolong panggilkan Pak Yono untuk membantuku membawa Siska ke rumah sakit." Ujar Fandi mencegah sang Ibu yang hendak masuk ke dalam kamar.
Fandi tidak ingin ibunya terluka. Oleh karena itu, ia yang akan mendekati Siska.
"Fandi cepat tolong adikmu!"
Sekesal dan semarah apapun Ibu Naima kepada Siska, namun ia masih menyimpan rasa sayang kepada anak angkatnya itu. Iya tidak mau terjadi apa-apa apa lagi Siska sedang mengandung cucunya. Apa yang dilakukan Siska membuat Ibu Naima menjadi khawatir.
Fandi mau nyepak-nyepakan apapun yang menghalangi langkahnya di lantai. Serpihan kaca, sobekan kain, kapas-kapas tipis semua ia singkirkan agar jalannya lebih mudah.
__ADS_1
"Huhuhuhuuuu..."
Siska masih menangis tergugu.
"Puas kamu Mas sudah menyakiti aku?! Sarkas Siska ketika Fandi berjalan mendekat ke arahnya.
"Kalau sampai kamu menikahinya, kamu akan melihat mayat ku Mas!!" Ancam Siska.
"Baiklah kalau begitu rencana pernikanan kita batal! Aku tidak akan bertanggung jawab atas anakmu! Dan aku juga tidak akan menikahi Nuning apa seperti itu yang kamu inginkan?!"
Siska terdiam hanya isakan tangis yang terdengar. Dalam hatinya juga tidak ingin pernikahannya dengan Fandy batal. Karena impiannya adalah menikah dengan Fandi. Ia yakin suatu hari nanti Fandi akan jatuh cinta kepadanya, dan ia pun hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Aden manggil saya?" Suara seorang di depan pintu kamar Siska.
"Iya Pak. Tolong angkat Siska. Aku akan menyiapkan mobil, kita akan membawanya ke rumah sakit."
"Baik Pak."
"Jangan sentuh aku!! Aku tidak mau dipegang olehmu!!
Tolak Siska tidak ingin oleh penjaga rumah Ibunya menggendong dirinya.
Fandi mengusap wajahnya kasar, mau tidak mau Ia lalu mengangkat Siska dan membawanya menuju garasi mobil.
Siska mengalungkan tangannya ke leher Fandi dan tersenyum meski jejak air mata di pipinya masih ada. Bahkan bola matanya nyaris tidak terlihat karena matanya sembab dan menjadi sipit.
Tanpa menoleh ke arah Siska sedikit pun, Fandi terus melangkahkan kakinya hingga mendekati mobil kemudian ia mendudukkan Siska di bangku depan di samping kursi kemudi dan Fandi sendiri duduk di kursi kemudi.
Siska tersenyum. Dia merasa bahagia diperhatikan Fandi seperti itu. Walau Fandi sedikit pun tidak berbicara, bahkan Fandi memasang wajah datar padanya.
Saat di perjalanan telpon Fandi berbunyi. Saat itu nama Roy yang tertera di layar gawainya.
Fandi mencolok heatset di sebelah telinganya. Ia sengaja tidak me-loudspeaker-kan pembicaraannya dengan Roy agar aman dari Siska.
"Assalamualaikum, ada apa Bro?" Salam dan tanya Fandi.
"Waalaikumsalam. Lancar acara lamaranmu malam ini?"
"Ya, begitu lah. Sekarang aku sedang menuju rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Siska. Kakinya sedang terluka. Sekalian aku ingin memeriksakan kandungannya apakah baik-baik saja."
Tanpa ditanya Fandi membeberkan tujuannya.
"Oke Bro, aku segera menyusul ke sana. Aku akan menghubungi Zainal melaksanakan rencana kita mumpung kamu membawanya."
__ADS_1
"Oke, aku tunggu." Jawab Fandi santai agar Siska tidak curiga.
Bersambung...