Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 54 Awal Pembalasan Wina


__ADS_3

Bab 54


Awal Pembalasan Wina


(POV Author)


Sore itu, Wina sudah di perbolehkan pulang setelah 9 hari di rawat di Rumah Sakit. Tidak ada yang menjenguk dirinya kecuali Hendra yang datang sesekali. Dalam hati wanita itu sudah bertekad akan membalas perbuatan keluarga suaminya kepadanya.


Wina berjalan perlahan agar jahitan di perutnya tidak terbuka. Kali ini Wina memesan taxi online agar ia lebih merasa nyaman dalam perjalanan.


Taxi meluncur di jalan yang agak lenggang. Kebetulan itu adalah jam kerja sehingga para buruh atau karyawan sedang berada ditempatnya masing-masing sehingga tidak memenuhi jalan. Hanya dalam dua puluh menit perjalanan, Wina sudah sampai dirumah mertuanya.


Bu Yarsih yang berada di warung melihat mobil asing berhenti di depan rumahnya mengeryitkan dahi.


"Siapa ya?" Gumam Bu Yarsih pada angin.


Wina perlahan turun dari mobil itu setelah membayar ongkosnya di dalam. Begitu melihat wajah Wina, paras Bu Yarsih berubah masam. Tidak ada sambutan hangat untuk menantunya itu sebagai bentuk perhatian. Yang ada hanya lirikan sinis dan tatapan mencemooh.


Wina tak kalah sengit membalas tatapan Ibu mertuanya itu. Tanpa menyapa apa lagi mengucapkan salam, Wina melangkah menuju pintu rumah.


"E... ee.. ee.., mau kemana kamu?!" Tahan Bu Yarsih yang melihat Wina hendak masuk ke dalam rumahnya.


"Ya masuklah Bu, mau kemana lagi emangnya?!"


"Tidak boleh! Aku tidak ijinkan kamu masuk kedalam rumahku!" Sergah Bu Yarsih.


Wanita paruh baya itu berkacak pinggang dengan mata melotot memandang Wina.


"Kenapa tidak boleh?"


"Sebab dari sekarang, kamu saya usir dari rumah ini!" Ucap Bu Yarsih lantang.


"Oh, tidak bisa begitu dong! Saya masih istrinya Mas Heru. Dan saya juga punya hak dong tinggal disini." Bantah Wina tidak mau kalah.


"Tapi aku tidak mau! Kamu boleh masuk ke dalam rumah ini hanya untuk mengambil barang-barangmu!"


Ratih yang mendengar ada keributan di luar pun segera keluar dari kamarnya. Di depan pintu, ia melihat Wina sedang berdebat dengan Ibunya. Ratih tampak kesal dengan wanita itu, dan melipat tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Ngapain lagi kamu kesini?! Kami sudah tidak menerimamu dirumah ini!" Kata Ratih dengan wajah juteknya.


"Oh ya? Kayaknya kamu ada hutang sesuatu sama aku. Dan aku ingin kamu membayarnya!" Ujar Wina dengan tatapan penuh kebencian dan mengintimidasi kepada Ratih.


Ratih merasa sdikit gugup melihat tatapan Wina.


"Maksud kamu apa?!" Tanya Ratih yang mencoba menyelidiki apakah Wina sedang mencurigai dirinya.


Wina melangkahkan kaki perlahan mendekati Ratih. Ratih semakin gugup hingga lipatan tangannya terlepas dan mundur selangkah kebelakang hingga tubuhnya membentur dinding.


"Jangan pura-pura bodoh kamu! Kalau aku beberkan siapa yang membuat aku jatuh terduduk dilantai hingga Ibu harus kehilangan cucunya, kira-kira apa yang akan Ibu lakukan? Dan tentunya Mas mu, apa kamu tidak memikirkan bila nanti ia keluar dari penjara dan tahu karena ulah adiknya, bayinya sampai tidak sempat melihat dunia?!" Kata Wina pelan di dekat Ratih dan hanya mereka berdua yang mendengar.


Tubuh Ratih menegang dan bergidik ngeri. Bulu di tubuhnya seakan meremang mendengar ucapan Wina.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan!" Ujar Ratih berkilah.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengerti. Tapi aku masih menyimpan bukti dari pakaian yang aku gunakan waktu itu. Sengaja tidak aku cuci. Bahkan noda minyak masih menempel disana. Kenapa ya, tiba-tiba kamarku lantainya berminyak? Padahal aku sudah membersihkan rumah ini sejak subuh. Bahkan Ibu juga melihat pekerjaanku. Kira-kira kamu tahu Rat, kenapa bisa begitu?!"


Wajah Ratih memucat. Mulutnya bahkan mengatup rapat saking tidak bisa membalas kata-kata Wina. Wina tersenyum puas dalam hatinya.


Mulai sekarang kamu akan merasakan pembalasanku gadis ja*la*ng! Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini tinggal disini. Batin Wina.


"Ah, aku lelah dan masih harus istirahat banyak. Sepertinya mulai hari ini kamu harus menggantikan tugasku dirumah ini." Ujar Wina melirik Ratih tajam.


"Tidak bisa begitu!"


"Kalian bicara apa sih? Dan kamu Wina, kenapa harus Ratih yang membereskan rumah?!"Tanya Bu Yarsih yang kebingungan melihat anak dah menantunya itu.


"Karena dia... Hmpp!"


Belum sempat Wina membeberkan rahasia kesalahan Ratih, gadis itu sudah membungkam mulut Wina dengan tangannya.


"Ratih ingin belajar jadi calon Ibu rumah tangga Bu. Kan sebentar lagi mau di lamar sama Mas Hendra." Ujar Ratih berkilah sekaligus menyombongkan diri kepada Wina.


Wina mutar bola mata jengah, kemudian menatap Ratih sinis sambil menepis tangan Ratih dari mulutnya.


Kamu boleh berbangga diri Ratih. Tapi entah harga dirimu itu masih bisa tinggi apa tidak bila Mas Hendra kelak meninggalkanmu?! Apalagi aku sudah tidak memiliki hal yang harus terikat dengan keluarga ini. Bila aku menikah dengan Mas Hendra, pasti Mas Heru akan menalak diriku dan tidak perlu repot ke pengadilan Agama karena kami hanya menikah siri. Batin Wina.

__ADS_1


Wina berlalu dari hadapan anak dan Ibu itu.


"Ambilkan air putih dan bawa ke kamarku!" Perintah pertama Wina kepada Ratih.


Awalnya Ratih sangat kesal dan tidak terima mendapat perintah itu. Namun ketika Wina membalikkan tubuhnya dan memandang Ratih dengan tajam, gadis itu tegang kembali dan ragu-ragu mulai melangkahkan kaki ke dapur.


"Bu Yarsih? Beli Bu!"


Bu Yarsih yang heran melihat sikap Ratih terpaksa harus kembali ke warung untuk melayani pembeli yang memanggil dirinya.


***


Di tempat yang berbeda.


"Mas aku besok punya rencana dengan Dek Indah. Kami akan hangout sesuai janji kami." Ijin Mira kepada suaminya Fandi ketika mereka berada di dalam kamar mereka.


"Mau kemana sayang?"


"Ada deh, that is girl's time sayang." (Author sok bule padahal gak paham)


"Ah, jadi aku tidak boleh tahu ini ya?"


"Hehehe,. maaf ya sayang."


"Ya sudah, tidak apa-apa sayang."


"Oh ya sayang, kapan adik kesayanganmu itu akan pulang ke rumah Ibu?"


"Kenapa sayang?"


"Aku bukannya mau jelekin dia sayang, tapi kasihan Ibu sendiri di rumah. Lagian tugas di rumah ini adalah tugasku sebagai isterimu untuk menyiapkan segala keperluanmu." Jelas Mira.


"Hmm, besok aku akan bicara padanya." Ujar Fandi.


"Iya, semoga saja dia mau mengerti jika kami yang berbicara."


Mira menghela napas. Setidaknya dia memang harus mengingat suaminya karena menurutnya, sikap Siska di rumahnya terlalu berlebihan.

__ADS_1


Entah mengapa Mira merasakan sesuatu yang tidak biasa dengan kebaikan Siska di rumahnya. Dia merasa adik iparnya itu seperti menyimpan sesuatu terhadapnya. Semoga saja itu hanya perasaan Mira.


Bersambung...


__ADS_2