
Bab 25
Bertemu Dani
Aku hanya mengikuti langkah kaki berjalan entah kemana membawaku pergi. Rasa yang begitu sesak masih saja menghimpit di dada ini. Berkali-kali aku mencoba menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk mengusir rasa sakit yang masih tersisa.
Triiing...! Triiing...!
Rara menelpon di saat aku sedang berusaha mengusir kabut kesedihanku. Aku lupa telah berjanji untuk menemaninya setelah persidangan ini selesai. Ku putuskan untuk mengangkat telponnya saja.
"Assalamualaikum Ra..."
"Waalaikumsalam In, kamu tidak lupakan dengan janji kita?"
"Tadinya lupa Ra, hehehe... Untung kamu menelpon. Jadi kemana aku harus menyusul kalian?"
"Ck, kebiasaan deh. Gabut banget yang habis sidang. Nanti cerita ya, setelah urusanku selesai."
"Dasar kaum kepo."
"Hehehe..., aku sharelock ya."
"Oke Ra."
Rara pun mengakhiri panggilan dan mengirimkan lokasinya padaku. Ternyata tidak jauh, sesuai dengan kesepakatan kami sebelumnya.
Aku pun menghapus jejak air mataku lalu memesan ojol untuk sampai kesana. Hari ini aku sengaja tidak membawa kendaraan. Karena aku pikir, perasaan di diriku tidak baik-baik saja sejak pagi tadi. Jadi aku menjaga agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi yang Rara kirimkan karena memang di arahkan di sekitar kantor Pengadilan Agama. Tapi jika aku berjalan kaki untuk sampai disini rasanya sangat jauh juga. Bisa-bisa betis ku keram berjalan lama atau malah bengkak seperti kaki gajah. Ah, aku terlalu mendramatisir. Mungkin ini efek galau karena Mas Heru tadi.
"Hai sudah lama?" Tanya ku pada Rara yang sedang menyedot minumannya.
"Tidak juga. Pesan In, kamu mau apa?"
"Es apa saja, yang penting seger."
Rara kemudian memanggil karyawan kafe itu untuk memesan minuman yang aku inginkan.
"Siapa sih klien baru kita yang mau kamu lobi ini?" Tanyaku.
"Namanya Pak Salim, beliau pemilik Supermarket yang ada di jalan Sudirman itu loh." Jelas Rara
"Oo...., semoga deal ya."
"Kalau deal, nanti aku bakalan traktir kamu."
"Oke, yang banyak ya..."
"Hahaha, siap."
Sedang asik mengobrol, klien yang di tunggu Rara pun tiba. Yang bikin aku sedikit terkejut, Pak Salim yang di sebut Rara tadi datang bersama Dani, teman satu kampungku.
"Selamat Siang, dengan Ibu Rara?"
__ADS_1
"Benar Pak. Pak Salim bukan?"
"Ya, benar. Saya Salim."
Rara dan Pak Salim berjabat tangan, begitu pula aku dan kemudian Dani.
Lalu Rara mempersilahkan tamu kami duduk. Aku sesekali melirik Dani dan tersenyum. Demikian pula Dani yang tampak sedikit canggung mungkin karena pertemuan kami yang tidak sengaja ini.
"Maaf Bu Rara, bisa langsung di jelaskan saja bagaimana RAP yang sudah Ibu susun? Kebetulan tadi saat menuju kemari, saya mendapat telpon yang cukup penting. Tapi saya juga tidak bisa langsung membatalkan janjian temu kita yang sudah kita buat sebelumnya."
"Oh, baik Pak. Akan saya manfaatkan waktu kita secara ringkas dan tepat. Kalau begitu saya akan mulai menjelaskan."
"Baik. Silahkan Bu Rara."
Rara pun menjelaskan dengan singkat dan tepat sesuai ucapannya. Dan Pak Salim pun mengangguk merespon poin-poin penting yang di jelaskan oleh Rara. Aku hanya mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan sedangkan Dani terlihat merekam pembicaraan antara Rara dan Pak Salim dengan handphonenya.
Jaman sudah semakin canggih, tidak perlu lagi mencatat poin penting yang perlu di ingat. Dengan menggunakan rekaman, kini lebih mudah menyimak kembali pembicaraan yang mungkin saja ada poin penting yang terkadang terlupakan oleh kita.
"Baiklah Bu Rara, saya cukup berminat untuk rencana yang sudah Ibu buat ini. Selanjutannya urusan akan saya serahkan kepada bawahan saya. Tolong ya Dan, lanjutkan meeting ini. Tanyakan saja yang belum kamu pahami."
"Baik Pak."
"Kalau begitu mohon maaf, saya permisi duluan." Ujar Pak Salim
"Oh, baik. Silahkan Pak."
Kami pun berjabat tangan kembali dengan Pak Salim. Tinggallah Dani yang mulai serius dan tidak canggung lagi berhadapan dengan ku.
Mereka kembali berdiskusi hingga tak terasa sudah masuk waktu dzuhur.
"Boleh Pak, silahkan. Saya dengan senang hati akan membantu proyek Pak Salim. Oh ya, bagaimana kalau kita makan siang bersama setelah ini?" Ajak Rara kepada Dani.
"Boleh saja. Tapi saya mohon ijin dulu untuk ke mushola sebentar."
"Baik Pak, silahkan. Kebetulan saya sedang berhalangan.
"Kamu mau sekalian sholat bersama Indah?"
Aku cukup terkejut Dani berbicara padaku dengan bahasa formal, tidak seperti biasanya."
"Oh, duluan saja Dan. Nanti aku akan sholat di rumah saja."
"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya."
Aku mengangguk.
"Kok kalian kelihatan sudah lama kenal In?" Tanya Rara selepas kepergian Dani.
"Dia teman sekampungku Ra."
"Yang benar?" Tanya Rara.
Aku mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya ku.
"Kenapa kamu tidak bilang punya teman sekampung seganteng itu?"
"Dani? Dia terlihat biasa saja kok."
"Ck! Kamu lihat. Sudah ganteng, ramah, soleh pula. Jenis spesies yang tidak boleh kita biarkan itu In."
"Hehehe, spesies. Kamu kira dia apa, hem?"
"Tapi boleh juga itu In, kalau boleh jujur sih dia tipeku banget."
Aku terkesiap mendengar ucapan Rara. Ternyata Dani begitu memikat di mata sahabatku ini. Bagaimana jika Rara tahu Dani dulu pernah menyukaiku? Ah, sebaiknya Rara tidak perlu tahu. Lagi pula itu hanya masa lalu, dan mungkin saja perasaan Dani padaku sudah berubah. Apalagi untuk saat ini aku sedang tidak ingin menjalin hubungan lagi. Bahkan proses perceraian ku pun masih sedang berlanjut.
"Apa kamu tahu dia sudah punah pacar? Atau istri mungkin?" Tanya Rara lagi.
"Kami jarang bertemu sejak aku memutuskan kuliah di kota Ra. Jadi aku tidak tahu tentang kehidupan pribadi Dani. Lagian itu juga bukan urusanku kan."
"Iya sih. Kali aja kamu tahu In, jadi aku bisa langsung memutuskan mau menjauhi atau mulai pendekatan."
"Hah? Serius? Kamu baru pertama kali bertemu dengannya loh Ra?!"
"Aku serius In. Dia termasuk tipeku jadi aku tinggal cari tahu yang lainnya."
Aku tdak bisa berkata apa-apa, atas keinginan Rara. Karena jodoh seseorang hanya Tuhan yang tahu.
Dari jauh aku kami sudah bisa melihat Dani yang berjalan ke arah kami. Kami pun menghentikan pembicaraan mengenai dirinya.
"Maaf, kalian menunggu lama."
"Tidak kok. Gimana kalau kita langsung memesan makan siang sambil mengobrol." Ujar Rara.
"Boleh."
Kami pun memesan beberapa menu untuk makan siang kami serta minuman pelepas dahaga.
"Pak Dani sudah kenal Indah rupanya ya." Tutur Rara.
Dani tersenyum menanggapi ucapan Rara.
"Iya kami teman masa kecil di kampung."
"Bisa kebetulan begini ya. Jika begini, akan lebih mudah untuk kerjasama kedepannya ya Pak."
"Benar Bu Rara." Jawab Dani.
"Oh, kalau begitu jangan panggil Bu dong. Aku belum jadi ibu-ibu soalnya. Panggil Rara aja gimana Mas, bolehkan?"
"Uhuk... Uhuk!"
Aku terbaru-batuk mendengar ucapan Rara yang sepertinya memang berniat mendekati Dani.
Rara menyodorkan minuman padaku sambil tersenyum melihat Dani. Sedangkan Dani tampak canggung membalas senyum Rara hingga ia tertunduk malu.
__ADS_1
Bersambung...
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊