Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 65 Ini Penyebabnya


__ADS_3

Bab 65


Ini Penyebabnya


"Indah...."


Aku menoleh kepada pemilik suara yang memanggilku.


"Kenapa disini? Mana Roy?" Tanya Mas Fandi.


"Roy disana Mas, duduk bersama para tamu yang lain. Aku kesini mau lihat Almira."


"Oh, Siska berikan Almira kepada Indah. Dan bantulah Ibu menjamu tamu."


"Tapi Mas..."


"Kenapa Sis?"


"Tidak apa." Jawab Siska dan melihat sinis ke arahku.


"Nih...!"Ujarnya lagi sambil menyodorkan Almira padaku, lalu berlalu pergi.


Aku menerima malaikat kecil itu dengan hangat dan senang hati, walau Siska berlalu dengan wajah masam di tekuk.


"Tolong jaga Almira sebentar, aku mau kesana dulu." Ujar Mas Fandi.


"Baik Mas." Jawabku senang.


Mas Fandi pun berlalu. Aku tersenyum melihat malaikat yang begitu menarik perhatianku, lalu menciumi pipi yang mulai gembul kemerahan seperti tomat masak itu.


"Almira sayang, malaikat kecil yang sholehah, sehat-sehat ya sayang..." Ujar ku kembali mencium pipi Almira yang mengeluarkan aroma khas bayi itu.


Hidung dan bibir Almira mirip sekali dengan milik alm. Mbak Mira. Tapi kata orang, wajah bayi masih bisa berubah-ubah dalam masa 40 hari. Aku tidak tahu benar atau tidaknya. Tapi untuk saat ini, aku sudah jatuh hati kepada Almira sang bidadari kecil.


"Sini Almira!"


Aku menoleh kepada Siska yang datang-datang memaksa untuk meminta Almira kembali.


"Oh, sudah selesai membantunya?" Tanyaku pura-pura yang sepertinya belum sampai 10 menit Siska sudah kembali lagi.


"Kenapa? Terserah dan suka-suka aku dong. Sini Almira!"


Dengan berat hati aku memberikan Almira kembali kepada Siska. Padahal rasa rinduku belum sirna sepenuhnya.


"Aku lebih pantas menjadi pendamping Mas Fandi. Kamu lebih baik menjauh dari Mas Fandi!" Ucapnya lirih namun masih terdengar jelas di telingaku.


Eh, maksudnya apa? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah Siska itu Adik Mas Fandi, lalu kenapa dia berkata seperti itu? Apa jangan-jangan...


Ah, mungkin aku salah. Tapi telingaku baik-baik saja dan normal. Apa mungkin Siska terlibat cinta terlarang terhadap Mas Fandi? Tapi tidak terlarang juga kan karena dia hanya Adik angkat. Apa Alm.Mbak Mira tahu dan sudah antipasi soal ini?


Jika dugaan ku benar, jadi ternyata ini penyebab Alm. Mbak Mira mengajukan permintaannya padaku. Sebaiknya aku harus mencari tahu lebih banyak soal ini. Bukan karena aku takut kehilangan Mas Fandi tapi aku ingin tahu alasan dibalik keputusan Alm. Mbak Mira.


Siska langsung membawa pergi Almira begitu bayi kecil itu berada dalam dekapannya. Yah, dia lebih berhak atas Almira karena dia adalah Bibi Almira..


Aku pun kembali ke ruangan sebelumnya, dan berkumpul kembali dengan tamu-tamu yang lainnya.


Sedikit kesal dengan sikap Siska, tapi aku bisa apa yang hanya orang lain dalam keluarga itu.


Acara tiga hari pun selesai dan berjalan dengan lancar. Roy kembali mengantarkan aku pulang menuju mess kantor ku.


Malam mulai lenggang ketika kami melintasi jalan. Roy tampak tenang mengendarai mobilnya.


"Roy..."

__ADS_1


"Hmm..."


"Kira-kira apa yang ingin di bicarakan Mas Fandi di hari ke 7 nanti ya? Apa kamu tahu?"


"Sebaiknya kamu mengetahuinya langsung dari Fandi. Aku tidak ingin salah berucap dan mendahului."


"Hmm, baiklah."


Kami diam sesaat.


"Apa kamu masih lapar? Atau ingin singgah beli sesuatu?"


Aku mengingat-ingat persediaan yang ada di mess. Sepertinya aku memang memerlukan sesuatu.


"Apa masih ada yang buka?" Tanyaku sambil melihat arloji di pergelangan tangan kiriku.


"Masih ada yang buka 24 jam. Lagian ini baru jam 22.17."


"Apa kamu tidak lelah Roy? Aku jadi tidak enak merepotkanmu."


"Tidak, besok tidak ada jadwal yang penting jadi aku bisa berlenggang datang ke kantor."


"Oke."


Roy pun mencari mini Market yang buka 24 jam. Berkeliling sebentar dan kami pun menemukannya.


Kami turun dari mobil dan memasuki pintu mini Market. Aku mengambil keranjang dan memilih kebutuhan yang nyaris habis di mess ku.


"Mau makan ini?" Tanya Roy menunjukan dua cup mie korea yang terkenal pedasnya.


"Itu pedas."


"Kamu tidak suka pedas?"


"Aku suka."


"Camilan ini enak." Ujar Roy memegang sebungkus snack dan memasukannya ke dalam keranjang belanjaan.


"Ini banyak gizinya." Ujarnya lagi pada sebuah produk makanan, lalu memasukannya ke dalam keranjang.


"Ini bagus banyak vitaminnya."


"Ini enak buat sarapan pagi."


Lagi dan lagi Roy memasukan kembali apa saja makanan yang ia pegang. Keranjang pun mulai penuh dengan barang-barang yang di pilih olehnya.


Sepertinya bukan aku yang sedang membutuhkan sesuatu disini. Tapi malah sebaliknya.


"Ada lagi?"Tanyanya.


"Semua sudah cukup." Ujar ku lalu berjalan ke meja kasir.


"Tiga ratus enam puluh dua ribu Mbak."


"Ini."


Baru saja aku mengeluarkan dompetku, Roy sudah lebih dulu membayarnya.


"Simpan kembali uangmu."


"Tapi Roy..."


"Sebagai gantinya masakin aku mie yang kita beli ini."

__ADS_1


Apa setelah ini Roy ingin berkunjung ke kediamanku? Tapi ini kan sudah malam. Tak bagus untuk pikiran dan kesehatan kami karena bisa-bisa di arak warga keliling gang dan di anggap kumpul kebo.


Kami pun memasuki mobil setelah belanjaan di simpan di bagasi.


"Tapi kita bisa di gerbek RT setempat karena ini sudah malam." Ujar ku ngeri membayangkan bila itu benar-benar terjadi.


"Kalau begitu tinggal kita ke KUA."


"Tapi bagaimana dengan janji ku dengan Alm. Mbak Mira?"


"Hehehe...., apa kalau tidak ada janji itu kamu mau menikah denganku?"


"Itu....."


Ah, Roy menjebakku dengan pertanyaannya. Kenapa pula dia terkekeh dan tersenyum seperti itu. Bikin aku jadi...


Ah, mungkin karena sudah lama aku tidak melihat wajah Roy yang terkekeh dengan senyum manis seperti itu.


Aduh, bisa-bisanya aku bilang begitu. Jangan bilang wajahku sudah seperti tomat sekarang. Sebaiknya aku mengalihkan pandanganku saja melihat keluar jendela.


Sampai di mess aku segera turun begitu pula dengan Roy, membuka pintu rumah lalu beranjak ke dapur untuk meletakkan barang-barang belanjaanku.


Aku mengambilkan air minum untuk Roy yang ku lihat duduk di teras.


"Tidak masuk?"


"Kamu siap di gerbek?"


Aku melengos.


"Jadi mau makan mie disini?"


"Boleh, aku tunggu ya."


Aku mengangguk lalu segera ke dapur untuk menghangatkan air. Ada sosis dan juga nuget di kulkas. Aku mengeluarkannya untuk di goreng dan menyantapnya bersama mie nanti.


Dengan cekatan tanganku bekerja. Ada brokoli dan juga wortel bisa aku gunakan untuk pelengkap serat makanan kami.


Mie sudah di siram dengan air panas, tinggal di seduh sambil menunggu beberapa menit.


Beberapa sosis dan nuget sedang aku goreng, sambil memotong brokoli dan wortel yang sudah aku cuci bersih. Bawang putih ku cincang halus, kemudian bawang bombay ku iris memanjang.


Sosis dan nuget sudah masak dan di tiriskan. Kuali sudah mulai panas dengan sedikit minyak di dalamnya. Bawang-bawang itu ku tumis hingga harum lalu ku masukan udang yang sudah ku bersihkan di kulkas setelah itu barulah sayur-sayur itu menyusul. Sedikit garam dan lada juga penyedap rasa ku tambahkan untuk menyempurnakan rasa masakanku.


Harum masakan menghiasi udara di dalam rumah hingga ke luar rumah.


"Harumnya..."


"Eh, kenapa masuk?! Nanti kita di gerbek gimana?!" Tanya ku panik ketika Roy tiba-tiba sudah ada di dapur dan menikmati aroma masakanku.


"Aku cuma mau bantuin bawain apa yang kamu masak ini."


Nyaris saja jantungku mau lepas dari tempatnya. Tapi memang benar apa yang di katakan Roy. Ia masuk dan membantuku membawa keluar semua masakan yang sudah siap untuk di santap.


Meja teras penuh dengan makanan sederhana yang dimasak kilat olehku. Di tambah kerupuk sebagai pelengkap ciri khas orang Indonesia kalau makan.


Roy menikmati makanan dengan lahap. Apakah di acara tadi dia tidak makan ya? Sosis 10 biji dan sepiring nuget ludes beserta tumisan dan juga kerupuk.


"Enak..." Ujarnya membuatku menahan gejolak hingga harus memalingkan wajah.


Kalau di korea dua insan menikmati mie dimalam hari di rumah kekasihnya, tentu setelahnya mereka akan....


Oh, astaga...!

__ADS_1


Mikir apa aku ini. Kebanyakan nonton drakor yang kini mulai di gandrungi emak-emak yang lupa sama umur kayaknya. Itu di korea bukan di Indonesia. Kalau disini, setelah makan tamu wajib pulang.


Bersambung...


__ADS_2