
Bab 106
Kebahagiaan Dan Air Mata
(POV Author)
Hari Yang Dinanti pun tiba.
Dua orang wanita tampak cantik dengan gaya dandanan masing-masing. Nuning menggunakan baju pengantin model gamis berwarna putih dengan jilbab senada sedangkan Siska menggunakan kebaya putih yang sedikit terbuka bagian bahunya, dengan rambut digulung ke atas. Keduanya duduk tidak jauh dari tempat yang disiapkan untuk Ijab Kabul.
Keluarga dari pihak-pihak pengantin sudah datang dan berkumpul, Tinggal menunggu Pak Penghulu datang untuk mengikatkan janji suci para calon mempelai.
Baik Nuning dan Siska sama-sama merasa deg-degan. Berasa ada bunga-bunga di dalam hati mereka hingga debaran kebahagiaan itu nyaris saja terdengar keluar. Keduanya memancarkan rona bahagia dengan mata berbinar dan senyum yang terus terukir indah di wajah.
Sesekali Siska menatap sinis ke arah Nuning yang tidak berada jauh darinya. Namun Nuning biasa saja, ia tidak mempermasalahkan kehadiran Siska.
Pak penghulu datang suasana pun menjadi tegang bagi para calon mempelai. Dan acara pun dimulai.
"Sudah siap? Yang mana calon pengantinnya? Tanya Penghulu yang rada bingung melihat dua wanita yang dandannya sudah mirip calon pengantin.
"Ning..." panggil Fandi lembut.
Nuning pun beranjak perlahan mendekati Fandi ketika namanya disebut. Sepertinya Fandi akan menikahi Nuning lebih dulu.
"Kenapa tidak aku duluan sih Mas?!" Protes Siska yang mengundang banyak mata menatap ke arahnya.
"Sstt! Jangan buat malu ini acara pernikahan banyak orang yang menyaksikan! Sudah kamu diam saja!" Sergah sang Ibu.
Ucapan Siska mendapat tatapan tajam dari Fandi. Akhirnya Siska pun memilih diam. Mau tidak mau ia harus menurut dengan wajah tekuk masam.
Sang penghulu pun menjabat tangan Fandi.
"Saya nikahkan dan kawinkan saudara Fandi Irawan dengan Nuning swarastika binti Wawan Purnomo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Hentakan tangan penghulu menandakan Fandi harus segera menjawab Ijab Itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nuning swarastika dengan mas kawin tersebut tunai."
Dengan satu tarikan napas, Fandi berhasil meloloskan kalimat-kalimatnya.
__ADS_1
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!!" Seru para saksi mengeluarkan suara.
"Alhamdulillah..."
Doa-doa pun dilantunkan untuk kedua mempelai dan orang-orang yang hadir di sana.
Kemudian Fandi menyematkan cincin emas di jari manis Nuning. Dan Nuning pun membalas mengenakan cincin perak di jari Fandi lalu mencium punggung tangan yang kini telah sah menjadi suaminya.
Keduanya tampak tersenyum bahagia namun tidak dengan Siska yang masam kesal dan menahan amarah.
Sampai doa-doa telah dilantunkan bahkan penghulu sudah hendak beranjak Pergi namun Siska tidak kunjung dinikahi oleh Fandi wanita itu meradang ia sontak berdiri menghampiri Fandi.
"Mana janjimu mau menikahi aku Mas?! Kenapa hanya wanita itu yang kamu nikahi?! Kamu sudah berjanji akan bertanggung jawab kepadaku?!
Seketika suasana menjadi riuh kemudian senyap mendengarkan apa yang akan dilontarkan oleh Fandi. Fandi berdiri berhadapan dengan Siska dengan wajah datar.
"Maaf Siska, aku tidak bisa menikahimu!"
Sontak apa yang di katakan Fandi semakin membuat Siska berang.
"Kamu sudah berjanji mas! Tidak bisa begitu! Kamu pembohong!!" Cerca Siska.
"Apa maksudmu mas? Dari mana kamu bisa tahu?! Kamu jangan mendahului Tuhan, Mas!!" Sarkas Siska.
"Aku bukan Tuhan dan aku takut mendahului Tuhan. Tapi ada teknologi yang bisa menyanggupi untuk melakukan tes, apa itu anakku atau bukan. Dan hasilnya tes kamu bisa lihat sendiri." Jawab Fandi.
Roy beranjak dari duduknya. Ia memegang sebuah map coklat dan diberikan kepada Fandi.
" Ini, bacalah... "
Wajah Siska mendadak tegang. Dengan tangan sedikit gemetar ia meraih amplop coklat yang di ulurkan Fandi kepadanya. Iya terdiam sesaat, ragu ingin membuka atau tidak amplop yang sedang ia genggam. Ia takut akan isi amplop yang dikatakan Fandi itu benar. Dan tentunya, itu akan meruntuhkan segala dunia yang ia bangun.
"Cepat baca! Jangan buat orang lain menunggu!" Ujar Fandi datar.
Siska melihat orang-orang di sekitarnya sedang mengamati dirinya. Orang-orang itu pasti penasaran ingin mengetahui apa isi amplop yang ia pegang.
Siska menelan salivanya. Dengan rasa gugup, takut, sekaligus cemas, ia mulai membuka isi amplop itu dan membacanya perlahan.
__ADS_1
Jantung Siska terasa berhenti di tempatnya. Wajah Siska berubah pucat pasi dengan tangan gemetar dan kaki yang mendadak menjadi lemah. Ia limbung dan nyaris saja jatuh ke lantai jika saja tidak ada orang-orang sigap yang berada di sekitarnya dan menahan dirinya.
"Huuuwaaaaaa....."
Siska meraung menangis. Menghentak-hentakkan kakinya di lantai persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Sikap yang diperlihatkan sangat jelas bahwa bayi yang dikandung olehnya bukan lah hasil perbuatannya dengan Fandi.
Bu Naima meraih kertas yang teronggok di lantai, kemudian membacanya perlahan. Kertas itu adalah hasil DNA yang ditunggu-tunggu oleh Fandi. Ia sengaja menyimpan hasil kertas itu menunggu waktu yang tepat untuk diberikan kepada Siska sekaligus mengumumkan kenyataan yang ada.
Ibu Naima mengusap dadanya. Melihat keadaan ibunya yang seperti itu, Fandi segera berdiri menghampiri sang ibu.
"Ibu istirahat saja ya?"
Sang Ibu mengangguk. Perlahan Fandi membawa ibunya kembali ke ruang peristirahatan.
Fandi tolong urus adikmu, jangan sampai ia melahirkan anak tanpa memiliki seorang ayah." Suara Ibu Naima terdengar sedih. Ia merasa telah gagal mendidik Siska.
"Ibu tenang saja, aku akan mengurusnya. Bawa Siska kembali ke ruangannya, dan temani ya. Jangan sampai ia berbuat macam-macam."
Meski demikian Fandi tetap lah seorang Kakak yang baik. Ia tahu mental Siska sedang jatuh-jatuhnya. Tak ingin terjadi sesuatu pada Siska dan anak yang ia kandung, Fandi mewanti keluarganya untuk menjaga Siska.
Keluarganya paham apa yang di maksudkan oleh Fandi. Mereka pun mengangguk dan bersedia membantu membawa Siska kembali ke kamarnya.
Acara tetap berlangsung meski sempat ada insiden yang tidak mengenakan. Fandi menyalami tamu-tamu yang berikan ucapan selamat kepadanya dan Nuning. Bahkan teman-teman Siska yang masih terlihat shyok pun satu persatu ikut memberikan selamat dan segera ingin beranjak pulang.
"Kaget Gue, sumpah! Lo curiga gak sih sama Juna. Kan mereka selalu bareng, bahkan Gue kira mereka pacaran."
Oceh teman Siska yang terdengar oleh Fandi meski sudah berbicara sepelan mungkin di dekat telinga temannya yang lain saat akan bersalaman dengan Fandi.
"Siapa Juna?" Tanya Fandi ketika tangannya sudah berjabat tangan dengan wanita yang tadi berbicara.
"Eh, anu Kak, mana ya?" Wanita panik lalu celingak celinguk mencari keberadaan seseorang.
Mata Fandi itu melihat ke arah mana wanita itu memandang. Seorang yang di duga dekat dengan Siska sudah ia kantongi tinggal mencari tahu hubungan mereka.
Sayangnya orang yang di cari tidak ada dalam pesta acaranya. Melihat wanita itu tidak berhasil memberi tahu yang mana orang yang bernama Juna.
"Kamu tahu alamat tempat tinggal Juna?"
__ADS_1
"Tahu Kak."
Bersambung...