
Bab 50
Semakin Di Kejar Semakin Menjauh
(POV Author)
"Kenal wanita ini Mas?" Tanya seorang wanita kepada pengunjung sebuah mini market di tempat Ratih sedang memilih beberapa makanan.
"Kayaknya pernah lihat." Kata orang yang di tanya.
"Mana coba aku lihat." Kata seorang lagi mendekatkan wajahnya pada sebuah layar ponsel yang di tujukan oleh seorang wanita.
"Ini bukannya Ratih?" Katanya lagi.
Deg, mendengar namanya disebut, Ratih sedikit mengintip dari balik rak pajangan camilan. Ia melihat seorang wanita sedang memperlihatkan sesuatu di layar ponselnya.
"Siapa ya?"Tanya Ratih berbisik pada angin.
"Emangnya kenapa Bu?" Tanya si pengunjung yang mulai di liputi rasa penasaran.
"Saya menemukan foto ini dari handphone milik suami saya. Dan beberapa tempat latar belakang membuat saya datang kesini. Ini teras mini market ini kan?"
"Benar ini Bu."
Si*al! Itu pasti aku! Aku pernah minta di fotoin sama Papa waktu kami minum disini. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Batin Ratih.
Ratih mengintip kembali wanita yang mencarinya itu. Memperhatikan sekitar, dah berencana untuk segera meninggalkan tempat itu.
Ratih menuju kasir dan menutup wajahnya dengan masker yang kebetulan ada dalam kocekan saku jaketnya. Dengan jantung berdebar-debar, dan sedikit gugup ia menyodorkan barang belanjaanya kepada karyawan mini market itu untuk di hitung.
"Kalian tahu tempat tinggalnya dimana?"
"Kami tidak pernah mengobrol, tapi aku tahu dari temanku nama dia Ratih. Karena dia tidak penting, jadi aku tidak pernah menanyakan tempat tinggalnya."
Ratih berdecih tanpa suara dibalik maskernya.
"Totalnya tujuh puluh enam ribu. Ada kartu anggota Mbak?" Tanya karyawan kasir.
"Tidak ada Mbak." Jawab Ratih lalu menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.
"Eh, kayaknya kenal suaranya." Kata seorang pengunjung yang membuat darah Ratih mendadak panas dingin.
Ia mengambil barang belanjaan beserta kembalian lalu bergegas hendak meninggalkan tempat itu.
Brukk!!
Naas, Ratih bertubrukan dengan pelanggan yang baru saja datang dan melewati pintu mini market itu. Camilan dari kantong yang ia pegang pun jatuh dan beserakan di lantai.
Kejadian itu tak luput dari pandangan si wanita yang menanyakan dirinya dan si pengunjung. Karena ketakutan menyelimuti Ratih, ia segera pergi dan berlari meninggalkan orang-orang itu dan sekantong camilan yang jatuh.
"Loh, Mbak ini belanjaannya!"
Seorang pengunjung berusaha mengejar Ratih. Namun Ratih yang ketakutan semakin kencang berlari dan menjauh.
__ADS_1
***
Sudah 3 minggu indah berada di kota ini, namun masih banyak tempat yang belum pernah ia kunjungi. Mumpung di hari minggu libur begini, ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan di Mall yang terdekat dari messnya saja.
Ada juga beberapa keperluan yang hendak Indah beli. Dengan sepeda motornya, dan melalui bantuan Maps dari GPS, Indah mendatangi sebuah Mall yang cukup megah menurutnya.
Sebagai seorang yang bekerja di bidang konstruksi, Indah cukup lama memandangi bangunan Mall itu dari arah depan. Desain yang unik dan menarik membuat Indah berangan-angan akan membangun sebuah rumah yang sedikit mirip dengan desain bangunan Mall itu.
Setelah puas memandangi dari luar, perlahan Indah masuk ke dalam dan melihat-lihat beraneka outlet yang memanjang barang-barang mereka. Karena tidak tahu dimana letak outlet barang yang ia inginkan, Indah mengelilingi tempat itu dengan berjalan santai.
Langkah kaki Indah berhenti pada sebuah outlet yang menarik perhatiannya. Outlet itu memajang sebuah baju casual dengan model simpel ke kinian. Cukup lama Indah memandangi baju yang ada di patung itu.
"Beli baju banyak-banyak buat apa coba?" Gumamnya pada angin.
Ia pun mengalihkan pandangannya dari patung itu. Namun pandangannya tanpa sengaja menangkap seseorang yang sedang berjalan ke arahnya tanpa orang itu sadari. Indah segera berbalik badan dan mengambil langkah seribu untuk segera menjauh.
Indah mengatur napasnya, ketika ia berhasil sembunyi dari balik dinding sebuah outlet sandal dan sepatu. Sesekali Indah mengintip untuk memastikan lagi bahwa ia tidak di ikuti oleh seseorang itu.
"Untung saja dia tidak melihatku." Gumam Indah pada angin.
Indah merasa lega karena berpikir dirinya telah aman dari pertemuan dengan seseorang yang ingin ia hindari.
"Tidak menyangka kita bertemu di sini Bu Indah."
"Astagfirullah!!"
Indah terkejut bukan main ketika ia membalikan badannya, seseorang yang ia hindari tepat berada di depannya.
"Maaf, kalau saya mengagetkan anda. Tapi kenapa anda disini? Apa anda bersembunyi dari saya?"
Pertanyaan yang di lontarkan oleh orang itu langsung menancap di hati Indah. Wanita itu terdiam sambil melihat wajah si pria tampan yang tersenyum padanya.
Sekian detik berlalu Indah masih tidak bisa berkata apa-apa. Wanita itu masih mencoba menetralisir degup jantung dan napasnya sembari mencari kata-kata yang tepat untuk ia beralasan.
"Tidak, saya hanya sedang menunggu seseorang. Kami janjian ketemu lagi di sini." Jawab Indah berbohong.
"Oh, siapa?"
"Anda juga tidak kenal kalau saya sebutkan."
"Hehehe, benar juga. Perlu saya temani sampai orang itu datang?"
"Tidak usah. Lanjutkan saja urusan anda. Saya bisa menunggu sendiri."
Kenapa dia belum pergi juga sih?! Batin Indah.
Indah sangat berharap lelaki dihadapannya ini segera pergi meninggalkan dirinya.
"Saya akan menunggu.
Dalam hati Indah berdecak kesal. Ia lalu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
"Loh, mau kemana?!" Tanya sang pria bingung.
__ADS_1
"Menghindari mu!" Jawab Indah kesal dan semakin menjauh.
Ya, lelaki yang membuat Indah berusaha menghindar adalah lelaki yang mengajaknya berpacaran setelah berkenalan 5 menit. Tentu saja Indah akan ketakutan bertemu lelaki seperti Roy.
"Apa aku menyeramkan?" Tanya Roy pada angin. Ia mengikuti langkah Indah yang semakin menjauh.
Indah yang sesekali menoleh kebelakang dan melihat Roy terus saja mengikutinya, kini berjalan setengah berlari untuk menjauh dari lelaki itu. Hingga sampailah ia ke halaman parkiran kendaraan.
"Mau anda apa sih?!" Indah bertanya setengah berteriak karena kesal.
"Sorry, sorry! Saya minta maaf kalau membuat Bu Indah ketakutan atau kesal."
"Itu tahu!" Kata Indah tanpa basa-basi.
"Saya serius dengan ucapan saya waktu itu. Sampai-sampai saya susah tidur karena terus terbayang akan Bu Indah."
"Bisa gila aku!" Gumam Indah kesal mengalihkan pandangan.
Menghindari mulut singa, ternyata Indah datang ke Makassar harus bertemu sang buaya.
Indah lelah harus menghadapi masalah. Ia hanya ingin tenang dalam hidupnya untuk saat ini. Indah duduk di emperan planter box yang tersusun rapi di area parkiran. Kakinya pegal karena tadi ia berlari dengan menggunakan heels. Ia memandang kesal Roy yang ikut duduk di sampingnya.
"Saya baru saja bercerai. Jadi saya tidak mungkin menerima anda untuk jadi kekasih saya."
"Oh...." Roy yang sedikit terkejut hanya bisa ber-oh ria merespon ucapan Indah.
"Saya cukup trauma untuk memulai suatu hubungan. Apalagi dengan perkenalan yang super singkat!" Ucap Indah menatap tajam Roy.
Roy merasa tertusuk dengan ucapan dan tatapan Indah. Ia merasa bersalah yang langsung menembak Indah untuk menjalin hubungan dengannya.
"Maaf, saya tidak tahu sebelumnya. Saya hanya berpikir tidak ingin kehilangan kesempatan saja."
Indah mengalihkan pandangan menatap jauh ke depan.
"Saya di khianati. Dan saya rasa anda cukup mengerti dengan apa yang saya rasakan. Jadi tolong, saya datang ke kota ini untuk memulai hidup yang lebih tenang."
Indah menatap dengan tatapan memohon kepada Roy hingga membuat hati lelaki itu terenyuh.
"Maafkan saya." Ujar Roy tertunduk.
Lelaki yang baru saja mengetahui isi hati wanita yang ia sukai sejak pandangan pertama itu merasa bersalah karena menuruti egonya.
"Baiklah. Saya tidak akan memaksa Bu Indah untuk menyukai saya, apa lagi menerima ajakan saya yang kemarin. Tapi satu hal yang saya minta, jangan benci kepada saya. Saya ingin berteman dengan anda."
Indah menatap sorot mata yang tampak memohon padanya. Ia pun menghela napas panjang.
"Hanya berteman."
Ucapan Indah langsung mendapat anggukan cepat dari Roy.
Lelaki itu berpikir setidaknya masih ada harapan dari pada di benci.
Bersambung...
__ADS_1