
Bab 23
Berdebat Di Medsos
Setelah meminta doa dari kedua orang tuaku di kampung, hari ini aku kembali ke kosanku. Walau kekecewaan begitu terlihat ketika aku mengatakan rumah itu diambil alih oleh Mas Heru, tapi ke dua orang tuaku tidak menyalahkan aku yang telah bodoh percaya kepada Mas Heru dulu itu.
Kata Ayahku, mungkin rumah itu bukan rejekiku untuk memilikinya lebih lama. Dan Ayahku mengatakan, akan memberikan lagi rumah yang baru untukku. Tapi aku menolak, kali ini aku ingin berusaha memilikinya secara mandiri. Sudah cukup bagiku orang tuaku berkorban untukku, sedangkan aku belum sanggup membahagiakan mereka.
***
Besok hari yang aku tunggu untuk menjalani proses sidang pertamaku. Aku meminta ijin tidak masuk kerja lagi kepada atasanku, karena menghadiri sidang perceraianku.
Sebuah notifikasi dari aplikasi berlogo huruf F berdenting. Padahal aku sudah lama tidak menggunakan aplikasi itu meski aku tidak pernah keluar dari akunku disana.
Pemberitahuan dari aplikasi itu mengatakan jika Heru Kurniawan telah menandai anda dalam sebuah postingan.
Aku menjadi penasaran, ada apa Mas Heru menandai diriku di aplikasi yang di gemari kaum Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang kebanyakan menjelma bagai kaula muda.
Jika suami sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi istri malah memilih pergi bagaimana aku harus bertanggung jawab, sedangkan dirinya tidak ingin bersama lagi.
Aku mencelos melihat kata-kata yang di posting Mas Heru. Banyak yang menyukai postingan itu tanpa tahu kejadian yang sebenarnya dan bahkan komen yang membanjiri kolom komentar dengan berbagai tanggapan, hujatan, serta pujian.
Mas Heru benar-benar kekanak-kanakan. Jika aku menanggapi postingan itu, sama saja aku memakan umpan yang Mas Heru sediakan. Bisa saja dia punya rencana di balik postingannya itu. Lebih baik aku diamkan saja dan fokus menghadapi hari esok.
Sebaiknya aku juga mengubah pengaturan aplikasi ini agar siapa saja yang menandai diriku dalam postingannya, harus lewati persetujuanku lebih dulu. Jadi postingan seperti tadi tidak langsung muncul di beranda aplikasi ku.
Sepertinya aku harus menyusun rencana baru. Bila sudah resmi bercerai. Akan aku buktikan kepada Mas Heru jika dia salah telah mengkhianati diriku.
"Ting!"
Notif di aplikasi berlogo F kembali bunyi. Kali ini bukan menandai tapi justru pesan pribadi yang dapat dikirim dari aplikasi itu.
Mas Heru : Indah kenapa kamu tidak bisa di hubungi? Kamu pasti telah memblokir nomer ku. Iya kan? Tega sekali kamu Indah.
Apalagi ini? Tidak ada habisnya Mas Heru selalu membuatku pusing kepala. Dan cara bicaranya begitu membuatku mual.
Mas Heru : Kamu sudah baca pesan ini kan? Ayo jawab Indah.
Mas Heru : Diantara kamu dan Wina, aku lebih mencintai kamu Indah. Tidak ada yang berubah dari perasaan ku dulu terhadap mu.
Haah, dia pikir aku bisa percaya lagi begitu saja? Aku tidak sebodoh yang kamu kira Mas.
Mas Heru : Aku tahu aku sudah berbuat khilaf Indah. Tapi aku juga tidak bisa langsung meninggalkannya karena dia sedang hamil anakku. Karena itu aku harus menikahinya.
Tetap saja walau dia tidak hamil pun, kamu sudah bersalah karena telah selingkuh dari ku Mas. Kamu melanggar janji mu dulu untuk tetap setia padaku.
Aku : Berapa kali kalian berbuat di belakang ku Mas?
Mas Heru : Akhirnya, kamu membalas juga pesanku Indah.
Aku :Jawab saja Mas, berapa kali?!
__ADS_1
Mas Heru : Itu... tidak banyak Indah, hanya beberapa kali.
Enak saja dia mengatakan khilaf, sedangkan ia menikmatinya berkali-kali.
Aku : Hanya Mas?! Hanya beberapa kali dan kamu sebut itu khilaf?! Yang namanya khilaf cukup sekali Mas, bukan mengulangi berkali-kali! Jangan hubungi aku lagi, apalagi menandai ku di postinganmu! Kita akan bertemu besok, di akhir kejelasan pernikahan kita!
Mas Heru : Pikirkan lagi Indah, jangan hanya menurutkan emosi sesaat. Aku yakin rumah tangga kita masih baik-baik saja. Kamu hanya dalam keadaan emosi Indah. Dan ingat Indah, jika kamu memilih berpisah, maka selamanya kamu tidak akan bisa kembali kerumah itu.
Aku : Oke, silahkan kamu mau merampas rumah itu. Tapi ingat Mas, hutang keluargamu kepada orang tua ku jangan lupa untuk di bayar. Karena kedepannya kita sudah tidak ada hubungan lagi, jadi tidak ada yang namanya merelakan hutang!
Mas Heru : Tidak bisa begitu Indah. Maka dari itu pikirkan baik-baik.
Haah, jadi dia mempertahankan pernikahan ini hanya untuk memudahkan mereka agar tidak perlu membayar hutang.
Napas ku turun naik menghadapi Mas Heru, meskipun itu hanya melewati sebuah aplikasi. Sepertinya aku pun harus menghapus aplikasi ini, dan memblokir semua media sosial ku dari Mas Heru agar tidak terjadi hal seperti ini. Aku tidak akan bisa hidup tenang jika Mas Heru masih berada di sekitarku.
Lihat saja Mas, akan aku buktikan betapa kamu menyesal telah menyakiti, mengkhianati dan merampas hak ku.
"Triiing...! Triiiing...!"
Suara dering handphone mengejutkan ku. Ku kira Mas Heru lagi yang mencoba menghubungiku. Tapi ternyata tertera nama Rara memanggil di sana. Tanpa membuang waktu lagi aku segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Assalamualaikum Ra..."
"Waalaikumsalam, In kamu ada di kosan?"
"Iya Ra, kenapa?"
"Iya Ra, tadi aku sudah minta ijin sama Pak Adam. Aku mau fokus ngurusin masalahku dulu Ra."
"Oh begitu. Kalau masih ada sisa waktu, kamu mau temenin aku ketemuan sama klien baru tidak? Aku masih canggung kalau di suruh ngobrol langsung."
"Hanya nemani saja ya, aku tidak ikut bantu ngomong ya. Hehehe..."
"Siap, itu juga udah seneng aku."
"Ya sudah. Emang kamu janjian jam berapa."
"Tidak pakai janjian. Tapi katanya besok nama berapa pun bisa asal jangan jam tidur. Hehehe..."
"Dimana?"
"Nanti aku ajakin di kafe dekat-dekat kantor Pengadilan Agama, gimana? Biar kamu nyusul tidak kejauhan."
"Boleh."
"Makasih ya Indah."
"Heleh, kayak sama orang lain saja."
"Hehehe, ya sudah aku tutup ya. Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..."
***
Pagi cukup cerah hari ini, dalam hati berdoa agar sidang pertama ku hari ini berjalan dengan lancar. Bukti-bukti yang di perlukan pengacara sudah aku berikan. Aku pun meresap teh hangat ku untuk mengisi tenaga di pagi itu di temani kue brownies kesukaanku.
"Tok... Tok... Tok...! Cleklek!" Suara pintu di ketuk lalu dibuka seseorang.
Wajah manis Jihan tersembul dari balik pintu.
"Boleh aku masuk Kak?" Tanya gadis itu.
"Eh, Ji. Masuk sini. Kebetulan Kakak lagi sarapan. Kamu udah sarapan belum? Sini sarapan sama-sama." Ajakku.
Jihan melangkah masuk dan langsung duduk di hadapanku. Beralas karpet plastik, kami duduk dengan santai sambil menikmati sarapan pagi itu.
"Kamu mau teh, atau kopi?"
Jihan menggeleng.
"Aku udah minum tadi di kamarku Kak." Jawab Jihan sambil mengambil sepotong brownies dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Kak, sebentar lagi aku harus melakukan kuliah kerja nyata. Tapi bingung mau magang dimana. Apa ada tempat yang mau menerima mahasiswa seperti aku?" Jihan kembali berucap, kali ini ia tampak menghadapi kendala ketidak percayaan terhadap dirinya.
"Memangnya kamu itu mahasiswa yang seperti apa? Menurut Kakak, kamu rajin kok. Dan kamu juga pintar. Pasti ada tempat yang mau nerimamu untuk magang di sana."
"Tapi aku tidak pede Kak."
"Jangan tidak percaya diri seperti itu. Ayo, katanya kamu ingin segera bisa membantu orang tua mu. Atau coba nanti kamu ajuin ke kantor tempat Kakak bekerja. Siapa tahu kamu bisa di terima magang di sana."
Ada binar di mata Jihan ketika mendengar saranku.
"Beneran Kak? Nanti Jihan coba deh. Semoga bisa diterima ya Kak. Kan disana enak ada Kak Indah dan Kak Rara yang bisa bantu aku, kalau aku kebingungan, hehehe..."
"Bisa aja kamu."
"Kakak udah rapi gini mau kemana? Kerja? Tapi kok kayak bukan pake baju mau kerja." Tanya jihan yang baru menyadari penampilanku.
"Kakak lagi ada urusan di luar kantor."
"Apa aku gangguin Kakak ya ini? Kakak sudah mau pergi?"
Aku menoleh ke arah jam yang melingkar di tangan kiri ku, lalu menggeleng.
"Belum, masih ada satu setengah jam. Masih bisa bersantai menikmati sarapan. Ayo habiskan kuenya, apa kamu mau camilan lain? Coba lihat di rak lemari Kakak, ambil saja yang mana kami mau."
"Paling betah deh ke kamar Kakak. Hehehe..."
"Dasar kamu." Aku pun ikut terkekeh melihat tingkah gadis itu yang malu-malu tapi mau itu.
Bersambung...
__ADS_1
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊