Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 42 Ijin Kepada Orang Tua


__ADS_3

Bab 42


Ijin kepada Orang Tua


(POV Author)


#Sebelumnya saya mau ucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada para pembaca yang masih setia pada kisah Indah dan orang-orang di sekitarnya 🙏. Jika boleh saya meminta lagi untuk ulasan Rating Kasih bintang 5 ya kakak, biar saya lebih semangat lagi. Love full buat kalian para pembaca ku💕💕🙏🙏


***


Semakin hari Indah semakin yakin untuk memilih pindah ke kantor cabang di Makassar. Wanita itu merasa lelah harus menghadapi masalah yang tidak pernah usai dari keluarga itu-itu lagi.


Hari itu Indah pulang ke kampungnya untuk menemui ke dua orang tuanya. Ia berniat meminta ijin untuk bekerja di kantor cabang di Makassar.


Ada perasaan berat dalam hati indah untuk meninggalkan kedua orang tuanya. Namun ia pun telah membulatkan tekad untuk memulai kehidupan baru disana.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam, Indah! Ya Allah, ngape kau tak cakap nak balek In?"


Ibu Sumi langsung menyambut Indah dengan pelukan hangatnya. Lalu setelah itu, Indah pun menyalami dan mencium punggung tangan ke dua orang tuanya dengan takzim.


"Kenape malam kau baru tibe In?" Tanya sang Ayah.


"Tadi nak kesini dah kesorean Yah." Jawabku.


Indah tiba sudah pukul 20.05 malam. Mereka lalu duduk di kursi ruang tamu. Di meja itu tampak segelas kopi dan sepiring pisang rebus menemani diwaktu santai orang tua Indah sambil menonton televisi.


"Kau sudah makan In?" Tanya Bu Sumi.


"Sudah Mak, tadik di jalan. Pas Masok waktu maghrib, Indah berhenti di Masjid, setelah itu barulah Indah carek makan."


"Apeke ade sesuatu In?" Tanya sang Ayah yang sudah hafal dengan karakter putrinya.


"Ye Ayah. Indah balek ade yang nak Indah bagi tahu Ayah dan Emak. Indah nak minta ijin ke Ayah dan Emak."


"Ade ape In?" Tanya Ibu Sumi


Indah pun mulai bercerita tentang apa yang terjadi padanya, bahwa Heru telah di penjara dan keluarganya sering mengancam dirinya serta membuat keributan di tempat kerjanya.


"Indah nak pindah kerje Mak, Yah, ke Makassar di kantor cabang yang masih satu name dengan kantor sekarang."


"Jaohnye In...." Kata Ibu Sumi terkesiap.


Sang Ayah menghela napas, dan diam.


Indah pun tidak berani berbicara lagi sebelum ayahnya berbicara lagi.


"Terlalu jaoh nak, kenapa kau tak cari kerje yang masih di kote ini je. Atau kau tak usah kerje, Ayah engkau masih sanggop ngasi makan dan ngasi kau duit untok keperluan engkau." Ujar Ibu Sumi yang tampak khawatir.


"Indah tahu tempat itu jaoh Mak. Indah nak cobe memulai hidup baru Indah. Kalau di kote ini rasenye Indah masih sulit lupakan ape yang sudah terjadi dengan In."


"Pergilah, bile kau rase nak cari bahagie di kote laen." Ucap Ayahku tiba-tiba.

__ADS_1


"Yah! Emak tak setuju! Tempat tu sangat jaoh, macam mane kite nak jumpe die? Die anak kite satu-satunye?!" Protes Ibu Sumi tidak setuju atas keputusan Pak Abdul.


"Die nak cari pengalaman baru, die nak cari bahagie disane. Awak nak die selamenye hidup sorang je?! Die butuh kawan sampai tue bersame. Kalau kite dah mati dolok, siape tempat anak engkau berkeluh kesah? Ape kau tak nak punya cucu?"


Bu Sumi terdiam setelah mendengarkan penjelasan yang panjang dari Pak Abdul. Walau hatinya begitu gelisah tapi ia enggan membantah ucapan sang suami.


Indah tidak menyangka Ayahnya memiliki pemikiran sejauh itu. Bahkan untuk membina rumah tangga lagi, Indah masih belum memikirkan lagi sampai kesana.


"Kalau kau yakin, Ayah ijin kan kau kesane. Tapi ingat pesan Ayah, bile kau susah dan saket di sane ape agek tak bahagie, segere balek!"


Mata Indah mengembun dengan wajah tertunduk.


"Iye Ayah."


Begitulah cara Pak Abdul menyayangi putri semata wayangnya. Pak Abdul tidak ingin membatasi keinginan Indah jika itu membuat anaknya tidak bahagia. Tapi Pak Abdul juga tidak mendukung bila Indah melakukan perbuatan dosa yang dilarang agama.


Malam itu Indah tidur dengan Ibunya. Malam itu ia ingin berlama-lama memeluk Ibunya sampai tertidur.


***


Sementara itu di tempat yang berbeda.


"Huuuu... Huuu...." Wina menangis sesugukan mengenang nasibnya yang kini di tinggal Heru yang telah mendekam di penjara. Ia memeluk bantal gulingnya di kamar sempit di rumah mertuanya.


"Hei Wina, kamu tidak bisa diam hah? Kecilkan suaramu!" Teriak Ratih yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Wina.


Semenjak Heru di penjara, Ratih menjadi pengganti memikul beban keluarga dari uang yang di beri si Papa.


Jadilah Ratih merasa sebagai penguasa di rumah itu. Padahal ia tidak tahu saja pembagian dari Indah untuk Heru masuk ke rekening Wina sebagai pegangan untuk masa depan anaknya.


"Kenapa kalian pada ribut sih?!" Teriak Bu Yarsih berada di depan pintu antara kamar Wina dan Ratih.


Ratih yang mendengar suara Ibunya di depan pintu segera keluar dari kamarnya.


"Dia tuh Bu! Tiap malam nangis bikin kesel aja."


"Winaaaa! Winaaaa!" Teriak Bu Yarsih.


"Ceklek!" Suara pintu di buka.


Wina menghapus jejak air matanya namun masih terdapat isakan tangisnya.


"Kenapa kamu nangis? Kamu tidak memikirkan calon cucuku hah?"


"Justru aku memikirkan calon anakku Bu, nasibnya bagaimana kelak jika lahir tanpa Ayahnya."


"Hei Wina, kamu itu di tinggal ke bui, bukan di tinggal mati! Cucuku nanti bisa lihat bapaknya kalau sudah besar. Sudah tidur kalian sana! Besok pagi pekerjaan rumah harus beres sebelum warung di buka."


Mereka akhirnya masuk ke kamar masing-masing setelah di marahi oleh Bu Yarsih.


Wina masuk dengan wajah masam. Sudah pasti ia bakal kelelahan seperti hari-hari sebelumnya. Tugas membersihkan rumah kini sudah di limpahkan padanya, belum lagi ia harus mencuci pakaian Ibu dan adik iparnya.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Peluh keringat Wina membasahi wajahnya yang tampak lelah yang tengah berkutat pada baskom yang penuh dengan rendaman pakaian kotor. Dari mulai menyapu, mengepel lantai sampai mencuci tumpukan piring kotor ia kerjakan sendiri.


"Nih sekalian!" Perintah Ratih sambil melemparkan pakaian kotornya ke arah Wina.


Wina menatap tajam kepada Ratih.


"Kamu kan bisa mencuci sendiri Ratih?!" Ujar Wina tidak suka atas perbuatan Ratih padanya.


"Kamu lupa siapa yang ngasi kamu makan? Aku!" Ucap Ratih berbangga diri sambil menunjuk dadanya.


"Bukan kamu tapi Ibu yang belanja sayur dan lauk." Bantah Wina tak mau kalah.


"Kamu kira dari mana Ibu dapet duit kalau bukan dari aku?!"


"kan dari hasil warung?!" Wina terus menjawab tidak mau kalah.


"Kamu lupa warung itu siapa yang buat?! Isinya siapa yang modalin kalau bukan aku?! Tinggal di rumah orang itu harus bisa bawa diri dong! Sudah numpang, dapet makanan gratis dan tidak tahu diri apa tidak bikin emosi kalau begitu?!"


Wina kalah debat, wajahnya semakin masam karena Ratih tidak menghargainya sebagai Kakak ipar.


"Kalau kamu memang banyak duit ya beli mesin cuci dong!" Wina mencoba membela diri.


"Buat apa? Biar kamu enak cuma tiduran doang gitu?! Cuma numpang bertingkah!"


"Aku Kakak iparmu disini!" Jawab Wina sambil menghempaskan pakaian kotor ke baskom.


Wina lalu berdiri sejajar dengan Ratih. Ia sudah berang dengan kelakuan Ratih padanya yang tidak memiliki etika, dan hanya memandangnya dengan sebelah mata atau tidak menghargainya.


"Terus kenapa?! Minta di hargai?"


"Kamu tuh ya!!"


"Ughh!!"


Tangan Wina dengan cepat menuju ke kepala Ratih.


"Aaaa..... Sakiiit!! Ibuuuuu... !! Ibuuuu...!!" Teriak Ratih kesakitan ketika Wina murka dan menjambak rambutnya.


Ratih pun tidak mau kalah dan melakukan hal yang sama. Adu jambak pun berlangsung sengit sampai Bu Yarsih berlari dari warung menuju ke belakang.


"Kalian ini apa-apaan sih?! Berhenti semua!! BERHENTIII!!" Teriak Bu Yarsih hingga menaklukkan dua wanita dengan aksi jambaknya itu.


Wajah Bu Yarsih memerah dengan mata melotot menatap anak, dan menantunya. Napasnya naik turun melihat kelakuan dua wanita itu.


"Ratih kamu lupa Wina sedang hamil? Dan kamu Wina kenapa sama adik sendiri kasar begitu?!"


"Dia yang mulai Bu." Kilah Wina.


"Sudah, cepat selesaikan cucianmu dan bantu di warung!"


Dengan wajah masam Wina kembali menggeluti tumpukan pakaian kotor. Sedangkan Ratih kembali berchat ria dengan si Papa di kamarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2