
Bab 92
Kehilangan
(POV Author)
"Almira kemana Bu?" Tanya Siska setelah menuju kamar Almira tetapi tidak menemukan bayi itu di sana.
"Kamu kemana dua hari tidak pulang?!"
Bukannya menjawab pertanyaan Siska, Bu Naima malah menanyakan kemana putri angkatnya pergi selama dua hari tidak pulang kerumah.
"Tidak kemana-mana Bu, aku selalu di rumah kok." Kilah Siska.
"Jangan bohong kamu! Nur mengatakan kamu tidak pulang sejak kemarin."
"Ck!!"
"Apa selama ini kami tidak tahu kelakuanmu yang sebenarnya? Mau jadi apa kamu Siska?!"
"Ibu tidak pernah mendukungku!"
"Mendukung apa? Kapan Ibu tidak pernah mendukungmu? Selama ini kamu Ibu sekolahkan di tempat yang sama dengan Fandi, begitu pun dengan kuliahmu. Tidak ada yang Ibu bedakan dari kalian, lalu kenapa kamu mengatakan Ibu tidak mendukungmu. Dalam hal apa Siska?"
"Ibu tidak menikahkan ku dengan Mas Fandi."
"Astagfirullahaladzim..." Bu Naima ngucap sambil mengelus dada. "Fandi itu Kakak mu Siska."
"Ibu lupa kami tidak sedarah?! Mas Fandi sudah tidur denganku Bu, jadi dia harus menikahiku!!"
Bu Naima bingung mau berkata apa dan menjelaskan bagaimana kepada putri angkatnya yang ternyata begitu keras kepala.
"Ibu tidak bisa mamaksa Fandi."
"Tapi Bu...!"
Setelah berkata demikian, Bu Naima mengabaikan Siska dan masuk ke dalam kamarnya. Sungguh wanita paruh baya itu pun kebingungan dengan segala kerumitan yang di ciptakan anak-anaknya.
Merasa di abaikan sang Ibu, Siska menemui Bi Nurma yang rumahnya terletak tepat di belakang rumah Bu Naima. Siska masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Ia mencari kesana kemari sampai ke halaman belakang.
Bi Nurma ternyata sedang membersihkan pekarangan bunganya serta berbagai tanaman yang ada disana.
"Bi! Almira dimana?" Tanya Siska tanpa basa-basi begitu melihat Bi Nurma.
"Almira di bawa Papanya." Jawab wanita itu jujur.
"Loh, disana kan tidak ada yang mengasuh?"
"Fandi sudah mencarikan pengasuh untuk Almira."
"Kenapa tidak aku saja sih?! Malah lebih percaya kepada orang lain!" Sungut Siska yang tidak digubris Bi Nurma.
"Ck!"
__ADS_1
Berdecak kesal Siska kembali ke rumah Ibunya. Menghempas bobot tubuhnya, dia duduk di sofa. Wanita itu tengah berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa mengambil Almira kembali, atau membujuk Fandi agar menjadikannya pengasuh Almira.
Almira adalah satu-satunya yang dapat menahan Fandi di sisinya, setelah menjebak Fandi tidur bersama tidak membuahkan hasil.
"Aarrgh!" Siska mengacak-ngacak rambutnya. Buntu, tidak ada ide cemerlang untuk meraih hati Fandi.
"Apa aku harus lewat jalur alternatif ya?!"
Siska mengambil kembali tas jalannya yang telah ia letakkan di kamarnya beserta kunci motor maticnya.
"Mau kemana lagi kamu Siska? Jangan buat masalah lagi dengan Kakakmu!"
"Aku mau cari angin segar, Bu..." Jawab Siska. "Disini sumpek!" Keluhnya lagi.
Bu Naima hanya menatap punggung putri angkatnya yang perlahan mulai menjauh meninggalkan halaman rumah. Wanita paruh baya itu menghela napas berat menghadapi kerumitan hubungan ke duanya.
Siska melajukan sepeda motornya menuju sebuah kostan bebas yang bisa di tinggali pria maupun wanita.
"Loh, kok balik lagi? Masih kurang ya? Hehehe..."
"Aku hanya butuh tempat untuk tenang. Bukan selalu memenuhi kebutuhan se*ks*ualmu Juna!
"Memangnya kenapa lagi?!"
Lelaki yang di panggil Juna itu mendekat pada Siska dan ikut duduk berdampingan di atas kasur busa di kamar sempit berukuran 2x2 meter yang merupakan kamarnya sendiri.
"Almira sudah di ambil Mas Fandi."
"Ck! Sadarlah Siska, kamu itu mungkin hanya terobsesi dengan Kakakmu itu." Ujar Juna.
"Apa kamu kenal orang pintar yang bisa merubah hati seseorang?"
"Astaga, Siska!! Kamu jangan aneh-aneh! Tidak! Aku tidak ada kenalan orang-orang seperti itu!" Jawab Juna kesal.
"Dasar, tidak membantu sama sekali!!" Gerutu Siska memandang Juna dengan tatapan kesal.
"Aah, lebih baik aku menghilangkan stres mu saja...!"
"Junaaa...! Mmphh... Mmphh!"
Mulut Siska di bungkam oleh Juna dengan bibirnya. Dengan rakus Juna melahap bibir Siska tanpa memberi jeda.
Awalnya Siska menolak dengan memukul-mukul dada Juna yang membuatnya kekurangan asupan oksigen. Namun lama kelamaan pukulan itu semakin memelan dan akhirnya hanya pegangan di bahu dengan mata terpejam.
***
Senja di ufuk barat nyaris tenggelam. Waktu menujukan sudah menjelang maghrib. Almira sudah wangi dan sedang di beri susu formula. Nuning melirik jam di tangannya, mengingat Fandi belum juga pulang dan ia pun hendak menunaikan kewajibannya.
Nuning menggendong Almira dalam dekapannya. Ia hendak meminta tolong kepada Mbok Nah untuk menjagakan Almira sebentar.
"Mbok Nah, bisa titip Almira sebentar? Saya mau sholat dulu." Tanya Nuning.
"Iya boleh, Neng. Sini sama Mbok Nah dulu."
__ADS_1
Nuning menyerahkan Almira yang berada dalam gendongannya kepada Mbok Nah. Dengan senang hati Mbok Nah menerima bayi lucu itu sambil menimangnya.
"Mbok Nah, saya permisi sebentar ya?"
"Ya silahkan, Neng."
Nuning mengangguk, lalu melangkah menuju kamar Almira untuk melakukan kewajiban raka'atnya disana.
Dengan khusyuk Nuning melakukan sholat maghribnya tanpa menyadari kehadiran Fandi yang hendak melewati kamar anaknya menuju kamarnya sendiri.
Pintu kamar Almira terbuka dengan lebar. Dengan mudah Fandi dapat melihat bagaimana keadaan dalam ruangan itu.
Fandi tertegun melihat Nuning yang masih mengingat Tuhan mereka. Sedangkan ia sendiri selalu terpuruk dalam kesedihannya dan bergelut dengan kesibukannya.
Sebagai tuan rumah, Fandi merasa malu dengan Nuning. Pria itu tanpa sadar berdiri tak bergeming ditempatnya. Memandang wajah ayu yang tampak teduh dengan mukenanya.
"Assalamualaiku warahmatullah...."
"Waalaikumsalam...." Jawab Fandi lirih ketika sadar mendengar salam yang di ucapkan Nuning tanda sholatnya sudah selesai.
Fandi segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Lelaki itu segera membersihkan diri dan menghadap sang Khaliq. Rupanya kehadiran Nuning membawa dampak positif kepada lelaki itu.
Nuning melipat tapi mukena yang ia gunakan lalu meletakkannya kembali di tempatnya. Wanita itu teringat Mbok Nah belum melakukan kewajibannya, ia pun segera beranjak untuk mengambil kembali Almira yang tadi ia titipkan.
"Mbok, saya sudah selesai."
"Oh,Neng Nuning. Bapak sudah pulang. Sepertinya sebentar lagi Neng sudah boleh pulang." Tutur Mbok Nah menyampaikan apa yang tadi pagi tuannya sampaikan.
"Baik, Mbok. Saya akan menunggu Bapak dulu, setelah itu baru saya pulang. Sini Mbok Almiranya, biar sama saya kembali."
Mbok Nah pun memberikan Almira kepada Nuning untuk di gendong. Bayi lucu itu ternyata tertidur di gendongan Mbok Nah tadi.
"Iya, Neng. Kalau begitu Mbok sholat dulu ya?"
"Iya, Mbok. Silahkan..."
Mbok Nah tersenyum sebelum berlalu pergi meninggalkan Nuning yang menggendong Almira.
Nuning pun kembali beranjak ke lantai atas dimana kamar Almira berada. Perlahan ia menaiki tangga, begitu tiba di kamar, dengan hati-hati ia meletakkan Almira dalam box bayinya.
"Almira Sudah tidur?"
Suara barito Fandi mengagetkan Nuning.
"Oh, Pak. Iya Pak."
"Kamu sudah boleh pulang Nuning, setelah ini aku yang akan menjaga Almira. Apa kamu tidak apa-apa pulang sendiri?" Tanya Fandi mengingat Nuning adalah seorang wanita.
"Tidak apa-apa Pak, di jalan masih ramai jam segini. Lagian ini masih awal. Kalau begitu saya pamit pulang."
"Makanlah dulu sebelum pulang. Dan hati-hati di jalan. Maaf aku tidak bisa mengantarmu."
"Terima kasih Pak. Tidak apa-apa. Saya permisi..., Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." Jawab Fandi.
Bersambung...