Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 29 Heru Berbuat Ulah


__ADS_3

Bab 29


Heru Berbuat Ulah


Cuaca di pagi ini sedikit mendung dan sepertinnya akan turun hujan. Hembusan angin terasa makin dingin hingga memaksaku menggunakan cardigan.Teh hangat dan roti biskuit yang menemani sarapan pagiku hari ini segera ku habiskan untuk lekas pergi menuju kantor sebelum hujan membasahi bumi.


Tak terasa waktu bergulir, weekend datang lagi dan sidang kedua tinggal 3 hari lagi. Keinginanku kini semakin kuat untuk berpisah dengan Mas Heru. Apalagi kemarin aku mendapat kabar dari orang tuaku kalau Mas Heru datang menemui mereka.


Flash Back On


Aku merebahkan diri di kasur sebelum mandi. Sungguh pekerjaan hari ini membuatku begitu letih. Nyaris saja mata ini terpejam ketika suara dering telpon mengejutkaku hingga aku terpaksa membuka mataku. Ada nama 'Ibuku' di layar gawaiku. Tanpa menundanya aku segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum Mak..."


"Waalaikumsalam Indah. Kau maseh di tempat kerje In?"


"Dah balek Mak. Ade ape?"


"Oh.., Mak cuma maok mengabarkan, tadi Heru datang ke rumah ini. Die kate tak nak pisah dengan engkau. Segale Ayah engkau pun die bujuk supaye perceraian tu tak terjadi. Ape yang sebenarnye terjadi In?"


"Begitulah Mak. Mas Heru memang tak nak pisah dengan In. Tapi Indah tak lagi nak berumah tangge dengan Mas Heru. Hati Indah sakit Mak. Biar die kate nak berlaku adil untok kami berdue, tapi Indah tak rele Mak. Mas Heru dah banyak bohongkan Indah. Apalagi keluarge Mas Heru pon dah sering menyakiti hati Indah. Kalau bukan selingkuh, mungkin Indah bise berusahe jalani biduk rumah tangge. Tapi kepercayaan Indah dah die khianati Mak. Indah tak sanggop hidup dengan Mas Heru lebeh lame lagi."


Keluh kesah selama ini yang aku tahan akhirnya aku keluarkan juga. Tak baik sebenarnya menceritakan aib rumah tangga sendiri. Tapi dengan masalah seberat ini, tentu pendapat orang yang berpengalaman atau yang lebih tua perlu kita dengar sarannya yang bisa saja membawa kebaikan untuk kita.


"Ayah engkau dah kate, bahwa die tak akan memakse engkau untok kembali kepade Heru jika kau tak merase bahagie. Tapi, Emak pon tak setuju andai engkau balek lagi dengan Heru. Baru hari ini Emak tahu tabiat Heru yang sebenernye. Tak punye rase sopan santun dan terlalu memakse ape yang die nak."


Aku membuangnya napas berat. Apa yang sebenarnya sudah Mas Heru lakukan sampai-sampai Ibuku berkata demikian.


"Maafkan Indah Mak..., Indah telah menyusahkan Emak dan Ayah."


"Engkau tak perlu minta maaf In, mungkin ini dah takdir Ilahi. Sabar, ikhlas jalani semue dan tetap istiqomah. Emak selalu mendoakan yang terbaek untok anak Emak."


"Iye Mak."


"Dah tu. Kau dah mandi In?"


"Belom Mak."


"Mandilah. Sebentar agek dah nak maghrib, jangan lewatkan kesempatan mengadu kepade-Nye. Mintalah yang terbaek untok segale urusan engkau."


"Iye Mak."

__ADS_1


"Dah. Emak tutop telpon ni. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Flash Back Off


Hari semakin mendung ketika aku tiba di kantor. Tapi tidak menyurutkan semangatku untuk bekerja. Apalagi hari ini adalah tanggal gajian. Sudah banyak angan-angan yang aku rencanakan setelah menerima gajiku nanti.


Zrasshh!!!


Guyur hujan pun membasahi bumi begitu aku duduk di ruangan kerja ku. Untunglah, aku cepat berangkat tadi sebelum hujan ini turun.


Kantor masih lenggang di saat hujan seperti ini. Beberapa ada yang terlambat menghindari hujan ada juga yang nyaris basah kuyub karena bertempur dengan hujan untuk sampai ke tempat kerja.


"Pagi Bu Indah." Sapa Riyan anak magang yang baru saja bekerja seminggu yang lalu di kantor ini.


"Pagi Riyan. Awal juga kamu sudah datang." Tanyaku.


"Lebih awal Bu Indah dari saya. Ibu mau minum?" Riyan mencoba menawarkan.


"Cappucino panas sepertinya boleh juga. Dingin begini takut ngantuk aja bawaannya."Ujar ku.


Bayangan Riyan perlahan menjauh membuat ruangan ini kembali sepi. Anak magang itu sangat cekatan dan rajin jika di mintai tolong oleh karyawan disini. Aku yakin, ia akan menjadi salah satu orang sukses di kemudian hari.


Hujan membuat ku cepat lapar. Iseng-iseng aku membuka aplikasi ojol yang bisa mengantarkan makanan. Beberapa notif tampak di kolom chat aplikasi itu, aku pun penasaran dan ingin melihat siapa tahu ada promo yang aku lewatkan.


Namun seketika mataku membelalak membulat. Bukan notif promo yang aku lihat, tetapi isi pesan lebay Mas Heru yang entah ia kerasukan apa menjadi seperti itu.


Kepalaku mendadak nyut-nyutan melihat begitu banyak emot yang sekalipun Mas Heru tidak pernah menggunakannya kecuali kata-kata mesra. Aku heran, dari mana Mas Heru punya ide mengirimkan pesan yang seperti ini kepadaku. Bahkan sejak masa berpacaran sampai berumah tangga ketika hubungan masih baik-baik saja pun, Mas Heru tidak pernah menggunakan emot di setiap pesannya.


Apa dia mengikuti mereka yang viral itu? Tapi aku kan bukan selingkuhannya. Batinku.


Hilang sudah niatku ingin melihat menu-menu yang ada dalam aplikasi ojol itu. Aku pun keluar dari aplikasi itu, dan tidak berniat sama sekali membalas pesan Mas Heru yang membuatku geli. Apa seperti ini chatan Mas Heru ketika dia dan Wina awal mula berselingkuh?


"Ini minuman panasnya Bu Indah."


Riyan datang membuyarkan lamunanku. Pemuda itu menyodorkan minum cappucino yang tadi aku minta.


"Oh, terima kasih ya. Berkas kemarin sudah kamu serahkan ke Bu Rara?" Tanyaku.


"Sudah Bu, tapi beliau belum datang."

__ADS_1


"Baiklah terima kasih."


"Mari Bu, saya permisi." Pamit Riyan.


Aku mengangguk mengiyakan. Lalu melirik arlojiku yang melingkar di tangan kiri, yang sudah menunjukan jam 08.05 WIB.


"Tumben Rara belum datang. Apa dia kesiangan karena hujan ya?" Gumamku pada angin.


Aku berdiri, lalu melangkah mendekati jendela untuk melihat ke bawah. Ruangan ku yang terletak di lantai 2 ini menghadap ke jalan Raya. Dari sini aku dengan mudah melihat siapa saja yang keluar maupun masuk, baik itu karyawan maupun tamu kantor.


Rara baru saja keluar dari balik mantel seseorang. Ia tampak tersenyum kepada si pengemudi sebelum akhirnya masuk ke dalam kantor. Wajahnya yang tertutup helm menyulitkan ku untuk mengetahui siapa lelaki yang sudah mengantar Rara itu.


"Jadi ingin tahu siapa yang nganterin dia. Apa aku tanya saja ya ke Rara nanti?" Tanya Indah pada angin.


Indah kembali duduk di kursinya. Kemudian membuka laptopnya dan menyalakannya.


"Assalamualaikum sahabatku yang cantik..."


Lihatlah, walau pun bajunya terkena imbasan air hujan, tapi sahabat ku yang satu ini bagai taman bunga yang sedang bersemi. Senyumnya yang manis dan sapanya yang ceria membuat aku semakin penasaran, ada apa dengannya hari ini. Sepertinya ada hal baik hingga sahabatku itu berbinar bagaikan cahaya scotlight.


"Waalaikumsalam, tumben kamu di antar?" Tanyaku


"Kebetulan aku ketemu Dani di jalan tadi. Dia menawarin tumpangan buatku." Jawab Rara penuh senyum.


"Eh, kok bisa?"


"Tadi ban motorku bocor. Kami ketemu pas aku di jalan berhenti karena ban bocor. Karena sudah hampir telat, jadi motornya aku tinggal di bengkel di ujung sana. Dia nganterin aku kesini. Ntar pulang aku nebeng ya, ambil motorku di bengkel."


"Pantas saja awan mendung begini tapi wajahmu cerah kayak musim semi." Ledekku.


"Hehehe, bisa saja kamu."


Sepertinya Rara benar-benar menyukai Dani. Aku pun berharap Dani memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Jika dua sahabatku saling jatuh cinta tentu aku juga merasa bahagia karena mereka.


Bersambung....


**Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **


Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏


Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2