
Bab 94
Resepsi
(POV Author)
Hari yang di nanti tiba. Hampir semua keluarga datang berkumpul menghadiri pesta pernikahan Roy dan Indah yang tertunda.
Keluarga di Kalimantan dan di Pakistan bercampur menjadi satu kesatuan. Semua terlihat kompak memeriahkan kebahagiaan pengantin baru itu. Wajah Roy dan indah pun tampak berseri di hari bahagia mereka.
Namun ada satu orang yang panas dingin di hari itu. Ia tak lain adalah Teguh, yang di hukum oleh Roy untuk menyelesaikan masalah yang pemuda perbuat.
Teguh terpaksa harus menerima ajakan para wanita itu untuk mentraktir mereka di sebuah Club malam di kota itu. Teguh yakin masa depannya akan suram setelah ini. Karena sudah pasti, saldo dalam ATMnya akan terkuras habis malam nanti.
Wajah Teguh ditekuk memandang Abangnya yang tersenyum bahagia menyalami satu persatu tamu yang hadir untuk berpamitan pulang. Sedang ia sendiri sedang menuju kesengsaraan berkat keusilannya sendiri.
"Kamu kenapa sih ditekuk gitu mukanya, ntar hilang loh gantengnya." Tanya Nuning menyapa.
"Eh, Mbak. Tremor Mbak..., ntar malam mau pesta sama dedemit."
"Kok serem, Guh?" Ujar Nuning mengerutkan dahinya.
"Temen Abang, Mbak. Ngajakin clubing, mana cewek semua lagi kan serem."
"Biasanya laki-laki suka yang begitu Guh, di keliling kaum hawa. Lah kok kamu tidak?"
"Dih Mbak, ngeri kalau sama para kunti. Kalau yang modelan Mbak Nuning sih, Teguh gak akan nolak."
"Nuning...!" Sapa Fandi memanggil tidak terlalu jauh dari mereka.
"Eh, Bapak datang juga? Bentar ya Guh."
Nuning meninggalkan Teguh, lalu menghampiri Fandi yang menggendong Almira. Tampak keakraban Nuning dan Fandi setelah wanita itu sebulan lebih bekerja mengasuh Almira.
Dari kursi pelaminan keakraban Fandi dan Nuning tidak luput dari pandangan Roy. Lelaki itu pun menyenggol lengan istrinya untuk melihat sebentar ke arah yang menarik untuk di lihat bagi mereka.
"Mereka serasi ya Ney?" Ujar Roy.
"Iya, cocok karena sama-sama tidak memiliki pasangan. Tapi Hon, mungkin saja Mbak Nuning punya lelaki yang mengisi hatinya. Jangan main jodohin dulu." Ujar Indah. Wanita itu tahu maksud sang suami.
"Hmm, iya. Nanti aku cari tahu dulu."
"Duh, tiba-tiba nikah aja Lo ya?"
Seorang wanita beserta rombongannya yang terdiri dari 5 orang itu berjejer ngantri untuk menyalami Roy. Wanita itu memandang Indah dari atas sampai bawah dengan pandangan yang menusuk di hati, seperti merendahkan.
Indah tetap tersenyum menanggapi tatapan nyinyir mereka. Toh pemenangnya adalah dia, yang di pilih menjadi mempelai wanita.
"Selamat deh ya..."
__ADS_1
Ucapan selamat yang keluar dari bibir wanita-wanita itu tampak tidak tulus terpancar dari raut wajahnya. Tapi Roy tetap tersenyum tak peduli seolah mereka bukanlah siapa-siapa.
Mereka pun akhirnya turun karena di belakang masih ada tamu lain yang mengantri untuk bersalaman dengan raja dan ratu hari itu.
Acara yang di batasi hanya sampai pukul 5 sore cukup membuat Roy dan Indah lelah duduk berdiri menyapa tamu yang datang. Mereka pun pamit pulang ke rumah pengantin setelah memastikan tidak ada lagi tamu undangan yang datang.
"Tiga hari lagi kita baru pindah ke rumah baru ya Ney, hilangkan dulu lelah di badan. Ajak keluarga Kalimantan juga untuk syukuran. Aku sudah memesan katring. Kita tinggal duduk manis saja."
"Terserah kamu Hon, aku ngikut saja."
Tiba di rumah mereka langsung membersihkan diri melepas penat yang ada.
Tidak lama keluarga yang lain pun tiba. Orang tua Indah memilih tidur di hotel karena banyak sanak saudara yang ikut memeriahkan acara resepsi ini. Tidak enak bagi mereka menumpang di rumah Roy seramai itu.
"Miii... Teguh pergi dulu ya?!" Teriak Teguh yang hanya pulang mandi, berganti pakaian lalu pergi lagi.
"Mau kemana kamu?! Maghrib begini kok kelayapan?"
"Bayar hutang Mi. Ini mau ke masjid dulu Mi lunturin dosa habis itu buat lagi."
"Aduh, kamu itu sehari tidak bisa bikin Umi tenang apa?! Teguh, hei....!"
Tidak di hiraukan lagi panggilan Uminya karena Teguh sudah melesat dengan motor gedenya.
Indah dan Roy keluar dari kamar mereka dengan pakaian rumahan setelah membersihkan diri. Nyaringnya suara Umi membuat mereka terpanggil untuk segera keluar kamar.
"Itu adekmu kelayapan maghrib-maghrib." Sewot Umi.
"Umi udah mandi? Sebentar lagi Adzan loh Mi."
"Eh Iya, Umi lupa belum mandi. Umi mandi dulu deh."
Indah mengangguk. Lalu ia pun kembali masuk ke kamar setelah Uminya berlalu masuk ke kamar sendiri.
Indah menutup pintu dan mendekati Roy yang sudah mempersiapkan alat sholat untuk mereka gunakan sambil menunggu adzan maghrib tiba.
"Hon, apa tidak apa-apa Teguh kamu suruh selesaikan masalah begitu? Kok aku takut."
"Biarin aja Ney, Teguh itu banyak akalnya dia pasti bisa ngatasi wanita-wanita itu."
Adik suaminya itu juga tak kalah tampannya dari sang suami. Hanya saja dia masih menjalankan kuliahnya sebagai calon pengacara. Bukan tanpa alasan Indah sedikit ngeri Teguh hangout dengan wanita-wanita itu. Pasalnya Teguh yang suka usil itu takutnya malah di usilin oleh wanita-wanita itu.
"Semoga saja tidak ada nambah masalah di luar sana." Ujar Indah khawatir.
Sementara itu, di luar sana.
Selesai melaksanakan kewajibannya Teguh mendatangi wanita-wanita yang telah menunggunya. Bukan di Club malam, karena jam segitu club yang ingin di datangin masih belum buka.
Teguh mendatangi sebuah kafe bersantai kaula muda di kota itu.
__ADS_1
"Guh!" Teriak salah satu pengunjung kafe yang mengalihkan perhatian Teguh untuk mencari tahu siapa dia.
Disana, sudah ada beberapa wanita yang tampak cantik mempesona. Sayangnya Teguh tidak berminat sedikitpun pada mereka.
"Mbak-mbak yang cantik dah pada datang ya?" Sapa Teguh dengan senyum semanis mungkin.
"Duduk sini Guh, kita udah pesan duluan gak apa-apakan?"
"Gak apa-apa pesan aja." Jawab Teguh santai.
"Kamu mau pesan apa Guh?"
Teguh menegak air mineral yang ia pegang sedari tadi. Menyeka sedikit bibir basahnya, lalu berkata...
"Kopi boleh deh."
"Oke, aku pesanin ya."
Sebagian dari wanita-wanita itu Teguh mengenalnya. Mereka adalah fans Abangnya dari masa kuliah hingga sekarang. Hanya saja, cara pergaulan hidup mereka sungguh luar biasa. Hingga Teguh berupaya menjaga jarak dari mereka.
"Duh...."
Teguh meremas perutnya yang terasa begitu melilit. Bulir-bulir keringat dingin mulai timbul di pelipisnya.
"Kamu kenapa Guh?"
"Tahu nih, tiba-tiba perut gak enak gini." Jawab Teguh sambil meringis.
"Preett!"
"Sue! Lo kentut ya?!"
Wanita itu respek menutup hidungnya di ikuti wanita-wanita yang lain.
"Sorry Gue kelepasan."
"Preett... Preeeeett" Kali ini suara kentut Teguh lebih panjang dan berirama.
"Si*ala*n Lo Guh!!"
"Sorry nih, acara kita batal aja ya? Kondisi Gue lagi gak enak.
Wajah-wajah wanita itu berubah kesal. Tapi Teguh sebodoh amat, lelaki itu perlahan beranjak dari kafe itu dan pergi meninggalkan mereka.
Teguh berhenti di sebuah masjid untuk menuntaskan hajatnya. Setelah itu, ia minum obat pereda sakit perut sebelum menunaikan sholat Isya yang belum ia kerjakan.
Ternyata air yang di tenggak Teguh tadi mengandung obat cuci perut dengan dosis sedikit. Upayanya untuk kabur dari wanita-wanita itu pun berhasil meski ada adegan yang tidak nyaman.
Bersambung...
__ADS_1