Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 39 Dipecat


__ADS_3

Bab 39


Dipecat


(Pov Author)


Heru di kantor dikenal pria yang rajin dan bekerja dengan baik. Sosok pria ramah yang memperhatikan sesama teman kerja terutama kaum hawa.


Heru bekerja seperti biasanya, namun sedari tadi ia merasakan perasaan yang tidak nyaman, dan itu entah kenapa.


Ia mengerjakan pekerjaan dengan baik, bahkan sampai mengecek berulang kali agar ia tidak melakukan kesalahan. Namun tetap saja, perasaannya merasakan sesuatu yang janggal.


"Ada apa ya?" Gumam Heru pada angin.


Pikiran Heru tertuju pada Wina. Karena perasaannya yang tidak jelas, ia takut terjadi apa-apa kepada calon bayinya.


Heru mengeluarkan gawainya dari dalam saku celana dan mencoba menghubungi Wina. Berulang kali Heru mencoba namun panggilan itu sia-sia karena tidak ada tanggapan dari seberang sana.


"Kemana dia?!" Lagi Heru bertanya pada angin.


Ia mulai cemas Wina tidak mengangkat telponnya.


"Nanti akan aku coba lagi menghubunginya, mungkin dia sedang ke kamar mandi." Gumam Heru mencoba berpikir positif.


Dua mobil polisi masuk ke halaman kantor dinas dimana tempat Heru berkerja. Kedatangan mereka mencuri perhatian pegawai disana yang di selimut rasa penasaran. Orang-orang disana pun merasa heran dan bingung, mengapa begitu banyak Polisi yang datang ke kantor itu.


"Selamat siang, kami dari Polsek bagian Barat ingin bertemu dengan Kepala dinas disini." Ujar salah seorang petugas kepada salah seorang pegawai yang berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Bisa Pak. Tapi ada apa ya Pak?" Tanya pegawai itu yang tampak kebingungan.


"Nanti anda akan mengetahui setelah kami bertemu dengan Kepala Dinas disini." Ujar Petugas Polisi agar tidak membuang waktu kerja mereka.


"Baik Pak, mari saya antar."


Beberapa petugas Kepolisian masuk ke ruangan Kepala Dinas di kantor itu. Dan yang lain memeriksa ruangan pegawai. Para pegawai yang sedang bekerja di kantor itu mulai riuh dengan kedatangan para Polisi itu.

__ADS_1


"Ada apa ya? Apa Kepala Dinas disini korupsi?" Kata salah seorang pegawai yang kebingungan sekaligus penasaran.


"Hus!! Jangan sembarangan kamu kalau ngomong. Belum juga tahu yang sebenarnya."


"Hehehe, maaf..." Jawabnya terkekeh.


"Ada apa?" Tanya Heru yang tak kalah penasaran seperti pegawai yang lainnya.


"Tidak tahu Pak, mungkin Pak Kepala kena kasus korupsi."


"Kamu ini ya, dibilangin jangan sembarangan kalau ngomong. Kamu bilang tidak tahu ya tidak tahu jangan pakai mungkin yang bisa saja menggiring opini."


Sekali lagi pegawai itu di tegur oleh temannya.


Sedang mencari tahu apa yang sudah terjadi, tidak lama kemudian Kepala Dinas kantor itu dan Polisi-polisi tadi keluar dari ruangan dan langsung berjalan menuju ruangan kerja Heru.


"Silahkan Pak." Ujar Kepala Dinas mempersilahkan para Polisi itu, memberi ruang kepada mereka agar mempermudah tugas mereka begitu mereka memasuki ruangan itu.


Orang-orang yang berada di ruangan itu menjadi tegang termasuk Heru. Bahkan ada juga yang gemetar meski belum tahu ada apa sebenarnya.


Semua mata tertuju kepada mereka. Dan pegawai yang tadi berbicara kepada Heru mulai berbisik-bisik.


"Saudara Heru Kurniawan, anda kami tangkap berdasarkan laporan atas kasus pencurian dan tindak kekerasan kepada saudari Indah Pertiwi!"


JEDER!!!


Bagai mendengar sambaran petir di siang hari, Heru begitu terkejut mendengar ucapan petugas Polisi.


Wajah Heru tegang dan mulai memucat, keringat dingin perlahan keluar dari lubang pori-porinya dan membasahi kulitnya. Heru terdiam, pikiran kalut kemana-mana.


Selama ini ia hanya mengira Indah tidak akan seberani itu padanya. Selama ini ia mengira Indah hanya berbicara sebagai gertakan semata.


"Harap Pak Heru bertindak kooperatif dan mengikuti kami ke kantor Polisi." Ujar petugas Polisi lagi.


"Tapi saya sedang bekerja Pak." Sanggah Heru.

__ADS_1


"Mulai saat ini kamu di pecat Heru! Saya akan segera mengurus berkas-berkas pemecatan kamu." Ujar Kepala Dinas dengan tatapan serius.


Heru kalang kabut, dalam hatinya menolak untuk di pecat.


Tidak! Aku tidak boleh di pecat! Aku sudah susah payah berusaha sampai di titik ini. Karir dan jabatan yang ku perjuangkan selama ini. Bagaimana nasib anak dan istriku kelak. Ibu, Ibu pasti akan marah besar padaku. Bagaimana ini?! Aku harus cepat mencari jalan keluarnya. Indah..., ya Indah! Dia harus mencabut laporannya. Dengan begitu aku bisa selamat. Batin Heru berkecamuk.


"Tapi sayakan belum tentu bersalah Pak?!" Heru masih mencoba membela diri.


"Banyak kesalahanmu yang baru saja saya ketahui dari pihak Kepolisian. Menikah lagi tanpa ijin istri pertama, tidak melaporkan pernikahan kedua, dan tidak melaporkan telah bercerai, dan ini yang paling berat, mencuri dan mengambil hak milik mantan istri pertama yang telah di putuskan oleh Hakim di Pengadilan Agama. Saya tidak menyangka Pak Heru bisa sekejam itu kepada mantan istri anda. Dan saya akan menindak tegas anda dengan memberhentikan anda secara tidak hormat."


Heru tertegun mendengar ucapan Kepala Dinas kantornya. Ia tidak menyangka dirinya akan bernasib miris seperti itu.


Dengan tubuh lemah karena shyok akibat penangkapan dan pemecatan dirinya dalam waktu bersamaan, Heru mengikuti para Polisi itu dengan wajah tertunduk malu.


Sanksi bagi PNS yang poligami diam-diam atau tanpa izin tertuang di dalam PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.


Dalam peraturan ini, ada tiga jenis hukuman disiplin berat yang dapat dijatuhkan pada PNS yang melanggar. Ketiga sanksi tersebut, yakni: penurunan jabatan setingkat lebih rendah selama 12 bulan, pembebasan dari jabatannya menjadi jabatan pelaksana selama 12 bulan, dan pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS.


Heru mendapat sanksi ketiga karena menjadi seorang terpidana.


"Tidak menyangka Pak Heru yang di kenal ramah dan baik ternyata memperlakukan istrinya secara tidak adil ya."


"Iya, ku kira sifatnya yang perhatian begitu bakal membahagiakan istrinya."


"Ya iyalah, ramah dan perhatian itukan hanya kepada kalian saja, para wanita."


"Kalian jangan salah. Menilai seseorang itu jangan di lihat dari penampilan luar yang sengaja di pasang memukau. Apalagi Pak Heru itu bukan ramah karena benar-benar ramah. Tapi buaya yang lagi pasang umpan untuk menerkam mangsa."


"Sudah-sudah, dari pada terus gibahin lain orang yang sudah pasti menambah catatan dosa, mending kembali fokus pada kerjaan."


"Bener, hari gini kok masih seneng aja gibahin orang. Apalagi jelek-jelekin pekerjaan orang yang belum tentu diri sendiri mampu mengerjakannya. Kalau omongan doang semua orang juga bisa. Ayo buktikan mana hasil pekerjaan kalian?! Pasti pada belum kelar kan?"


Para pegawai yang tadinya sibuk bergosip mendadak diam dan berubah masam ketika salah seorang dari mereka mencoba mengingatkan.


Satu persatu para pegawai mulai kembali ke ruangannya masing-masing. Suasana kantor mulai kembali berjalan seperti biasa setelah kepergian Heru bersama petugas Kepolisian.

__ADS_1


 


__ADS_2