
Bab 76
Tamu Yang Bikin Pusing
Roy mengabarkan kalau mereka telah selesai berbelanja oleh-oleh untuk di bawa pulang ke Makassar. Berarti sekitar satu jam lagi mereka akan tiba di rumah.
Pasti mereka capek dan kehausan. Lebih baik aku menyiapkan es buah segar untuk menjamu mereka saat sudah tiba di rumah nanti.
Untung saja ada buah pepaya dan mangga di halaman rumah. Tinggal tambahkan cincau dan agar-agar serta kacang merah dan juga susu kental manis, pasti akan terasa segar di tenggorokan.
Aku pun mengambil mangga di pohon yang kebetulan ada yang masak 2 biji. Serta pepaya yang setengah masak yang masih bergantung di pohon.
Dengan cekatan aku mempersiapkankan bahan-bahan itu untuk ku olah menjadi minum segar.
"Assalamualaikum..."
Suara salam di depan pintu membuatku menghentikan kegiatanku sementara.
Siapa ya? Apa mencari Ayah dan Ibu? Tapi Ayah dan Ibuku sedang berkebun di ladang sana. Lebih baik aku lihat dulu siapa yang bertamu.
"Assalamualaikum..."
Lagi-lagi suara salam memanggil, dan kali ini dibarengi dengan ketukan pintu.
"Waalaikumsalam..." Jawab ku lalu membuka pintu itu.
Betapa terkejutnya aku mendapati tamu yang tidak di sangka-sangka akan datang ke rumah orang tuaku.
"Bu Yarsih, Ratih, ada apa ya?"
"Indah..., sukurlah kamu ada di rumah. Boleh kami masuk?" Ujar Bu Yarsih dengan senyum sumringah.
Walau sedikit ragu, tapi aku mengangguk. Tidak etis rasanya membiarkan tamu di luar sedangkan mereka sudah mengucapkan salam dan datang dari jauh.
Bu Yarsih dan Ratih langsung masuk dan duduk di ruang tamu. Mata mereka berpedar kesana kemari mengamati isi rumah, dan seperti mencari sesuatu.
"Tidak ada minuman Indah? Ibu haus."
"Aku juga mau yang segar-segar." Timpal Ratih.
Aku menghela napas. "Tunggu sebentar." Ujar ku, lalu beranjak menuju ke dapur. Untung saja aku membuat es buah tadi dengan porsi yang banyak. Tinggal menungkan isi ke dalam gelas, lalu di beri air gula serta es, dan terakhir susu kental manis.
Dua gelas es buah segar ku taruh di atas nampan dan membawanya untuk mereka.
"Silakan di minum." Ujarku ketika gelas es sudah aku letakkan di hadapan masing-masing.
Tanpa menunggu lama, baik Bu Yarsih maupun Ratih langsung mengambil gelas mereka dan meminum es buah itu hingga nyaris tandas. Rupanya mereka benar-benar kehausan.
"Boleh nambah lagi Mbak? Hehehe, habisnya enak." Ujar Ratih mengunjukan gelasnya.
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas, lalu mengambil gelas tersebut dan beranjak ke dapur untuk mengisinya kembali.
__ADS_1
"Ini."
"Makasih Mbak."
"Sepi amat Indah, pada kemana orang-orang?" Tanya mantan Ibu mertuaku.
Tentu saja di jam segini orang tuaku tidak ada di rumah. Apa Bu Yarsih lupa kegiatan orang tuaku?
"Maksudnya Ayah dan Emak? Orang tuaku sedang pergi berkebun." Jawabku.
"Yang lain?" Tanya Bu Yarsih lagi.
"Maksudnya?" Tanya ku.
Sebenarnya, apa sih tujuan mereka datang kemari?
Aku mengerutkan dahi karena bingung. Siapa yang Bu Yarsih maksudkan disini? Apa jangan-jangan...
"Ehem. Kalau begitu sekalian saja, ini ada yang ingin Ibu mau bicarakan sama kamu."
Aku diam mendengarkan apa yang ingin di sampaikan mantan Ibu mertuaku ini.
"Heru sudah menceraikan Wina. Jadi hubungan kalian tidak ada yang akan menggangu lagi. Jadi Ibu berharap, kamu mau rujuk kembali bersama Heru. Anakku itu masih sangat mencintaimu."
Haaah...
Aku melongo mendengar permintaan mantan Ibu mertuaku yang tidak masuk akal ini. Bagaimana mungkin aku mau jatuh ke lubang yang sama?! Kehidupan yang pernah membuatku hampir gila dan luka hati yang tiada berkesudahan. Siapa pun pasti tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Lalu, tolong kenalkan Ratih pada pria yang dia temui di kafe tempatnya bekerja. Pria tampan yang datang bersamamu." Ujar Bu Yarsih lagi.
Benar-benar tidak ada berubahnya sama sekali. Hanya mementingkan diri mereka sendiri. Ingin rasanya aku mengusir mereka detik ini juga.
"Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaan Ibu." Jawabku tegas.
"Yang mana? Menolak Heru atau mengenalkan Ratih pada pria tampan itu?"
"Buuu..." Rengek Ratih yang mungkin memperkirakan aku menolak memperkenalkan Ratih dengan Roy.
Tuhan, harus ku apakan Ibu dan anak yang tidak tahu diri ini?
Sungguh aku kesal setengah mati. Sekian lama tidak bertemu ternyata masih sama saja, tidak ada yang berubah. Masih ingin memanfaatkan diriku untuk mencapai tujuan mereka.
Bu Yarsih masih memasang senyum manisnya padaku, itu pasti agar aku mau mengabulkan keinginanannya. Maaf, anda sedang berhalu!
"Keduanya. Aku tidak bisa mengabulkan keinginan Ibu. Baik itu kembali kepada Mas Heru, atau pun mengenalkan Ratih kepada pria yang dia maksud."
Sengaja aku tidak menyebutkan nama Roy agar Ratih tidak berfantasi lengkap sambil menyebut nama Roy.
Mantan Ibu mertuaku itu langsung sontak berdiri di ikuti Ratih. Senyum setengah lingkaran di wajahnya seketika menghilang, berganti raut wajah masam dan tatapan marah yang seakan-akan ada tanduk yang siap keluar dari kepalanya.
"Maksudmu apa tidak mau mengenal Ratih pada pria itu?! Dan kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Heru yang begitu mencintaimu?!"
__ADS_1
Astaga...
"Bu, pernikahan kami sudah lama berakhir. Dan aku sudah tidak mencintai Mas Heru. Dan soal pria itu, dia.... sudah bertunangan."
Aku terpaksa berbohong tentang Roy. Sekalipun kami tidak menjadi sepasang kekasih, tapi aku pun tidak rela jika Roy harus berpasangan dengan Ratih. Seperti kehabisan kaum hawa saja di muka bumi ini.
"Kamu jangan sombong Indah. Mentang-mentang hidupmu enak lantas kamu mengabaikan kami!"
Loh, apa hubungannya denganku.
"Maksud Ibu apa? Kenapa aku harus peduli dengan kehidupan keluarga Ibu?"
"Ya kamu kan pernah menjadi istri Heru, setidaknya kita pernah menjadi satu keluarga. Jadi pantas saja kalau kamu peduli dengan kami."
Aku memijit kepalaku yang semakin sakit oleh prilaku keluarga Mas Heru ini.
"Apa ada lagi yang ingin Ibu katakan? Kalau tidak ada lagi, maaf aku masih ada urusan."
"Halah, sombong sekali kamu Indah, apa seperti ini orang tuamu mengajar bersikap pada yang lebih tua, huh?!"
"Jangan bawa-bawa orang tua ku Bu! Seharusnya Ibu yang harus tahu membawa diri bila bertamu ke rumah orang."
"Kurang ajar kamu!!"
Bu Yarsih sepertinya naik pitam hingga napasnya turun naik menahan emosi.
"Brum!!"
Suara mobil datang memasuki halaman. Aku rasa itu Budi yang membawa Roy dan juga Mas Fandi. Dan benar saja, Mas Fandi dan Roy serta Budi keluar serempak dari dalam mobil membawa serta barang belanjaan mereka.
Aduh, runyam kalau sudah begini. Aku harus menyiapkan diri dari rasa malu pastinya. Dah lihat saja, Ratih sudah mulai senyum-senyum sendiri.
Melihat anaknya yang mendadak tersenyum sendiri, Bu Yarsih pun melihat-lihat keluar, siapa yang membuat Ratih tersenyum di antara mereka bertiga.
"Assalamualaikum..." Mas Fandi lebih dulu mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam..." Jawabku.
"Loh, ada tamu rupanya." Ujar Mas Fandi.
Mas Fandi lalu menyalami Bu Yarsih dan Ratih. Di ikuti oleh Roy dan Budi. Dan lihat saja, Ratih dengan sengaja menahan tangan Roy lama-lama hingga membuat hati ini gerah melihatnya.
"Tolong lepaskan tangan saya." Ujar Roy.
"Oh, maaf." Kilah Ratih.
Ratih tampak tidak ikhlas melepas tangan Roy. Dan Roy tampak sekali tidak suka hingga wajah berubah datar.
"Nak ini siapa ya?" Tanya Bu Yarsih kepada Roy.
Bu Yarsih sepertinya ingin tahu nama pria yang di sukai anaknya.
__ADS_1
"Saya Roy, kekasihnya Indah."
Bersambung...