Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 86 Dimanja


__ADS_3

Bab 86


Dimanja


"Tidak mungkin Siska seperti itu Fandi..."


"Buktinya ada Bu, dan dia pandai menutupi sifat aslinya. Aku sudah tidak mempercayai dia sebagai Siska yang dulu. Dan ada lagi yang kita tidak ketahui selama ini sengaja sifatnya. Bukan aku yang pertama menyentuhnya Bu. Aku sudah memastikan itu."


"Jadi maksudmu dia terlibat pergaulan bebas?"


"Bisa di lihat dari caranya yang berusaha mendapatku Bu, ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya."


Aku tidak menyangka Siska akan berbuat nekat seperti itu setelah mendengar percakapan Mas Fandi dengan Ibunya.


Pantas saja Almarhum Mbak Mira membuat permintaan seperti itu. Sepertinya Mbak Mira sudah merasakan hal ini, dan Almarhum tidak ingin Mas Fandi menikahi wanita seperti Siska.


Bisa kurasakan kegundahan Almarhum Mbak Mira. Jika aku di posisinya yang sedang menghadapi maut, aku pun pasti ingin yang terbaik untuk suami dan anakku.


"Dimana Siska sekarang?" Tanya Ibu Naima.


"Entahlah Bu, aku tidak peduli. Dia sudah besar pasti tahu mana yang salah dan benar tapi dia tetap melakukannya, memilih jalan yang salah." Jawab Fandi yang jelas tampak kecewa dan kesal dengan Adiknya, Siska.


Ibu Naima tampak membuang napas berat.


"Kapan kalian akan membuat resepsi?" Tanya Mas Fandi kepada kami, aku dan Roy.


"Sebulan lagi, aku sedang mempersiapkannya." Jawab Roy. "Kamu keberatan Ney?" Tanya Roy padaku.


"Tidak Hon. Aku nurut saja."


"Ney? Hon?" Tanya Mas Fandi bingung.


Ah, sumpah aku malu untuk menjelaskan bagian ini. Lebih baik aku diam saja.


"Kemauan istriku Bro, panggilan sayang kami. Honey, hehehe...."


Duh, ingin menghilang dari sini saja.


Aku pengalihan pandangan, pasti wajah ini memerah dan aku tidak ingin Roy semakin mencandaiku jika ia melihatnya.


"Kalian kebanyakan nonton telenovela."


"Gantian Bro, kami sedang menikmati masa-masa ini."


"Iya sih. Aku dulu aku juga begitu sama Mira." Kembali Mas Fandi teringat kenangan bersama mendiang istrinya.


"Jangan lupa undang Ibu loh ya, dan semoga pernikahan kalian langgeng selamanya." Ucap Bu Naima sekaligus mendoakan kami.


"Aamiin..." Jawab ku serempak dengan Roy.


Kemudian kami mengobrol ringan seputar acara resepsi nantinya. Lalu setelah itu kami pun pamit karena rencana kami setelah ini adalah berbelanja kebutuhanku.


Padahal itu tidak perlu, tapi Roy memaksa dan Uminya juga wanti-wanti harus membelikan aku seserahan yang tertunda.


Akhirnya di sinilah kami, di kawasan sebuah plaza yang pernah aku datangi sebelumnya. Kami memasuki beberapa outlet sesuai keperluan barang yang di inginkan. Tapi bukan atas keinginanku, melainkan Roy sepertinya kalap memilih ini dan itu.


Sekejap saja dua tangannya penuh dengan kantong belanja. Aku hanya kebagian membawakan ponsel dan tas kecilnya saja.


"Habis ini kita ke toko Umi. Umi suruh kita mampir kesana." Ujar Roy sambil memasukan barang-barang ke mobil mini harga terjangkau sejuta umat.


"Iya Hon."


"Roy!"

__ADS_1


Baru saja Roy hendak masuk ke dalam mobil dengan pintu yang sudah terbuka, suara seorang wanita memanggil dirinya.


"Oh, Hanum. Ada apa?" Respon Roy biasa saja.


"Ku Kira tadi salah orang. Kamu terlihat sama perempuan." Ujar wanita yang di panggil Hanum itu sambil sesekali mengintip-ngintip ke dalam mobil.


Sepertinya wanita itu penasaran denganku. Tapi aku juga penasaran dengannya. Dia siapanya suamiku ya?


"Istriku. Aku dengan istriku. Apa ada yang lain? Kalau tidak ada yang penting, aku mau lanjut jalan."


"Hah? Kamu dah nikah?! Serius?!"


"Sudahlah, tunggu saja undangannya. Maaf aku buru-buru."


Roy langsung masuk tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.


Sekilas ku lihat wanita itu tampak tertegun melihat mobil yang kami tumpangi berlalu pergi. Aku melirik suamiku yang tampak biasa saja. Sepertinya wanita bukan orang yang penting untuknya. Padahal speknya bak bidadari atau mungkin dia seorang model, entahlah. Yang jelas aku minder.


"Kok diam Ney sayang?"


Sebenarnya aku ingin bertanya siapa wanita itu. Tapi aku malu. Tanya tidak ya? Coba aja deh.


"Tadi itu siapa Hon?"


"Alhamdulillah, akhirnya nanya juga. Aku nungguin loh dari tadi."


Lah, Roy malah senang sekali aku bertanya. Kenapa ya? Kalau begitu aku juga tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.


"Kenapa? Jadi dia siapa Hon?"


"Cuma teman waktu kuliah. Tidak dekat, benar-benar teman kuliah."


"Oh, cantik ya Hon."


Duh, Roy paling bisa membuat jantung ini berdebar-debar.


"Hon, kalau gombal begini jangan pas hari hujan ya."


"Kenapa Ney?"


"Takutnya gombalanmu kodok yang jawab. Hoak... katanya."


"Hahaha... Bisa aja kamu Ney."


Roy meraih tanganku. Dan mengecup lembut punggung tanganku. Jangan di tanya bagaimana perasaanku. Jantungku berasa ada pesta dugem di dalam sana. Jedag jedug memompa aliran darah, membangunkan jutaan kupu-kupu hingga beterbangan mengepakkan sayapnya.


Sungguh senang dan bahagia rasanya. Hal-hal kecil dan romantis yang selalu diberikan suami tercinta. Eh, apa tidak salah ini ya. Aku apa benar sudah mulai jatuh cinta lagi?


"Kita sampai Ney."


Sebuah toko besar berlantai dua memanjang ratusan mungkin ribuan helai pakai wanita dewasa khususnya daster dan baju tidur lainnya.


Beberapa karyawan wanita tampak sibuk melayani pembeli yang datang dan ada juga yang sedang membungkus untuk di paketkan.


"Assalamualaikum Umi..." Salamku kepada Ibu mertua.


"Waalaikumsalam, sini Nak." Ujar Umi meminta ku untuk masuk di bagian kasir.


Aku pun masuk kesana dan mencium punggung tangan wanita yang melahirkan suamiku.


"Guh, sini kamu!" Panggil Umi pada putra bungsunya.


"Ya, Um?"

__ADS_1


"Kamu jaga sini dulu, Ibu mau bawa Kakakmu milih daster sama baju tidur."


"Enaknya jadi Kak In. Baru 2 hari dah di manja sama Umi."


"Kamu mau juga Umi manjain? Ya sudah. Kamu pakai rok dulu sana!" Ujar Umi sambil menggandeng lengan menantunya berlalu pergi menuju rak pakaian yang akan di pilihkan untuk menantunya.


"Dih Umi. Ntar gak ada yang mau sama aku dong." Sungut Teguh pura-pura sedih.


"Emangnya ada yang mau?" Sela Roy di antara percakapan Umi dan Teguh.


"Kan lagi kuliah Bang, Abang yang bilang sendiri, selesaikan dulu kuliah terus kerja terus nikah deh. Lagian kalau sekarang waktunya gak cocok ngenal cewek, pasti rumit Bang."


"Jawaban cowok tidak laku." Nyinyir Roy.


Ucapan Roy membuat para karyawan yang mendengar percakapan mereka melirik Teguh dan menjadi senyum-senyum sendiri.


Teguh yang merasa di perhatikan oleh sejuta umat merasa tengsin sendiri.


Aku hanya bisa terkekeh tanpa suara. Kakak beradik itu tampak saling menyayangi dengan cara mereka.


"Mi, tidak punya stok lingeri Mi?"


"Hon..."


Mataku membulat mendengar pertanyaan suamiku. Bisa-bisanya dia menyebut baju kurang bahan itu di depan umum apalagi di depan Uminya.


"Ck! Umi mana jual yang begituan. Lagian paling juga nantinya di buang ke lantai."


Ah, Ibu dan anak sama ternyata. Kini aku tahu bakat jail itu menurun dari Umi ternyata.


"Ah iya juga ya Mi. Tapi Mi, kan lebih semangat kalau pakai baju itu Mi."


"Ya sudah nanti Umi minta bawakan beberapa ke teman Umi. Dia jualan yang modelan begitu."


"Aseeek. Aww!"


"Kenapa?" Tanya Umi menoleh Roy.


"Tidak apa-apa Mi. Kena ketup serangga kayanya."


"Masa?" Tanya Umi sambil memperhatikan sekitar Roy mencari hewan yang di maksud.


"Udah terbang Mi, kesana." Tunjuk Roy asal mengalihkan Uminya yang sebenarnya pinggangnya di aku cubit.


Roy tersenyum manja menatapku. Lalu mengusap pucuk kepalaku.


Jadilah hari itu Umi memberikan daster dan baju tidur sebanyak 4 lusin padaku. Satu lusin dengan jenis berbeda-beda diberikan untukku. Tiga lusin lainnya untuk Ibuku serta oleh-oleh yang akan di bawa pulang ke Kalimantan.


"Abi kok tidak kelihatan Umi?" Tanya ku yang tidak melihat keberadaan Abi di toko itu.


"Abi jagain toko bangunan, Indah."


"Oh, Abi punya toko bangunan juga? Kalau begitu proyek baru nanti ambil bahan bangunannya ke toko Abi saja. Nanti Indah referensikan ke kantor."


"Wih, memang memang menantu indaman ya Mi." Sela Roy.


"Biasa saja Hon. Ada peluang baguskan lebih baik berbagi rejekinya sama orang-orang terdekat dulu. Yang penting halal." Kataku.


"Umi setuju." Ujar Umi. "Nanti malam kamu bisa bilang ke Abi mu kalau mau ngajakin kerja sama."


"Iya Mi."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2