
Bab 98
Keputusan Berat
(POV Author)
"LANCANG KAMU SISKA !! SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU MASUK KE RUMAH INI !!"
Suara nyaring Fandi mengejutkan semua orang yang ada dalam rumah itu termasuk Almira yang langsung menangis.
Siska dan Nuning terpaku di tempatnya, sedangkan Mbok Nah langsung mendekati tuannya.
"Maaf Pak, tadi Non Siska memaksa masuk." Mbok Nah memberanikan diri angkat suara. Karena dirinya lah yang tidak mampu mencegah Siska agar tidak masuk ke dalam rumah.
"Mas, aku bawa kabar bahagia untukmu. Aku hamil Mas, anak kita."
Senyum bahagia terpancar di wajah Siska tapi tidak dengan Fandi. Wajah lelaki itu memerah layaknya merapi yang siap menyemburkan laharnya.
"Omong kosong apa lagi kamu!!" Bantah Fandi.
"Aku serius, aku hamil Mas. Ini aku bawa tespecknya kalau kamu tidak percaya."
"Oeek...oeeek"
Tangis Almira semakin menjadi manakala Siska menggendongnya dengan tidak benar ketika wanita itu hendak mengambil alat tespek dalam tasnya.
Melihat anaknya seperti itu Fandy semakin marah.
"Nuning ambil Almira, bawa ke kamar!"
"Baik, Pak."
"Jangan sesekali kau berani menyentuh calon anakku!" Sergah Siska menolak tangan Nuning yang mulai terulur untuk mengambil Almira.
"Tapi Bapak menyuruh saya Non?" Kata Nuning.
"Ambil saja Nuning, bawa ke kamar! Dan kamu Siska, lepaskan Almira! Atau tidak aku akan seret paksa kamu keluar!!"
Wajah Siska merengut.
__ADS_1
"Aku tidak akan keluar Mas! Ini akan menjadi rumahku, tempat tinggalku mulai dari sekarang!!" Siska bersikeras dengan pendiriannya.
"Jangan harap kamu bisa tinggal di sini, pergi kamu Siska! Kamu tahu aku tidak pernah mau menerimamu di sini lagi!"
"Hahaha, tidak bisa gitu Mas aku sekarang sedang mengandung anakmu kamu harus bertanggung jawab atas diriku dan anakmu!!"
"Itu pasti bukan Anakku!!
"Tahu dari mana Mas?! ingat kamu bukan Tuhan!!"
"Dan kamu pun bukan Tuhan yang langsung tahu itu Anakku!"
Wajah Siska memerah ia mulai meradang mendengar ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Fandi terhadapnya.
"Pokoknya aku tidak akan keluar dari rumah ini, TITIK!!"
Berang dengan Siska tanpa bisa berbuat kasar terhadap wanita itu, Fandi mengusap wajahnya dengan kasar, Ia lalu meraih vas yang ada di dekatnya dan melemparnya begitu saja ke lantai.
"PRAANG!!"
Vas bunga pun pecah berderai berhamburan ke lantai.
"Cup.. cup.. cup.. Sayang, kita ke kamar ya?"
Nuning bergegas naik ke lantai atas begitu mendapat kan Amira. Ia biarkan saja dua orang yang sedang diselimuti emosi itu berdebat di lantai bawah sana.
"Aku akan mengadu pada Ibu! Akan aku katakan bahwa aku sedang hamil anakmu, dan itu nyata Mas! Kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab ini!!"
Fandi mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku tangannya memutih.
"Jangan katakan kepada Ibu! Ingat, sekali lagi kamu membuat Ibu terpaksa di larikan ke Rumah Sakit, maka aku pun tidak segan-segan menurunkan tanganku dan mengirimmu kesana!!" Acam Fandi.
Ia sudah bertekad dalam hatinya akan berlaku kasar pada Siska jika sampai wanita itu membuat Ibunya kembali anfal. Padahal Fandi adalah pria sejati yang tidak ingin melakukan kekerasan terhadap wanita. Tapi jika Siska memancing sampai Ibunya anfal, apa boleh buat, dia tidak akan mendiamkannya.
"Bukankah kamu pernah mengatakan kepadaku, kalau kamu akan bertanggung jawab jika aku memang benar-benar hamil anakmu? Nah, sekarang kamu harus buktikan omonganmu, aku yakin kamu pria yang tidak ingkar janji Mas. Sekarang aku sedang hamil anakmu. Jadi kamu harus bertanggung jawab kepadaku!"
"Baik, aku akan bertanggung jawab jika itu anakku!"
"Kalau begitu nikahi aku Mas!" Ujar Siska yang kini mulai merasa tenang dan senyumnya kembali terbit
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan menikahimu sekarang. Tapi nanti jika hasil DNA anak itu terbukti memang benar anakku!"
"Tidak bisa begitu Mas!! Perutku akan semakin membesar dan aku akan malu bertemu orang-orang di luar sana kamu harus bertanggung jawab, harus!!"
Senyum Seringai Fandy wajah lelaki itu.
"Jangan mimpi kamu Siska!! Kamu tahu, jika aku sudah berkata maka aku akan menepati janjiku Tapi kamu jangan berharap aku akan terbuai oleh jebakanmu lagi!!" Berang Fandi. "Menikah setelah hasil DNA itu adalah anakku, atau tidak sama sekali!!" Perintahnya lagi.
"Mas kejam kamu!!"
"Jangan mengatakan hal kejam kepadaku jika kau sendiri juga melakukan hal yang sama, Siska!" Bantah Fandi.
"Kalau begitu aku akan tinggal di sini! Aku tidak akan keluar dari rumah ini sampai aku melahirkan nanti, dan kamu bertanggung jawab kepadaku Mas!"
"Terserah! Tapi jangan harap aku memperlakukanmu seperti ratu di rumah ini, karena kita bukan siapa-siapa, kita tidak memiliki hubungan apa-apa, kamu ingat itu!! Pahami itu!! Jika tidak, kau boleh keluar dari rumah ini! Dan ingat, hanya kamar tamu, bukan kamar yang lain!"
"Baiklah Mas. Aku akan sabar menunggu hari itu tiba. Aku akan tinggal di rumah ini dan menjadi calon istri yang baik untukmu."
Siska tersenyum, meski senyumnya hanya di balas tatap datar dan tidak suka oleh Fandi.
"Jangan mimpi!!"
Tanpa memperdulikan Fandi, Siska menuju kamar tamu yang telah di sepakati. Membawa kopernya kesana, dan merapikan barang-barangnya.
Untuk sementara Fandi hanya bisa mengambil keputusan seperti it. Ia tidak mungkin mengusir Siska atau memenjarakannya jika memang benar anaknya dikandung Siska adalah anaknya. Sedikit banyak Fandi masih memiliki rasa kemanusiaan. Dia tidak mungkin menyakiti Ibu dari anaknya meski Pandi tidak menyukai apalagi lagi mencintai Siska. Ia akan mencoba menerima kehadiran Siska tapi itu nanti, jika terbukti anak itu adalah anaknya.
Keputusan itu sungguh berat. Pasti banyak drama yang akan terjadi di rumahnya nanti. Tapi ia tidak mungkin, memaksa Siska pergi setelah wanita itu memaksa tinggal dirumahnya. Bisa-bisa, sang Ibu jatuh sakit melihat kehamilan putrinya yang semakin membesar namun tidak ada yang sudi bertanggung jawab.
Yang Fandi takutkan adalah Ibunya, jangan wanita yang melahirkannya itu sampai terkena serangan jantung lagi. Bukan soal ancaman Siska yang bisa saja dipatahkan oleh Fandi dengan bukti gelas yang masih ia kantongi jika ingin memenjarakan Siska. Tapi balik lagi pada rasa kemanusiaan yang masih tersisa. Fandi tidak mungkin tega memenjarakan Ibu dari anaknya, jika benar terbukti anak yang di kandung Siska Adalah anaknya.
Sungguh dilema, dengan apa yang ia rasakan. Ingin sekali Fandi memberikan pelajaran berat bagi Siska. Namun Siska yang sejak kecil sudah dekat dengannya, dan disayangi seperti adik kandung sendiri, membuat Fandi masih merasakan sedikit iba terhadap adiknya itu.
Siska mungkin salah pergaulan atau bisa jadi salah menafsirkan perasaan kasih sayang yang ia miliki untuk Fandi. Begitu lah pemikiran Fandi.
Fandi mulai menghitung kapan kejadian itu. Kira-kira sebulan yang lalu tragedi memalukan itu terjadi. Mengingat Roy dan Indah sudah menggelar sukuran acara pernikahannya di Kalimantan, sangat memungkinkan jika yang Siska kandung itu anaknya, kalau memang Siska hanya berhubungan badan dengannya saja.
Fandi menghela napas kasar, kini kepalanya seakan-akan siap meledak dengan kerumitan yang ada.
Bersambung...
__ADS_1