Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 45 Calon Idaman


__ADS_3

Bab 45


Calon Idaman


(POV Author)


"Halah, mana sini timbanganmu?! Kita buktikan siapa yang benar!"


"Tidak bisa! Orang itu sudah di timbang betul-betul kok!" Bantah Wina.


"Sini cepat!!"


Ibu si pembeli gula ngotot meminta Wina mengeluarkan dacing di warung itu.


"Tidak bisa pokoknya!"


Dan Wina pun tidak mau kalah dengan keinginannya.


Perdebatan itu terus terjadi hingga menimbulkan keributan dan menyita perhatian orang-orang yang berada di dalam rumah.


Ibu Yarsih, Ratih dan juga Hendra bergegas keluar dari dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi.


"Cepat mana! Kelihatan disini kan kamu sudah curangi berat timbangan!!"


"Bukan aku! Dan aku tidak tahu kalau berat itu kurang." Bantah Wina.


"Ada apa ini?!" Tanya Bu Yarsih.


"Nah ini Bu, bagaimana sih jualannya?! Kok timbangan gula kurang hampir satu ons?!"


Mendadak ekspresi Bu Yarsih berubah setelah mendengar tuduhan tetangganya itu.


"Ehm, itu mungkin tidak sengaja Bu, maklum saja wanita sedang hamil, apalagi kalau banyak pikiran." Ujar Bu Yarsih berkilah.


"Tapi ya jangan merugikan gini juga dong!"


Tidak ada yang mau mengalah di antara perdebatan itu. Hendra pun akhirnya turun tangan untuk menyelesaikannya. Sebagai calon menantu di keluarga itu, tentu saja ia ingin mendapat simpati dari calon mertuanya.


"Sudah-sudah, maaf kalau ada keteledoran. Nah ini bonus buat Ibu sebagai permintaan maaf."


Hendra mengambil sebungkus gula lagi dan diberikan kepada si Ibu pembeli.


"Loh?!" Ucap Bu Yarsih terkesiap dan bingung.


Tetapi dengan cepat Hendra memberi kode untuk bersabar.


"Gitu dong, kalau begini kan saya jadi langganan tetap Bu Yarsih. Kalau ada begitu permisi. Terima kasih loh Mas yang ganteng."


Di usia yang mendekati 50 tahun, Hendra masih terlihat berkarisma. Mungkin karena ia rajin perawatan sehingga wajahnya tidak terlalu menua. Berbeda dengan Bu yarsih yang menikah di usia belia yaitu di usia 15 belas tahun. Ditambah ia sedari muda melakukan banyak pekerjaan keras hingga wajahnya lebih cepat menua.


Pembeli itu pun berlalu pergi.


"Tutup saja warungnya." Ujar Hendra melihat Wina yang tampak kelelahan.


Kemudian ia mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang seratus ribuan dan diberikan kepada Bu Yarsih.


"Bu Maaf saya mengambil keputusan sendiri. Ini untuk Ibu sebagai ganti gula yang saya bonuskan dan menutup warung hari ini."

__ADS_1


Senyum lebar Bu Yarsih terbit dengan cemerlang.


"Alah, tidak apa-apa. Tapi makasih loh." Jawab Bu Yarsih.


"Kalau begitu saya, mau bawa Ratih pergi dulu ya Bu." Ijin dan pamit Hendra.


"Iya, bawa saja." Ujar Bu Yarsih dengan senangnya.


Wina hanya memandangi Hendra tanpa bicara apa-apa. Hendra pun hanya tersenyum sekilas padanya.


Hendra menggandeng Ratih untuk segera masuk ke mobil. Ia memasukan tangannya ke dalam saku celana dan mengambil kunci mobil dari dalam saja. Namun tiba-tiba ada kertas kecil yang jatuh tidak jauh dari kaki Wina begitu Hendra mengeluarkan tangannya.


Wina segera memungutnya untuk diberitahukan kepada Hendra karena mungkin saja itu sesuatu yang penting untuknya. Namun niat itu ia urungkan ketika Hendra melirik Wina sekilas dan mengedipkan matanya.


Wina segera menyembunyikan kertas itu. Ia melihat Bu Yarsih tampak tidak menyadari karena masih membolak balikkan uang yang baru saja ia terima.


Wina mengangguk kecil tanda ia paham maksud Hendra.


Begitu Hendra dan Ratih sudah masuk ke mobil, Bu Yarsih pun melangkah kembali masuk kedalam rumah.


"Wina!! Tutup warung!" Perintahnya sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.


Wajah Wina langsung berubah masam mendengar perintah Ibu mertuanya. Ia pun mau tidak mau menuruti perintah Bu Yarsih.


***


Siang ini Indah meninjau lokasi yang akan di jadikan pergudangan. Teriknya matahari tidak membuatnya melemah menghadapi panas serta debu dari tanah konstruksi.


"Siang Bu Indah."


"Iya. Sudah di tinjau jenis tanahnya Pak?"


"Ukurannya?"


"Sesuai dengan akta Bu."


Indah mengangguk mendengar jawaban bawahannya.


"Lanjutkan sesuai instruksi dan harus sesuai tahapan."


"Baik Bu."


Indah berpindah lokasi sedikit menepi di sebuah bangunan yang berbentuk pondokan sementara untuk tempat pekerja melepas lelah.


Apa yang disebutkan pria tadi menjadi acuan bagi Indah untuk laporannya kepada atasan.


Sedikit pengetahuan tentang Inceptisols, yaitu tanah muda dan mulai berkembang. Bentuknya mempunyai horizon yang pembentukannya agak lambat sebagai hasil alterasi bahan induk. Horizon-horizonnya tidak memperlihatkan hasil pelapukan yang intensif. Horizon akumulasi liat dan oksida-oksida besi & aluminium yang jelas tidak ada pada tanah ini.


"Di minum Bu."


"Terima kasih."


Indah mengambil air mineral yang tersaji dalam kemasan berbentuk gelas lalu meneguknya perlahan.


"Maaf saya terlambat." Ujar seorang pria dengan kaca mata hitam menutup bola matanya.


Indah segera berdiri menyambut sang pria pemilik tanah yang menjadi klien kantornya.

__ADS_1


Pria itu terdiam sesaat.


"Sepertinya kita pernah bertemu. Dimana ya?" Ujar pria itu menatap indah dari balik kaca mata hitam.


Indah memperhatikan wajah lawan bicaranya. Kemudian, pria itu melepas kaca matanya.


"Oh, anda...." Kalimat Indah menggantung.


"Oh, iya... di Surabaya, wanita yang pingsan di bandara."


Mereka saling tersenyum setelah dapat mengingat siapa lawan bicara mereka.


"Pak Fandi ya?" Tanya Indah memastikan.


"Benar, saya Fandi. Anda... Ah, saya lupa hanya mengingat wajah anda saja."


"Saya Indah." Indah mengulurkan tangannya untuk berjabat.


Fandi menerima uluran tangan itu untuk dijabat.


"Ternyata dunia ini sempit ya?" Ujar Fandy. "Apa kabar Bu Indah?"


"Alhamdulillah seperti yang anda lihat."


"Saya tidak menyangka ternyata anda bekerja di bidang ini."


"Saya masih belajar Pak." Jawab indah merendah.


Untuk ilmu tidak ada batasan dalam belajar. Karena itu, Indah masih terus menggali pengetahuannya dalam bidang yang ia geluti. Karena semakin tinggi jabatan yang Indah pegang maka semakin besar pula tanggung jawab yang di pikul olehnya.


Indah dan Fandi lalu mengobrol membahas pekerjaan yang ada di depan mata. Dan mereka nyambung membahas soal pekerjaan.


"Baiklah Pak Fandi. Sepertinya hari ini hanya itu saja yang dapat saya terangkan mengenain kondisi dan struktur tanah serta langkah apa saja yang akan kami ambil."Ungkap Indah.


"Terima kasih Bu Indah. Saya percayakan pembangunan pergudangan ini kepada perusahan Ibu."


"Terima kasih kembali Pak, kami akan bekerja keras untuk hasil yang memuaskan."


Keduanya kembali berjabat tangan sebelum berpisah kembali pada kegiatan masing-masing.


Fandi melangkah pergi di susul oleh temannya yang sedari tadi bersamanya namun tidak bicara sepatah kata pun.


"Bro, bisa ketemu kayak dia dimana sih?"


"Bu Indah?"


"Iya."


"kenapa?"


Dia terlihat mandiri, humble dan cantik Bro. Aku suka tipe seperti dia."


"Hehehe, dia sudah bersuami, kawan. Sebaiknya kamu mengurungkan niatmu."


"Wah, sayang sekali ya. Padahal sepertinya dia calon idaman."


"Bisa saja kamu."

__ADS_1


Bersambung...


Notes :Minta Ulasan dan Bintang 5 dong Kakak 🙏, biar saya lebih semangat. Terima kasih 🙏😊


__ADS_2