Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 38 Penangkap Heru


__ADS_3

Bab 38


Penangkapan Heru


(Pov Author)


"Wah Pak, jangan main tangan begitu dong!" Kata salah seorang yang memisahkan Heru dan Indah.


"Diam kamu! Ini bukan urusanmu!"


"Mana bisa bukan urusan kami Pak, Bapak melakukan kekerasan di tempat umum begini, sekalipun dia saudara, istri, teman atau apapun itu, tidak dibenarkan adanya kekerasan." Kata salah seorang Ibu-ibu yang melihat kejadian itu.


Heru tidak bicara lagi. Hanya deru napas menahan emosi dengan tatapan tajam menatap Indah yang juga melihat tajam ke arahnya.


"Kamu akan menyesal Mas." Kata Indah dan beranjak kembali ke mejanya, mengajak Rara pergi setelah membayar makanan mereka.


Kerumunan orang pun mulai bubar, namun Heru masih menatap punggung Indah yang sudah menjauh.


"Mas, kita pulang saja ya? Makanan sudah di bungkus." Ujar Wina mengajak pulang Heru."


Heru mengangguk lalu berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya, dan mereka pun pulang.


Saat tiba di rumah, Heru duduk di sofa. Kata-kata terakhir indah terus terngiang di kepalanya.


Wina mengambil alat makan, dan mereka pun makan di ruang tamu.


"Mas apa benar dia melaporkanmu kepada Polisi?"


"Sepertinya tidak mungkin, aku kenal Indah. Dia itu sangat mencintaiku."Ujar Heru meyakinkan Wina dan juga dirinya sendiri.


Sebenarnya Heru cukup cemas akan kata-kata Indah tadi. Indah memang tidak pernah bohong dengan ucapannya, dan Heru tahu itu. Tapi Heru merasa kurang yakin karena yang ia tahu, Indah sangat mencintainya dulu.


Malam itu setelah mereka makan, mereka pun melakukan ritual suami istri sebelum akhirnya tertidur."


***


Keesokan harinya, Heru berangkat bekerja seperti biasanya. Dan Wina menunggu di rumah dengan bermalas ria.


Wina tidak betah jika harus tinggal di rumah mertuanya. Jangankan untuk tinggal, menginap 1 malam saja ia pasti akan berusaha mengajak Heru pulang kerumah mereka.


"Triiing...! Triiing!"


Dering telpon Wina berbunyi dan ada nama Ibu mertua di sana. Sebenarnya Wina sangat malas mengangkat panggilan itu. Tapi bila tidak di angkat buntutnya pasti panjang. Apalagi Wina sudah mulai tahu sifat Ibu mertuanya yang suka mengomel itu.


"Halo Bu..."


"Wina kamu kesini cepat!" Perintah si Ibu dari seberang sana.


"Memangnya ada apa sih Bu?"


"Kamu kesini cepat, bantuin Ibu masak! Ratih mau membawa teman dekatnya main kerumah."


Wina kesal. Ibu mertuanya menelpon langsung memerintahkannya begitu saja. Ratih yang kedatangan tamu tapi dia yang di repotkan. Sudah pasti banyak pekerjaan rumah tangga yang akan dilimpahkan padanya. Ia tidak mau kuku yang baru saja ia poles cantik jadi rusak oleh Ibu mertuanya.


"Mas Heru sudah berangkat kerja Bu. Rumahku tidak ada yang jagain. Lagian aku kesana naik apa Bu?" Jawab Wina berkilah.


"Naik ojek dong! Cepat kesini, Ibu tunggu!!"


Telpon di matikan sepihak oleh Bu Yarsih.


Wina kesal dengan wajah masam sambil menggerutu.


"Emang siapa sih yang mau datang sampe repot-repot segala?! Ibu pejabat? Bapak Presiden?"


Mau tidak mau Wina mengambil tasnya dan memesan ojol untuk bisa kesana.


Selang 8 menit ojol pun tiba. Wina segera menaiki motor sang ojek setelah mengunci pintu rumahnya.

__ADS_1


"Sesuai aplikasi yang Bu."


"Iya, jalan Pak, Cepet! Nanti Ibu mertua saya bisa ngamuk kalau lama." Ujar Wina yang masih kesal dan akhirnya melimpahkan kekesalannya kepada kang ojol.


Beruntung jalanan tampak lenggang karena sudah lewat jam macet, sehingga mereka bisa melaju dan tiba setelah 15 menit perjalanan.


"Ini, Pak makasih." Ujar Wina memberi ongkos dan langsung masuk ke rumah Ibu mertuanya.


Kang ojol yang terkesiap melihat tumpukan uang logam di telapak tangannya. Ia pun perlahan menghitung jumlah uang yang di dapat.


"Lah, kurang lima ratus Bu?! Duh apes, mana uang logam semua. Jangankan di lebihkan, malah kurang ini bayarannya. Nasib-nasib, ojolkan juga manusia."


Mau tidak mau kang ojol pergi karena tidak mendapat tanggapan dari Wina.


Sementara itu, Wina yang berada di dalam rumah langsung mencari Ibu mertuanya.


Bu Yarsih sudah berkutat di dapur dengan segala peralatan masak serta bahan-bahan makanan yang sudah mirip kapal pecah.


Wina ternganga melihat keadaan dapur yang sudah kacau balau begitu. Ia mulai kesal karena nantinya pasti dia juga yang akan membereskan semuanya.


"Wina, cepat kupas bawangnya!" Perintah Bu Yarsih begitu melihat Wina yang berdiri masih melongo melihat situasi di dapur.


"Memangnya mau berapa orang sih yang datang Bu?" Tanya Wina bingung, melihat bahan makanan yang begitu banyaknya.


"Satu orang."


"Haah?! Satu orang segini banyaknya?! Ini sudah kayak buat sekampung Bu! Sebesar apa sih ususnya nampung segini banyaknya?!"


"Sudah jangan protes kamu! Cepat kerjakan!"


Dengan muka masam Wina duduk di lantai dan mulai mengupas bawang.


"Ratih memangnya kemana sih Bu, sampai Ibu mengerjakan semuanya sendirian." Tanya Wina penasaran, karena kesibukan di dapur seharusnya Ratih juga ikut membantu.


"Ratih jangan di ganggu, biar dia istirahat. Semua ini dia yang belanja keluar uang. Sudah kamu jangan banyak bicara, cepat kerjain saja!"


Wina melengos mendengar jawaban Ibu mertuanya.


"Tok... Tok... Tok...!"


Suara ketukan pintu terdengar lumayan nyaring karena rumah sepi.


"Loh, sudah datang? Kok cepet bener? Padahal katanya sore." Tanya Bu Yarsih pada angin tapi di dengar oleh Wina.


"Tok... Tok... Tok...!"


"Sebentar!!" Teriak Bu Yarsih dari dalam rumah.


Bu Yarsih beranjak dari duduknya menuju kamar Ratih.


"Ratih! Ratih!"


"Ada apa sih Bu?" Tanya Ratih membuka pintu kamar setelah mendengar teriakan Ibunya di depan pintu.


"Kok cepet bener temanmu mau dateng. Ini baru jam 9 pagi. Katamu dia mau datang sore?" Tanya Bu Yarsih bingung.


"Sore kok Bu. Ini aja aku lagi bertukar pesan dan katanya sore dia datangnya."


"Lah, itu yang ketok pintu di depan siapa ya?"


"Ya mana aku tahu Bu."


Bu Yarsih menuju pintu depan di ikuti Ratih yang juga penasaran siapa yang bertamu pagi begini.


"Ceklek." Suara pintu di buka.


"Selamat Pagi. Benar ini rumah Heru Kurniawan?" Tanya petugas Kepolisian sambil memegang sebuah lembaran kertas.

__ADS_1


"Benar, ada apa ya Pak?" Tanya Bu Yarsih yang bingung dan mulai memucat karena suasana hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman.


Ratih yang berada di dekat Ibunya langsung memeluk lengan sang Ibu, karena ketakutan. Ia takut kejadian malam itu akan sampai pada Ibunya saat ini.


"Pak Herunya ada?"


"Heru tidak tinggal di sini. Dia di rumah barunya bersama istrinya. Saya Ibunya." Ujar Bu Yarsih menjelaskan.


Entah kenapa ia merasa harus melindungi dirinya dengan menyebutkan Heru tidak tinggal bersamanya.


"Apa Ibu tahu dimana Pak Heru tinggal?"


Bu Yarsih terdiam. Tangannya mulai meremas baju daster yang ia kenakan. Perasaannya dagdigdug campur aduk membuat hatinya sangat gelisah.


"Ada apa ya Pak?" Tanya Ratih mencoba memberanikan diri.


"Pak Heru telah melakukan tindak pidana pencurian. Kami membawa surat penangkapan atas tersangka Heru Kurniawan. Mohon keluarga bisa bekerja sama dan kooperatif untuk tidak menyembunyikan tersangka."


"Saya tidak tahu! Saya tidak tahu!!" Teriak Bu Yarsih tiba-tiba, tidak terima atas kenyataan yang baru saja ia dengar.


Para petugas Polisi menatap tajam kepada Ratih dan Bu Yarsih.


"Bu, katakan saja dimana kantor Mas Heru. Kalau Ibu bersikap begitu sama saja Ibu melindungi Mas Heru, bisa-bisa Ibu juga di tangkap." Bisik Ratih kepada Bu Yarsih membuat wanita paruh baya itu merinding.


"Hiks......"


Wina yang datang dari arah dapur ikut melihat ke depan pintu dengan linangan air mata.


"Ada apa?" Tanya Wina.


"Bapak-bapak ini menanyakan Mas Heru." Jawab Ratih.


"Mas Heru di kantornya, memang ada apa?" Tanya Wina lagi yang masih belum paham situasi.


"Anda siapanya Pak Heru?" Tanya petugas Polisi kepada Wina.


"Saya istrinya."


"Dimana kantor Heru bekerja?"


"Di jalan Budi Mulya Pak, tapi ada apa sih Pak? Kok dari tadi pertanyaan saya tidak di jawab?"


"Pak Heru dinyatakan sebagian tersangka atas pencurian hal milik Ibu Indah Pertiwi."


Wina terdiam membisu, ia tidak menyangka suaminya benar-benar telah di laporkan oleh Indah atas kasus rumah yang selalu mereka perdebatkan.


Melihat tak ada hasil atas perintah tugas yang mereka kerjakan, para Polisi itu bersiap akan pergi.


"Ayo kita langsung ke kantornya!"


Para petugas Kepolisian dengan gerak cepat segera meninggalkan tiga wanita berbeda usia itu masih dalam keadaan tak percaya dan ketakutan.


"Bu, bagaimana ini Bu? Aku tidak mau suamiku di penjara Bu.... Huaaaa...."


Tangis Wina akhirnya pecah meraung. Air mata yang keluar karena bawang sebelumnya, kini keluar karena berita buruk yang baru saja mereka hadapi.


"Heru anakku, bagaimana nasib Ibu selanjutannya? Siapa yang bayarin arisan-arisan Ibu?! Huwuwuwu..."


Bu Yarsih pun tergugu menangis, sedangkan Ratih tampak sedih sambil mengusap air mata.


"Huaaaa.... Ini semua ulah perempuan si*al*an itu! Tadi malam dia sudah mengancam Mas Heru akan melaporkannya ke Polisi. Padahal rumah itu hak Mas Heru juga." Cerca Wina.


"Indah, dasar wanita serakah! Ayo Wina, kita temui dia di kantornya!"


Bersambung...


*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **

__ADS_1


Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏


Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊


__ADS_2