
Bab 58
Usaha lagi
(POV Author)
Waktu terus berlalu. Indah sekarang sudah terbiasa di tempat tinggal yang baru di sebuah kota yang baru pertama kali ia jejakan kakinya. Bersama Mira, persahabatannya dengan wanita itu mulai terjalin akrab. Mereka sering hangout berdua dan berkunjung kediaman masing-masing.
Mira sering mengundang Indah makan di rumahnya, begitu pula Fandi mengundang Roy atas rengekan lelaki itu. Meski Roy dan Indah belum menjalin hubungan apa-apa, tapi Roy sudah sangat bahagia bisa sering bertemu dengan Indah.
Mereka berempat sering ngumpul bersama, hingga Indah lama-lama mulia terbiasa dengan sifat Roy yang blak-blakan.
"Indah buat apa melirik kesamping terus kalau yang tampan sudah ada di depan mata?"
Air mineral yang sedang Indah minum tersembur tanpa sengaja mendengar ucapan Roy. Indah menyeka mulutnya dengan tisu, sedangkan Roy merasa tidak bersalah telah membuat wanitanya tersedak.
Indah akui Roy memang tampan. Tapi, untuk memulai suatu hubungan sampai saat ini Indah masih tidak ingin.
Fandi dan Mira terkekeh melihat kelakuan Roy yang berusaha keras untuk menjadi lebih dekat dengan Indah. Indah yang ramah dan ringan tangan dalam membantu di sukai oleh mereka.
Mereka berempat tengah bersantai bersama di sebuah kafe di Makassar yang menyajikan pemandangan pantai. The Beach Stones Cafe, tempat ini mirip dengan Bali. Bean bag warna-warni dan ornamen dekoratif yang ada akan membuat siapapun merasakan suasana pantai yang mengasyikkan. Belum lagi gazebonya yang dilengkapi kelambu dan menghadap ke laut ini. Pasti cantik bukan?
"Sabar ya Indah sama kelakuan bujang lapuk ini."
Roy memamerkan senyum manismya kepada Indah yang sempat meliriknya.
"Sudah biasa Mbak." Jawab Indah sambil tersenyum.
"Oh ya, dua minggu lagi acara tujuh bulanan ku. Nanti kalian pada datang ya."
"Dimana Mir?" Tanya Roy yang memang seusia dengan Mira.
"Rumah Ibu Mas Fandi."
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" Tanya Indah mengajukan diri.
"Tidak usah Indah, kalian cukup datang saja dan menikmati acara." Ujar Fandi yang kini sudah santai berbicara nonformal kepada Indah.
"Duh, tidak enak rasanya tidak bantu apa-apa." Ujar Indah.
"Bantu doa saja, semoga acara nanti berjalan lancar tanpa hambatan." Ujar Mira.
"Kalau itu pasti dong Mbak."
Mereka pun melanjutkan lagi obrolan ringan hingga waktu berkumpul pun di akhiri setelah waktu menunjukan pukul 16.07.
"Kamu tidak apakan Indah, kalau di antar Roy? Sudah jinak juga dia, jadi tidak mungkin berani macam-macam."
Indah melihat ke arah Roy yang langsung di sambut oleh senyum manis lelaki itu. Dengan cepat Indah mengalihkan pandangannya kembali melihat Mira.
"Ehem, tidak apa Mbak."
"Kalau begitu kami jalan duluan. Kalian hati-hati ya, dan Roy awas macam-macam!" Ujar Mira memperingatkan dalam canda.
"Iidh Bro, makin galak aja isterimu."
Fandi hanya terkekeh melihat perdebatan kecil antara Mira dan Roy. Ia yang sering melihat keduanya seperti air dan minyak itu merasa sudah biasa menghadapinya.
"Aku duluan ya Bro."
"Siap."
Mobil Fandi dan Mira perlahan meluncur meninggalkan halaman parkiran kafe itu.
__ADS_1
Tadinya Fandi, Mira, dan Indah berada dalam satu mobil yang sama. Tetapi ketika Roy menelpon Fandi dan mengetahui mereka akan bersantai sejenak menikmati pemandangan pantai, Roy segera menyusul mereka kesana.
"Yuk masuk, apa masih mau nyantai dulu disini?" Tanya Roy menatap Indah lembut.
"Pulang saja, biar tidak maghrib di jalan."
"Setuju." Ujar Roy membenarkan.
Ke duanya lalu masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Roy. Namun sebelum mobil itu berjalan, Roy perlahan mendekat pada Indah.
"Eh...!"
Indah yang kikuk duduk dalam mobil hanya berdua dengan Roy terkejut dan spontan memundurkan diri kebelakang hingga mepet ke sandaran kursi karena jaraknya dan Roy yang sangat dekat.
Jantung Indah berdebar tak menentu hingga bernapas pun ia enggan karena hembusan napasnya sudah pasti akan mengenai wajah Roy. Wanita itu pun menahan napasnya hingga membuat wajahnya mulai memerah entah itu karena malu atau karena napas yang di tahan.
Roy tersenyum namun tidak berusaha kembali ke posisinya semula. Tangan terus bergerak mengaitkan sesuatu di tubuh Indah.
"Sudah."
Rupanya Roy memasangkan selt belt yang belum dipakai oleh Indah. Barulah lelaki itu kembali duduk di posisinya.
"Haaah."
Helaan napas Indah keluar begitu saja dan terdengar oleh Roy. Lelaki itu terkekeh melihat wanita pujaannya yang polos namun berstatuskan janda itu tampak tegang dan tidak berani menatapnya.
Wajah Indah memerah karena malu. Dalam kepalanya sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Roy. Indah yang jarang sekali menaiki mobil pribadi seperti itu tentu tidak selalu ingat untuk memakai selt belt. Jangankan Indah, pengguna kendaraan roda empat yang sudah tiap hari menggunakan mobil pun terkadang lalai akan pengamanan untuk diri mereka.
Kita sering menyepelekan sesuatu karena tidak disiplin yang akhirnya merugikan diri kita sendiri bahkan orang lain disekitar kita. Kita mampu mengkritik dan memberi saran namun tidak sanggup mengintrospeksi diri kita sendiri.
"Kita jalan ya?" Ujar Roy mulai menjalankan mobilnya setelah mendapat anggukan dari Indah.
Tidak banyak pembicaraan yang terjadi di dalam mobil yang bahkan bisa di bilang hening. Mengusir keheningan itu, Roy mencoba membuka musik dari box music yang ada di dasbor mobilnya.
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Semoga kita bersama
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Cintaku untukmu selalu terjaga
Dan aku pasti setia
Alunan lagu dari seorang musisi negeri sendiri langsung menyentuh hati kedua insan yang ada dalam mobil itu. Dalam hati Indah merasa lagu itu seperti ungkapan hati Roy kepadanya. Dan begitu pula Roy yang merasakan lagu itu pas sekali untuk dirinya.
Keduanya menjadi canggung, lalu Roy mencari siaran radio untuk menghilangkan situasi canggung itu.
Bila ingin melihat ikan di dalam kolam
Tenangkan dulu airnya sebening kaca
Bila mata tertuju pada gadis pendiam
Caranya tak sama menggoda dara lincah
Jangan, jangan dulu
Janganlah di ganggu
__ADS_1
Biarkan saja biar duduk dengan tenang
Senyum, senyum dulu
Senyum dari jauh
Kalau dia senyum tandanya hatinya mau
"Ehem..."
Indah berdehem lalu memalingkan wajahnya melihat pemandangan di luar jendela. Lagu berikutnya juga sama saja membuat keduanya canggung hingga akhirnya Roy memilih untuk mematikan saja box music itu.
Roy mengusap tengkuknya sambil sebelah tangannya tetap berpegang pada setir kemudi. Sesekali lelaki itu melirik Indah curi-curi pandang terhadap wanita itu.
Biasanya Roy percaya diri menghadapi wanita, apalagi tadi pun ia begitu. Tapi setelah dua lagu tadi terdengar dan mereka hanya berdua saja, tiba-tiba perasaan canggung itu menyergap.
Mungkin karena Indah wanita yang sulit di dekati. Kerena setelah mengenal Indah selama 3 bulan, hubungan Roy dan Indah masih saja jalan ditempat.
"Indah, boleh aku tanya sesuatu?"
Roy mencoba memberanikan diri untuk bertanya agar mengusir keheningan yang kembali terjadi di antara mereka.
"Tanya apa?" Jawab Indah namun kembali bertanya.
Mata mereka sempat beradu pandang ketika Indah berbicara. Namun keduanya kembali menatap fokus ke depan.
"Tipe lelaki seperti apa yang membuatmu bisa jatuh cinta? Dan apa aku termasuk?"
Pertanyaan Roy selalu saja blak-blakkan dan lelaki itu terkesan santai bertanya walau sebenarnya dalam hati ia berdebar-debar karena mata mereka sering bertemu tatap.
"Apa kamu berusaha mengungkapkan isi hati lagi, Roy?"
"Tidak ada salahnyakan mencoba terus?"
Indah terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Roy. Roy yang menanti jawaban Indah tentu jantungnya berdebar-debar menunggu kalimat yang keluar dari bibir tipis itu.
Indah menarik napas lalu mengeluarkan perlahan. Bahkan Roy yang sesekali melihat ke arahnya semakin membuat jantung lelaki itu berolahraga.
"Apa ya tipeku? Untuk face yang penting masih enak di lihat saja. Terlepas dari wajahnya, paling penting bagiku lelaki itu punya rasa setia dan bertanggung jawab. Terkadang orang bisa mencintai tapi tidak mampu untuk setia. Karena bagiku kesetiaan itu bukan karena keterikatan akan sebuah janji, tapi bagaimana ia mampu bertahan untuk tetap setia."
Roy tersenyum, kagum akan pemikiran wanita pujaan hatinya.
"Triiing...! Triiing...!"
Tiba-tiba saja handphone Roy berbunyi merusak suasana yang Roy anggap manis itu.
Indah melirik sekilas lalu kembali menatap jalan di depan.
Roy mengambil gawainya yang terletak dibagian dasbor yang memang dipersiapkan untuk menyimpan barang dengan ukuran seperti hape, dompet, atau charger.
"Fandi, aku angkat sebentar ya?" Ujar Roy memberitahukan bahwa yang menelponnya adalah Fandi setelah melihat nama di layar handphonenya.
Indah mengangguk. Dalam hati gadis itu sedikit bertanya-tanya, apa mungkin Fandi dan Mira sudah sampai padahal jika di perkirakan dengan jarak yang di tempuh, sepertinya itu tidak mungkin.
"Assalamualaikum Bro, baru saja berpisah beberapa menit sudah kangen saja." Cerocos Roy setelah mengucapkan salam pada Fandi di seberang sana.
"Waalaikumsalam, Roy kamu sudah sampai mana?" Suara Fandi terkesan panik dan sendu.
Roy yang mendengar suara Fandi yang tidak biasa merasa telah terjadi sesuatu. Wajah lelaki itu mendadak berubah serius dah sedikit mempercepat laju kendaraannya.
"Ada apa? Kamu dimana?" Roy balik bertanya. Feelingnya mengatakan telah terjadi sesuatu terhadap Fandi.
Indah yang mendengar ucapan Roy duduk membenarkan posisinya dan menatap Roy serius karena wajah lelaki itu mendadak berubah tegang.
__ADS_1
Ada apa ya dengan Fandi? Pembaca tahu tidak kira-kira ada apa?
Bersambung...