
Bab 78
Kenikmatan Yang Salah
(POV Author)
Perjalanan rumah tangga yang hancur berantakan membawa Indah melangkah ke kota Makassar. Dari pernikanan yang konon berdasarkan cinta buta berakhir dengan penderitaan yang berurai air mata.
Indah membuat pilihan pergi meninggalkan kotanya untuk memulai hidup yang baru. Dan tentunya ia berharap di kemudian hari ia bisa jatuh cinta lagi.
Dan nyatanya, hanya hitungan bulan Indah sudah merasakan kembali perasaan itu. Perasaan yang dulu membutakan matanya. Namun perasaan itu kini jatuh kepada orang yang berbeda, orang yang mampu mengubah hatinya dalam sekejap dengan sikap tanggung jawab serta melindungi bukan hanya sekedar perhatian dan buaian kasih sayang.
Tetapi, suatu keadaan membuat Indah harus menerima permintaan. Permintaan menikah dengan orang yang hanya di anggap seperti kakak sendiri. Dan pernikanan itu kini sudah di depan mata.
Waktu empat bulan 10 hari sudah lewat. Tiga hari lagi Indah dan Fandi akan melangsungkan pernikahan mereka di rumah orang tua Fandi. Sanak saudara sudah di hubungi dan akan tiba esok hari.
Walau hanya pernikahan siri, baik Indah maupun Fandi mendatangkan keluarga mereka agar acara pernikahan itu lebih terasa sakral.
Ayah Indah beserta sang Ibu, juga beberapa orang saudara termasuk Budi, sudah berada di hotel terdekat dengan lokasi acara sejak kemarin. Sebelum acara pernikahan esok lusa berlangsung, mereka di bawa ketempat-tempat wisata terdekat di kota Makassar.
Malam setelah Fandi membawa keluarga Indah jalan-jalan mengelilingi kota makassar bersama Roy tentunya yang selalu menempel agar lebih dekat dengan keluarga Indah, Fandi memutuskan beristirahat di rumah Ibunya.
Fandi tampak lelah memasuki kamar yang dulu pernah ia gunakan bersama mendiang sang istri, Mira. Ia merebahkan dirinya di atas kasur tanpa melepas baju bahkan sepatunya.
Fandi nyaris tertidur dengan lengan menutupi wajahnya kalau saja Siska tidak mengetuk pintu yang terbuka.
"Tok... Tok... Tok...!"
Fandi menoleh ke arah pintu, mendapati Siska disana dengan sebuah nampan berisi segelas minuman di tangannya.
Fandi kembali ke posisi menutup mata dengan sebelah lengannya dan mencoba memejamkan mata kembali.
"Mas, mandi dulu baru tidur. Mas sudah makan belum? Ini aku bawakan wedang jahe biar tubuh Mas tetap segar. Ingat, acara Mas sudah dekat." Ujar Siska mengingatkan.
Fandi cukup heran dengan Siska yang sudah mulai bisa menerima kenyataan. Dan pria itu berpikir ada benarnya juga ucapan Adik angkatnya itu.
"Ini aku tinggal ya Mas, jangan lupa di minum setelah mandi." Ujar Siska lalu melangkah perlahan meninggalkan kamar Fandi, dan menutup pintu kamar itu.
Tidak ada sahutan dari Fandi. Lelaki itu membiarkan saja Siska pergi meninggalkan dirinya di kamar.
Fandi bangun, lalu menoleh ke gelas wedang di atas nakas. Kemudian lelaki itu beranjak bangun dan menuju ke kamar mandi dalam kamar itu.
__ADS_1
Guyuran air dingin langsung membuka mata Fandi lebar, aroma sabun mandi dalam kamar mandi itu mengingatkannya tentang Mira, karena sabun itu adalah sabun yang biasa Mira pakai.
Masih terletak di tempatnya, apa saja perlengkapan mandi yang biasa di pakai mending istrinya jika menginap di rumah orang tuanya. Hal itu tentu saja membuka kenangan dia dan istrinya.
Fandi kembali merasa pilu di hatinya. Kesedihan akan kehilangan sepertinya tidak akan pernah usai. Matanya mengembun walau tidak terjatuh. Ia pun perlahan menyekanya dan segera menuntaskan mandinya.
Fandi keluar berbalutkan handuk saja yang melilit di pinggang. Mendekati nakas, ia mengambil wedang jahe lalu meminumnya hingga tandas.
Fandi kemudian menghempaskan bobot tubuhnya diatas ranjang, memandang langit-langit kamar yang hening bahkan tanpa suara seekor nyamuk pun.
Perlahan mata itu sayu, lama-lama ia di dera rasa kantuk yang luar biasa dan akhirnya tertidur dengan lelapnya dengan hanya mengunakan handuk.
***
"Mira aku rindu Mir..."
"Aku tidak kemana-mana Mas, aku selalu di sini." Tunjuk Mira di dada Fandi."
"Aku mencintaimu Mir..." Ujar Fandi mendekap erat Mira, menumpahkan seluruh rasa rindunnya pada cinta pertamanya itu.
"Aku juga mencintaimu Mas..." Jawab Mira yang juga mendekap erat pelukan hangat Fandi.
Fandi mulai menciumi bibir Mira. Awal-awal sentuhan itu ia lakukan dengan lembut. Namun makin lama Fandi semakin rakus dan melahap tanpa memberi jeda pada lawannya.
Beralih dari bibir ke leher, kemudian turun ke bahu dan terparkir di posisi tepat di bukit kembar yang kenyal.
"Mas, aku juga mencintaimu..."
"Kenapa suaramu berubah sayang?" Tanya Fandi yang berhasil menerobos masuk goa gelap yang berair.
Namun karena kerinduan yang teramat sangat serta, kenikmatan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan, Fandi terlena akan permainannya. Ia terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan cantiknya.
Le*ng*uhan-le*ng*uhan kenikmatan keluar dari bibir ke duanya. Hingga semburan cairan hangat menerjang ke dalam goa, membuat Fandi nyaris kehilangan akal sehatnya, dan berakhir roboh disamping seseorang yang memeluknya.
***
Burung bercuit sahut-sahutan menyambut pagi yang mulai diterangi matahari. Hawa dingin yang menyelinap masuk di sela-sela ventilasi membuat seseorang menggeliat dan mencoba menarik selimutnya lebih tinggi.
Tapi ada yang berbeda di rasakan Fandi. Sesuatu yang berat seakan-akan sedang menimpa tubuhnya hingga ia sedikit kesusahan karenanya.
Perlahan Fandi membuka matanya. Cahaya matahari yang mulai terang menyilaukan pandangan matanya hingga ia harus mengerjap pelan beberapa kali.
__ADS_1
Hembusan napas yang hangat menerpa tubuhnya hingga Fandi menoleh ke sampingnya.
Mendadak kesadaran Fandi langsung menampar dirinya. Wajahnya mendadak pucat dan jantungnya berdetak dengan cepat seperti sedang berlomba pacuan kuda.
Fandi Melihat Siska tidur di sampingnya dengan tangan melingkar di perutnya. Lebih terkejut lagi ketika Fandi melihat jejak memerah di leher Siska dan di dekat bukit kembar wanita itu.
Fandi shyok. Nyawanya seakan-akan terbang meninggalkan raga yang terkejut akan kenyataan.
Fandi mencoba untuk tetap tenang dan berkonsentrasi apa yang sedang terjadi. Namun jantung yang terus berdegub dengan lantangnya akhirnya membuat lelaki itu panik juga.
Fandi perlahan beranjak tanpa ingin membangunkan Siska. Dan si*alnya Fandi baru sadar ia tidak menggunakan apa-apa.
Ia melihat handuk teronggok di lantai bahkan baju serta pakaian dalam Siska juga tergeletak pasrah di lantai.
Fandi meremas kuat rambutnya, memukul kepalanya beberapa kali hingga wajahnya memerah menahan segala emosi.
Fandi berdiri lalu mendekati lemari pakaiannya dan mengambil pengaman untuk juniornya serta celana pendek untuk lapisan luarnya.
Fandi berkacak pinggang sambil melihat Siska yang masih terlelap. Ia mondar-mandir seperti setrikaan dengan wajah kusut seperti benang.
Fandi marah, Fandi kalut, Fandi cemas, bahkan bingung semua bercampur menjadi satu.
"Tuhan... cobaan apalagi ini?" Gumam Fandi pelan menatap langit-langit.
Fandi ingin teriak rasanya tapi itu tidak mungkin. Bisa bahaya jika orang-orang khawatir mendengar teriakannya lalu datang ke kamarnya dan melihat apa yang terjadi di ruangan itu.
Fandi meringis, ia nyaris menangis meratapi kebodohannya. Ia yakin sesuatu yang salah pasti sudah terjadi.
Fandi hanya ingat tadi malam ia memimpikan mendiang isterinya. Bahkan ia menyalurkan keriduannya itu walau lewat mimpi yang anehnya terasa nyata.
Fandi berpikir keras, mengaitkan rasa mimpi dengan kenyataan yang baru di hadapi. Dan satu pertanyaan Fandi yang sangat ingin segera terjawab, bagaimana bisa Siska ada di kamarnya.
Siska mulai menggeliat di balik selimut. Tangannya bergerak meraba sekitar tempat tidur yang di lihat oleh Fandi.
Siska perlahan mengerjapkan matanya dan mencari sesuatu. Lalu senyumnya terbit secerah mentari pagi ini.
"Mas..."
Fandi tidak menjawab, wajahnya dingin dengan tatapan tajam melihat ke arah Siska yang masih belum paham dengan keadaan.
Bersambung...
__ADS_1