Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 32 Wellcome To Janda


__ADS_3

Bab 32


Wellcome To Janda


Usai berpamitan dengan Pak Sandi, tanpa menunggu waktu lebih lama aku dan Rara meninggalkan rumah makan itu setalah membayar tagihan tentunya.


Masih bisa ku lihat wajah Rara bersungut bahkan mengomel sendiri begitu menuju parkiran.


"Gila saja itu bandot tua! Tidak sadar sudah punya anak istri masih juga melirik yang lain."


Perasaan ku yang tadi kesal karena ulah Pak Dahlan menjadi terkekeh mendengar ocehan Rara. Kata-kata yang keluar dari mulut sahabat ku itu sudah mewakili hatiku yang juga ingin berkata kasar terhadap laki-laki tua itu.


"Tapi In, apa benar si Heru itu sudah menjatuhkan talak padamu?"


"Benar Ra. Dan itu terjadi di dalam gedung plaza dan di saksikan banyak pengunjung disana."


"Gila itu si Heru! Bisa ku bayangkan betapa malunya kamu dan pasti sedih banget di tatap segitu banyak mata disana. Kenapa dia tiba-tiba menjatuhkan talak? Bukannya dia ingin bertahan dengan pernikahan kalian?"


"Dia di paksa oleh Ibunya. Kemarin itu, aku pergi berbelanja dengan Jihan, lalu bertemu Mas Heru dan keluarganya disana. Melihat belanjaanku banyak, timbul sifat irinya, dan mengatakan aku menghabiskan uang Mas Heru. Jelas saja aku tidak terima, sedangkan kamu sudah tahukan bagaimana Mas Heru menafkahiku?"


"Bener-bener deh keluarga itu ya! Tidak tahu lagi aku harus berkata apa." Kata Rara gemas.


"Tapi semua sudah terjadi, dan karena itu proses perceraianku akan menjadi lebih mudah." Ujar ku mengambil hikmah dari pertemuan kemarin.


"Ya, kamu akan menjadi janda kembang sebentar lagi In."


"Huss, kenapa pake kembang segala." Tanyaku.


"Kan kamu masih muda In, masih bisa segera dapat pengganti." Jelas Rara.


"Aku belum kepikiran sampai sana Ra. Biarlah berjalan apa adanya dulu."


Setelah dirasa cukup mengobrolnya kami pun pulang menuju kantor.


***


Keesokan harinya. Awal yang cerah menyambut pagi ini dengan kicau burung yang sepintas pergi. Ku putuskan hari ini untuk menghadiri sidang untuk memastikan putusan hakim saat palu di ketuk. Bersama Jihan yang akan menjadi saksi jatuhnya talak, aku pun melangkah dengan pasti menuju ruang sidang.


Pak Sandi sudah ada di dalam ruangan itu. Dan juga Mas Heru yang di dampingi keluarganya, tetapi tidak terlihat ada Ratih di sana. Aku dan Jihan lalu duduk di dekat Pak Sandi.


Persidangan pun dimulai, Pak Sandi mewakiliku untuk berbicara. Tidak banyak respon yang Mas Heru tunjukan selain tertunduk dan diam. Sepertinya kali ini Mas Heru sudah pasrah dengan keadaan.


Jalan damai untuk rujuk sudah tidak lagi terbuka. Bukti-bukti yang ada sudah mendukung gugatan perceraian ini akan di menangkan oleh ku. Ditambah lagi sidang ini juga langsung membahas mengenai harta gono-gini.


"Silahkan Pak Heru Kurniawan untuk menjatuhkan talak kepada Ibu Indah Pertiwi." Hakim meminta Mas Heru menjatuhkan talak kembali di depan hakim dan walinya.

__ADS_1


Dengan lemah Mas Heru berdiri dan memandang ke arahku. Degub jantungku berdebar-debar, menunggu talak yang akan di ucapkan Mas Heru sebagai pengakhir ikatan suami istri yang kami sandang selama ini di depan hakim sidang.


"Indah Pertiwi, aku jatuhkan talak 3 kepadamu!"


Darahku berdesir, dadaku bergemuruh mendengar ucapan Mas Heru.


"Dengan ini Heru Kurniawan dan Indah Pertiwi dinyatakan resmi bercerai dan kembali menjadi dua pribadi asing yang tidak memiliki hubungan apapun."


"Tok!"


Palu di pukul satu kali pertanda keputusan telah sah di turunkan.


Mas Heru langsung terduduk lemas.


Hakim juga telah memutuskan untuk Mas Heru menafkahi aku selama masa iddah sebanyak 3 juta perbulan. Dan memutuskan bahwa barang-barang yang merupakan harta benda yang ada di rumah yang Mas Heru tinggali sekarang itu, di berikan kepadaku sebagaimana itu adalah hak ku atas milikku. Dan mengenai rumah, hakim juga memutuskan untuk membaginya secara adil. Dalam arti, rumah itu di jual dengan hasil penjualan di bagi dua, untukku dan Mas Heru.


Aku sangat puas dengan keputusan hakim. Pak Sandi pun menjabat tanganku memberikan selamat atas kemenangan sidang ini. Tidak sia-sia aku membayar mahal pengacara seperti Pak Sandi.


Mas Heru menatapku sendu dan nyaris saja menangis. Sedangkan keluarganya yang hadir tampak shyok, bahkan Ibu Mas Heru menangis histeris.


Wina menatap penuh kebencian terhadapku. Tapi kali ini aku beri dia senyuman karena sebentar lagi drama kehidupannya pasti akan berbanding terbalik dari sebelumnya.


Sidang telah usai, status baru telah ku sandang sebagai janda. Aku dan Jihan serta Pak Sandi pun keluar dari ruang sidang dan akan kembali menuju aktifitas masing-masing.


Mantan Ibu mertuaku mencekal lenganku ketika kami berada di parkiran. Matanya yang mengalir air mata molotot memandangku dengan dada naik turun menahan emosi.


"Maaf Bu, tolong lepaskan! Bukankah putusan hakim sudah jelas?! Dan mengenai harta gono gini itu, Ibu sendiri juga sudah mendengar dari mana sumbernya bukan?"


Aku mencoba membela diriku dan melepaskan cekalan tangan mantan Ibu mertua di lenganku.


"Bu, hentikan! Aku sudah bilang dari awal Bu, ini lah kenapa aku ingin tetap mempertahankan pernikahan dengan indah selain aku mencintainya. Tapi Ibu memaksaku untuk berpisah darinya." Ujar Mas Heru berusaha menenangkan Ibunya.


"Harta orang tuanya sudah banyak Heru. Dia itu serakah masih mau merebut juga harta yang seharusnya di ikhlaskan saja."


Aku melongo mendengar ucapan Ibu Mas Heru bahkan Jihan pun sampai melakukan hal yang sama.


"Kak, kok gini mereka?" Bisik Jihan kebingungan.


"Biar saja, sudah tidak waras mereka." Jawabku balas berbisik.


"Mau tinggal dimana kamu kalau rumah itu di jual? Rumah Ibu sudah sempit, tidak bisa untukmu dan istrimu tinggal lama-lama."


Kali ini Wina yang melongo mendengar penuturan Ibu mertuanya.


Ku rasa aku tidak perlu mendengar celoteh mantan Ibu mertua atau pun Mas Heru lagi karena sudah tidak ada urusannya denganku.

__ADS_1


Perlahan aku menggandeng Jihan untuk melangkah pergi meninggalkan keluarga absurd itu.


"Hei Indah, berhenti kamu! Jangan pergi!"


Mau teriak sekencang apa pun aku sudah tidak peduli lagi. Aku dan Jihan terus melangkah menuju parkiran dan segera pergi dari sana.


"Deg-degan banget Kak tiap berhadapan dengan keluarga itu?!" Ungkap Jihan ketika kami sedang dalam perjalanan.


Aku terkekeh. Kasihan sekali Jihan harus menonton drama yang tidak mendidik setiap kali bersamaku.


"Maaf ya Ji, beberapa kali ini kamu harus menerima pelatihan senam jantung. Hehehe..."


"Hahaha, Kakak bisa aja deh. Tapi seneng aku denger Kakak sudah bisa tertawa."


Benar, setidaknya beban di hati ini sudah terangkat setelah palu di ketuk.


"Makan dulu yuk! Harus dirayain nih!" Seruku mengajak Jihan.


"Ayo Kak!"


"Ke kafe yang di jalan Mawar aja, katanya enak di situ."


"Ih pas banget Kak! Jihan ngiler kadang lihat endorsan disana."


"Ya sudah, kita kesana sekarang."


Motor pun melaju ke arah yang di tuju. Sampai disana kami mencari meja kosong untuk kami berdua.


"Disana saja Kak." Tunjuk Jihan di sebuah meja yang berada tidak terlalu di tengah.


Hanya meja itu yang sedang kosong dan kami pun segera duduk disana. Pelayan pun datang membawa menu makanan. Ku serahkan Jihan untuk memilih menu untuk kami berdua.


Sambil menunggu pesanan datang, aku memperhatikan sekitar. Banyak kaula muda mudi disini. Tapi ada juga yang membawa keluarga makan disini.


Sedang asik melihat-lihat, mataku berhenti pada pojok ruangan itu. Aku seperti mengenali gadis muda di ujung sana yang sendang di rangkul mesra oleh om-om yang ku perkirakan sudah berusia 40an tahun ke atas.


"Ratih?!" Gumam ku memandang adik Mas Heru yang sudah seperti sugar baby.


Bersambung...


*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **


Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏


Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2