Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 46 Pilihan Hidup


__ADS_3

Bab 46


Pilihan Hidup


(POV Author)


Wina segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah memastikan pintu kamarnya sudah di kunci, ia mengeluarkan kertas yang tadi sengaja di jatuhkan oleh Hendra untuknya.


Temui aku besok jam 13.00 di jalan Sumatera, No 39


0812xxxxxxxxx


Begitulah isi tulisan di kertas itu yang membuat wajah Wina berseri dan tersenyum sendiri.


Belum-belum Wina sudah membayangkan bagaimana pertemuan mereka nanti. Wina yang sudah hafal tipikal orang seperti Hendra, sudah mulai merencanakan langkah-langkah apa saja yang harus ia lakukan dalam mengambil hati pria itu dalam usahanya merebut Hendra dari Ratih.


"Bagaimana ya caranya aku pergi keluar besok?" Gumam Wina lirih berbicara pada angin. "Nenek tua itu pasti selalu berteriak memanggilku, selalu merintah inilah, itulah, tidak ada habisnya. Lah dia enak-enakan nonton sinetron." Sungut Wina.


Mas Heru sudah tidak bisa di harapkan. Toh setelah melahirkan nanti anak ini akan aku berikan ke neneknya dan ayahnya. Aku akan memulai hidup baru dengan Mas Hendra yang sepertinya lebih bisa membahagiakanku. Batin Wina.


Sebuah kutipan dari akun Insta milik Anak Kalem menjadi panutan Wina, dengan kalimat; Penyemangat hidupku adalah uang bukan cinta. Soalnya aku makan nasi, minumnya air putih. Kemarin temanku makan cinta, minumnya air mata terus divonis gangguan jiwa'


Wanita itu mengambil gawainya dan memasukan nomor Hendra kedalam daftar kontaknya. Wina tidak langsung menghubungi Hendra karena wanita itu tahu, Hendra pasti masih bersama Ratih. Ia cukup bersabar menunggu gilirannya sampai besok.


Sementara itu, Hendra sedang memanjakan Ratih dengan pakaian-pakaian baru yang cantik-cantik di sebuah pusat perbelanjaan. Perlakuan Hendra yang memanjakan Ratih membuat gadis itu kian melayang.


Ratih tidak tahu saja kalau Hendra sudah mulai terpesona dengan Wina. Jika dibandingkan dengan Wina, wajah Ratih tidaklah terlalu cantik. Hanya saja, Ratih yang masih virgin di cicipi pertama kali oleh Hendra. Sehingga Hendra begitu sayang dengan gadis itu yang masih tergolong muda.


Berbeda dengan Wina, tubuh putih mulus dengan tinggi yang ideal serta bulu mata yang lentik membuat Hendra mengagumi kecantikannya walau Wina sedang hamil.


Jika saja Wina tidak membiarkan Hendra menyentuh wajahnya dan meraih tangan Hendra, lalu membawanya mengusap perutnya, tentu Hendra tidak akan selancang itu mengundang Wina ke sebuah tempat.


"Sayang mulai hari ini kalau malam jangan telpon aku dulu ya?" Ujar Hendra.


"Kenapa Pa?"


"Istriku sudah mulai curiga karena hampir tiap malam kita telponan."


"Tapi kalau siang tidak apakan sayang?" Pinta Ratih.

__ADS_1


"Tidak apa jika aku pas lagi santai."


"Baiklah kalau begitu."


"Makasih ya, sudah pengertian. Kita makan di sana yuk!" Ajak Hendra. menunjuk sebuah tempat yang menyediakan makanan cepat saji di Mall itu.


Ratih mengangguk dengan senyum manisnya menyetujui ajakan Hendra. Mereka pun berjalan menuju meja yang kosong dengan letak posisi yang nyaman bagi mereka.


Ratih sudah tahu kalau Hendra memiliki seorang istri. Namun karena Hendra yang selalu memanjakannya dengan materi, Ratih mengabaikan norma dan etika bahwasanya tidak baik menyimpan perasaan apa lagi sampai memiliki suami orang yang sudah pasti akan merusak rumah tangga orang tersebut.


Sesekali Hendra melihat gawainyanya dengan berpura-pura melihat jam berapa disana. Padahal ia ingin memeriksa apakah ada pesan Wina yang masuk dan belum ia baca.


Tidak ada pesan maupun panggilan tak terjawab yang menunjukkan kehadiran Wina di dalam gawainya. Hendra cukup lega, ia berpikir Wina cukup mampu memahami situasinya yang sedang bersama Ratih.


Hendra dan Ratih pun makan dengan tenang sambil menikmati momen-momen kebersamaan mereka.


Segala dosa terjadi karena adanya sebuah pilihan. Namun dosa tidak akan terjadi sekalipun kesempatan yang di berikan begitu banyak jika jalan itu tidak di pilih.


***


Di tempat yang berbeda.


Indah sudah kembali ke kantornya setelah meninjau lahan pembangunan pergudangan. Wajahnya sedikit menjadi kusam efek debu yang melekat saat ia berada di lokasi.


Wajah Indah kembali berseri setelah terkena air wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Indah pun kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya karena setengah jam lagi, waktu bekerja akan berakhir.


"Bu Indah, ada yang mencari."


Salah seorang bawahan Indah muncul dari balik pintu.


"Siapa? Atau suruh masuk saja ke ruangan saya ya."


"Baik Bu."


Tamu yang datang pun disuruh masuk ke ruangan Indah. Mereka pun membicarakan mengenai pekerjaan karena tamu itu adalah bagian dari karyawan kantor namun berbeda divisi.


Pekerjaan pun selesai, akhirnya Indah bisa pulang setelah bekerja selama 8 jam.


Indah berniat mampir di sebuah swalayan untuk membeli beberapa bahan makanan yang bisa di jadikan stok jika ia malas keluar dari mess.

__ADS_1


Indah memilih beberapa jenis sayur dan buah yang bisa bertahan beberapa hari jika dimasukan ke lemari pendingin. Ia juga membeli telur, dan pasta serta beberapa jenis saos untuk pelengkap rasa makanannya.


Sedang asik mendorong troli sambil sambil melihat barang-barang yang menarik, tiba-tiba seorang wanita berjalan terhuyung dan nyaris jatuh, jika saja Indah kurang cepat menahan tubuhnya.


"Anda tidak apa-apa Mbak? Kayaknya anda lagi sakit."


Wanita itu menggeleng sambil memijit pelipisnya kemudian tersenyum kepada Indah.


"Saya tidak apa-apa, terima kasih ya." Ujar wanita itu ramah.


Kemudian wanita itu mencoba berjalan perlahan. Lalu mengambil barang yang ia inginkan dan segera menuju ke kasir untuk membayarnya.


Indah. mendorong trolinya mengikuti wanita itu. Wajahnya yang pucat membuat indah khawatir wanita itu akan kenapa-kenapa.


Namun untunglah Indah dapat bernapas lega ketika melihat wanita itu memasuki sebuah mobil di depan swalayan itu. Yang artinya wanita itu tidak pulang sendiri.


"Mas, aku nyaris tumbang tadi di dalam."


"Ada yang terluka? Kamu baik-baik saja?" Sang pria memperhatikan seluruh tubuh istrinya untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.


"Aku tidak sempat terjatuh Mas, dan aku baik-baik saja."


"Ck! Sudah aku bilang biar aku saja tadi."


"Tidak apa-apa Mas. Tadi ada wanita yang menolongku sebelum aku jatuh. Alhamdulillah bertemu orang yang baik."


"Lain kali biar aku saja."


"Aku tahu kamu khawatir Mas, tapi hal kecil seperti ini masih bisa aku lakukan sendiri Mas. Biarkan aku menggerakkan tubuhku."


"Tapi kamu juga harus ingat pesan Dokter sayang, kamu tidak boleh kecapekan."


"Iya Mas aku ingat. Jika lelah aku akan beristirahat."


Setelah selesai mengobrol, mobil hitam yang di naiki keduanya pun perlahan meninggalkan parkiran dan melaju membelah jalan ibu kota.


Bersambung...


*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **

__ADS_1


Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏


Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊


__ADS_2