
Bab 77
Cari Pasangan Untuk Ratih
"Nak ini, siapa ya?" Tanya Bu Yarsih kepada Roy.
Bu Yarsih sepertinya ingin tahu nama pria yang di sukai anaknya. Terang saja, di antara Budi Roy dan juga Fandi, Roy lah yang memiliki wajah paling menonjol.
"Saya Roy, kekasihnya Indah."
Sontak aku terkejut mendengar ucapan Roy. Bahkan Budi ikut melirik ke arahku, memastikan dari gelagatku jika aku dan Roy memang sepasang kekasih.
Kejadian malam itu pasti setidaknya mengundang tanda tanya bagi Budi. Duh, aku harus alasan apa sekarang.
"Kamu kekasihnya Indah?" Tanya mantan Ibu mertuaku tidak percaya.
Bu Yarsih melihat ke arahku lalu melihat ke arah Roy berganti. Kemudian ia melihat ke arah putrinya Ratih yang tampak kecewa.
"Lalu pria itu siapanya kamu?"
Alih-alih bertanya pada Roy, Bu Yarsih juga bertanya kepada Mas Fandi. Sepertinya Bu Yarsih tidak menyerah untuk mencarikan anaknya pasangan. Tapi apakah harus segitunya? Kelihatan memaksa sekali mereka.
"Saya?" Tanya Fandi kepada Bu Yarsih sambil menunjuk diri sendiri." Saya calon suaminya, Indah." Ujar Mas Fandi kembali.
Ya Tuhan, sepertinya mereka berdua kompak untuk membuat serangan jantung untuk mantan Ibu mertuaku itu.
Sontak mulut Ratih dan Bu Yarsih ternganga mendengar ucapan Roy dan juga Mas Fandi.
"Kalian mempermainkan saya?!" Sergah Bu Yarsih tidak terima. Mukanya memerah, sudah pasti darahnya naik sampai ke ubun-ubun.
Tentu saja tidak akan ada yang percaya, jika aku memiliki kekasih dan calon suami yang muncul bersamaan. Aku sendiri pun nyaris tak percaya.
Kalau saja bukan karena permintaan, tentu tidak ada kondisi seperti ini.
"Maaf Bu, sebaiknya Ibu pulang karena urusan kita sudah selesai. Tidak ada yang perlu kita bahas. Dan satu hal yang perlu Ibu dan juga Ratih tanamkan, jangan suka memaksa kehendak sendiri untuk kepentingan sendiri." Sarkasku.
Sengaja aku memotong pembicaraan antar Roy, Mas Fandi juga Bu Yarsih mantan mertuaku itu agar tidak merembet kemana-mana. Apalagi mulut keluarga Mas Heru ini luar biasa tajamnya.
"Kamu memang perempuan sombong! Ayo Ratih, masih banyak pria tampan lain yang pasti mau dengan mu!"
"Tapi Bu..."
"Sudah, cepat! Ayo kita pulang!"
Ratih di seret paksa ibunya keluar rumah tanpa pamit apalagi mengucapkan salam. Menaiki sepeda motor dan melesat pergi dari rumahku.
__ADS_1
Aku hanya bisa menggeleng kepala, dan menghela napas. Malu, kenapa dulu aku bisa mau menjadi bagian keluarga itu.
"Bagaimana dulu kamu menjalani kehidupan rumah tanggamu dengan Ibu mertua dan adik ipar seperti itu, Indah?" Tanya Roy.
"Seperti yang kamu pikirkan Roy, kira-kira seperti itu." Jawabku yang tidak ingin membuka luka lama.
Dari apa yang Roy lihat barusan, ia pasti bisa menyimpulkan kehidupan rumah tangga seperti apa yang aku jalani dulu.
"Sudah lah, kita juga sudah memberinya pelajaran sedikit tadi." Ujar Mas Fandi sambil menepuk bahu Roy.
Kurasa Mas Fandi cukup tahu kalau aku sedang tidak ingin membahas masa lalu ku.
"Assalamualaikum..." Salam Ayah yang baru pulang dari kebun bersama Ibuku.
"Waalaikumsalam..."Jawab kami semua yang ada di dalam rumah secara serempak.
"In, Ayah tadi macam tetengok mantan mertue engkau." Ujar Ayah sambil meletakkan cangkulnya fi samping teras.
"Oh, benar Yah. Mereka baru je pegi dari sinik."
"Ade ape sampai mereke datang ke sinik."
"Ibu Mas Heru nak Roy jadi mantunye Yah." Ujarku apa adanya.
Budi terkekeh. Roy yang melihat Budi terkekeh seperti itu penasaran karena namanya di sebut-sebut.
Roy tidak terlalu paham bahasa kami, jadi dia bertanya kepada Budi. Walau berbisik tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Kata Kak In, anda mau di jadiin menantu sama Ibu-ibu tadi." Jawab Budi.
Roy hanya bisa menghela napas sambil mengusap belakang kepalanya.
"Kalian dah makan ke?" Tanya Ibuku.
"Belum Mak, mereka pun belum lama tiba." Jawabku dengan mengubah bahasa agar Roy dan Fandi bisa lebih paham.
"Ayo, kite makan dolok. Emak dan Indah tadek dah masak banyak untok kite semue makan same-same." Ajak Ibu kepada semua.
"Ayo Mas, Roy kita makan sama-sama. Ibu mengajak kita semua makan masakan Ibu tadi pagi." Ujarku mengulang sedikit agar mereka paham.
"Wah, kebetulan, aku sudah lapar." Ujar Roy.
Ayah dan Ibuku tersenyum mendengar ucapan Roy.
"Ayo, mari Nak Roy, Nak Fandi jangan malu-malu. Sebelum itu kita cuci tangan dulu biar lebih sehat." Ujar Ayahku.
__ADS_1
Makan siang itu berlangsung khidmat. Setelah itu kami semua melakukan sholat dzuhur bersama di rumah.
***
Keesokan harinya.
Berat rasanya mau meninggal lagi orang tua setelah sekian lama kami baru bertemu kembali. Tapi karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau kami terpaksa berpisah lagi.
Aku memeluk tubuh Ayahku lalu bergantian memeluk tubuh Ibuku erat. Sungguh, aku masih merindukan wanita yang melahirkan ku ini.
"Hati-hati In, semoge kau, Fandi dan Roy selamat sampai tujuan."
"Aamiin, makaseh Mak. Emak dan Ayah jangan lupe jage kesehatan." Ujarku sambil menyeka air mata yang mulai jatuh di pipi.
"Pak, Bu, kami pamit. Terima kasih sudah mau menerima kehadiran kami yang merepotkan ini." Pamit Mas Fandi sambil bersalaman dengan Ayahku dan bergantian kepada Ibuku di ikuti oleh Roy.
"Bapak titip Indah disana. Tolong jaga anak Bapak satu-satunya." Pesan Ayahku membuat hatiku terenyuh.
"Baik Pak." Jawab Mas Fandi Dan Roy bersamaan dan nyaris serempak.
Budi yang akan mengantarkan kami ke Bandara. Kami pun masuk ke dalam mobil setelah koper di muat di bagasi.
Aku sedih melihat wajah sendu kedua orang tuaku. Dalam hati ingin sekali aku tinggal di kampung saja ketika sudah menikah nanti, biar bisa dekat dengan Ibu dan Ayah yang semakin hari semakin menua.
Mobil yang kami tumpangi perlahan mulai menjauh dan semakin menjauh. Lima hari berada di kampung halaman rasanya tidak cukup buatku. Tapi, aku pun tidak bisa apa-apa karena kembali ke sini pun karena ada hal yang penting.
"Hati-hati loh Bud, menyetir pulang sendiri." Ujar ku ketika kami semua sudah sampai di Bandara dan koper sudah diturunkan.
"Kak Indah dan Bang Roy sama Bang Fandi juga hati-hati, semoga selamat sampai tujuan."
Aku mengangguk. Lalu menyalami Budi dengan dengan mengepalkan beberapa Lembar seratus ribu untuk waktunya yang telah banyak membantu kami.
"Loh Kak?"
"Sudah terima saja. Kakak ikhlas loh, dan marah kalau di tolak."
"Makasih Kak. Kalau begitu Budi jalan ya Kak. Mari Bang..., Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Jawab kami serempak.
Kami lalu segera masuk untuk cek in dan bersiap terbang menuju Makassar.
Kali ini aku duduk bersebelahan dengan Roy. Tadinya aku duduk sendiri sedangkan mereka berdua. Tapi karena disampingku yang duduk juga seorang pria? Akhirnya Mas Fandi pindah ke tempat ku dan aku duduk di tempatnya di samping Roy.
Jangan di tanya Roy bagaimana. Tentu saja senyumnya lebar bahkan semut rela antri untuk melihat saking manisnya.
__ADS_1
Ah, tapi senyum itu tidak sehat untuk jantungku. Sejak tadi aku berdebar-debar karenanya.
Bersambung...