
Bab 109
Tanggung Jawab
(POV Author)
Apa yang kita tanam itu lah yang kita tuai. Tidak terkecuali dengan segala kebaikan maupun keburukan yang telah kita lakukan.
***
Ketar-ketir yang dirasakan oleh Arjuna semakin menjadi. Apalagi orang tuanya baru saja menelpon bahwa ada seseorang yang datang mencarinya ke rumah. Bahkan saat ini ia dipanggil untuk segera pulang ke rumah orang tuanya.
Arjuna merasa ia tidak pernah berbuat salah. Namun perasaan cemas yang ia rasakan tidak dapat menutupi rasa ketakutannya untuk menemui seseorang yang datang mencarinya itu.
Pintu rumah sedang terbuka lebar, itu pertanda memang sedang ada tamu di dalam rumah orang tuanya. Arjuna melihat sosok pria yang tengah duduk tenang berbicara dengan kedua orang tuanya. Namun Arjuna tidak mengenali siapa pria itu.
"Ma, Pa, Arjuna pulang." Sapa Arjuna kepada kedua orang tuanya.
"Arjuna, kemarilah duduklah." Ujar sang Mama.
Arjuna duduk di dekat orang tuanya sambil mengamati pria yang juga mengamati dirinya.
"Ada apa Ma, menyuruh Arjuna pulang?" Tanya Arjuna.
"Mama ingin tanya kepadamu Arjuna, dan tolong jawab yang jujur."
Deg, Perasaan Arjuna semakin tidak menentu. Apalagi sang Mama memasang wajah serius menatapnya.
"Tanya apa Ma? Arjuna kok jadi takut ih. Mama kok jadi tegang gini Arjuna kan jadi ikutan tegang."
Celoteh Arjuna ingin mencairkan suasana dalam ruangan itu. Namun usahanya gagal, karena situasinya benar-benar dalam mode tidak bercanda.
Sang Mama yang diajak bercanda hanya menghela nafas kemudian menatap sendu kepada Putra satu-satunya.
"Juna, kamu kenal dengan Siska?" Tanya sang Mama.
Juna yang tadinya duduk menyender pada sofa merubah duduknya dengan posisi tegak.
"Kenapa dengan Siska, Ma?"
"Pria yang ada di hadapanmu ini adalah Kakaknya Siska, dan ia memintamu untuk bertanggung jawab atas Adiknya yang sedang hamil anakmu." Ungkap sang Mama.
Wajah Arjuna seketika berubah pia. Lidahnya tiba-tiba kelu untuk mengeluarkan kata-kata pembelaan diri. Juna menatap orang yang mengaku sebagai Kakak Siska, dan tatapannya itu dibalas dengan tatapan tajam oleh Fandi.
__ADS_1
"Bukankah anak yang dikandung Siska itu adalah anak anda?!" Juna mencoba untuk membela diri.
Fandi terkekeh. Ia sudah memprediksi Arjuna tidak akan mau mengakuinya begitu saja. Bukti DNA hasil lab dari rumah sakit sengaja ia bawa untuk ditunjukkan kepada keluarga itu.
"Mungkin kamu lebih tahu pastinya. Silakan lihat jika saya mengada-ngada."
Orang tua Arjuna meraih amplop coklat itu dan langsung membaca isinya. DNA itu mengatakan bahwa anak yang dikandung oleh Siska bukanlah anak biologis Fandi.
"Maksudnya ini apa? Kenapa anda melakukan tes DNA antara bayi itu dan anda sendiri?"
"Ada permasalahan sedikit akibat salah paham oleh jebakan yang telah di buat Siska. Siska mencoba menjebak saya dengan mengatakan bayi itu anak saya. Nyatanya, bayi itu bukan anak saya."
"Di jebak? Maksudnya?" Tanya Mama Arjuna.
"Saya tidak akan membicarakan hal lain panjang lebar. Saya hanya ingin Arjuna mempertanggung jawabkan perbuatan. Jika masih ragu bayi yang di kandung Bukan anaknya, silahkan saja tes DNA, saya siap menanggung biayanya."
Orang tua Fandi menyimak dalam diam begitu pula Arjuna yang pikirannya sudah kalut meski ia sembunyikan.
"Saya sudah menyelidikimu beberapa hari. Hanya kamu teman laki-laki yang dekat dengan Siska. Bahkan dari sahabat-sahabat kalian mengatakan, kalau kalian sering ke kosan bersama." Ungkap Fandi.
Terjawab sudah rasa kekhawatiran Arjuna beberapa hari ini yang merasa ada yang mengikutinya. Arjuna bagai tikus yang sudah merasa terpojokan. Ia membungkuk, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang menopang di atas kedua pahanya.
"Benar itu Juna? Jangan bohong sama Mama?!" Tegas sang Mama meminta jawaban Juna.
"Maafkan Arjuna Ma."
Satu kalimat yang diucapkan Arjuna itu sudah cukup membuktikan bahwa Ia memang telah menghamili Siska dan itu membuat Fandi tersenyum menang.
"Baiklah, Bapak, Ibu, saya rasa ini sudah cukup jelas. Jadi saya ingin Arjuna mempertanggung jawabkan perbuatannya karena saat ini perut Adik saya sudah semakin membesar." Tegas Fandi.
Kedua orang tua Juna tampak menghela nafas.
"Ya, sebaiknya kita nikahkan mereka."
Papa Arjuna buka suara.
"Tapi Pa, Arjuna kan masih kuliah Pa? Juna mau menyelesaikan kuliah Arjuna dulu."
"Saat kamu melakukannya, apa kamu ingat akan resikonya? Apa kamu ingat kamu masih masa kuliah? Jangan jadi orang yang pengecut Arjuna! Papa tidak pernah mengajarkanmu seperti itu."
Arjuna tertunduk dan terdiam.
"Baiklah saudara Fandi, kita atur saja kapan akan menikahkan mereka." Ujar Papa Arjuna kembali.
__ADS_1
"Baiklah Pak. Jika demikian memang semakin cepat semakin lebih baik." Ujar Fandi.
Pembicaraan pun berlanjut untuk membahas acara Arjuna dan Siska secara rinci dan jelas. Kedua keluarga sepakat untuk menikahkan mereka dua minggu lagi. Dan acara itu akan dilakukan di rumah orang tua Arjuna.
Fandi pulang dengan senyum terbit di sambut oleh istri yang mulai di cintai olehnya. Pelukan hangat dan ciuman di kening ia berikan kepada wanita bergamis pastel itu.
Nuning mencium punggung tangan suaminya dan membawakan tas kerjanya untuk di letakkan di atas nakas.
"Wangi bener istriku?"
"Iya dong, memangnya Bapak yang bau asem. Mau makan dulu apa mandi dulu Pak?"
"Aku kok merasa jadi Bapak mu Ning. Jangan panggil Bapak lagi dong sayang, panggil aku Mas, sayang, atau Honey seperti Roy dan Indah."
"Hehehe. Jangan Honey ah, Hubby aja ya?"
"Boleh, aku suka panggilan itu."
"Ya sudah. Mandi dulu By, aku siapkan makan untukmu."
"Almira sudah makan sayang?"
"Sudah By, sedang tidur sekarang. Oh ya By, kalau malam aku ingin Almira tidur di kamar kita juga, takut kalau malam bangun tidak kedengaran di kamar sebelah." Pinta Nuning.
"Bukannya tidak baik, apalagi jika kita lagi berbuat di jalan kebajikan menuju surga?"
"Hehehe, jalan kebajikan apa sih By? Bilang aja lagi anu."
"Iya, itu maksudnya."
"Kita bisa pakai kamar tamu kan By."
"Hmm, bisa juga kamu. Jadi malam ini, berapa ronde?"
Wajah Nuning langsung bersemu merah di goda oleh Fandi.
"Sudah mandi sana By, entar keburu maghrib." Kilah Nuning lalu meninggalkan sang suami yang terkekeh melihat sikapnya, menuju ke dapur.
Kebahagiaan baru menyelimuti kehidupan Fandi dan Nuning. Mereka berdua merasa bersyukur di pertemukan antara satu dengan yang lain. Meski di awal mereka harus dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik.
Bersambung...
Note : Author mohon maaf untuk hari minggu tidak bisa Up karena sedang kurang fit 🙏. Di usahakan senin pagi sudah ada UP bab terbaru lagi. Terima kasih kepada para pembaca yang mau setia menunggu 🙏😊
__ADS_1