
Bab 26
Keluarga Heru
(Pov Author)
Heru tampak kacau setelah melalui proses sidang cerai pernikahannya bersama Indah. Ia terus menghisap rokoknya yang sudah di bakar untuk yang ke empat kalinya dalam waktu singkat.
"Sudah Heru. Wanita seperti Indah untuk apa di pertahanan. Dia sudah tidak menurut lagi sama kita!"
"Tapi Bu, aku benar-benar mencintai Indah. Aku sudah menuruti keinginan Ibu, tapi aku tidak berharap perceraian ini terjadi Bu, tolong mengertilah."
"Alah cinta, apa bagusnya Indah ketimbang Wina. Lihat istri mudamu itu! Dia sudah hamil anakmu, calon cucu Ibu. Indah bisa memberikan apa untuk Ibu."
"Bu, Ibu lupa Indah sudah banyak memberikan kita segalanya."
"Halah, cuma harta yang tidak seberapa."
"Tapi dari situ aku bisa manjadi PNS Bu, bahkan Ratih bisa kuliah sampai selesai. Kehidupan kita sudah jauh lebih maju dari yang dulu semenjak kehadiran Indah dalam hidupku."
"Tapi Indah itu mandul! Sudahlah, kamu tidak perlu mengharapkannya lagi. Sudah ada Wina yang bisa menggantikan dia. Apa Wina kurang bisa memuaskanmu?"
"Kalau itu, Wina memang yang terbaik. Karena itu aku juga menyayangi Wina. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan indah Bu.".
"Kamu itu jangan terlalu polos dan percaya Indah begitu saja. Kamu tidak tahukan dia dibelakang mu bagaimana?"
"Apa Maksud Ibu?" Tanya Heru penuh curiga.
"Kamu cari tahu sendiri saia. Tidak mungkin istri mu itu benar-benar setia ketika kalian berjauhan." Ujar Ibu, lalu berlalu pergi menuju ke dapur.
Gigi heru bergemelutuk menahan amarah karena terbakar api cemburu mendengar ucapan Ibunya. Benar, selama ini Heru percaya saja akan kesetiaan Indah. Tidak sedikit pun ia mencurigai Indah akan menduakan dirinya. Tapi, mengingat jarak dan waktu yang selama ini ia rasakan, rasanya juga tidak mungkin Indah mampu menjaga kesetiaannya. Heru mencontohkan perasaan itu seperti apa yang ia rasakan. Dan akhirnya ia tergoda dengan Wina yang dapat menghilangkan haus akan kerinduan dan belaian kasih sayang.
"Aaarrrgghh!"
Heru berteriak meluapkan emosinya yang tertahan.
"Ada apa sih Mas? Aku sampai terkejut dari tidur siangku. Anakmu juga terkejut ini."
Wina tiba-tiba keluar dari kamar sambil mengucek mata dan mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
"Maafkan Mas ya? Kamu kaget ya?"
Heru langsung menghampiri Wina dan mengelus perut isteri ke duanya itu.
"Mas aku lapar. Anakmu pengen es buah-buahan..."
"Ya sudah. Kamu dandan yang cantik kita pergi makan es buah. Habis itu, kita sekalian pulang ke rumah karena besok Mas juga harus kerja."
"Oke, aku ganti baju dulu ya Mas."
Setelah beberapa menit berdandan didalam kamar, akhirnya Wina keluar dengan tampilan yang mempesona bagi Heru.
"Bu, kami akan pulang siang ini." Ujar Heru berpamitan kepada Ibunya yang sedang membuat adonan kue bolu.
"Kalian tidak menginap lagi disini?"
"Lain kali lagi Bu, besok aku sudah masuk kerja lagi."
"Ya sudah kalau begitu hati-hati. Ingat ucapan Ibu tadi Heru."
Heru tidak menjawab, hanya menyalami tangan ibunya kemudian pergi membonceng Wina dengan sepeda motornya.
"Jangan di pikirkan sayang, jaga saja calon bayi kita."
"Mas, aku minta es krim yang di kafetaria ya?"
"Kenapa disana?" Tanya Heru sedikit ragu. Karena kafe itu tidak jauh dari kantor Pengadilan Agama.
"Aku melihat endorsan Mas, kayaknya enak. Selain intu ada berbagai menu masakan juga. Pokoknya mau makan, mau dessert, ada semua. Mau ya Mas ya?" Rengek Wina manja, sambil memeluk tubuh Heru dari belakang.
"Ya sudah, kita kesana."
Heru sedikit melajukan kendaraannya menuju kafe yang di maksud.
Sampai di kafe, Heru memarkirkan sepeda motornya. Lalu berjalan masuk dengan Wina yang bergelayut manja di lengan kirinya.
"Disana saja Mas." Ajak Wina begitu melihat ada meja yang kosong dengan letak yang cukup nyaman. Mereka duduk di tempat itu lalu tidak lama kemudian karyawan kafe datang menghampiri untuk mencatat pesanan mereka.
Begitu selesai memesan mereka kembali mengobrol.
__ADS_1
"Mas tadi hasil sidangnya bagaimana?" Tanya Wina pura-pura tidak tahu karena ingin melihat reaksi Heru.
Pada dasarnya Wina sudah tahu bahwa Heru masih kekeh dengan keinginannya untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Indah. Dan keinginan Heru itu tentu saja membuat Wina kesal dan sakit hati. Wina sangat berharap mereka berpisah selama-lamanya. Wina tidak mau berbagi Heru kepada Indah.
"Indah masih dengan keputusannya ingin berpisah dari ku. Tapi aku menolak."
"Mbak Indah itu bakalan rugi menolak keinginan Mas. Karena aku tahu Mas itu adil terhadap kami kalau kami bisa tinggal bersama, iyakan Mas."
"Iya, tentu. Mas pasti adil dengan kalian. Kamu paling mengerti Mas, Wina."
Makanan pun datang disaat mereka sedang mengobrol. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Wina segera mencicipi es krim yang sedari tadi sudah membuatnya tergiur walau hanya membayangkannya saja.
"Hahaha..."
Suara orang tertawa mengalihkan perhatian Wina membuat wanita itu ingin melihat si pemilik suara. Namun alangkah terkejutnya dia melihat lelaki itu sedang bersama Indah dan wanita yang memvideokan dirinya dengan Heru waktu itu.
"Mas... Mas..! Coba lihat deh di pojokan sana! Itukan Mbak Indah. Siapa lelaki itu? Kelihatannya akrab bener dan terus memperhatikan Mbak Indah. Atau jangan-jangan..."
Wina dengan sengaja memanas-manasi Heru untuk memperkeruh suasana antara Heru dengan Indah. Ia yakin Heru pasti akan cemburu kepada lelaki itu, apalagi lelaki itu memiliki wajah yang lumayan tampan.
Dan benar saja. Mata Heru tak berkedip melihat ke arah sana. Bahkan rahangnya mengeras dengan gigi bergemelutuk. Sorot mata Heru tajam melihat mereka melebarkan senyumnya dan tertawa bersama. Sorot mata itu seakan-akan mampu membakar apa saja yang terlihat di matanya.
Heru mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Dan hal itu membuat Wina tersenyum puas dalam hatinya karena Heru sudah terpancing oleh kata-katanya.
Mau lelaki itu selingkuhan Indah atau hanya sekedar teman, Wina tak peduli. Baginya, membuat Heru terus bertengkar dengan Indah adalah tujuannya untuk memisahkan mereka.
"Sepertinya, Mbak Indah bukan wanita yang setia seperti yang ia banggakan padamu Mas. Bisa saja di belakangmu dia bermain serong dan pastinya kamu tidak mengetahui itu Mas." Lagi-lagi Wina memprovokasi Heru.
"Cepat habiskan makananmu! Kita segera pergi dari sini." Ujar Heru kepada Wina.
Bibir Wina mengerucut cemberut. Ia kecewa karena Heru tidak langsung memarahi Indah di tempat itu. Padahal ia sudah berharap Indah akan di permalukan Heru di tempat umum ini. Tapi sayang semua di luar ekspektasinya.
Setelah menghabiskan makanan, mereka pun pergi meninggalkan kafe itu tanpa Indah sadari dari awal kedatangan mereka, hingga mereka pergi lagi.
Bersambung...
**Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
__ADS_1
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊