
Bab 68
Salah Orang
Sebuah kafe dengan menu resto di pilih Roy untuk menikmati makan siang kami berdua. Menu kebarat-baratan yang jarang aku makan membuatku tidak begitu berselera. Kalau boleh memilih, aku lebih suka rumah makan biasa yang menyediakan rendang daging atau ayam gulai dengan bumbu rempah.
"Kenapa makanmu sedikit sekali?" Tanya Roy yang mungkin melihat masih banyak sisa di beberapa menu yang ia pesan.
"Lidahku meriang kalau makan beginian Roy." Kataku.
"Hehehe, dasar wong ndeso. Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Lelaki itu terkekeh menampakkan lesung di pipinya. Astaga, bisa-bisanya aku mengagumi pria ini disaat seperti ini. Padahal aku sempat berpikir dia aneh dulu. Tapi pada akhirnya hatiku tergoyah juga karena.
"Ya aku terserah yang ngajakin aja."
"Ya sudah, habis ini kita ke rumah makan Padang."
"Mana muat Roy."
Aku menolak. Mana mungkin perutku bisa muat jika di ajak makan lagi.
"Kalau begitu besok siang atau nanti malam, gimana?"
Tuh, selalu ada saja alasannya untuk bertemu denganku. Lama-lama aku bisa tidak tahu diri menerima perlakuan manis Roy.
"Ehem, bagaimana dengan rencana pemeliharaan bangunan Roy?"
"Hehehe, jadi mau menghindar rupanya. Baiklah kita bahas pekerjaan dulu. Ada beberapa tempat saluran airnya yang masih ngadat. Juga beberapa stok kontak listrik yang tidak berfungsi. Untuk lebih jelas yang mana saja, kamu bisa langsung ke lokasi setelah ini bersamaku."
Tuh, kan...
Aku menghela napas. Tidak mungkin aku menghindar kalau soal pekerjaan.
"Baiklah kita akan ke lokasi setelah ini. Ayo, dimakan lagi." Ujar Roy kembali.
Kami pun menyelesaikan makan siang kami meski aku harus sering menunduk karena di tatapnya. Jika orang-orang melihat kami, mungkin mengira kami adalah sepasang kekasih yang baru jadian padahal kami tidak memiliki status.
Yah, mau bagaimana lagi. Aku pun harus bersabar menunggu sampai waktunya tiba.
"Ray?! Kamu Ray kan?! Ray... Aku kangen..."
Seorang wanita tiba-tiba menghampiri meja kami dan langsung memeluk Roy begitu saja. Roy yang terkejut langsung berusaha melepaskan diri dengan melihat ke arahku dengan sorot mata yang seakan-akan mengatakan 'aku tidak ada apa-apa dengan wanita ini'.
Kok nyesek ya, melihat Roy di peluk oleh wanita itu.
Aku mengambil air minum di hadapanku dan meneguknya hingga tandas. Mendadak hatiku tidak suka melihat Roy di peluk wanita lain.
"Anda siapa? Kenapa main peluk orang seenaknya?!"
__ADS_1
Wanita itu terpaksa melepaskan pelukannya karena Roy menepisnya.
"Ray, kamu tidak ingat aku?!"
Wajah Roy yang tadinya seperti hendak menjelaskan kini berubah tersenyum senang menatapku meski wanita itu berbicara padanya. Ia seakan-akan tidak peduli dengan wanita yang terus berusaha menempel padanya.
Lalu Roy menatap wanita itu dengan tajam.
"Saya tidak kenal anda." Roy masih terus menyangkal.
"Kalau bukan Ray, kamu siapa? Tidak mungkin kamu bukan Ray."
Wanita itu bersikeras. Ia lalu mengambil gawainya dari dalam tas dan menunjukan wallpaper bergambarkan dirinya dan seorang lelaki berwajah mirip dengan Roy.
"Anda salah orang, saya bukan Ray tapi Roy. Dan di dalam foto itu memang Ray tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu."
Apa maksud ucapan Roy? Apa dia mengenal lelaki yang wanita itu maksud? Jika wajah mereka mirip, apa mungkin Roy punya kembaran dan sudah meninggal?"
"Tidak! Itu tidak mungkin!"
Aku memperhatikan sekitar. Beberapa pengunjung tampak melihat ke arah meja kami. Dan keadaan ini membuatku sedikit malu.
"Ya, itu benar."
"Lalu bagaimana dengan anakku?!"
"Anak?" Tanya Roy bingung.
Roy memutar bola jengah.
"Itu bukan urusanku. Ah, aku kenyang sayang, kamu sudah selesai makan? Kalau sudah kita lanjutkan agenda kita." Ujar Roy seperti mengajakku meninggalkan tempat itu.
"Mbak, lebih selesaikan masalah ini di tempat lain. Sepertinya beberapa pengunjung merasa terganggu. Dan Roy, jelaskan apa yang kamu ketahui kepada Mbak ini biar Ia tidak salah paham." Ujar ku pada keduanya.
"Ck!"
Roy berdecak kesal. Entah apa yang membuatnya menjadi benci kepada wanita itu setelah melihat wallpaper yang ada di dalam gawai milik wanita itu.
Kami pun meninggalkan meja makan. Kemudian Roy membayar tagihan, setelah itu kami menuju tempat parkiran.
Wanita itu masih mengikuti. Ia mungkin penasaran dengan apa yang Roy katakan tadi.
"Jelaskan padaku, apa maksudnya Ray sudah meninggal?" Tanya wanita itu menahan lengan Roy.
"Ck! Bisa tidak jangan pakai pegang-pegang?! Kalau kekasihku salah sangka bagaimana?!"
Wanita itu melihat ke arahku, namun sama sekali tidak mengindahkan ucapan Roy hingga tangannya masih mencekal lengan Roy.
Roy menepis tangan itu yang tidak mengikuti perintahkannya. Lalu menggenggam tanganku. Aku berusaha melepaskan genggaman itu. Namun tangan Roy semakin kuat menggenggam tanganku.
__ADS_1
Ya Sudah, pasrah saja.
"Jelaskan padaku! Atau kamu sebenarnya Ray dan ingin menyangkal karena tidak mengakui anakmu kan?! Iya kan?!" Tuduh wanita itu yang kembali buka suara.
Sebenarnya aku juga penasaran dengan apa yang wanita itu tuduhkan. Apakah pria di wallpaper itu Roy atau bukan.
"Apa kamu Shintia?"
"Oh, jadi benar kamu Ray?! Kamu sudah ingat namaku sekarang!"
"Dengar baik-baik! Ray saudara kembarku dan ia meninggal karena mu!"
"Ma... maksudmu apa?" Tanya wanita itu yang tampak terkejut.
"Kamu kan yang meninggalkannya begitu saja?! Menghilang tanpa kabar. Gara-gara kamu dia sampai stres dan kehilangan semangat hidup. 2 tahun dia mencarimu kemana-mana, dan sekarang untuk apa kamu mencarinya?!"
"Kamu bohongkan?!"
"Kamu bisa mencari kebenarannya."
"Kamu pasti bohong!" Sangkal wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang Roy katakan.
"Terserah!" Jawab Roy kesal.
"Ayo, kita pergi. Waktu kita sudah banyak terbuang sia-sia disini." Ajak Roy kepadaku dan kami pun memasuki mobilnya, lalu meninggalkan wanita yang bernama Shintia tadi dalam kegamaman.
"Apa tidak apa-apa Roy?" Tanyaku ketika mobil yang kami sudah meluncur ke jalan Raya.
"Kamu percaya dengan kata-katanya?"
"Yang mana? Tentang kamu adalah Ray? Tidak. Kamu adalah Roy." Jawabku padanya setelah menyimak berdebatan mereka tadi.
"Baguslah, terima kasih." Ujar Roy sambil mengusap kepalaku lembut.
Tadinya aku ingin mengatakan padanya perihal pembicaraan ku dengan Ayah melalui telepon genggam. Tapi sepertinya waktunya kurang tepat.
"Ray memang saudara kembarku. Ia tergila-gila dengan wanita yang bernama Shintia itu. Sudah menghabiskan banyak dana dia mencari kesana kemari. Tapi wanita itu bagai di telan bumi. Ia jatuh sakit karena pikiran. Sampai akhir hayatnya hanya wanita itu yang memenuhi hati dan pikirannya."Ungkap Roy menuturkan kisah tragis sang saudara kembarnya.
Pantas saja Roy begitu membenci wanita itu. Tapi bagaimana dengan anak yang wanita itu sebutkan tadi? Jika aku bertanya, sepertinya aku terlalu ikut campur urusan mereka. Biarlah menunggu Roy saja yang berbicara. Dan akan ku beri saran jika ia bertanya.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan saja."
"Tidak. Tapi aku akan mendengarkan kalau kamu mau bercerita."
"Tidak ada lagi yang ingin aku katakan sebenarnya. Karena intinya sudah aku katakan tadi."
Baiklah, itu pun sudah cukup bagiku dan aku percaya pada Roy.
"Kita sudah sampai." Ujar Roy kembali ketika kami sudah sampai di pergudangan yang di tangani oleh perusahaan tempatku bekerja.
__ADS_1
Sampai disini kami fokus pada pekerjaan. Pembangunan sudah 99% selesai. Tinggal masa pemelihara selama 1 tahun yang di berikan oleh perusahaan tempat ku bekerja kepada pemilik gudang yaitu Mas Fandi dan Roy.
Bersambung...