Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 48 Sok Kenal Sok Dekat


__ADS_3

Bab 48


Sok Kenal Sok Dekat


(POV Author)


Indah terkejut bukan main sampai-sampai tanpa sengaja dirinya menjatuhkan sendok makan yang sedang ada ditangannya.


"Klontang!"


Indah yang tiba-tiba di ajak berpacaran oleh lelaki yang baru saja berkenalan dengannya tidak bisa berkata apa-apa selain terkejut, kebingungan dan bersikap was-was terhadap predator yang ada di depannya.


"Maaf kalau saya sudah membuat anda terkejut dengan pernyataannya saya." Ujar lelaki itu.


"Anda jangan main-main sama saya!" Tegas Indah.


Selera makan Indah lenyap seketika. Ia mengambil tisu yang sudah di sediakan di atas meja, lalu membersihkan mulutnya.


Indah menghabiskan minumannya dan bersiap untuk pergi meninggalkan meja makannya.


"Maaf, maaf, maaaaaf banget. Tapi saya serius!" Ujar lelaki itu.


Roy mencoba menahan Indah yang sudah memulai merapikan barang-barangnya.


"Ayolah, katakan sesuatu." Kata lelaki itu kembali.


Indah membuang napasnya sedikit kasar karena merasa jengah. Wanita itu mengalihkan pandangannya dari tatapan lelaki yang terlihat begitu serius dengan ucapannya.


Belum juga sampai sebulan dia disini tapi sudah ada saja cobaan yang menghampiri dirinya. Dan itu adalah pria gila yang kehabisan obatnya, menurut Indah.


Kemudian Indah menatap kembali lawan bicaranya.


"Anda kenal saya? Anda tahu saya bagaimana orangnya?" Tanya Indah mengintimidasi.


"Kita memang baru kali ini berbicara, dan baru bertemu 2 kali. Tapi saya bisa mengenal kepribadian anda, dari cara anda berbicara dan bersikap. Karena itu saya langsung jatuh hati kepada anda." Ungkap lelaki yang bernama Roy dengan percaya dirinya.


"Ya Tuhan..."


Gumam Indah lirih namun masih bisa terdengar oleh Roy.


Pria itu tersenyum. Lesung pipi di wajahnya menambah tampan rupa pria bertubuh ideal itu.


Indah menatap tak percaya dengan ucapan lelaki yang masih saja tersenyum kepadanya.


"Bagaimana jika saya sudah menikah? Apa anda juga seperti ini kepada semua wanita?"


"Tidak semua Bu Indah, hanya kepada anda. Saya jujur dan serius."


Indah merasa jengkel bertemu pria seperti Roy yang aneh menurutnya. Ia berpikir, tidak ada orang di dunia ini mengajak seseorang untuk berpacaran ketika mereka baru saja bertemu.


"Tapi, apa benar Bu Indah sudah menikah?" Tanya lelaki itu kembali.


Kali ini pertanyaan Roy membuat Indah terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Jika ia menjawab 'Belum', tentu ia telah berbohong kepada lelaki itu. Dan bila ia mengatakan bahwa dirinya telah bercerai, maka ia telah memberi kesempatan kepada lelaki itu. Sungguh, Indah merasa diilema sekarang.

__ADS_1


Indah tampak berpikir sebelum menjawab Roy. Sedangkan lelaki itu masih dengan sabar memandangi wajah manis Indah yang tidak pernah bosan untuk di tatap.


"Iya. Tapi sudah berpisah."


Namun Indah yang tidak suka berbohong, mau tidak mau mengatakan yang sebenarnya kepada lelaki itu. Ia lebih memilih kejujuran dan akan menjalani resiko dari kebenaran yang ia ucapkan itu.


Roy kembali tersenyum. Ternyata kesempatan berpihak kepadanya, pikir lelaki itu.


"Jadi anda mau menjadi pacar saya?" Tanya Roy penuh penuh percaya diri dan berharap.


"Kita berteman saja. Maaf jam istirahat saya sudah hampir habis. Saya harus segera kembali kekantor. Permisi!"


Tanpa menunggu jawaban dari Roy, Indah beranjak dari duduknya dan segera melangkah ke kasir untuk membayar makan siangnya. Lalu kemudian pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Roy.


Roy terkekeh sendiri dan terus menatap Indah meski punggung wanita itu semakin menjauh. Roy merasa tertantang atas penolakan Indah dan berniat akan terus mengejar wanita itu.


"Wanita yang benar-benar bikin hati meleleh." Gumam Roy pada angin.


Roy terus membayangkan Indah sampai tidak sadar temannya melangkah mendekatinya.


"Siapa Bro?"


"Oh, Fan?! Cepet juga sampainya?"


"Sudah makan duluan kamu? Sorry aku terlambat. Mira minta dibelikan cake dulu tadi."


"Jadi sudah kamu belikan?"


"Nih." Fandi meletakkan kotak besar kue cake strawberry dihadapan Roy.


"Oh, ayo pesan kalau begitu."


Mereka pun meminta pelayan rumah makan itu untuk menghidangkan makanan di meja mereka.


"Bro, soal Bu Indah kontraktor itu, bagaimana kamu bisa kenal awalnya?" Tanya Roy mulai mencari informasi tentang Indah lewat sahabatnya.


"Istri orang Bro..." Ujar Fandi mengingatkan.


"Cuma mau tahu aja Bro."


"Yakin?" Tanya Fandi penuh selidik.


"Dari pada aku mati penasaran dengannya, tahu sedikit tentangnya tidak apa-apa kan?"


Fandi menghela napas sebelum akhirnya mulai bercerita.


"Aku ketemu dia di Surabaya. Waktu itu, dia hampir jatuh mengenai eskalator bandara kalau tidak segera aku tangkap. Ku bawalah dia ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Tapi disana dia bertengkar dengan suaminya dan ingin segera pulang ke Kalimantan kalau tidak salah."


"Serius Bro? Bertengkar sama suaminya?" Tanya Roy semakin penasaran dengan cerita Fandi.


"Aku sempat dituduh selingkuhan Bu Indah sewaktu membantunya keluar dari Rumah Sakit."


"Wah, parah juga suaminya cemburuan begitu. Kalau dia dari Kalimantan, terus ngapain Bu Indah ke Surabaya Bro?"

__ADS_1


"Soal itu, aku tidak tahu. Itu urusan pribadinya Bro. Aku hanya tahu sampai disitu saja."


"Baiklah, thanks ya Bro untuk informasinya."


"Tapi, aku harap kamu tidak merusak hubungan orang lain Bro. Aku berkata begini untuk kebaikanmu." Saran Fandi.


"Tenang saja Bro. Tidak akan ada hubungan yang aku rusak."


"Okelah. Yok, kita makan dulu." Ajak Fandi begitu makanan telah selesai di hidangkan.


Sementara itu, dalam perjalanan menuju kembali kekantor, Indah masih teringat ucapan lelaki gila yang tidak masuk akal baginya.


Indah yang berpacaran dengan Heru selama 1 tahun sebelum menikah dengan lelaki itu merasa masih belum mengenal Heru hingga ia mengalami kegagalan.


Apalagi bila menerima pernyataan cinta yang bahkan seumur jagung pun belum terlewati, bagaimana nasib perjalanan cintanya kelak sampai ia pun tidak berani membayangkannya.


"Dasar sok kenal sok dekat aja!" Guam Indah kesal, lalu kembali fokus ke jalan untuk segera sampai ke tempat kerjanya.


***


Di tempat berbeda.


Wina tersenyum sepanjang jalan ketika akan pulang kerumah mertuanya di antar oleh ojol. Ia masih terus mengingat perlakuan manis Hendra ketika mereka masih bersama.


Flash Back On


Perlahan tangan Hendra jatuh di pangkuan Wina. Melihat tidak ada penolakan, tangan itu pun mulai mengelus paha Wina yang di bungkus rok panjang.


"Mas nanti ada yang lihat loh, ini kan ruang tamu."Ujar Wina melihat kesana dan kemari.


"Tidak ada yang lihat sayang, di rumah ini hanya ada kita berdua."


"Mas tinggal sendiri disini?"


"Hmm..." Jawab Hendra yang tiba-tiba sudah mendarat diceruk leher Wina.


Wangi tubuh Wina seakan menghipntis Hendra hingga ia terus ingin melakukan lebih dari itu.


"Maaass... geli."


"Kamu mau kan aku bahagiakan?" Tanya Hendra dengan wajah merayu.


"Tapi kamu kamu harus janji loh Mas, kalau sampai Ratih marah kamu harus siap membelaku."


"Tentu, aku akan berusaha membujuknya. Kalian berdua wanita yang akan aku bahagiakan."


Hendra memajukan wajahnya setelah berkata demikian. Deru napasnya yang sudah mulai tidak normal membawa dirinya untuk lebih mendekat lagi ke wajah Wina dan menyentuh bibir tipis itu dengan bibirnya.


Pelan, kecupan hangat itu dilakukan berulang kali hingga saat Wina membuka bibir tipisnya, Hendra dengan sedikit agresif mencium bibir itu lebih dalam dan ********** perlahan.


Darah Wina berdesir menerima kecupan lembut itu. Hasrat yang terpendam semenjak dipenjaranya Heru bangkit kembali oleh kecupan hangat Hendra. Debaran di dadanya membuat ia semakin bergairah dan ia pun terbuai, dan mulai menikmati ciuman mereka di siang itu.


Flash Back Off

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2