Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 74 Bertemu Ratih


__ADS_3

Bab 74


Bertemu Ratih


Cukup lelah juga membawa dua pria ini berkeliling kota Pontianak, bahkan ini hanya mencangkup dalam kota saja belum termasuk luar kota yang masih di bawah naungan satu provinsi.


Semoga saja mereka menyukai ciri khas masakan di kota ini. Hasil dari pencarian ku menelusuri aplikasi si Mbah tadi malam.


"Mau pesan apa Mbak?"


Iseng-iseng aku melihat sekitar, dan mataku tidak sengaja tertuju kepada seorang pelayan kafe yang sedang mencatat pesanan pengunjung.


Ratih...


Wanita muda itu adalah Ratih. Hampir saja aku tidak mengenalinya yang berubah drastis dengan tubuh kurus, sedikit hitam dan tampak kusam.


Kemana Ratih yang dulu, yang sering menjaga penampilan serta paling anti dengan tampilan seperti sekarang ini?


Apakah ekonomi mereka benar-benar sulit sekarang? Padahal baru hampir setahun Mas Heru mendekam di penjara.


Ah, lalu apa kabar istri muda Mas Heru yang selalu ia banggakan? Apa sudah melahirkan? Pasti Bu Yarsih sedang bangga-bangganya menimang cucunya sekarang.


"Mbak Indah?!"


Ah, aku terlalu mengingat kenangan pahit sampai-sampai melamun menatap Ratih. Dan akhirnya wanita muda itu mengenalku dan memanggilku.


"Kamu kenal pelayan itu, Indah?" Tanya Roy.


Dan lihat saja, Ratih tampak malu-malu di lihat oleh Roy. Bahkan ia menyelipkan rambutnya dibalik telinganya. Jangan bilang ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Roy.


"Iya." Jawabku pelan yang masih bisa di dengar dua pria yang duduk semeja denganku.


"Mbak Indah, apa kabar? Sudah pesan?" Tanya Ratih yang sudah mendekat ke mejaku.


Sesekali ekor matanya melirik ke arah Roy yang sedang memainkan gawainya. Ah, Roy keterlaluan gantengnya. Kalau begini aku jadi ngeri seandainya kami jadian.


"Aku baik. Belum pesan." Jawabku.


Tidak ingin bertele-tele dan menambah urusan dengannya. Aku masih belum bisa melupakan sepenuhnya perbuatan Mas Heru dan keluarganya.


"Kalau begitu, Mbak bisa pesan sama saya. Apa mau saya rekomendasikan makanan terbaik di tempat ini?" Tanya Ratih memandang kami bertiga secara bergantian.


"Boleh, beberapa menu terbaik disini tolong sajikan untuk tiga orang ya." Kali ini Mas Fandi yang menjawab.


"Baik Mas." Jawab Ratih senang dan segera berlalu menuju dapur.


"Siapa dia Indah?" Tanya Mas Fandi.


Apakah terbaca di wajahku kalau aku tidak menyukai kami bertemu dengan Ratih? Sampai-sampai Mas Fandi menanyakan Ratih padaku.

__ADS_1


"Dia Adik mantan suamiku Mas."


"Ooh...."


Oh yang panjang terdengar dari bibir Mas Fandi. Bahkan Roy pun menghentikan aksi menscroll gawainya dan mencari sosok Ratih yang sudah melesap pergi.


Segitunya Roy penasaran dengan Adik mantan suamiku. Apa dia juga naksir Ratih?


Ah, ada apa denganku? Apa aku sedang cemburu?


"Indah, kamu tahu tempat ini?" Tanya Roy.


Pria itu menunjukan sebuah tempat wisata di pesisir pantai yang letaknya sangat jauh dari kota.


Rupanya sejak tadi diam, Roy sedang mencari lokasi wisata yang menarik baginya.


"Ini di luar kota, kita bisa menghabiskan sehari waktu untuk pergi, menikmati alam, dan pulang." Jelasku.


"Oh, jauh ternyata."


"Kamu ingin ke pantai Roy?"


"Tapi ini jauh."


"Ada juga yang dekat tapi tetap saja kita harus menginap semalam karena tempatnya di sebuah pulau. Aku yakin tempatnya lebih indah dari yang kamu tunjukan itu."


"Benar, kamu butuh refreshing Bro."


"Baiklah, nanti pulang aku akan minta Budi anak Uwak untuk membawa kita besok hari." Ujar ku.


Tidak berapa lama pesanan kami pun datang. Dari makanan berat sampai ke makanan yang cocok di nikmati untuk bersantai memenuhi meja kami. Begitu banyak sampai-sampai meja nyaris tidak cukup. Apa benar ini makanan terbaik di sini? Si Ratih tidak memanfaatkan semua menu di hidangankan supaya laku kan?


Jadi berpikiran jelek aku tentangnya setelah melihat menu yang begitu banyak di taruh di meja ini.


"Banyak juga ternyata." Ujar Mas Fandi, dan itu membuatku tidak nyaman. Aku yakin Ratih sedang memanfaatkan kesempatan.


"Sepertinya enak." Ujar Roy dan mulai mencicipi.


Kami bertiga mulai menikmati makanan yang berlimpah di atas meja. Mencicipinya sedikit-sedikit sampai-sampai perut ini begah rasanya karena terlalu banyak makanan yang masuk.


"Enak, tapi aku sudah tidak sanggup lagi memakannya." Ujar Mas Fandi.


Mau tidak mau sisa makanan itu pun di abaikan saking kenyangnya.


"Gimana Mbak, dan Mas-mas? Masakannya enak?" Tanya Ratih menghampiri begitu kami selesai makan.


"Enak, terima kasih rekomendasinya." Jawab Mas Fandi.


"Sukur deh. Mbak Indah kemana aja selama ini?"

__ADS_1


Eh, kok jadi ngobrol. Apa tidak apa-apa ini bekerja sambil ngobrol dengan pengunjung. Padahal aku sedang tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga Mas Heru. Serba salah jadinya, tidak mungkin aku tidak menjawab pertanyaannya apalagi di depan Roy dan Mas Fandi. Tapi bila di jawab, aku takut bakalan merembet kemana-mana.


"Ehem, aku bekerja."


"Oh, tapi kok aku cari di kantor katanya sudah tidak kerja lagi disana?"


Loh, ngapain masih nyari-nyari aku di kantor lama?


"Buat apa Ratih. Sepertinya kita sudah tidak ada urusan lagi ya kan?" Kataku.


Lebih baik aku pertegas saja dari sekarang, dari pada urusan semakin runyam. Aku kenal bagaimana sifat keluarga ini, tapi ku harap mereka sudah memperbaiki diri.


"Itu Mbak, Mas Heru dan Wina sudah pisah. Jadi Ibu berharap Mbak Indah mau balikan lagi sama Mas Heru."


Haaah...


Aku melongo mendengar penuturan Ratih. Bahkan Roy sampai menegakkan posisi duduknya, dan Mas Fandi menghentikan aktifitas memeriksa handphonenya.


Bisa-bisanya Ratih berkata demikian di saat baru bertemu setelah sekian lama. Dan parahnya, aku seperti bahan mainan bagi mereka. Sesuka hati mereka ingin membuang lalu mengambil kembali ketika membutuhkan.


"Maaf Ratih. Saya rasa hal ini tidak perlu di bicarakan apalagi di bahas. Semua sudah selesai, dan saya tidak berminat sama sekali."


"Jangan begitu Mbak... Ibu..."


"Tolong jangan ganggu kami." Ujar Roy.


Ucapan Ratih terhenti oleh Roy yang menyela. Roy mungkin sudah merasa kurang nyaman dengan apa yang Ratih bicarakan.


"Oh, maafkan saya. Tapi kalau boleh tahu Mas ini siapanya Mbak Indah?"


Ya Tuhan, apa Ratih tidak bisa membaca situasi?!


"Mohon maaf ya Mbak, bukankah anda sedang bekerja. Dan lagi, kami ingin memiliki privasi sebagai pengunjung di sini." Ujar Fandi tegas.


Jika Ratih masih belum beranjak juga, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


"Maafkan saya, saya hanya ingin tahu."


Tidak ada lagi yang tampak peduli dengan Ratih. Detik berlalu berganti menit, kami saling diam. Hingga akhirnya Ratih perlahan berlalu meninggalkan meja kami.


Sungguh aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini setelah apa saja yang Ratih katakan di depan dua pria ini. Duh, mau taruh di mana muka ini.


"Apa setelah ini kalian mau minum kopi? Aku tahu tempat yang asik dan tentunya kopinya sangat enak."


"Aku setuju, lebih cepat lebih baik meninggalkan tempat ini. Gerah..." Ujar Roy.


Eh, apa Roy sedang cemburu ya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2