Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 112 Hamil


__ADS_3

Bab 112


Hamil


(POV Author)


Roy dan Indah saling tersenyum bahagia setelah menuntaskan gelora asmara mereka. Rutinitas yang kini menjadi kegiatan yang paling di gemari oleh Roy dan juga Indah. Walau Indah sudah berpengalaman, namun tetap saja kegiatan itu tidak sering ia lakukan karena terpisah jarak dan waktu bersama Heru dulu.


"Nah dari tadi di tungguin." Kata Umi ketika melihat Roy dan indah berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju meja makan.


Rambut Indah yang tergerai dan masih sedikit basah menarik perhatian Teguh.


"Ampun Bang, masih awal udah keramas aja." Celetuk Teguh.


Sontak Hal itu membuat pipi Indah memerah menahan malu dan akhirnya ia menunduk. Sedangkan Roy hanya tersenyum nyengir menanggapi celotehan Adiknya.


"Ehem!" Dehem Umi tertuju pada Teguh.


"Aww... , duh!" Ringis teguh yang rupanya di tendang kakinya oleh Umi di bawah meja makan.


"Ayo makan, sini duduk. Keburu dingin makanannya." Ujar Umi.


Roy dan Indah duduk setelah diajak oleh Umi. Masakan Umi membuat Indah tergiur malam itu. Ia pun makan dengan lahap tanpa sungkan.


Roy melihat selera makan Indah yang sudah normal merasa senang. Tidak sia-sia ia meminta Uminya datang dan memasakan menu kesukaan istrinya.


"Enak ya Ney masakan Umi?"


"Istrimu itu dari pagi sampai siang tidak ada makan. Baru jam segini nafsu makannya ada." Celetuk Umi sebelum Indah menjawab.


"Bener begitu Ney?" Tanya Roy.


"Maaf Hon. Aku juga tidak tahu kenapa."


"Setelah ini kita harus periksa ke dokter ya? Tidak bisa dibiarkan. Lama-lama kamu semakin kurus Ney."


"Iya cepet bawa. Umi tidak sabar menunggu kabar baiknya." Sela Umi sambil tersenyum-senyum.


"Umi kenapa sih Mi? Senyum-senyum terus dari tadi." Tanya Teguh penasaran.


"Kepo aja kamu! Udah cepet habisin makanmu. Habis ini kita pulang. Abi mu pasti sudah sangat lelah." Ujar sang Umi.

__ADS_1


Sambil makan obrolan ringan pun tercipta. Roy menceritakan bagaimana pekerjaannya hari ini dan Teguh juga menceritakan bagaimana pergulatannya dengan Aditya hari ini. Suasana jadi ramai, apalagi Umi dan Teguh tidak pernah absen berdebat.


Selesai makan mereka berpisah di halaman rumah. Teguh membawa kedua orang tuanya beserta Aditya pulang. Sedangkan Roy dan Indah pergi menuju ke dokter praktek terdekat.


Selama dalam perjalanan perjalanan hati Indah berdebar-debar entah kenapa. Bukan kecemasan yang bagaimana hanya saja ia pun tidak mengerti arti debaran yang ia rasakan.


Sampai di klinik Indah mendapatkan antrian nomor 3. Mereka pun menunggu selama 20 menit. Tidak lama kemudian panggilan untuk masuk ke dalam ruangan pun tiba. Indah dan Roy duduk berhadapan dengan sang Dokter.


"Selamat malam Bapak, Ibu. Siapa yang sakit? "


"Saya, Dok." Jawab Indah.


"Ada keluhan apa Ibu?" Tanya sang Dokter cantik dengan rambut sebahu itu.


"Badan saya mudah lelah Dok, dan kurang nafsu makan. Saya juga sering mengalami sakit kepala terutama di pagi hari sampai menjelang siang." Ungkap Indah.


"Baiklah, silahkan rebahan Ibu. Saya akan periksa ya?" Ujar Dokter ramah.


"Baik Dok."


Indah pun beranjak menuju ranjang yang telah disediakan untuk melakukan pemeriksaan. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter tampak tersenyum, kemudian duduk kembali ke meja kerjanya.


"Kapan terakhir Ibu datang bulan?"


"Astaga...!"


Indah menutup mulutnya. Ia baru sadar sudah lewat seminggu tamu bulanannya belum juga datang.


"Dokter, apakah saya..."


Kalimat Indah menggantung karena masih tidak percaya akan apa yang ada di pikirannya. Namun sang dokter tersenyum dan mengangguk membenarkan apa yang ada di pikiran Indah.


"Semoga saja yang Ibu pikirkan itu benar. Kita akan melakukan pemeriksaan lagi ya. Silakan Ibu gunakan ini, toiletnya di sebelah sana ya." Dokter mengeluarkan alat tespek dan memberikannya kepada Indah.


Roy hanya memandang dan terdiam. Ia bukan tidak tahu alat yang diberikan dokter kepada istrinya itu. Dalam dirinya penuh tanda tanya dan juga harapan. Jantungnya pun itu berdebar-debar menandakan ia merasa gugup dan khawatir. Semoga saja apa yang diharapkannya dan istrinya akan segera menjadi kenyataan.


Selang 10 menit kemudian, Indah keluar dari toilet di ruangan itu. Lalu menyerahkan benda pipih kepada sang dokter.


"Selamat ya Ibu, Bapak. Ibu sedang hamil kehamilannya sudah masuk trisemester pertama." Ujar sang Dokter dengan tersenyum yang ikut merasakan kebahagiaan pasiennya.


Seketika mata Indah mengembun. Wajahnya mengisyaratkan haru rasa bahagia dengan apa yang baru saja ia dengar. Tuhan telah mengabulkan doanya sepanjang penantiannya selama bersuami.

__ADS_1


Indah menoleh ke arah Roy yang juga merasa bahagia seperti dirinya.


"Hon, aku hamil." Ujar indah yang masih merasa tidak percaya dengan kenyataan.


"Iya sayang, kamu hamil." Jelas Roy menegaskan bahwa itu benar-benar nyata.


Indah menutup mulutnya dengan kedua tangannya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Lalu kemudian ia memeluk suaminya yang ikut membalas pelukan istrinya dengan dekapan hangat. Indah tak kuasa menahan air matanya.


Sudah terbantahkan hujatan orang-orang yang menghinanya dulu dengan mengatakan dirinya mandul. Sekali pun Indah sudah memperlihatkan hasil tes kesuburan dirinya.


Roy mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Semua tuduhan itu terbantahkan Hon."


"Iya sayang, aku percaya padamu. Alhamdulillah, kita sudah memiliki calon buah hati sekarang."


Iya Hon. Aku masih tidak percaya rasanya."


"Ini nyata sayang."


Mereka lalu melepaskan pelukan, lupa kalau masih sedang berhadapan dengan sang Dokter. Untung saja sang Dokter memaklumi mereka.


Mereka lalu berkonsultasi kepada dokter menanyakan perihal apa saja yang harus dijaga oleh ibu yang sedang hamil muda. Dokter pun menerangkan apa yang boleh dan tidak untuk masa Ibu yang hamil muda.


Berita kebahagian itu segera di sampaikan Indah kepada keluarganya di Kalimantan dan juga keluarga Roy yang sejak tadi menunggu hasil pemeriksaan.


Semua orang terdengar bahagia mendengar kehamilan Indah. Bahkan Fandi dan Nuning pun tidak luput dari pemberitahuan kabar baik dan bahagia itu.


"Sayang, semoga kita bisa cepet nyusul Roy dan Indah ya. Biar Almira punya temennya." Ujar Fandi kepada Nuning ketika mereka sudah berada di atas ranjang peraduan.


Nuning tersenyum melihat tatapan mata suaminya.


"Semoga saja doa-doa kita cepet di kabulkan juga ya By."


"Kamu tidak masalahkan mengasuh dua anak sekaligus."


"Hehehe, aku menikmatinya By. Kalau nanti kita diberi kepercayaan untuk membesarkan anak, aku tidak ingin pakai pengasuh By. Aku ingin menikmati hari-hariku bersama anak-anak. Dan tentunya kamu yang bersiap banting tulang untuk kebutuhan kami."


"Aku akan bekerja keras untuk anak dan istriku. Kebahagiaan kalian adalah kebahagianku, sayang." Ucap Fandi mantap.


Keduanya saling menatap intens dengan penuh rasa cinta. Hingga bibir mereka saling bertemu dan mulai melakukan ritual pasangan suami istri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2