
Bab 105
Sedang Bersama
(POV Author)
Fandi benar-benar sibuk menyiapkan pesta pernikahannya. Ia menyiapkan segalanya dari mulai dekorasi catering bahkan undangan meski EO yang mengerjakan semuanya.
Siska tampak bahagia melihat segalanya sudah dipersiapkan oleh Fandy. Bahkan ia pun turut mengundang beberapa orang temannya untuk hadir di acara pernikahannya nanti
Wanita itu tidak mengabarkan pernikahannya kepada Juna, tetapi pria itu mengetahui dari sahabatnya yang lain.
Gawai milik Siska berdering tertera nama Arjuna menghiasi layar gawainya.
"CK!"
Siska berdecak kesal melihat siapa yang menelpon dirinya. Sebenarnya ia tak ingin mengangkat panggilan telepon itu. Tetapi ia berpikir kembali, ia takut Juna akan melakukan hal yang tidak diinginkan olehnya.
"Ada apa sih nelpon?! Ganggu aja!" Gerutu Siska saat mengangkat telpon.
"Oh bagus ya Lo ya?! Mau nikah tapi gak bilang-bilang Gue, gak undang-undang Gue!" Sindir Juna di seberang sana.
"Emang penting buat Lo?!"
"Ya penting dong...! Lo bilang Lo hamil, ya Gue pengen tahu itu sebenarnya anak siapa?!
"Bukannya kemarin Lo bilang kalau anak Gue ini pasti anak Mas Fandi?!"
"Ya harusnya begitu! Tapi ingat ya, jika ternyata itu anak Gue, Gue gak mau tanggung jawab! Lo tahu sendiri kan Gue belum kerja dan masih kuliah, dan Gue mau nyelesaiin kuliah Gue dulu."
"Iya, Iya bawel ih! Gue juga yakin nih anak, anak Mas Fandi kok!"
"Bagus! Tapi Gue lagi kangen nih sama Lo. Ayo dong, ke sini! Sudah lama loh kita nggak melakukannya." Ajak Juna
"Ck! Gak bisa! Gue lagi di pingit sekarang." Tolak Siska.
"Lu gak kangen apa ama milik Gue? Udah Gue terapi lho, udah Gue service, dijamin Lo bakalan puas!"
"Enggak! Solo karir aja Lo sono! Stok sabun Lo kan banyak!"
"Dih mana asik pakai sabun! pakai mulut Lo lah merem melek Gue pasti!"
__ADS_1
"Gak! Gue gak mau! Kalau sampai ketahuan sama Mas Fandi, bisa dia batalin pernikahan Gue dengannya."
"Ayolah, sebentar aja. Kalau Lo gak mau ke sini Gue susul deh ke sana. Ya, mau ya?!"
"Cari mati Lo di sini! Ada nyokap Gue, ada bibi Gue sama Om Gue. Coba aja kesini, Pak satpam entar ngusir Lo!"
"Ayolah cepet! Pokoknya Gue ke rumah Lo sekarang. Gue jemput Lo, Gue tunggu di dalam mobil!"
Panggilan diakhiri sepihak oleh Arjuna. Siska berdecak kesal terhadap lelaki itu. Ia pun berganti pakaian dan bersiap untuk bertemu dengan Arjuna. Selang 20 menit kemudian Arjuna mengirimkan pesan kalau ia telah berada di depan pagar rumahnya. Siska pun mengambil tas kecilnya lalu hendak keluar menemui Arjuna.
"Mau ke mana kamu?!" Tanya Ibu Naima melihat Siska hendak menuruni tangga.
"Teman kuliahku nungguin di depan Bu. Ada tugas kuliah yang belum aku kerjain. Ini tugas kelompok dan aku mau pergi bersama temen ngerjain tugas kelompoknya."
Ibu Naima melihat ke halaman rumahnya tidak ada siapa-siapa disana. Hanya sebuah mobil putih terparkir di luar pagar rumahnya.
"Mobil putih itu? Kenapa tidak jemput sampai ke rumah?!"
"Buru-buru Bu. Yang lain udah pada nungguin. Ya, udah ya, aku pergi dulu!"
"Setelah itu langsung pulang Siska, jangan keluyuran!"
Arjuna yang melihat Siska berlari kecil menghampiri mobilnya tersenyum senang. Trik kecilnya telah berhasil mengajak Siska untuk bersenang-senang hari ini.
"Ngapain sih Lo nyusul-nyusul ke sini?! Bahaya tahu gak?!" Gerutu Siska dengan muka masam.
"Tapi Lo mau juga kan akhirnya, hehehe..." Kekeh Juna sumringah.
"Ck! Gue udah mau nikah. Kalau sampai ketahuan Mas Fandi bisa gagal pernikahan Gue dan Lo harus tanggung jawab kalau sampai itu terjadi!"
"Sudah bawel ah!"
Arjuna lalu menjalankan mobilnya membelah jalan ibu kota. Ia berencana membawa Siska ke sebuah apartemen yang baru saja dihadiahkan untuknya dari ke dua orang tuanya.
Selama dalam perjalanan lelaki itu berdendang riang, mesti wanita di sampingnya duduk dengan wajah merengut.
Ketika sampai di sebuah gedung yang menjulang, Siska menengadahkan wajahnya melihat bangunan itu. Saat memasuki hunian apartemen milik Arjuna, Siska cukup terkesiap melihat isi apartemen itu. Matanya melihat ke sana ke mari mengamati funiture serta barang pajangan dalam apartemen itu.
"Nanti aja lihat-lihatnya. Ayo sini ini tempat tidur Gue. Empuk banget nih!" Ujar Juna membanggakan.
Walau wajahnya cemberut, Siska tetap mendekat kepada Arjuna. Mula-mula ia duduk di pinggir tempat tidur itu, lalu dengan cepat Juna menangkap tubuhnya dan merangkulnya dengan erat lalu menyambar bibir ranum Siska dan menciumnya lekat.
__ADS_1
Siska yang awalnya menolak. Namun akhirnya kalah oleh hasratnya yang rindu akan belaian. Dan mereka pun melakukannya di panas terik siang itu.
Sementara itu di tempat yang berbeda.
Fandi dan Nuning sedang menikmati makan siang bersama di sebuah Cafe. Mereka baru saja mendaftarkan pernikahan mereka di KUA setempat. Setelah itu mereka akan melakukan suntik tetanus di sebuah rumah sakit. Kemudian pergi ke mall mencari barang-barang untuk hantaran. cukup padat jadwal yang mereka kerjakan hari ini. Mengingat acara pernikahan tidak akan lama lagi.
Rasa bahagia menyelimuti di hati kedua insan yang mulai dimabuk asmara itu. Fandi yang menatap lekat Nuning tersenyum melihat wanita yang ditatap itu tertunduk malu.
"Kenapa menunduk terus Ning?"
"Malu Pak, ditatap terus." Jawab Nuning apa adanya.
"Tidak apa-apa kok, kamu cantik. Makanya aku selalu ingin menatapmu." Ucap Fandi yang apa adanya pula.
"Bisa aja si Bapak ngegombal."
"Ini bukan ngegombal Ning, ini kejujuran dalam hatiku."
Wajah Nuning merona mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Fandi.
"Apa tidak apa-apa Pak, Almira ditinggal lama? Kasihan Mbok Nah takut kerepotan menjaga Almira."
"Ada Tia yang menemani."
"Tya? Bagaimana bisa Tya ke sana? Ada apa memangnya Pak?"
"Aku yang memintanya ke sana. Kebetulan katanya dia tidak sedang kerepotan dan dia juga ingin melihat calon keponakannya." Jawab Fandi tersenyum.
"Oh begitu."
"Sudah selesai makannya? Kalau sudah kita lanjut lagi ke Rumah Sakit." Ujar Fandi sambil melirik jam di tangannya sekilas.
"Sudah Pak. Sudah pada kosong semua ini. Ayo, kita ke Rumah Sakit."
Mereka pun beranjak meninggalkan Cafe setelah membayar tagihan mereka.
Mereka berjalan keluar Cafe beriringan. Fandi yang ingin menggenggam tangan Nuning mengurungkan niatnya ketika tangan mereka nyaris saja bersentuhan, dengan cepat Nuning segera menariknya.
Fandi maklumi. Karena pada dasarnya Nuning tidak ingin melakukan skin skip kepada yang bukan muhrimnya. Walaupun demikian Fandi tetap bangga, kagum bahkan sangat terpesona oleh Nuning. Karena itu menandakan bahwa Nuning wanita baik-baik yang masih terjaga. Jika dibandingkan dengan Siska, sungguh perbedaan yang sangat besar.
Bersambung...
__ADS_1