
Bab 37
Maling Teriak Maling
Ada tender besar yang di terima perusahaan sehingga kami cukup sibuk di buatnya. Bahkan aku harus lembur melebih jam kerja biasa. Entah ini gelas kopi keberapa agar rasa kantukku menghilang. Bahkan Rara nyaris tertidur di meja kerjanya.
"Ra, jangan tidur. Tidur pekerjaanmu tidak akan selesai, aku tidak mau loh di ajak begadang lebih dari jam 10 malam." Ujar ku mengajak ngobrol Rara agar sedikit banyak mengusir rasa kantuknya.
Rara menguap, matanya nyaris tak terangkat menatap ke arahku. Aku terkekeh melihatnya dan melanjutkan pekerjaanku.
"Tungguin, dikit lagi aku." Ujar Rara.
Kami pun berlomba untuk segera menyelesaikan tugas. Tepat pukul 22.25 WIB, aku dan Rara sudah menyelesaikan pekerjaan kami.
"Laper aku." Keluh Rara.
"Sama." Jawabku.
"Makan yuk!"
"Malam-malam begini? Emang masih ada yang buka?" Tanyaku yang tidak pernah keluar malam di atas jam 9 malam.
"Banyaaaak..."
"Hehehe, banyaknya tidak juga gitu kali Ra. Tuh mulutmu sampai mangap begitu."
"Hehehe, laper banget aku. Tega banget di suruh lembur sampe jam segini. Memang si botak Dahlan bikin naik darah aja."
"Hus, nanti orangnya lewat." Ujar ku.
"Biarin. Ku rasa dia dendam gara-gara waktu itu. Beda banget sama Pak Adam, udah baik, sopan lagi."
Benar, banyak karyawan lain yang memuji sifat Pak Adam. Atasan yang bijaksana, ramah dan sopan tentunya patut untuk menjadi contoh teladan bagi Pak Dahlan yang tidak ingat umur itu.
"Loh, kalian baru pulang?"
Nah, panjang umur tuh orang tua. Baru saja di sebut sudah nongol orangnya.
"Alhamdulillah Pak, berkat Bapak." Celetuk Rara.
"Mau di anter? Bahaya loh para wanita pulang malam sendirian." Ujar Pak Dahlan.
Lebih bahaya lagi jika Bapak lebih lama lagi di dekat kami Pak. Batin ku kesal.
"Tidak usah Pak. Kami akan baik-baik saja." Tolak ku.
"Jangan begitu Indah, apalagi kamu barus saja menjanda, tentu akan bahaya bagimu."
Apa hubungannya statusku dengan pulangnya kami? Orang tua ini benar-benar biang keladi. Apa sesekali aku sadarkan saja ya?!
"Tidak ada hubungannya dengan status saya Pak. Justru Bapak yang harus menjauh dari kami karena kami tidak mau di jambak oleh istri Bapak. Tidak mungkin kan istri Bapak jambak rambut Bapak yang botak?!" Sarkasku.
__ADS_1
"Pftt..."
Rara tampak setengah mati menahan tawanya. Sedangkan Pak Dahlan, wajahnya berubah masam dan memerah.
"Permisi."
Kataku lagi sambil menggandeng lengan Rara dan melangkah meninggalkan Pak Dahlan yang terdiam.
***
"Wkwkkwkwk... mati gaya tu Pak botak! Lagian masih aja gatel lihat yang masih muda." Kata Rara sambil tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya kami duduk di sebuah lamongan di pinggir jalan. Sepertinya bukan hanya kami yang kelaparan. Masih ada beberapa orang yang makan selain kami di tempat ini.
"Emang pantas sesekali di gituin itu bandot tua, biar sadar." Ujar Rara kembali sambil menyuap lalap kol masuk ke mulutnya.
"Makanya tadi aku ceplas-ceplos saja begitu. Di diamkan malah ngelunjak." Kataku.
"Duduk disini saja Mas." Kata seorang pengunjung yang terdengar oleh ku tapi tidak ku perhatikan karena aku sedang menikmati makan malam ku yang sudah sangat terlambat.
Dari bawah kolong meja Rara menendang-nendang kaki ku hingga aku terpaksa mendongak melihatnya karena kesal.
"Apaan sih?!" Gerutuku.
Rara tanpa suara menunjuk seseorang yang duduk tepat di belakangku.
"Apa?" Tanyaku tanpa suara.
Mendadak hilang selera makanku. Aku pun menegak air mineral hingga tandas. Ini kesempatanku untuk menanyakan hak ku padanya sebelum ia kabur lagi. Mas Heru sudah keterlaluan, bahkan putusan Hakim pun berani dia tentang. Sungguh aku tidak habis pikir, dimana akal sehatnya.
Aku pun bangkit berdiri menghadap Mas Heru.
"Kenapa kamu menjual rumah itu tanpa sepengetahuanku Mas? Dan kemana kamu bawa barang-barang ku Mas?" Tanyaku yang membuat Mas Heru dan Wina terkejut tidak menyangka ada aku disana.
"Kamu bicara apa sih? Jangan bicara sembarang dan menuduh begitu!" Kilah Mas Heru membela diri. Mungkin ia malu di dengar dan dilihat beberapa orang pengunjung disana.
"Oh, enaknya ya jadi maling?! Tidak perlu bersusah payah kerja banting tulang cukup bawa kabur rumah orang beserta isinya dan tinggal duduk manis makan enak!" Sarka ku yang sakit hati dengan bantahan Mas Heru yang masih merasa benar.
Entah kenapa dada ini sesak dan membuncah penuh emosi. Melihat Mas Heru tersenyum dan bercanda mesra kepada istri tercintanya itu dan tidak merasa bersalah sedikit pun karena telah membawa kabur yang bukan miliknya membuatku mendidih.
Bisa-bisanya mereka tertawa di atas penderitaan ku.
"Kamu jangan asal bicara ya! Rumah itu atas nama Mas Heru bukan milikmu! Kamu yang berusaha merebut milik orang lain." Sarkas Wina dengan lantangnya. Bahkan memancing orang lain untuk melihat apa yang terjadi.
"Waah, hebat sekali kamu! Maling teriak maling! Sudah merebut suami orang tapi bertingkah seperti korban. Kalian tunggu saja tanggal mainnya. Sudah cukup kesabaranku habis sampai disini."
Wina terdiam matanya melirik sana sini melihat orang-orang yang melihat dirinya dengan rasa penasaran.
"Maaf Mbak, Mas, tolong jangan menganggu ketenangan pengunjung yang lain." Ujar pemilik Lamongan.
Aku merasa tidak enak kepada pemilik, tapi hati ku sangat kesal dengan mereka berdua. Tidak mungkin aku melepas mereka saat ini, karena aku sudah tidak tahu tempat tinggal mereka yang baru.
__ADS_1
"Ayo kita bicara di luar!" Perintahku kepada Mas Heru.
"Tidak perlu, semuanya sudah jelas. Kamu ingin uang kan? Dasar perempuan matre!" Tolak Mas Heru dan mengumpat kepadaku.
Astaga, hilang sudah kesabaranku.
Ku tarik paksa baju Mas Heru hingga mau tidak mau ia terpaksa mengikuti sebelum bajunya sobek ku tarik.
"Lepas Indah!" Sergah Mas Heru begitu kami keluar dari area Lamongan.
Cukup kasar Mas Heru menepis tanganku hingga tanganku terayun dengan kuat.
"Kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu Mas!"
"Perbuatan apa?" Tanya Mas Heru menantang.
"Kamu kemanakan semua Mas?! Ingat ya Mas tindakanmu itu pencurian dan aku sudah melaporkan mu secara hukum!" Ungkapku.
"Kamu jangan macam-macam Indah!" Ancam Mas Heru.
"Kamu yang sebaiknya jangan macam-macam Mas. Ingat ya Mas, aku tidak pernah main-main dengan perkataanku!" Kataku menatap masa Heru dengan tatapan tajam.
"Kamu sudah mulai berani ya Indah, tidak seperti dulu. Kemana Indahku yang lembut?!"
'Indahku'?! Aku berdecih dalam hati. Ternyata Mas Heru masih menganggapku Indah yang tidak bisa apa-apa. Kamu salah Mas. Indah yang kamu Kenal sudah mati beserta ketukan palu Hakim.
"Kamu bukan lagi suamiku Mas. Dan aku tidak segan lagi padamu yang mirip sampah! Sampah saja bisa di daur ulang dan masih berguna. Tapi sepertinya, kamu tidak berguna sama sekali. Kamu hanya seorang sampah yang bisanya hanya menyakiti wanita. Aku tidak perlu lagi menghargaimu, karena kamu bukan siapa-siapa!"
"Kamu!!" Bentak Mas Heru
Dan...
"PLAKK!"
Sebuah tamparan keras mendarat mulus dipipiku hingga aku terhuyung.
Beberapa orang yang menyaksikan bergegas menolongku dan menahan Mas Heru agar tidak terjadi kekerasan lebih dari itu.
Aku terdiam saking terkejutnya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup ku, aku mendapat tamparan dari seseorang, dan itu dari mantan suami ku sendiri.
Ternyata, selain pecundang dia juga seorang pengecut yang bisanya hanya melakukan kekerasan terhadap wanita. Lelaki yang tidak punya harga diri, pandai bersilat lidah, serakah, dan yang baru ku ketahui kasar terhadap wanita ternyata pernah menjadi suamiku.
Sifat apalagi yang belum ia tunjukan padaku. Sungguh tidak ada penyesalan dalam hidupku telah bercerai dengan Mas Heru. Dan setelah ini, kamu akan lihat Mas, apa yang kamu perbuat selama ini terhadapku akan ku balas satu persatu.
Hilang sudah rasa manusiawi ku untukmu.
Bersambung...
*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
__ADS_1
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊