
Bab 72
Ke Kalimantan
(POV Author)
Tidak terasa sudah 3 bulan kepergian Mira dari kehidupan orang-orang yang menyayanginya. Kehidupan terus berjalan meski sebagian yang di tinggalkan masih berduka atas kepergiannya.
Wanita yang di kenal ramah dan periang itu di kenang sebagai orang yang baik bagi yang mengenalnya kecuali Siska. Dan kepergiannya meninggalkan sejuta kenangan serta luka bagi Fandi, suaminya.
Hati Fandi masih berduka atas kepergian istrinya. Meski ia selalu tersenyum di hadapan orang-orang yang bertemu dengannya, tapi rasa kehilangan masih terus menghampirinya. Sosok Mira masih bertahta di hati dan pikiran Fandi. Ia masih belum mau menggantikan sosok itu di hati dengan kehadiran wanita lain.
Namun janji adalah janji, dan Fandi ingin menepati sebagai pria yang mencintai istrinya dan tentunya pria yang bertanggung jawab akan ucapannya.
Seiring waktu yang di janjikan, berangkatlah Fandi, Roy, dan juga Indah ke Kalimantan untuk menemui orang tua Indah.
Siska yang mengetahui rencana kepergian mereka memaksa Fandi untuk membawanya ikut serta. Namun sekeras apapun keinginannya itu, tetap dipatahkan oleh Fandi yang tidak ingin terjadi huru hara disana nantinya.
"Yakin tidak mau duduk disini?" Tanya Fandi kepada Indah di dalam pesawat.
Fandi yang duduk bersebelahan dengan Roy menawarkan wanita itu tempat duduknya agar Indah bisa duduk berdampingan dengan Roy.
"Tidak Mas, aku disini saja." Tolak Indah.
Wanita itu lebih memilih duduk dengan penumpang lain yang juga sama-sama wanita seperti dirinya. Ia merasa tidak nyaman harus duduk di antara salah satu dari mereka. Yang satu calon suami meski tidak cinta, dan yang satunya terukir di hati meski tidak ada ikatan.
Selama dalam perjalanan Indah memanfaatkan waktu untuk beristirahat dengan memejamkan matanya. Tidak terasa mereka pun tiba setelah pesawat mendarat pukul 14.10 siang. Roy dan Fandi menunggu koper mereka. Sedangkan Indah hanya membawa tas yang cukup untuk membawa laptop, handphone, dompet dan beberapa berkas penting yang harus ia kerjakan di sela waktu di pulang kampungnya.
Sudah lewat dari setengah tahun Indah baru menginjakkan lagi kakinya di kampung halamannya.
Kenangan yang pernah terjadi di kota itu pun melintas dengan sendirinya. Indah merasa ingin menghapus kenangan di kota itu tapi ia juga rindu kampung halamannya.
"Wah, besar juga sungai disini ya?" Ujar Roy takjub yang baru pertama kali datang ke Pontianak.
"Ini namanya sungai Kapuas. Petuah orang dulu, kalau minum air sungai ini, pasti balik lagi ke kota ini." Ujar Indah menceritakan Mitos sungai Kapuas.
__ADS_1
"Benarkah. Kalau begitu aku harus minum air sungai ini!" Seru Roy ketika mereka menaiki taxi online.
"Sepertinya kamu tidak perlu minum air Kapuas Bro. Toh nantinya, kamu pasti akan balik lagi kesini." Ujar Fandi.
"Ah, benar juga." Kata Roy.
Mereka di suguhkan pemandangan sungai yang berukuran besar dan panjangnya mencapai 1143km. Kehidupan warga tepi sungai juga tak luput dari pandangan dua pria yang baru pertama kali ke sana.
"Apa masih jauh Indah?" Tanya Fandi.
"Kurang lebih 1 jaman lagi kalau tidak macet di bagian kota. Setelah masuk wilayah pedesaan, jalan sudah lenggang dan pasti lekas sampai menuju kampung halaman yang sedikit terpelosok." Ujar Indah menjelaskan.
Setelah itu ketiganya hanya diam menikmati pemandangan yang di sajikan di luar jendela mobil.
Di dalam mobil Indah sibuk menjelaskan di setiap pertanyaan yang di lontarkan Fandi maupun Roy. Hingga tak terasa mereka memasuki kawasan pedesaan yang di sambut dengan hutan dan aneka kebun yang menjadi mata pencarian warga sekitar.
Sebuah rumah panggung yang asri menambah decak kagum Roy terhadap bangunan yang unik ciri khas rumah masyarakat Melayu tempo dulu. Dua orang paruh baya pria dan wanita serta beberapa orang tua menyambut kedatangan mereka.
Orang tua paruh baya itu tak lain adalah orang tua Indah yang menunggu mereka sejak mengabarkan ia telah mendarat di Pontianak. Indah langsung mencium punggung tangan orang tuanya satu persatu dan menghambur dalam pelukan sang Ibu.
"Sehat kau In?" Tanya Bu Sumi masih dalam pelukan anaknya.
"Ini ke calon yang Ayah Engkau cakap?"
"Iye Mak. Ini Mas Fandi suami Almarhum Mbak Mira dan ini Roy sahabatnya." Indah memperkenalkan ke dua pria itu kepada orang tuanya.
"Mas, Roy, ini Ibuku dan ini Ayahku." Ujar Indah kembali.
Fandi dan Roy menyalami kedua orang tua Indah secara bergantian.
Tak lupa pula Indah memperkenalkan Paman dan Adik Kakeknya yang kebetulan juga ada disana.
"Ayo masok, pasti leteh sangat kene perjalanan jaoh. Tapi harap maklum rumah kami ni yang mungkin tak semewah rumah Nak Fandi dan Nak Roy di sane. Ye macam ni lah, rumah di kampong."
Fandi dan Roy yang kurang mengerti bahasa daerah disana mencoba memahami sedikit-sedikit dan tersenyum.
__ADS_1
"Ayo masuk Mas, Roy. Kata Ayah harap maklum rumah di kampung tidak semewah rumah Mas atau Roy disana." Ujar Indah mengulang ucapan Ayahnya.
"Yah, awak cakap lah bahase Indonesia. Kasihan budak-budak tu tak paham nak jawab awak cakap ape." Kata Ibu Sumi.
"Oh ye, Ayah telupe." Jawab Pak Abdul.
"Nah, mari duduk sini. Maaf, kite lesehan."
Bagaimana pun Ayah Indah mencoba berbahasa Indonesia, tetap saja ada sangkut bahsa Melayu yang selalu dipakai sehari-hari.
Roy dan Fandi pun ikut duduk di lantai bersama orang-orang yang tadi menyambutnya.
Indah dan Ibunya mengeluarkan ninuman panas dan dingin serta kue yang di buat sendiri.
"Nah, silahkan makan. Jangan malu-malu, anggap rumah sendiri." Ujar Pak Abdul.
"Terima kasih Pak." Ujar Fandi.
Mereka pun mengobrol sambil menikmati suguhan yang ada. Mengenalkan adat istiadat masing-masing daerah serta membicarakan pekerjaan sehari-hari.
Waktu pun beranjak semakin sore. Fandi dan Roy di antar ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak. Rumah kayu itu memiliki 4 kamar. Fandi dan Roy tidur di kamar terpisah begitu pula Indah dan kedua orang tuanya.
Saat maghrib tiba, mereka melakukan sholat berjamaah di rumah itu. Lalu setelah itu, mereka makan malam bersama. Kemudian setelah melakukan sholat Isya' berjamaah, mereka kembali duduk lesehan sambil menikmati kopi hitam dan goreng serta kue bolu.
"Pak Abdul, ijinkan saya mengutarakan niat saya datang kemari. Tentu sedikit banyak Bapak telah mendengarnya dari Indah. Tapi sekali lagi saya ingin mengatakan sendiri tujuan saya datang kemari." Ujar Fandi memulai pembicaraan penting.
"Silahkan Nak Fandi." Jawab Pak Abdul tegas.
"Saya, Almarhum Istri saya, berteman baik dengan Indah. Lalu hari itu, saya dan istri mengalami kecelakaan hingga pada akhirnya istrinya berpulang kepada-Nya. Namun sebelum Almarhumah meninggal, ia meminta saya dan Indah untuk berjanji padanya. Bila mana hidupnya berakhir, ia ingin saya menikah dengan Indah. Dan saat itu Indah pun menyanggupi."
Ada yang menghela napas panjang, ada pula yang manggut-manggut mendengar penjelasan Fandi.
"Untuk itu, saya datang kemari meminta ijin kepada Bapak, untuk menikahi Indah, putri Bapak."
Hening setelah Fandi menyampaikan maksud dan tujuannya.
__ADS_1
Pada dasarnya Pak Abdul dan isteri sudah mengetahui soal kontrak itu. Dan Fandi pun menunggu restu serta keputusan Pak Abdul.
Bersambung...