
Bab 43
Kehidupan Baru Di Mulai
(POV Author)
Pengajuan pemindahan tugas telah di ajukan dan langsung di terima oleh Pak Adam. Atasan Indah itu dengan cepat memproses kepindahan Indah hingga ia bisa berangkat ke Makassar besok.
Rara menangis saat sahabatnya itu akan meninggalkan dirinya. Ia merasa sedih tidak ada teman kerja yang humble lagi di dekatnya. Namun keputusan Indah sudah bulat. Ia ingin mencoba suasana baru dan memulai kehidupan baru disana.
"Kak, aku kesepian dong tidak ada Kakak disini." Ujar Jihan melihat Indah membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke Makassar, masuk ke dalam dua buah kopernya.
"Kamu kapan magang Ji?" Tanya Indah mengalihkan pembicaraan.
"Bulan depan Kak." Jawab Jihan tidak bersemangat.
"Masuk ke kantor Kakak aja, nanti di bantu Rara buat rekomendasi biar kamu bisa magang di sana. Kalau sudah selesai, Kakak akan rekomendasikan kamu sama atasan biar di tarik kerja di kantor."
"Bener Kak?!" Tanya Jihan dengan mata berbinar. Tidak sulit menghibur hati gadis yang masih labil itu. Tapi dalam diri Indah ia berjanji akan membantu Jihan untuk bisa masuk ke tempatnya bekerja.
Indah mengangguk, mengiyakan pertanyaan jihan.
"Barang-barang disini Kakak tinggalkan untuk kamu. Semoga bermanfaat untukmu nantinya." Ujar Indah.
Mata Jihan mengembun dan langsung memeluk Indah.
"Kakak itu wanita yang baik, tapi kenapa Kakak banyak mengalami penderitaan. Jihan doakan, semoga disana nanti Kakak bisa menemukan kebahagian Kakak."
"Aamiin.... Makasih ya."
Pelukan keduanya pun merenggang. Jihan mengusap air matanya di pipi, lalu membantu Indah membereskan barang-barang yang belum selesai.
Bagi Indah, urusan di kota itu sudah selesai. Ia sudah berpamitan kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Kisahnya dengan Heru ia tutup dengan meninggalkan kota itu. Indah ingin membuat goresan baru di jalan hidupnya agar ketika pulang kembali ke kota itu, ia sudah menjadi Indah yang baru.
Keesokan harinya, Indah menuju bandara Supadio dengan penerbangan jam 07.15 ke Makassar. Di perkirakan akan tiba di Makassar jam 09.15 pagi.
Cukup lama berada dalam pesawat dan kemungkinan akan transit di sebuah kota sebelum penerbangan akan dilanjutkan kembali.
***
Di tempat yang berbeda. Kehidupan yang baru juga di mulai oleh Wina. Wanita yang menjadi ratu sebelum Heru di penjara, kini menjadi upik abu di rumah mertuanya sendiri.
Wina merasa kelelahan dengan perut datarnya yang perlahan mulai kelihatan membuncit. Wanita itu duduk di lantai dengan berselonjor kaki untuk menghilangkan rasa pegal di kakinya sesaat.
"Wina!! Cepat sini bantu di warung!"
__ADS_1
Teriakan Ibu mertuanya menggema hingga ke dalam rumah. Wina yang baru saja ingin beristirahat harus menelan pahit karena tugas berikutnya sudah memanggil.
Wina membuang napas kasar sebelum beranjak. Ia ingin mengumpulkan tenaga sedikit sebelum bangkit berdiri.
Bugh!
"Awww....!! Kamu kenapa sih?!" Tanya Wina berang karena kakinya di tendang Ratih yang melewatinya hendak ke dapur.
"Ups, tidak sengaja. Habis di bujurkan begitu, ngalangin orang lewat aja!"
"Kan bisa tidak usah pakai tendang?!" Ujar Wina protes.
"Pemalas kayak kamu memang pantas di tendang." Ujar Ratih sambil berlalu pergi.
Wina kesal menahan emosi atas perbuatan Ratih padanya tanpa mau meminta maaf. Ia merasa sedih kala teringat sikap Heru yang selalu memanjakannya. Jika ada Heru, Ratih pasti akan segan dan menuruti perintahnya. Jika ada Heru, Ibu mertuanya pasti penuh perhatian padanya. Bagaimana sikap Heru yang selalu membelanya dan menomor satukan dirinya, ia rindu masa-masa itu.
"Aku kangen Mas...." Gumam Wina dengan mata berembun.
"Wina!! Kok lama sih?!!"
Kembali teriakan Ibu mertuanya terdengar keras ditelinga.
"Iya Bu, iya....!" Jawab Wina tak kalah nyaring.
Wina berusaha berdiri dan menghapus jejak air matanya. Dengan langkah gontai ia menuju ke warung dimana mertuanya berada.
"Bantu layani pembeli sana!"
Dengan wajah masam Wina mau tidak mau menuruti perintah Ibu mertuanya.
"Beli apa?" Tanya Wina dengan wajah cemberut kepada pembeli yang merupakan tetangga mereka juga.
"Bawang putih 3 ribu aja." Jawab si pembeli.
"Kok cuma 3 ribu sih? Kan nanggung aku ngitung timbangannya. Satu kilo aja kalau mau!"
"Lah, saya maunya beli 3 ribu aja kok."
"Ya sudah, aku tidak jual kalau begitu. Beli saja di warung lain! Beli bawang kok ya cuma 3 ribu." Kata Wina sewot.
"Loh, penjual kok maksa?! Mudah-mudahan sepi ini warung. Cih..!"
Si pembeli itu pergi dengan muka masam berkat Wina.
"Tidak jadi beli dia Win?" Tanya Ibu mertua dari sudut warung yang sedang membagi gula ukuran 1 kg perbungkus.
__ADS_1
"Duitnya kurang Bu. Bu aku kedalam dulu ya, perutku rasanya tiba-tiba keram." Ujar Wina beralasan.
Tanpa menunggu jawaban Ibu mertuanya Wina sudah melangkah pergi dan masuk ke kamarnya. Wina merebahkan diri, karena ia mengantuk dan sangat lelah dari subuh sudah bekerja.
Dulu selagi masih ada Heru, Wina cukup bangun pagi dan membuatkan kopi untuk Heru. Sarapan pagi mereka, ia belikan di warung yang menjual nasi uduk dan bubur. Makan siangnya ia pesan atar atau membeli nasi padang di depan jalan rumahnya. Dan malamnya ia dan Heru akan makan di luar.
Kaum rebahan dengan halu orang kaya dan ketika mati ia ingin masuk surga. Uang gaji tidak seberapa dengan pengeluaran yang luar biasa. Bergaya sosialita tapi nyatanya hanya tameng semata. Seperti itu lah lakon kehidupan yang dijalani Wina. Ketika Heru tidak dapat lagi di andalkan, ia pun jatuh menderita.
"Sayang, kapan dong kita tidak sembunyi-sembunyi lagi. Aku mau segera di halalin sama kamu."
Wina memonyongkan bibirnya mendengar rengekan manja Ratih kepada lawan bicaranya di telepon dari kamarnya. Wina kembali teringat kala ia juga seperti itu dulu kepada Heru.
"Pasti dong aku cinta sama Papa. Jangan lama-lama ya, aku ingin bangun tidur tuh yang kulihat wajah Papa..."
Lama-lama mata Wina mulai meredup karena rasa kantuk yang mendera. Perlahan tapi pasti mata itu mulai tertutup dengan alunan napas yang mulai teratur.
"Winaaaaa!!!"
Jreng!!
Mata Wina kembali terbuka mana kala teriakan Ibu mertuanya begitu nyaring hingga mengalahkan suara suporter sepak bola. Jantung yang tadi berdetak dengan tenang kini seperti pacuan kuda.
"Si*al, kaget aku!" Gumam Wina kesal karena tidak jadi tidur.
"Winaaaaa!!" Sekali lagi teriakan itu menggema.
Mau tidak mau Wina perlahan turun dari ranjangnya.
"Brakk!!" Suara pintu di bukan dengan kasar.
"Kamu tidak dengar Ibu berteriak hah?! Sana cepat pergi!! Ganggu saja!" Sergah Ratih kesal acara telponannya terganggu oleh Ibunya yang berteriak memanggil Wina.
Wina beranjak bangun dari duduknya. Dengan mata yang mengantuk tapi tidak bisa tidur, akhirnya membuat kepalanya sedikit pusing.
"Kamu kira aku tuli! Jawab Wina tak kalah sengit.
Baik Ratih maupun Wina sama-sama melayangkan tatapan sinis kepada lawan.
"Hei, cepat!! Sini kamu!!" Lagi-lagi Bu Yarsih berteriak dari balik dinding warung setelah melihat Wina keluar dari kamarnya. Bu Yarsih dapat melihat anak dan menantunya karena pintu depan yang sengaja di buka.
Dengan malas Wina pun akhirnya mendekat pada Ibu mertuanya.
"Ada apa lagi sih Bu?!"
"Duduk! Bantu isi gula ini, masukkan ke plastik. Lihat contoh yang sudah Ibu ukur segitu."
__ADS_1
Wina melongos memperhatikan dacing yang di contohkan Ibu mertuanya padanya. Berat gula yang di bungkus itu ternyata tidak sampai 1 kilo, melainkan hanya 9 ons lebih sedikit saja.
Bersambung...