Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 56 Hang Out


__ADS_3

Bab 56


Hang Out


(POV Author)


Mira melihat kepergian suaminya yang di ikuti Siska naik ke mobil Fandi dari balik balkon lantai atas rumahnya. Mira mencengkeram kuat pagar balkon dengan rasa kesal dan juga lega karena Siska sudah tidak ada lagi dirumahnya.


Bisa di katakan saat ini memang Mira sedang cemburu pada adik iparnya itu. Adik ipar yang di angkat Ibu mertuanya sejak usia Siska menginjak 4 tahun. Hanya berbeda 3 tahun dari Fandi dan setahun dari dirinya.


Mira yang merasakan perhatian Siska yang sedikit terhadap suaminya tidak ingin memberi kesempatan lebih lama untuk wanita itu menjalankan niatnya. Entah niat apa yang terselubung, yang jelas Mira menangkap kalau Siska tidak menyukai dirinya.


Mira masuk kembali ke dalam kamarnya menutup pintu balkon lalu turun ke lantai bawah menuju dapur. Sisa makanan bekas sarapan masih terletak begitu saja di meja makan. Dengan segera Mira membersihkan meja makan dan mencuci peralatan masak serta piring, gelas, mangkok yang kotor. Makanan yang masih tersisa di panci Mira buang, mengingat betapa kesalnya dia dengan Siska.


Setelah melihat dapur kembali bersih, Mira kembali ke kamarnya dan segera mandi untuk bertemu dengan Indah.


Pukul 09.45 Mira duduk di sebuah kafe menunggu kedatangan Indah. Ia sudah menyelesaikan sarapan paginya dengan memesan omelet, roti bakar, serta beberapa buah dan segelas susu tentunya.


Saat ini Mira sedang hamil 4 bulan. Ia menjaga pola makannya untuk kesehatan dirinya dan si calon bayi buah hatinya bersama Fandi.


Usia pernikahan yang sudah berjalan dua tahun itu, baru di beri keturunan oleh Yang Mana Kuasa. Mira dan Fandi sungguh sangat bahagia menyambut calon bayi mereka. Namun karena kandungan Mira sedikit lemah, Dokter menyarankan agar Mira tidak melakukan aktivitas yang berat.


"Assalamualaikum, Mbak..."


"Waalaikumsalam, Dek Indah... ayo silahkan duduk!"


Mira antusias menyambut kedatangan Indah. Dua wanita itu kini saling duduk berhadapan.


"Sudah lama Mbak? Maaf saya tadi masih bingung cari alamat." Ujar Indah.


"Tidak kok, aku saja yang datang lebih dulu dan sarapan disini. Kamu sudah sarapan belum, ayo pesan."


"Saya sudah Mbak tadi di rumah."


"Pesan minuman aja mau? Atau dessert?" Ujar Mira menawari.


"Iya itu aja."


Mira lalu memanggil karyawan kafe dan memesankan untuk Indah. Mereka pun terlibat dalam percakapan ringan yang sesekali mengundang tawa.


Mira begitu wellcome terhadap Indah, bahkan ia tidak segan-segan menceritakan kita hidupnya kepada orang yang baru saja ia kenal.


Mira merupakan salah satu tipe manusia yang mudah terbuka kepada siapa saja, dan berbagi kisah hidupnya kepada orang yang di anggap dekat dengannya. Tipe wanita yang tidak dapat menyembunyikan perasaannya dan mudah sensitif, namun cepat akrab dengan orang yang baru ia kenal. Mungkin karena ia wanita yang senang berbicara sehingga bersama dengannya tidak pernah merasa kesepian.


"Maaf kalau boleh tahu, apa yang terjadi sama rumah tangga mu sampai kamu memutuskan bercerai Dek Indah?"

__ADS_1


Indah tersenyum sebelum menjawab. Ia tertunduk sambil menarik napas yang panjang dan mengeluarkan perlahan.


"Cerita kehidupan rumah tangga saya bukan contoh yang baik Mbak Mira, kegagalan yang saya alami sangat banyak memberikan saya pelajaran dari masalah-masalah yang terjadi. Yang hanya bisa saya katakan dari inti kehidupan rumah tangga saya yang lalu adalah, saya bercerai karena mantan suami saya berselingkuh dan menikah tanpa persetujuan dari saya. "


Kini Mira yang menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Apa Dek Indah punya feeling sebelumnya atau Dek Indah menemukan bukti-bukti perselingkuhan itu?" Tanah Mira penasaran.


Indah tersenyum.


"Saya menemukan mereka secara tidak langsung sedang memandu kasih di rumah dinas mantan suami saya waktu itu." Ujar Indah menerangkan.


Indah adalah sosok wanita biasa pada umumnya yang terkadang mau berbagi kisah hidupnya namun tidak juga mengumbar semua privasinya ke media sosial.


"Astaga, tega sekali. Apakah waktu itu kejadiannya di Surabaya?" Mira bertanya mencoba mengaitkan cerita yang pernah Fandi kisahkan disana waktu hendak pulang ke Makassar.


"Benar waktu itu." Ujar Indah membenarkan.


"Aku juga tidak suka di khianati, apalagi baru-baru ini aku mulai merasakan akan ada yang mengancam ikatan pernikahanku dengan Mas Fandi."


Sebagian seorang wanita yang sering berkomunikasi dengan Fandi walau pun itu hanya sebuah pekerjaan, Indah merasa tidak nyaman jika karenanya Mira merasakan hal demikian.


Indah menurunkan pandangannya sambil meresapi minuman yang ada di depannya. Ia tidak berani berkomentar karena sepertinya Mira sedang terlihat kesal.


"Akhir-akhir aku merasa ada yang aneh dengan sikap adik iparku."


"Dia seperti menaruh hati kepada suamiku, atau itu hanya perasaan ku saja ya? Yang jelas aku tidak menyukai perhatiannya yang berlebihan kepada Mas Fandi sampai-sampai aku tidak di hargai olehnya." Tutur Mira lagi.


Indah sedikit bingung mendengar apa yang di ungkapkan oleh Mira. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah Mira sedang cemburu dengan adik iparnya sendiri, atau Mira tipe wanita yang posesif? Semua itu hanya ada dalam hati Indah tanpa berani ia tanyakan kepada Mira.


"Saya tidak mengetahui apa permasalahan yang sedang Mbak Mira hadapi. Tapi semoga saja apapun itu masalahnya, semoga bisa terselesaikan dengan baik."


"Aamiin, aku juga berharap seperti itu. Bagaimana kalau kita jalan ke Mall, aku juga ingin sekalian melihat-lihat pakaian dan perlengkapan bayi."


"Asal Mbak Mira jangan sampai kelelahan, saya ikut saja."


"Jika aku merasa lelah, kita akan bersantai di kafe yang ada di dalam Mall."


"Setuju."


Mereka berdua lalu beranjak meninggalkan kafe itu setelah membayar tentunya. Indah yang datang tadi dengan menggunakan ojol kini duduk di samping Mira yang mengemudikan mobil Honda Brio nya.


***


Kita tinggalkan Indah yang sedang jalan-jalan dengan Mira.

__ADS_1


Di ditempat yang berbeda.


Pagi itu Ratih mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya di kerjakan oleh Wina. Karena ia bangun kesiangan dan tidak terbiasa mengerjakan semua, alhasil tugas-tugas itu baru selesai hampir jam 10 pagi menjelang siang.


Keringat Ratih bercucuran membasahi baju dan wajahnya. Napasnya masih tersengal-sengal setelah ia merebahkan dirinya di kasur kamarnya.


Dalam hati gadis itu sangat membenci Wina, hingga ia ingin sekali membunuh Wanita itu, bila saja itu bukan kejahatan dan berakhir di bui.


"Ceklek!" Suara pintu di buka.


"Belikan aku sarapan bubur di warung sana!" Perintah Wina setelah membuka pintu kamar Ratih.


Ratih bangun sambil menghempaskan bantal yang ia peluk ke atas tempat tidur. Ia lalu berdiri dan berkaca pinggang menghadapi Wina.


"Kamu pikir aku babumu hah?! Kamu tidak lihat aku sudah sangat lelah?! Kamu kan bisa pergi sendiri!"


"Lelah ya? Baru juga satu hari. Apa kabar aku yang mengerjakan selama berbulan-bulan di rumah ini? Apa kamu pernah mikir?!"


Ucapan Ratih dibalikkan oleh Wina.


"Aku anak dirumah ini jadi wajar saja, sedangkan kamu hanya orang lain di rumah ini!"


"Kamu itu memang tidak punya etika ya?!"


"Kamu sendiri apa punya?! Dasar pe*la*kor! Bisanya hanya merebut pasangan orang lain!"


"Iya aku pe*la*kor, kenapa?! Kamu sendiri apa bukan pe*la*kor?! Apa kamu kira aku tidak tahu kalau Mas Hendra itu sudah memiliki isteri?"


Ratih terdiam.


"Gadis ingusan mainnya sama om-om." Sarkas Wina.


Ratih mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. Ia tidak tahan lagi dengan ocehan Wina hingga ia langsung menjambak rambut Wina.


"Aaaagh..., si*alan kamu Ratih!"


"Rasakan!"


Tidak mau kalah Wina juga berusaha meraih kepala Ratih dan menjambak rambutnya.


"Aaaagh!


Aksi tarik menarik rambut pun terjadi bahkan saling pukul dan baku hantam pun di lakukan sambil menarik rambut.


"Hei, apa-apaan kalian?! Hentikan!" Sergah Bu Yarsih yang langsung datang dari warung ketika mendengar jeritan-jeritan dari dalam rumahnya.

__ADS_1


Bu Yarsih mencoba melepaskan tangan Ratih maupun Wina di kepala masing-masing. Wanita paruh baya itu merasa kewalahan karena kalah tenaga dari mereka yang sedang di landa emosi.


Bersambung....


__ADS_2