
Bab 91
Bingung Judulnya Apa
(POV Author)
Hujan turun dengan lebatnya pagi itu, mengantarkan Nuning ke alamat yang di kirim Roy padanya tadi malam.
Baju yang ia kenakan setengah basah bagian kaki dan tangan. Jas hujan yang ia kenakan tidak mampu melindungi seluruh tubuhnya dari tetesan hujan.
Nuning menekan-nekan baju yang basah agar air yang terserap kain baju bisa jatuh dan mengurangi kelembaban. Tangannya dingin di tambah cuaca yang dibarengi tiupan angin, sedikit menggetarkan tubuhnya pagi itu.
Nuning memencet bel pintu rumah Fandi. Berharap ia tidak terlambat datang pagi itu.
"Assalamualaikum, Bu." Salam Nuning ketika pintu di buka dan melihat seorang wanita usia 50an yang mengenakan kerudung membukakan pintu untuknya.
"Waalaikumsalam, Neng cari siapa?"
"Saya yang akan mengasuh Almira. Katanya di suruh datang pagi ini." Jelas Nuning dengan senyum ramah.
"Oh, masuk Neng. Tadi sudah di pesan sama Bapak."
Nuning mengangguk dan tetap tersenyum. Ia pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah mengikuti wanita tadi.
"Sudah datang?"
Suara barito menghentikan langkah kedua wanita itu.
"Iya Pak. Katanya pengasuh Non Almira."
"Hmm. Siapa namanya?"
"Saya Nuning, Pak." Ujar Nuning menyapa dengan menganggukkan kepala.
Wanita berjilbab itu ragu untuk bersalaman karena bukan muhrimnya. Jadi ia hanya menunduk kepalanya saja.
"Sepupu Roy kan?" Tanya Fandi sambil mengamati sekilas Nuning dari atas sampai bawah.
"Benar, Pak."
"Kamar Almira ada di lantai atas, bersebelahan dengan kamarku. Kamu bisa langsung mengasuhnya. Tapi sebelum itu, aku minta kamu berganti pakaian dulu. Baju mu basah, aku tidak mau baru hari pertama mengasuh kamu sudah jatuh sakit."
Nuning tertegun, pasalnya ia tidak membawa baju ganti.
"Kenapa diam, apa kamu tidak membawa baju ganti?"
"Iya, Pak. Maaf..."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Mbok Nah, bisa pilihkan baju milik Mira yang bisa di gunakan untuknya? Aku sudah hampir telat untuk ke kantor."
"Iya, Pak, Mari sini Neng, Mbok antar ke kamar Almira, sekalian bisa ganti baju di sana." Ujar wanita yang di panggil Mbok Nah itu.
__ADS_1
"Baik, Mbok. Permisi, Pak..." Pamit Nuning hendak ke lantai atas.
"Hmm..." Ujar Fandi hanya berdehem membalas ucapan Nuning.
Nuning melangkah meninggalkan Fandi yang sedang meresap kopi hitamnya. Ia mengikuti langkah Mbok Nah sampai pada pintu Almira.
Di kamar itu, Almira sedang berada dalam box bayi. Ia sedang terbaring, bermain-main sendiri. Rambut ikal kecokelatan dengan pipi cuby dan tubuh gempal membuat Nuning tidak sabar untuk berkenalan dengan balita itu.
"Ini bajunya neng, semoga pas."
Mbok Nah memberikan satu set baju motif polos berwarna bata, yang berbahan katun berlengan dan berkaki panjang kepada Nuning. Nuning segera menerimanya dan berganti pakaian di kamar mandi dalam ruangan itu.
Setelah selesai ia segera mengambil Almira dan menggendong bayi yang menggemaskan itu.
"Assalamualaikum cantik, sholeha... Duh lucu banget ciii...."
"Neng, Mbok lanjut kerja dulu ya. Kalau laper makan saja jangan di tahan itu pesan Bapak."
"Iya Mbok. Makasih ya..."
Mbok Nah mengangguk, ia pun berlalu meninggalkan Nuning yang mulai berkenalan dengan Almira.
Nuning mencium bayi lucu yang sudah wangi itu. Harum minyak telon bercampur bedak dan baby oil menambah khas wangi sang bayi. Mengajak bicara sang bayi walau hanya di balas dengan tatapan dan tertawa sesekali.
"Kamu bisa memerhatikan jadwal makannya di kertas di atas nakas. Juga takaran susunya." Suara barito Fandi mengejutkan Nuning yang tengah asik bercengkerama dengan Almira.
"Eh, iya Pak!" Jawab Nuning spontan.
"Baik, Pak saya akan segera membacanya. Apa Almira punya alergi tertentu Pak, selain dari asupan?" Tanya Nuning.
"Pak...?" Nuning memanggil Fandi yang tertegun.
"Bagaimana, Pak?" Sekali lagi Nuning memanggil dan bertanya.
"Ehem. Apa tadi? Maaf, baju itu mengingatkanku pada mendiang istri ku.
"Oh..., itu Pak, apa Almira punya alergi khusus?" Tanya Nuning yang sikapnya berubah manjadi canggung. Sesaat ia lupa dengan baju yang ia kenakan milik siapa karena terasa nyaman.
"Sepertinya tidak ada. Apa kamu sudah sarapan? Makanlah bila lapar. Tidak ada larangan makan di rumah ini."
"Alhamdulillah sudah, Pak."
"Baiklah." Ujar Fandi lalu berlalu pergi.
Nuning mengusap dadanya yang tadi sempat takut hingga menimbulkan rasa tegang dalam dirinya. Wajahnya kembali tenang melihat bayi yang tertawa sendiri dengan percaya diri tanpa sebiji gigi pun di mulutnya.
***
Di tempat yang berbeda, Roy lebih dulu mengantarkan Indah ke tempat kerjanya. Mobil berhenti di halaman kantor, dan Indah pun hendak turun dari sana mumpung hujan sudah reda.
"Nanti aku jemput Ney, jangan pulang sama kang ojek. Aku tidak suka kamu deket cowok lain." Ujar Roy yang mulai posesif.
__ADS_1
Perubahan itu mulai di rasakan Indah sejak pertama kali mereka melakukannya. Bukan posesif yang bagaimana, hanya posesif dan manja yang nyaris membuat Indah terkadang melongo di buatnya.
Indah terkekeh, apalagi ucapan suaminya itu disertai dengan wajah cemberut seperti anak kecil minta mainan.
"Iya, aku tunggu, Hon. Aku masuk dulu ya..."
"Tidak ada buat pengisi energi ini?"
Indah mengeryit bingung. Namun dengan cepat Roy menyambar leher Indah dan menariknya dengan lembut seiring dengan wajahnya sendiri yang makin mendekat dan ciuman pagi pun tercipta dengan mata Indah yang melotot nyaris keluar.
"Kelamaan nunggu kamu paham." Ujar Roy sambil mengelap jejak salivanya di bibir Indah.
"Ini depan kantor Hon, bagaimana kalau ada yang lihat kita?!" Ujar Indah sedikit cemas. Bukan lantaran kenapa, kalau sampai terlihat karyawan lainnya, Indah pasti malu karenanya.
"Hehehe tinggal bilang saja kita sudah nikah. Biar para lelaki di dalam sana menjaga jarak darimu, Ney."
"Jaman sekarang Hon, biar sudah punya status jelas bila ada kesempatan, tikungan selalu ada. Tinggal bagaimana pribadi kita sendiri yang menyikapinya."
"Lalu kamu bagaimana, Ney?"
"Satu saja tidak habis-habis Hon. Yang menarik di pandang mata banyak, tapi yang mau menerima apa adanya langka. Kayak kamu Hon, limited edision."
"Hehehe..."
Roy terkekeh dan tersipu. Bisa-bisanya wajahnya memerah nista seperti itu sebagai kaum adam. Ia memeluk stang bulatnya dan memandang sang isteri penuh cinta.
"Kenapa bisa limited edision, Ney?" Tanya Roy memancing.
"Aug ah, aku turun yang Hon. Semangat kerjanya..." Ujar Indah sambil meraih tangan Roy dan menciumnya. Roy pun membalas dengan mengecium kening Indah.
"Jika ada yang melirikmu, segera pikirin aku ya Ney..."
Indah hanya membalas ucapan Roy dengan memonyongkan bibirnya. Dan hal itu membuat Roy semakin gemas melihatnya.
Roy melihat Indah mulai melangkah menjauh. Busana yang Indah kenakan hanya kemeja putih lengan panjang yang di gulung 7/8 dan celana panjang kain bahan karet berwarna cream yang tampak cantik di badan istrinya. Walau tidak terlalu ketat, tapi betuk tubuh Indah cukup terlihat. Apalagi bagian bo*ko*ng yang menonjol hingga membangun bambang brewok di dalam sana.
"Kenapa gue jadi mesum gini sih?! Ah, tidak apa-apalah sama isteri sendiri juga." Tanya Roy pada diri sendiri dan menjawabnya sendiri.
"Baru semenit sudah rindu. Ck!" Gumam Roy lagi.
Lelaki itu pun menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan kemudian meninggalkan halaman kantor Indah lalu menuju ke tempat kerjanya.
Sampai di tempat kerjanya ia langsung menuju ruangan Fandi.
"Gimana? Kamu sudah ketemu Mbak Nuning, Bro?"
"Sudah. Kamu tidak bilang masih muda."
"Loh, kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
Sikap Fandi yang ambigu membuat Roy penasaran. Namun pria itu enggan menanyakan lebih.
Bersambung...