
Bab 61
Apakah Keputusanku Salah
"Maaf....." Kataku lirih. Lalu melepaskan genggamam tanganku ketika Roy melihat tanganku memegang tangannya.
Ekspresi Roy masih saja datar. Namun ia berusaha untuk memberikan sedikit senyumnya padaku.
"Bukan salahmu..." Jawabnya lalu ia kembali menyusul langkah Mas Fandi menuju ke ruangan anak.
Aku sungguh merasa tidak nyaman terhadap Roy. Kenapa aku memiliki perasaan seperti ini padanya? Padahal aku juga tidak memiliki hubungan apapun kepada Roy. Semoga saja Mbak Mira segera siuman dan kembali sehat seperti sebelumnya, agar tidak ada kerenggangan hubungan persahabatan di antara kami semua.
Aku putuskan menunggu Mbak Mira saja yang akan di pindahkan dari ruangan operasi ke ruangan ICU. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan berpikir bagaimana langkah ke depanku nantinya.
Pintu ruangan operasi terbuka bertepatan dengan kedatangan Mas Fandi yang balik lagi kesini.
Aku dan Mas Fandi mengikuti ranjang besi beroda yang di dorong oleh beberapa suster, yang membawa Mbak Mira menuju ruang ICU.
Mas Fandi kembali bersedih melihat keadaan Mbak Mira yang pucat dengan mata tertutup tak bergeming. Sungguh begitu menyayat hati melihat keadaan Wanita yang 4 jam lalu masih tersenyum ceria kepadaku.
Aku membiarkan Mas Fandi lebih dulu menemani Mbak Mira dalam ruangan ICU yang di batasi hanya 2 orang yang boleh masuk. Duduk sendiri menunggu di luar ruangan ICU.
Tidak lama terdengar derap langkah kaki beberapa orang yang tergesa-gesa menuju ke arahku. Dua wanita paruh baya, beserta pria seorang yang kurang lebih seusia mereka. Serta seorang wanita yang mungkin seusia denganku.
"Ini ruangannya Mbak." Kata salah satu wanita paruh baya, kepada wanita paruh baya yang satunya.
"Benar itu Fandi." Kata lelaki paruh baya.
Mungkin mereka keluarga Mas Fandi atau Mbak Mira dan mereka tidak menyadari kehadiranku di dekat mereka. Hanya wanita seusia ku yang sejak tadi melirikku dalam diamnya.
Wanita itu duduk tidak jauh dariku. Aku menganggukkan kepala menyapanya dan tersenyum padanya.
"Fan, bagaimana keadaan Mira? Bayinya gimana?"
Mas Fandi keluar dari ruangan ICU langsung di serang dengan pertanyaan dari keluarganya. Kecemasan tampak di wajah mereka yang melihat keadaan Fandi dan juga Mbak Mira.
"Alhamdulillah, Almira selamat Bu. Namun Mira masih kritis dan tidak sadarkan diri."
"Almira? Cucuku?" Tanya wanita yang di panggil Ibu oleh Mas Fandi.
Mas Fandi mengangguk sambil tersenyum lemah menjawab pertanyaan berikutnya dari sang Ibu. Keadaan Mbak Mira masih menjadi pukulan berat untuk Mas Fandi.
Anak Mbak Mira dan Mas Fandi ternyata berjenis kelamin perempuan. Almira, namanya yang diberikan Mas Fandi untuk anaknya. Nama yang cantik, pasti secantik Ibunya. Aku jadi ingin segera melihat bayi itu.
Oh Roy, aku jadi teringat lelaki itu. Dimana dia ? Aku baru sadar tidak melihatnya sedari tadi.
"Indah, pulanglah dulu dengan Roy. Ini sudah malam, kamu pasti lelah." Ujar Mas Fandi kepadaku.
"Dimana Roy Mas?"
"Dia tadi pergi ke kantin Rumah Sakit."
Tidak ingin menganggu Mas Fandi dan keluarganya, ku putuskan untuk menemui Roy dan pulang bersamanya.
"Baiklah Mas. Tolong kabari aku perkembangan keadaan Mbak Mira."
"Ya." Jawab Mas Fandi sambil menganggukkan kepala.
"Semoga Mbak Mira lekas sadar dan sehat kembali Mas."
__ADS_1
"Ya, terima kasih Indah. Beristirahatlah, kamu pasti lelah."
"Kalau begitu, saya permisi dulu Mas. Mari semua, Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Jawab mereka.
Aku melangkah pergi menuju kantin RS sambil mengeluarkan gawaiku untuk mencoba menghubungi Roy.
Beberapa saat panggilan itu berdering, namun tidak di angkat olehnya. Aku mencoba menghubunginya kembali. Namun langkahku terhenti ketika melihat Roy berjalan menuju ke arahku sambil melihat gawainya.
Aku mematikan panggilan itu. Dan memasukan kembali gawaiku ke dalam tasku.
"Kita pulang?" Tanya Roy tanpa sedikit pun tersenyum meski suaranya lembut terhadapku.
"Iya, Mas Fandi menyuruhku pulang bersamamu." Jawabku.
"Ya, kami sudah membicarakannya tadi."
Sepertinya mereka sudah membahas mengenai permintaan Mbak Mira.
Aku hanya bisa mengangguk menjawab ucapan Roy. Lalu mengikuti langkah kaki lelaki itu menuju parkiran Rumah Sakit. Masuk ke dalam mobil, dan perlahan meninggalkan Rumah Sakit.
Tidak ada pembicaraan di antara kami hingga keheningan pun tercipta. Bahkan Roy tampak serius menyetir tanpa sedikit pun melirik ke arahku.
Begitu canggung rasanya, apalagi Roy berubah tidak lagi ceria seperti biasanya.
"Roy..."
"Hmm..." Jawab lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
Aku menatap wajah lelaki putih tampan di dominasi wajah Asia dengan mata sedikit sipit dan berhidung mancung itu. Baru ku sadari wajah lelaki ini sangat tampan di atas ukuran rata-rata.
"Ehem."
Aku berdehem untuk segera kembali kepikiran normalku dan fokus terhadap apa yang ingin aku bicarakan.
"Aku menerima permintaan Mbak Mira yang cukup sulit untukku. Aku juga tidak tahu alasan Mbak Mira tiba-tiba meminta ku seperti itu padahal ia tahu kamu...., kita...."
Aku menghela napas sebelum melanjutkan kata-kata. Entah kenapa berbicara dengan Roy kali ini aku seperti berhadapan dengan dosen atau atasan yang galak.
"Maaf..."
Lagi-lagi aku mengatakan kata maaf yang mungkin tidak bisa menutupi kesalahanku.
"Untuk apa? Bukankah kita juga tidak memiliki hubungan? Berhentilah mengucapkan kata maaf Indah..., tidak ada yang salah darimu."
"Tapi..."
Ucapanku menggantung ketika Roy menggenggam tanganku sesaat dan melirik ke arahku.
Darahku tiba-tiba berdesir membuat jantungku berdebar-debar tak menentu. Rasa gugup menyergap membuat tubuhku mendadak kaku. Berasa ada kupu-kupu kecil menari-nari di dalam hati ketika bola mata kami bertemu. Apa karena sikap Roy yang sejak tadi datar dan dingin tiba-tiba menghangat dengan satu genggaman tangannya?
Tuhan, ada apa denganku?
Roy melepaskan genggamannya tangannya ketika aku tidak lagi membantah. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, berharap wajah ini tidak terlihat memerah di depannya.
***
20 menit aku tiba di mess kantor setelah Roy menurunkanku sambil melambaikan tangan dan dan sedikit menyunggingkan senyumnya untuk ku.
__ADS_1
Aku masuk dengan langkah lelah dan berat dan mengunci pintu setelah menutupnyanya. Melepaskan sepatu, dan atasku, lalu segera mengambil handuk untuk membersihkan diri dan bersiap menunaikan sholat Isya' yang sudah mulai larut malam.
Waktu menunjukan pukul 21.13 malam setelah aku selesai melakukan kewajibanku. Ingin sekali aku bercerita mengenai apa yang baru saja aku alami kepada seseorang. Tapi siapa?
Aku tidak mungkin menelpon Emak di jam seperti ini karena pasti akan menimbulkan cemas pada Beliau.
Ku buka beberapa aplikasi untuk menghibur hatiku, tapi tetap saja tidak ada yang menarik bagiku. Sampai saat ku buka aplikasi Wa dan melihat Rara sedang online. Ku putuskan mencoba untuk mengirim pesan padanya.
Indah : Belum tidur Ra?
Pesanku masuk dan langsung centang biru. Terlihat Rara sedang mengetik untuk membalas pesanku.
Rara : Belum beb, besokkan libur. Di jam begini sih masih awal bagiku.
Aku tersenyum pada sahabatku ini. Terakhir kami bertukar pesan seminggu yang lalu, dan mendapat kabar ia akan bertunangan dengan Dani sahabat kecilku. Alhamdulillah, sukurlah...
Indah : Aku lupa besok libur di sana.
Rara : Ada apa nih, tumben chat jam segini?
Indah : Tahu saja kamu.
Rara : Di tembak Roy lagi?
Aku tersenyum membaca chat Rara. Rara memang mengetahui bagaimana kehidupanku disini. Kami masih sering berkomunikasi walau terkadang seminggu sekali namun dengan durasi yang lama. Terkadang kami juga bertelepon ria bila tidak puas melalui pesan.
Rara : Lama banget balasnya? Apa ketiduran? Aku telpon ya?
Gawaiku berdering. Rara benar-benar menelponku.
"Assalamualaikum Ra..."
"Waalaikumsalam. Jadi benar Roy nembak kamu lagi? Tidak apa-apa kalau kamu nikah lagi Indah, kan masa iddah mu juga sudah lewatkan?"
Benar masa iddah ku baru saja lewat. Tapi bukan ini yang ingin aku bahas dengan Rara.
"Ada yang lebih penting dari itu Ra."
"Apa itu? Wah, aku ketinggalan sesuatu kayaknya."
Aku kemudian menceritakan kecelakaan yang menimpa Mas Fandi dah Mbak Mira. Lalu tentang permintaan Mbak Mira yang menginginkan aku menikah dengan Mas Fandi dan merawat anak mereka bila ia telah tiada. Lalu selamat tentang sikap Roy yang berubah tidak lagi ceria kepadaku.
"Pasti berat berada di posisimu In. Apalagi jikalau itu menjadi permintaan terakhir seseorang. Bila menolak, kamu pasti akan merasa tidak nyaman jika jawabanmu telah melukai hati wanita yang sedang berjuang melawan maut. Tapi bila di terima, kamu dan Fandi menjalani biduk rumah tangga tanpa cinta. Tapi In, aku sering membaca novel-novel online di beberapa aplikasi dan terkadang novel yang aku baca itu menceritakan bagaimana kehidupan dua pasangan yang awalnya tidak mencintai berakhir saling mencintai. Atau bahkan ada yang berawal dari sebuah kebencian dan akhirnya menjadi cinta."
Aku mencerna kata-kata yang di ucapkan oleh Rara.
"Memang kasihan terhadap Roy. Tapi balik lagi pada dirimu. Apa kamu mencintai lelaki itu?"
"Entahlah Ra. Kamu tahu kan aku belum bisa menjalin hubungan yang serius karena trauma akan kehidupan rumah tanggaku yang dulu?"
"Kalau kamu tidak berani menjalin hubungan yang serius, kenapa kamu bisa menerima permintaan Mbak Mira. Kamu lupa In? Permintaan itu soal menikah? Menikah yang berarti kamu menjadi isteri dari seorang Fandi?"
Benar, aku tidak lupa itu. Kembali lagi karena ini mengenai permintaan yang bisa saja menjadi permintaan terakhir Mbak Mira.
"Kalau menurutku, jika kamu memang berat untuk menolak, takut menyesali sikapmu dan akhirnya menyalahkan dirimu sendiri, maka terimalah permintaan itu jika memang kelak itu menjadi permintaan terakhir. Dan saran terakhir dari ku, belajarlah mencintai Fandi jika kamu sudah menikah dengannya kelak. Urusan Roy, biarlan Tuhan yang mengatur jodoh terbaik untuknya."
Ucapan Rara ada benarnya. Mungkin aku harus berusaha mencintai Mas Fandi jika permintaan itu benar-benar menjadi permintaan terakhir Mbak Mira. Tetapi aku tetap berharap dan berdoa untuk kesembuhan Mbak Mira.
Bersambung...
__ADS_1