
Bab 66
Mengumumkan Kepada Keluarga
Akhir-akhir ini kehadiran Roy menggelitik hatiku. Membuatku gundah gulana, dan terus saja memikirkan dirinya.
Kini kami bertemu setiap hari, dengan berbagai alasan yang Roy gunakan untuk bertemu denganku. Mengantarku pergi bekerja dan menjemput pulang, mengajak berbelanja bulanan, bahkan memilihkan sepatu untuknya bekerja. Hal-hal kecil itu terus dia lakukan hingga aku merasa dia terus ada di kepalaku.
Dan hari ini, ia berjanji menjemputku untuk acara tahlilan tujuh hari Alm. Mbak Mira. Jantungku berdebar-debar menunggu apa yang akan di katakan Mas Fandi setelah acara ini selesai. Ia memintaku untuk menunggu setelah tamu-tamu semua pergi.
Roy dengan setia mendampingiku. Meski ia terlihat menunjukan ketenangan dan sikap santainya, tapi tetap saja aku merasa cemas, dengan ujung jari tangan yang mulai dingin.
Tamu-tamu pun satu persatu pun mulai pergi, menyisakan keluarga dan sanak saudara yang masih tersisa. Mereka masih duduk berkumpul di ruang tamu. Sepertinya Mas Fandi juga meminta mereka untuk tetap tinggal sebentar.
Aku dan Roy duduk di antara sanak saudara Mas Fandi dan Alm. Mbak Mira. Tanganku semakin dingin ketika Mas Fandi dan Ibunya juga mulai duduk di antara kami.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..." Salam Mas Fandi.
Semua orang mulai fokus kepada Mas Fandi.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." Jawab semua yang hadir di ruangan itu.
"Saya sengaja mengumpulkan keluarga dan sanak saudara disini dengan maksud dan tujuan untuk menyampaikan amanah terakhir dari mendiang Alm. Isteri saya, Mira Lestari."
Keluarga dan sanak saudara yang hadir di ruangan itu saling pandang satu sama lain. Mereka seperti tak menyangka kalau ternyata Alm. Mbak Mira mempunyai permintaan terakhir tanpa mereka ketahui.
Wajar saja bila tidak ada yang mengetahui, karena amanah itu dikatakan lewat handphone antara aku, Alm. Mbak Mira, Mas Fandi juga di saksikan oleh Roy.
Deg,
Aku semakin tegang, dan sesekali melihat ke arah Roy lalu menunduk.
"Mungkin ini akan sangat mengejutkan untuk kita semua, tapi saya harus melakukan permintaan terakhir Mira karena telah berjanji padanya." Ujar Mas Fandi lagi.
Sungguh aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Apalagi tanpa sengaja aku melihat Siska yang juga melihatku dengan tatapan tajamnya.
Semua masih mendengarkan Mas Fandi tanpa bicara. Keadaan seperti ini semakin membuatku tegang dan tidak nyaman.
"Jadi, sewaktu di bawa ke Rumah Sakit setelah kecelakaan, Mira meminta janji kepada saya dan saudari Indah untuk menikah jika sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Mendadak suasana mulai riuh meski hanya bisik-bisik antara sanak keluarga. Tentu saja kabar sangat mengejutkan bagi mereka. Apalagi meninggalnya Mbak Mira baru tujuh hari, dan bahkan kuburannya pun masih basah.
__ADS_1
"Dan sebelum meninggal pun, Mira mengingatkan kembali untuk saya menepati janji atas permintaannya." Ujar Mas Fandi menjelaskan kembali.
Rupanya Saat Mbak Mira sempat sadar waktu itu, ia kembali meminta Mas Fandi untuk berjanji.
"Loh, tak kira Indah pacaran sama Roy karena selalu datang berdua." Celetuk salah seorang dari mereka.
"Lah aku pun kira begitu." Jawab yang lainnya.
Benar, bisa saja orang salah mengartikan hubungan kami yang dekat tapi tidak memiliki status. Aku sendiri pun masih bingung dengan perasaan sendiri.
Entah kenapa mata ini selalu ingin melihat ke arah Siska. Tampak raut tidak suka bercampur kebencian ketika Siska menatapku setelah mendengar ucapan Mas Fandi.
Tidak hanya Siska yang melihat kepadaku, beberapa sanak saudara Mas Fandi juga Alm. Mbak Mira juga melihat ke arahku sambil berbisik.
"Saya mohon untuk tidak menyalahkan Indah. Karena ini juga di luar kehendaknya. Sebagai manusia yang takut akan dosa dan harus membayar janji yang merupakan sebuah hutang, maka saya memutuskan akan menikahi Indah setelah masa Iddah yaitu empat bulan sepuluh hari. " Mas Fandi berujar demikian mungkin ia menyadari keluarganya yang selalu melirik ke arahku.
"Apa saudari Indah sendiri sudah setuju untuk ini?" Tanya salah seorang sanak saudara.
Aku menatap orang-orang yang melihat ke arahku yang mungkin penasaran akan jawabanku. Seperti kata Mas Fandi bahwa janji adalah sebuah hutang yang harus di bayar. Dan ketikan Alm. Mbak Mira meminta padaku semasa ia masih hidup, ia meminta aku untuk berjanji menikah dengan Mas Fandi dengan alasan merawat anak dan suaminya kelak ketika ia telah tiada. Aku menyanggupi dan berjanji padanya.
Aku mengangguk menjawab rasa penasaran orang-orang dalam ruangan itu. Dan lagi-lagi Siska berang, dan mengepalkan tangannya saat tatapan mata kami bertemu.
"Ya, seperti itu saja."
Lagi salah seorang ibu-ibu yang sudah memasuki paruh baya mengutarakan pendapatnya.
"Apa ada yang berpendapat lain?"
"Jadi Bang Roy jomblo dong?" Celetuk salah seorang wanita muda yang kurasa salah satu pihak keluarga Mas Fandi atau Alm. Mbak Mira.
Roy hanya tersenyum samar menanggapi celetukan itu. Selain itu, tidak ada lagi yang menjawab pertanyaan Mas Fandi sampai beberapa menit telah berlalu.
"Baiklah dengan ini saya anggap semua sudah menerima keputusan saya. Saya berterima kasih atas ijin dan restu keluarga dan sanak saudara semua."
Mas Fandi pun beranjak berdiri.
"Indah dan Roy, bisa ikut ke ruangan kerjaku?" Pinta Mas Fandi.
Aku dan Roy sama-sama mengangguk. Lalu beranjak berdiri mengikuti langkah kaki Mas Fandi. Begitu sampai di sebuah ruangan yang di sebut ruang kerja, kami pun masuk dan hendak menutup pintu.
"Tunggu! Aku juga mau masuk!" Sergah Siska menahan daun pintu yang nyaris tertutup.
__ADS_1
"Siska, kami ada urusan. Kamu tunggulah di luar."
"Aku tidak mau Mas, kalau kamu tiba-tiba drop gimana?"
"Aku sedang baik-baik saja Siska. Keluarlah dan tunggu di luar."
Wajah Siska masam mendengar ucapan Mas Fandi. Ia menghentakkan kakinya sebelum akhirnya melangkah keluar pintu.
"Duduklah..." Ujar Mas Fandi mempersilahkan ketika memastikan pintu sudah di tutup rapat.
Kami bertiga pun duduk do kursi berbahan kayu jati di ruangan itu.
"Indah ada sesuatu yang ingin aku jelaskan kepadamu." Ujar Mas Fandi serius.
Aku bergantian menatap Mas Fandi dan juga Roy.
"Apa itu Mas?" Tanya ku penasaran.
"Begini Indah, aku dan Roy telah membuat sebuah rencana. Namun sebelum aku menjalankan rencana itu, aku ingin memastikan dulu kepadamu."
Mas Fandi menatapku serius hingga aku menjadi tegang karenanya.
Ada apa ya? Rencana apa? Aku masih belum bisa menebak apa yang kedua pria ini rencanakan. Jadi aku memilih dia untuk mendengarkan lebih lanjut.
"Indah bagaimana perasaanmu terhadapku dan terhadap Roy?"
"Haaah?"
Tentu saja aku terkejut dengan pertanyaan Mas Fandi yang menjurus privasiku. Aku serasa terdakwa di depan hakim dan jaksa. Mau berbohong takut dosa, mau berkata benar takut salah sangka.
"Maksudnya Mas?"
"Aku ingin kamu berkata jujur mengenai apa yang kamu rasakan, sebab itu akan mempengaruhi apa yang akan aku katakan setelahnya."
Aku deg-degan, dan semakin bingung untuk menjawab. Ku tatap satu persatu mata yang masih memandangku. Baik itu Mas Fandi maupun Roy yang menanti jawabanku.
Aku mend*es*ah, membuang napas yang serasa menghimpit di dada. Kemudian aku mencoba menyelami perasaan ku sendiri.
"Sejujurnya aku...."
Bersambung...
__ADS_1