
Bab 84
Honey
(POV Author)
"Indah dan aku sudah menikah."
"Wah, selamat ya Bro. Maafkan aku yang jadi penghalang kalian. Harusnya sejak awal aku tidak mengikuti permintaan istriku."
"Tidak Bro, aku tahu kamu orang yang bertanggung jawab. Ini bukan salahmu. Kondisi yang memaksa kita seperti ini. Oh ya, bagaimana keadaan Tante Naima?"
"Ibuku sudah mendingan, ia hanya terkena serangan jantung ringan."
"Oh syukurlah. Apa yang terjadi dirimu dan Siska?"
"Dia menjebakku. Ck, si*al!!"
"Kamu berhutang cerita padaku."
"Akan ku ceritakan padamu nanti. Sampaikan permintaan maafku pada Indah. Aku akan menemui kalian kalau Ibuku sudah keluar nanti."
"Tidak perlu repot Bro. Besok kami yang akan kesana sekalian melihat Tante Naima."
"Baiklah, aku tunggu kedatangan kalian."
Panggilan pun berakhir setelah Roy dan Fandi sama-sama saling membalas ucapan salam.
Roy tersenyum melihat Indah yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam kamarnya, dengan baju tidur daster pemberian Uminya. Untung saja Umi masih punya beberapa stok daster baru dalam lemarinya. Dan semua itu, ia berikan kepada menantu pertamanya.
Barang-barang hantaran untuk Indah dari Fandi tidak satupun dibawa. Hanya pakaian pengantin yang terlanjur melekat yang dibawa hingga ke rumah Roy.
Indah masih tetap mempesona bagi Roy meski hanya tampil natural dengan pakaian rumahan. Laki-laki itu sudah cinta setengah mati terhadap wanita yang selalu menolaknya.
Banyak wanita yang mengejar Roy apalagi melihat tampang dan isi dompetnya yang lumayan. Tetapi Roy tidak menyukai wanita-wanita seperti itu. Ia lebih menyukai wanita yang sulit di kejar seperti Indah.
Kesan pertamanya terhadap Indah adalah 'Apakah wanita ini rabun tidak melihat wajah tampanku?'
Ya, itu lah kata-kata dalam hatinya ketika Indah sama sekali tidak meliriknya saat mereka bertemu di lokasi proyek bersama Fandi. Roy suka Indah yang profesional dan mandiri. Apalagi saat Indah terang-terangan menolak dirinya, ia semakin ingin memiliki Indah.
Biasanya, jangankan dinyatakan cinta, baru di rayu sedikit saja kebanyakan wanita-wanita itu sudah minta bertukar nomor Wa. Tapi tidak dengan Indah.
"Sayang... sini duduk." Ujar Roy sambil menepuk tempat tidur, kode agar Indah duduk di sampingnya.
Indah sempat tersentak dan seketika wajahnya memerah. Namun wanita itu menurut apa kata suaminya.
"Kenapa merah gitu mukanya, bikin gemes aja. Kalau belum siap aku tidak akan memaksa sayang..."
Mendengar ucapan Roy, wajah Indah semakin memerah. Namun ia sedikit lega karena Roy tidak akan memaksa dirinya.
Indah bukan anak gadis lagi, melainkan ia hanya seorang janda. Tapi gambaran pernikahan dirinya dulu dengan Heru masih teringat jelas bagaimana perlakuan Heru di awal yang manis namun berakhir dengan terungkapnya sifat buruk mantan suaminya itu. Dan itu membuat Indah trauma.
Wanita itu memang belum siap jika harus melayani suami secara lahir karena ia pun tak menyangka akan menikah dengan Roy secepat ini. Tadinya ia akan menikah dengan Fandi dengan syarat tidak ada kontak fisik lebih selain skin ship biasa. Dan syarat itu tidak membuat Indah panas dingin seperti saat ini.
"Terima kasih Roy, karena kamu mau mengerti aku."
"Tapi ada syaratnya?"
"Syarat? Apa?"
"Pertama, kita sudah sah suami-istri jadi aku tidak mau kamu memanggilku dengan nama. Kedua, kamu harus menceritakan masa lalumu dulu, di pernikanan pertamamu."Ujar Roy menatap lembut istrinya.
Indah yang tadinya deg-degan di mintai syarat kini bisa bernapas lega. Karena untuk ke dua syarat itu, bukan hal yang sulit bagi Indah.
__ADS_1
"Tentu saja aku, akan menceritakan masa laluku karena kamu sekarang adalah suamiku. Tidak akan ada yang aku tutupi darimu. Dan aku juga berharap, kamu juga sama."
Roy tersenyum.
"Lalu soal panggilan kita?" Tanya Roy sambil menepikan rambut yang masih basah ke balik telinga Indah.
"Kamu mau di panggil apa?" Tanya Indah malu-malu.
Roy meraih tangan Indah dan menggenggamnya di atas pahanya.
"Apa saja yang penting bukan nama, dan kamu pun nyaman memanggilnya."
Indah tampak berpikir, sesekali wajahnya terlihat memerah dan itu membuat Roy gemas.
"Apa yang kamu pikirkan sayang, sampai wajahmu memerah seperti ini. Kamu tidak mesum kan? Hehehe...."
Indah langsung mengalihkan pandangannya menatap sisi lain dan tampak sekali wanita itu malu karena ucapan Roy.
"Ehem. Bagaimana kalau aku memanggilmu 'Hon' dan kamu bisa memanggilku 'Ney'."
"Jika di gabungkan akan menjadi 'Honey' yang berarti sayang."
"Iya, seperti itu." Jawab Indah malu-malu.
"Baiklah Ney, aku setuju. Menghadaplah kesana, biar aku bantu keringkan rambutmu."
Indah menurut. Ia lalu membelakangi Roy dan memberikan handuk kecil kepada suaminya.
"Wangi banget sih..." Ujar Roy sambil tangannya mengusap lembut kepala Indah. Sesekali lelaki itu mencium kepala Indah.
Darah Indah berdesir. Jantung berdebar-debar saat merasakan Roy mencium kepalanya. Serasa ada jutaan kupu-kupu terbang di dalam hatinya. Indah gugup dan namun menyukai perlakuan manis itu.
Indah tersenyum meski Roy tidak bisa melihatnya. Perhatian dan keromantisan yang Roy tunjukan padanya berbeda dengan mantan suaminya dan itu membuat Indah nyaman. Hanya hal-hal kecil tapi sungguh menghangatkan hatinya.
"Tok... Tok...!"
"Bang, Umi dan yang lain nungguin di meja makan. Abang gak kalap duluan kan Bang? Masih awal loh! Nanti saja Bang ninaninu awok-awoknya. Tandanya aku sudah manggil ya Bang..." Ucapan Teguh dari balik pintu yang tertutup.
"Ck! Paling bisa tuh anak ngerecokin. Kamu jangan deket-deket Teguh ya, Ney..." Sungut Roy.
Indah membalikan tubuhnya menghadap suaminya. Tatapan mereka pun bertemu.
"Kenapa Hon, kan dia Adik mu." Tanya Indah bingung.
"Takut jailnya, nular ke kamu Ney..." Jawab Roy jujur.
Indah terkekeh.
"Dia juga mungkin di suruh Hon."
"Ya sudah. Yuk Ney, nanti Umi bisa ngamuk kalau kita tidak turun makan bersama."
Indah mengangguk. Lalu beranjak dari duduknya mengikuti langkah kaki Roy yang keluar kamar.
"Sini...!" Perintah Roy mengulurkan tangannya meminta tangan Indah untuk di genggam.
Indah menyambut uluran tangan Roy. Mereka pun menuruni tangga bersama-sama menuju meja makan.
Meja lonjong panjang itu sudah di penuhi oleh orang tua mereka dan keluarga Indah. Tersisa dua kursi kosong untuk pasangan pengantin baru itu.
"Sini duduk Nak." Ajak Umi melihat anak menantunya.
"Mi, bakal cepet dapet cucu nih. Abang gercep Mi, masih awal dan basah aja rambut Kak Indah."
__ADS_1
"Diem!"
"Aduh..." ringis Teguh habis di getok sang Umi dengan centong sayur stainless yang belum digunakan.
Umi tersenyum simpul kepada keluarga Indah karena tidak enak dengan mulut asal jeplak si Teguh.
"Cantiknya mantu Umi. Sini duduk. Pas bajunya?"
"Iya Mi, enak di pakai." Jawab Indah.
"Sama Kak Indah bajunya cakep kek taman bunga. Tapi kalau Umi yang pakek kek anyaman tiker."
"Plak!"
"Aduh...."
Sekali lagi Teguh dapet centong stainless dari sang Umi.
"Lama-lama produk bakso juga nih kepala. Umi gak sayang aku..." RengekTeguh dengan mulut jebew.
"Ayok di nikmati besan, semoga cocok di lidah." Ujar Umi ramah kepada kedua orang tua dan keluarga Indah.
"Nampak nyaman, pasti enak masakannye." Puji Bu Sumi.
"Kalau enak Alhamdulillah, besan. Ayok jangan malu-malu" Ujar Umi.
Sambil makan mereka berbicara santai.
"Roy, besok bawa Indah berbelanja mengganti hantaran yang belum di berikan untuknya. Dan Indah pilih apapun yang kamu suka ya?"
"Umi saja ya sama Indah, besok aku anterin aja. Tapi aku sama Indah mau ke Rumah sakit dulu lihat Tante Naima."
"Umi tidak bisa Roy, kan ada besan Umi ini. Oh ya, sakit apa Ibunya Fandi Roy?".
"Serangan jantung ringan Umi, untung lah udah mendingan." jelas Roy.
""Sukurlah..., Umi sempat kaget juga tadi."
"Iya Mi, Roy juga baru tahu di telpon sama Fandi. Kalau begitu pulang dari Rumah Sakit aja Ney, kamu masih cuti kan?"
"Iya Hon, masih 2 hari."
"Mi, setelah liburan semester ini, aku bawain calon mantu ke dua ya buat Umi." Ujar Teguh.
"Sudah punya kamu, Guh? Mau di kasih makan apa anak orang?"
"Ya seblak lah Mi."
"Kok seblak Guh?" Tanya Uminya bingung.
"Habisnya tiap aku tanya lagi apa, jawabnya makan seblak, Mi." Jawab Teguh santai.
"Selesaikan dulu kuiiahmu, terus kerja baru bawa calon mu kesini." Ujar Roy menasehati.
"Takut Bang."
"Takut kenapa?"
"Ntar Umi ngira yang macem-macem kayak Abang."
Obrolan ngawur ngidul terus mengalir hingga satu persatu semua orang selesai menikmati makanannya.
Setelah menikmati makan malam bersama, sebagian yang lelah, masuk ke kamar masing-masing. Tak terkecuali Indah dan Roy.
__ADS_1
Pasti nungguin ya, Roy dan Indah mau ngapain? Kelanjutannya besok ya...
Bersambung....