
Bab 101
Getaran
(POV Author)
Setelah kepergian Siska, kecanggungan mulai terasa di antara dua insan dewasa di dalam ruangan itu. Apalagi setelah Fandi sempat melihat Nuning tanpa mengenakan jilbabnya, lelaki itu sempat terpesona melihat kecantikan Nuning.
Ada gejolak yang aneh di dalam hati Fandi. Rasanya ia ingin terus menatap lekat wajah yang sempat memberinya getaran-getaran lain. Lain halnya dengan Nuning, wanita itu merasa berdebar di tatap sedemikian rupa. Wajahnya mulai memerah, lalu ia pun mengalihkan perhatiannya menghadap ke arah lain.
"Ehem...Maafkan atas kekasaran Siska padamu."
Fandi mulai buka suara mengusir sunyinya ruangan ketika hanya detik jarum jam yang terdengar.
"Iya, Pak. Saya juga tidak menyangka Non Siska tiba-tiba bersikap seperti itu. Oh ya Pak, ini jas nya. Makasih sudah menutupi aurat saya." Ujar Nuning tertunduk malu sambil menyerahkan jas tanpa melihat tatapan mata Fandi.
Fandi tersenyum tanpa diketahui oleh Nuning. Fandi merasa Nuning sangat menggemaskan saat ini. Rasanya tangannya ingin terulur membelai pucuk kepala Nuning. Tapi Fandi sadar, mereka bukan muhrim.
"Aku akan berusaha hal seperti tadi tidak akan terjadi lagi. Aku harap kamu masih mau mengasuh Almira."
"Saya memang masih mau mengasuh Almira, Pak. Saya sangat tulus menyayangi Almira. Bahkan Almira sudah saya anggap seperti anak saya sendiri."
Deg, ada rasa kagum dan suka yang tidak dapat Fandi hindari mendengar ucapan Nuning. Sudah lama ia tidak merasakan getaran indah setelah hampir 7 bulan kepergian istrinya.
Syarat yang ia ajukan untuk menikahi Indah namun gagal waktu itu adalah 4 bulan 10 hari. Kemudian ketika waktu masa iddahnya selesai, ia pergi ke Kalimantan dan baru bisa melaksanakan pernikahan namun gagal, itu setelah masuk bulan kelima. Lalu Roy menggelar ulang acara pernikahan mereka di Kalimantan sekitar hampir sebulan yang lalu. Itu berarti sudah hampir 7 bulan Fandi baru merasakan kembali getaran cinta setelah istrinya tiada.
Fandi tidak mungkin selamanya membesarkan Almira seorang diri. Apalagi saat malam pun Almira pasti membutuhkan kasih sayang seorang Ibu yang mungkin belum bisa ia berikan. Tidak mungkin ia memercayakan Almira kepada Siska yang licik menurutnya. Dalam hati Fandi timbul harapan ingin lebih dekat dengan Nuning yang lebih keibuan dan pastinya sangat menyayangi Almira.
Nuning masih menyembunyikan wajah meronanya. Siapa yang tidak tersipu bila di tatap dengan sorot mata teduh apalagi yang menatap memiliki rupa yang cukup menawan.
Sikap canggung dan kikuk Nuning jelas terlihat. Membuat Fandi semakin ingin menggoda wanita di hadapannya.
"Niiing...." Panggilnya mendayu.
"Ting!"
Namun panggilan itu tereliminasi oleh sebuah pesan masuk yang akhirnya mengalihkan perhatian Fandi dari Nuning. Fandi meraih hp-nya dari dalam saku dan melihat isi pesan yang dikirimkan untuknya. Pesan itu dari Roy yang mengatakan bahwa dia dan Indah sedang dalam perjalanan dan hendak menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Amira.
Fandi membalas pesan tersebut, yang mengatakan bahwa dirinya menunggu kedatangan kedua sahabatnya itu.
"Roy dan Indah akan kemari pulang kerja nanti." Kata Fandi mengabarkan. "Ini sudah hampir siang, apa kamu tidak lapar Ning?" Tanya Fandi lagi.
"Saya belum terlalu lapar Pak." Jawab Nuning.
"Makanlah dulu, tadi aku ke kantin membeli beberapa makanan sengaja untukmu juga. Apa kamu mau kita makan bersama?"
"Bapak duluan saja, biar saya menjaga Almira."
"Almira tidak akan kemana-mana Ning, dia juga anteng aja disitu. Ayo, kita makan sama-sama."
Nuning terdiam sesaat sambil melihat Almira. Kemudian ia mengangguk, mengiyakan.
Nuning meraih bungkusan yang tadi sempat di letakkan Fandi di atas rak. Kemudian menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
__ADS_1
Keduanya pun makan dengan sesekali mencuri pandang. Tidak ada yang bicara karena hati mereka yang saling bicara.
Entah ini musibah atau berkah, setelah kekerasan yang dilakukan Siska terhadap Nuning, Fandi dan Nuning mulai merasa canggung dan malu-malu.
***
Semburat jingga senja tampak Indah dibalik kaca ruang dimana Almira di rawat. Pijarnya menerpa wajah balita yang sedang asyik bermain. Balita itu sudah dapat menggerak-gerakan tubuhnya meski belum seaktif biasanya. Sesekali tawanya terlihat ketika diajak bercanda oleh Nuning.
Roy dan Indah datang menjenguk di kala adzan maghrib berkumandang membelah langit. Fandi dan Roy pun menuju ke mushola rumah sakit untuk menjalankan kewajibannya. Indah sedang berhalangan, ia pun bersedia menjaga Almira menggantikan Nuning yang sedang melakukan tiga raka'atnya.
"Bro, apa sepupumu itu sudah menikah?" Tanya Fandi dengan tatapan lurus ke depan menelusuri lorong menuju ruangan Amira. Fandi mencari tahu lewat sahabatnya tentang status Nuning setelah mereka selesai melakukan salat berjamaah.
"Wah, sepertinya aku ketinggalan berita." Ujar Roy antusias.
"Apa boleh aku tahu? Bila ada kesempatan kita bisa jadi saudara."
"Jangankan menikah, kekasih saja dia tak punya, Bro."
"Begitukah? Berarti peluangku cukup besar ya."
"Tapi ada satu hal yang harus kamu pahami, Bro. Sepupuku itu tidak mengenal arti pacaran. Yang ia tahu ta'aruf lalu menikah itu saja."
"Itu bagus. Aku setuju." Jawab Fandi cepat dan tegas.
"Wah..., sahabatku ini sudah siap melepas masa dudanya rupanya. Hehehe..."
Tidak Fandi tanggapi candaan Roy ketika mereka nyaris tiba di depan pintu kamar rawat Almira.
Mengingat informasi yang baru saja Roy bagi, Fandi menyusun rencana untuk kelangsungan masa depannya.
"Waalaikumsalam..." Jawab tiga wanita dan yang satunya hanya diam saja.
Fandi melihat sekeliling ruangan itu. Ada Indah, Nuning ibunya dan juga Siska yang datang kembali. Fandi membuang nafas kasar melihat Siska, giginya terdengar bergemelutuk melihat Adik angkatnya itu. Fandi kemudian menoleh kepada ibunya dan mendekati wanita yang telah melahirkannya.
"Ibu.... kapan datang?"
"Belum lama. Ada hal penting juga yang ingin Ibu bahas sama kamu. Sakit apa cucuku Fandi? Mengapa kamu tidak mengabari Ibu?" Tanya Bu Naima khawatir.
Bukannya Fandi tidak ingin mengabari, hanya saja mengingat kondisi ibunya yang bisa saja unfal sewaktu-waktu membuat Fandi menghindari resiko bila terjadi itu.
"Almira sudah tidak apa-apa Bu. Dia kena step, sempat kejang-kejang namun dokter sudah mengatasi dan kondisinya sudah mulai membaik. Duduk dulu, Bu..."
Fandi mengarahkan ibunya untuk duduk di sofa dan Siska pun ikut duduk di samping ibunya. Fandi melirik tajam ke Siska yang tidak berbicara sedikitpun.
"Apa yang ingin Ibu katakan tadi?" Tanya Fandi.
Ibu Naima melihat sekitar masih ada Indah, Roy dan juga Nuning merasa sedikit tidak nyaman untuk berbicara. Fandi yang ikut melihat arah pandang ibunya, cukup peka akan keresahan sang Ibu.
"Kalian keluarlah dulu, Aku ingin berbicara secara pribadi." Pinta Fandi.
"Oke Bro, kami keluar dulu." Ujar Roy melangkah keluar diikuti Nuning dan juga indah.
Setelah pintu ditutup rapat, Bu Naima menghela nafas kasar dan ia pun mulai berbicara.
__ADS_1
"Fandi, kata Siska kamu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Ibu tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu Nak, jadi lah lelaki yang bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat."
Fandi membuang napas kasar. Dari tadi ia sudah menduga bahwa apa yang ingin Ibunya bicarakan pasti mengenai kehamilan Siska.
"Kamu harus bertanggung jawab, Fandi." Tegas sang Ibu.
"Aku ingin memastikan dulu anak yang dikandung oleh Siska itu anakku atau bukan Bu...."
"Mas kamu jangan seperti itu! Dia justru anakmu!"
"Aku tidak bisa mempercayai kata-katamu. Dan kamu pun pasti tahu, bukan aku lelaki pertama yang meniduri dirimu." Kata Fandi tajam.
Siska diam dan wajahnya berubah pias. Namun ia berusaha untuk menutupi rasa tegang dan takut dalam dirinya.
"Perutnya makin lama akan semakin membesar. Adikmu butuh seseorang untuk bertanggung jawab dan bisa saja itu anakmu, Fandi." Kata Ibu Naima. "Kalian bukan saudara sedarah, jadi Ibu tidak akan melarang pernikahan kalian. Bertanggung jawab lah." Ujar Bu Naima lagi.
"Bu, aku tidak bisa menikahinya! Aku tidak mencintainya!"
"Ini bukan pasal cinta Fandi, ini adalah soal tanggung jawabmu yang sudah melakukannya."
"Bu, aku dijebak olehnya dan ibu tahu itu! Aku masih memiliki bukti atas apa yang dilakukan Siska padaku."
Siska hanya mendengar perdebatan ibu dan anak itu dengan senyum yang ia sembunyikan.
"Ingatlah Fandi, Ibu mengajarkanmu sebagai seorang pria yang bertanggung jawab. Janganlah menyakiti wanita apalagi melakukan kekerasan kepadanya. Menikahlah dengan Siska. Perutnya akan semakin membesar Fandi. Menurutlah dan cobalah untuk menerima Adikmu meski kamu tidak mencintainya."
Kepala Fandy nyaris saja pecah mendengar permintaan ibunya. Ia menatap Siska tajam dan ingin sekali memberikan bogem mentah kepada Adiknya itu yang tampak tersenyum senang mendengar keputusan sang ibu.
"Baiklah. Tapi aku memiliki syarat!"
Senyum Siska memudar dan berubah menjadi tegang.
"Syarat apa Fandi? Kenapa menikah pun harus memiliki syarat?"
"Harus Bu! Karena aku masih belum tahu itu anakku atau bukan."
"Katakan apa syaratmu?"
"Aku akan menikahinya tapi juga aku ingin menikahi Nuning."
Siska meradang. Wanita itu sontak berdiri merasa tidak terima dengan apa yang Fandi ucapkan.
"Aku hamil anakmu Mas! Kenapa kamu juga harus menikah dengan wanita itu?! Pasti perempuan itu sudah menghasutmu kan?! Iya kan?!"
"Dia wanita baik-baik Siska! Dan aku telah jatuh cinta padanya. Jika dalam rumah tanggku denganmu tidak ada kebahagiaan, aku ingin memiliki kebahagiaan dengannya. Bukankah kamu hanya minta pertanggung jawaban? Aku akan tanggung jawab atas kehamilanmu tapi tidak memberikan cintaku untukmu!"
Bu Naima menghela nafas kasar atas apa yang dihadapi dalam keluarganya yang nyaris saja membuat kepalanya pecah dan mati berdiri. Fandi dan Siska terus saja berdebat, sedangkan Ibu Naima terdiam, tampak berpikir.
"Hentikan!" Perintah sang Ibu.
Fandi dan Siska pun terdiam.
"Baiklah, Fandi. Jika kamu ingin menikahi Nuning silahkan. Tapi kamu harus ingat sebagai seorang suami, kamu harus berlaku adil terhadap istri-istrimu baik itu nafkah lahir maupun nafkah batin."
__ADS_1
"Maaf Bu, untuk nafkah lahir aku akan berlaku adil kepada keduanya, tapi tidak terhadap nafkah batin!" Sudah aku katakan aku tidak mencintai Siska. Aku hanya akan bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya, tapi jika itu memang benar anakku. Bila hasil DNA terhadap anak yang dikandung Siska ternyata itu bukan anakku, maka aku akan menceraikannya. Dan itu pasti!"
Bersambung...