Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 114 Rencana Pindah


__ADS_3

Bab 114


Rencana Pindah


Beberapa tahun kemudian.


***


Tidak terasa sudah hampir 6 tahun usia pernikahanku dengan Roy. Memiliki Kirana yang kini telah berusia 4 tahunan, sungguh aku merasa bahagia.


Bahkan saat ini aku sedang mengandung anak kedua kami. Yang sebentar lagi diperkirakan akan lahir di bulan ini.


Seperti janjinya dulu, Roy benar-benar menepatinya hingga detik ini. Ia berusaha membahagiakan aku dan juga anak-anaknya.


"Ney, kamu yakin mau di sini saja, tidak menginap di rumah Umi?"


"Iya, Hon. Aku tidak enak merepotkan Umi."


"Apa perlu kita cari pengasuh saja nanti, takut kamu kerepotan mengurus anak-anak kita."


Aku berpikir sejenak. Memang lebih mudah jika memiliki seorang pengasuh. Tapi aku tidak ingin hal buruk menimpa dalam rumah tanggaku. Apalagi looks suamiku ini masih di gandrungi wanita-wanita di luar sana. Tidak, aku tidak mau sampai masa lalu terulang kembali.


"Tidak usah Hon. Aku yakin aku bisa menjaga anak-anak kita nanti."


"Kenapa Ney? Apa kamu takut aku macam-macam nanti?"


Suamiku ini cepat sekali dia menangkap jalan pikiranku.


"Iya Hon, itu juga salah satunya. Aku takut anak-anak kita salah asuh dan terjadi hal-hal buruk seperti video-video yang sering aku lihat."


"Hehehe, kamu terlalu jauh menyimpulkan sampai kesana Ney. Kita bisa mencari pengasuh yang sebaya dengan Umi. Yang banyak pengalamannya, dan yang pasti sangat membutuhkan pekerjaan. Lalu tidak mungkin kan aku terjerat pada nenek-nenek? Hehehe..."


Ah, benar juga. Tidak harus mencari pengasuh yang masih muda. Duh, aku jadi malu sudah berpikiran macam-macam duluan.


"Apa masih sempat Hon?"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." Jawab ku dan Roy serempak.


Tiba-tiba Umi datang bersama Aditya dan Abi. Lekas aku berusaha beranjak bangun dari duduk ku untuk menghampiri mertuaku dan menyalami serta mencium punggung tangan mereka.


"Duduk saja kamu In, tidak apa-apa." Ujar Umi seraya mendekat.


"Maaf Umi, jadi Umi dan Abi yang menghampiri ku." Kataku merasa tidak nyaman.


Ku sambut uluran tangan mereka dan mencium punggung tangan mereka dengan takzim.


"Tidak apa-apa, Umi tahu posisi kamu itu pasti susah duduk bangun. Jangan sungkan sama Umi."

__ADS_1


Benar-benar mertua yang sangat perhatian. Membuatku semakin menyayangi mereka seperti orang tua kandungku sendiri.


"Tadi sekilas Umi dengar kalian cari pengasuh? Kayaknya tidak perlu itu." Ujar Umi kembali.


"Maksudnya gimana Mi?"


Aku masih bingung untuk mencerna ucapan Umi.


"Kan ada Umi, Aditya sudah 9 tahun loh In, tidak terlalu merepotkan. Kirana juga cucu Umi yang manis dan kalem. Apa yang repot coba? Umi juga ingin menghabisan hari tua bersama cucu-cucu Umi."


Tuhan, bagaimana aku bisa membalas hati yang lembut dan penuh kasih sayang dari Ibu mertuaku ini? Hanya doa dan membalas kasih sayangnya yang bisa aku berikan kepada wanita yang telah melahirkan suamiku ini. Semoga Engkau selalu melindunginya dan memberikannya kesehatan untuknya, serta kebahagiaan di sepanjang hidupnya, dan tentunya kemudahan diakhirat kelak.


Aku terharu dan memeluk ibu mertuaku.


"Ish malah mewek, dah kayak Teguh aja kamu."


"Anak manja Umi jadi nambah satu dong." Ujar Roy terkekeh melihat dua wanita yang di cintainya itu.


"Tidak apa mau nambah satu, dua, sampe sepuluh yang manja sama Umi, Umi masih bisa nampung dan sayangi. 2 minggu lagi kalian pindah dulu ke rumah Umi sampe Indah lahiran seperti dulu." Ujar Umi.


"Tapi kan rumah jadi sempit Mi." Jawab Roy.


"Besok ada tukang yang merehab rumah. Mau nambah majang lagi kebelakang. Jadi di habiskan tanahnya mentok sampai pagar tembok rumah. Abi mau bikin satu kamar lagi sama ruang untuk cucu-cucunya main." Jelas Umi.


"Mau Roy tambahin tidak Bi, biaya bangunnya?"


"Kalau begitu, fasilitas kamar sama ruang anak-anak biar Roy saja yang isi ya Bi." Pintaku.


Sungguh aku merasa tidak nyaman, Umi dan Abi sudah begitu baik pada kami dan kami belum bisa membalas kebaikannya. Yah, walau pun Abi dan Umi hidup berkecukupan tapi setidaknya aku tidak ingin terlalu mengandalkan orang tua, apalagi mereka masih bekerja keras menjelang tua.


Sedikit nyeri kurasa di perut secara tiba-tiba. Perlahan aku mengusap perutku yang membuncit besar. Aku pun duduk bersandar di sofa di apit Umi dan juga suamiku yang sedang asik bercengkerama.


"Abi mu habis jual tanah Roy, duitnya itu dibangun buat nambah luas rumah sama bantuin Adikmu mau buat firma katanya sama teman-temannya. Nah sebagian sisanya buat biaya brojol cucu sama keperluan-keperluannya nanti." Jelas Umi.


Teguh yang telah bekerja sebagai seorang pengacara memang pernah mendiskusikan rencananya kepada kami. Dan Roy pun sudah mulai menyiapkan dana untuk Adiknya. Tapi ternyata sudah ke duluan oleh Abi.


"Padahal tidak apa-apa Bi. Roy juga masih punya simpanan tabungan yang cukup."


"Itu simpan saja buat hari tua kalian nanti. Umi dan Abi sudah hidup berkecukupan. Dan untuk apa harta di simpan banyak-banyak." Kata Umi lagi.


"Masih ada dua kamvling tanah masing-masing atas nama kamu dan Teguh. Jika kalian memerlukannya suatu hari nanti." Timpal Abi.


"Tabungan Umi sama Abi masih ada? Kalau tidak ada biar Roy isiin ya?" Ujar Roy.


"Hehehe, simpan saja Roy. Umi sama Abi masih punya simpanan. Kan toko bangunan sama toko pakaian Umi masih jalan. Dan rencananya Umi sama Abi mau berangkat Umroh, tiga bulan lagi bareng besan."


"Loh, sama Emak dan Ayah juga Mi?"


Aku terkejut mendengar apa yang Umi sampaikan karena Emak dan Ayah belum ada mengabari ku akan hal ini.

__ADS_1


"Umi keceplosan kan." Kata Abi.


"Duh, Umi lupa Bi."


"Jadi beneran Umi sama Abi umroh barengan Emak dan Ayah di kampung?" Kali ini Roy yang bertanya.


"Kamu tahu kan Roy, Umi pernah bilang pengen menikmati hidup seperti di kampung besan? Ini baru rencana, Umi sama Abi akan tinggal di kampung besan. Besan memberikan sebidang tanah untuk dibangun rumah tempat Umi dan Abi tinggal nanti. Dan sebagai balas budi itu, Umi dan Abi membiayai umrohnya besan."


Aku tidak menyangka ternyata orang tuaku dan mertuaku saling berkomunikasi tanpa aku ketahui. Dan mereka betul-betul mempererat tali silaturahmi. Sungguh aku merasa bersyukur luar biasa.


"Wah, kenapa bisa kebetulan begini."


Kata suamiku yang kembali membuat ku bingung.


"Kami akan membuka kantor cabang di Kalimantan Umi. Masih perencanaan, tapi kalau begini kayaknya Roy oke in aja nih. Biar kantor disini Fandi yang urus, dan Roy di Kalimantan. Jadi bisa deket bareng Abi, Umi, Emak dan Ayah." Ujar suamiku yang tampak senang.


"Umi sama Abi apa tidak sayang meninggalkan semua disini dan pindah ke Kalimantan?" Tanya ku.


"Umi dan Abi sudah tua, pengen menikmati hidup kumpul bersama keluarga. Teguh yang bekerja di Jakarta membuat Umi sadar, betapa kesepiannya besan Umi di hari tua mereka. Umi yang masih ada kalian aja merasa kurang tanpa Teguh. Apalagi orang tuamu hanya hanya berdua saja di sana Indah. Kalau memang tidak ada halangan, tahun depan Umi sama Abi akan pindah ke Kalimantan. Toko Abi akan di urus Om Wawan mu. Dan Toko Umi akan di urus sama Tya." Jelas Umi.


Aku terharu, sampai mata ini kembali berkaca-kaca. Bahkan mertuaku sampai memikirkan kedua orang tuaku.


Air mata meleleh di pipi tanpa di minta. Bukan karena sedih tapi rasa bahagia memiliki mertua yang baiknya tiada tara.


"Aduh..." Ringisku ketika perutku kembali terasa sakit.


Masih ku dengar Umi berbicara dengan suamiku tentang rencana kepindahan mereka. Tapi tubuhku sudah mulai merasa tidak nyaman dengan keringat dingin yang mulai keluar dari lubang pori-poriku.


Rasa sakit yang mendera kian intens dan menyebabkankan aku lebih keras untuk meringis.


"Aahhh...."


"Kenapa sayang?" Tanya Roy langsung memegang tubuhku.


"Hon, perutku sakit...."


"Hah, apa mau lahiran sekarang?" Umi yang bertanya.


"Sudah cepat, lebih baik bawa ke rumah sakit dulu." Ujar Abi.


"Iya sana Roy, nanti Kirana sama Umi dan Abi menyusul kesana. Biar Umi siapkan perlengkapan bayi yang mau dibawa."


"Sudah Roy siapkan Mi. Ada tas besar di dekat lemari pakaian Roy dan Indah. Tinggal angkut saja."


"Ya sudah, Umi ambil dulu. Kamu duluan saja ke RS nya."


Aku pun di gendong Roy ala bridal menuju mobil dan di dudukan perlahan disana. Dengan cepat Roy pun segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah kami menuju rumah sakit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2