
Bab 41
Sebuah Pilihan
Mas Heru sudah di penjara dengan putusan hasil sidang pidana seminggu yang lalu, ia di jatuhi hukuman maksimal 5 tahun penjara. Tetapi, hampir setiap hari Wina dan mantan Ibu mertua mengunjungi kantorku untuk memohon padaku mencabut laporanku atas kejahatan Mas Heru.
Tidak ada kapoknya mereka datang walau terus di usir dari kantor ini. Padahal sudah ku pertegas hal itu percuma saja karena Hakim telah mengetuk palunya.
Entah urat malu mereka ada dimana. Muka mereka begitu tebal hingga tidak ada sedikitpun rasa malu.
Tidak semua harta benda itu aku ambil, hak Mas Heru masih tetap ku berikan sesuai keputusan Hakim Pengadilan Agama, apakah masih belum cukup?!
Yah, untuk mereka memang tidak akan pernah ada kata cukup. Karena mereka tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah mereka miliki.
Tapi jujur saja, aku malu dengan kelakuan mereka yang menganggu ketenangan kantor dan para karyawan.
"Indah bisa ke ruangan saya sebentar?"
Deg, jantungku berdegup dengan keras ketika Pak Adam memintaku ke ruangannya. Apalagi wajahnya terlihat serius. Baru kali ini aku melihat wajah Pak Adam seperti itu terhadap bawahannya dan itu pun padaku.
"Baik Pak."
Aku beranjak dari dudukku menuju ruangan Pak Adam. Memegang dadaku sesaat untuk menenangkan hatiku sebelum masuk ke ruangan Pak Adam.
"Permisi Pak?" Kataku sebelum masuk ruangan.
"Masuklah dan silahkan duduk."
"Baik Pak."
Aku duduk di kursi di depan meja kerja Pak Adam.
"Indah..."
"Ya Pak?"
"Maaf sebelumnya kalau saya berbuat lancang. Saya berencana akan melaporkan mereka jika mereka terus-terus berbuat keributan di kantor ini."
Ternyata benar dugaanku, aku di panggil karena berkaitan dengan keributan yang dibuat oleh mantan Ibu mertua ku dan Wina.
Aku menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Pak Adam.
"Saya tidak keberatan Pak. Silahkan lakukan saja, karena saya sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Justru saya yang berterima kasih, jika itu di lakukan suasana kantor menjadi tenaga begitu pun dengan saya." Ujarku.
"Apa mereka juga begini di tempat tinggalmu?"
"Tidak Pak, mereka tidak tahu dimana kosan saya."
"Kamu ngekos?" Tanya Pak Adam, seakan-akan merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Memang untuk karyawan sepertiku yang sudah bekerja selama 4 tahun disini pasti pastilah akan menjadi pertanyaan kalau sampai tidak memiliki rumah. Karena sejatinya perusahan tempat ku bekerja adalah perusahaan kontraktor yang cukup sering memenangkan tender.
"Iya Pak, karena rumah saya sudah mereka jual."
"Hmm...." Pak Adam membuang napas kasar dengan dahi berkerut menatapku serius.
Sesaat kami terdiam. Aku cukup gugup di perhatikan atasanku ini dengan sangat serius hingga membuatku tertunduk.
"Apa kamu mau pindah ke kantor cabang Indah? Atau apa kamu mau mencoba mengajukan KPR (kredit Perumahan Rakyat) lewat kantor?"
__ADS_1
Aku terkesiap mendengar tawaran yang diajukan Pak Adam padaku. Sungguh aku tidak menyangka beliau begitu peduli atas masalah yang aku hadapi.
"Saya hanya mencoba menawarkan kemudahan dan kenyamanan untuk karyawan disini. Agar mereka lebih baik lagi dalam bekerja."
Aku tersenyum, sungguh atasan yang sangat berempati dan begitu bijak dalam membangun kenyamanan untuk kepentingan bersama.
"Boleh saya pikirkan dulu Pak?"
"Tentu saja Indah."
"Apa ada lagi yang ingin disampaikan Pak?" Tanyaku.
"Tidak ada. Kamu boleh kembali bekerja."
"Baik Pak. Sekali lagi terima kasih untuk saran yang sudah bapak berikan."
"Ya."
"Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan."
Aku pun beranjak dari dudukku untuk kembali keruanganku dan duduk di kursi kerjaku.
"Ada apa?" Tanya Rara penasaran.
"Pak Adam menawarkan ku sebuah pilihan."
"Pilihan?" Tanya Rara bingung.
"Menurutmu apa aku pindah ke kantor cabang saja ya?"
"Kamu jangan main-main In, kantor cabang itu jauh di Makassar sana!"
"Aku tahu. Tapi rasanya aku ingin memulai kehidupan baru tanpa tekanan dari keluarga Mas Heru. Kamu lihat sendiri kan? Mereka tidak pernah merasa telah melakukan kesalahan. Hampir setiap hari datang ke kantor, dan aku sudah sangat malu terhadap karyawan lain.
"Iya juga sih. Tapi Makassar itu benar-benar jauh In, apa kamu tidak memikirkan orang tuamu di kampung. Kasihan mereka kalau kamu meninggalkan mereka jauh di sana."
Ucapan Rara benar. Ayah dan Ibuku semakin menua. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka untuk bekerja jauh di sana. Bisa-bisa aku di suruh berhenti bekerja oleh Ayahku.
"Apa aku terima saja pilihan yang kedua?" Tanya ku kepada Rara.
"Apa itu?"
"Pak Adam menawarkan aku untuk mengajukan KPR lewat kantor."
"Nah, mending itu saja. Biar aku tetap ada temannya di sini." Ujar Rara menyarankan.
Aku tersenyum, namun masih mempertimbangkan keputusan apa yang akan aku ambil nanti. Sebuah keputusan yang berat tentunya jika aku harus bekerja jauh dari orang tua. Bukan karena aku tidak bisa mandiri, tetapi mengingat usia orang tuaku yang tak lagi muda, aku takut sewaktu-waktu mereka sakit dan aku jauh disana.
Untuk sebuah rumah pun aku bisa mengajukan KPR dari hasil rumah yang sudah aku jual beserta isinya. Rumah yang baru saja di beli Mas Heru dan Wina sudah aku jual kembali karena hasil sidang memberikan aku kuasa untuk membagi sesuai keputusan sidang Pengadilan Agama.
Sisa hasil penjualan rumah sebelumnya masih ada di rekening Mas Heru, ku anggap itu sebagai hak pembagian untuknya di tambah 30% hasil penjualan rumah yang baru, ku rasa itu sudah lebih dari cukup.
Tabungan direkening ku susah cukup untuk membeli rumah KPR secara cash hanya saja aku belum ingin. Aku masih trauma dengan apa yang pernah Mas Heru lakukan padaku. Aku takut jika aku terlihat memiliki banyak harta, para pria yang hanya ingin memanfaatkan aku mencoba untuk mendekatiku.
Bukan perkara mudah untukku melewati semua yang sudah terjadi selama ini. Bahkan aku rasanya takut untuk memulai mencintai seseorang lagi.
***
__ADS_1
Jam istirahat kantor pun tiba. Rara mengajak ku makan di luar bersama Dani. Sejak pertemuan kerja sama waktu itu, Rara ternyata gencar mendekati Dani. Hingga sekarang hubungan mereka sudah naik ke tahap pengenalan yang lebih dekat alias pacaran kata anak muda.
Bertemu di setiap jam makan siang dan menikmati makan siang bersama mengingatkan ku akan kenanganku bersama Mas Heru di kala kami masih dalam tahap hubungan yang sama seperti Rara dan Dani.
"Maaf Ra, aku ingin di kantin kantor saja." Tolakku tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.
"Yah, tidak seru dong!" Protes Rara.
"Masa iya aku mau jadi obat nyamuk di antara kalian?"
"Hehehe iya juga sih. Tapi kalau makan beramaikan lebih seru In."
"Lain kali aja ya. Kali ini aku mau lakuin jualan ibu kantin kantor ini aja. Biar omzetnya nambah. Hehehe..."
"Bisa aja kamu ngelesnya."
Kami akhirnya berpisah di depan ruang kerja menuju lorong yang berbeda. Rara menuju ke parkiran sedangkan aku menuju ke belakang kantor dimana terdapat kantin kantor disana.
Di luar dugaan, ternyata kantin cukup ramai siang itu. Aku melihat menu yang ada di atas meja panjang dimana aku duduk. Sup iga dengan nasi putih serta es jeruk menjadi pilihan ku.
"Sendirian Bu Indah?" Sapa salah seorang rekan kerjaku.
"Bu Sinta, iya nih lagi pengen makan sup iga Bu Yayuk." Jawabku sambil tersenyum.
"Boleh saya bergabung dengan Ibu?"
"Tentu saja Bu, silahkan."
Rekan kerjaku yang bernama Sinta ini duduk berhadapan dengan ku. Lalu kemudian memesan menu makan siangnya kepada pelayan kantin.
"Ngomong-ngomong Bu Indah, itu siapa sih yang suka bikin ribut di kantor teriak-teriak nama Ibu. Katanya keluarga mantan suami ya?"
Deg, aku paling risih jika di awal bicara sudah menanyakan masalah pribadiku. Memang benar sedikit banyak ini karenaku sehingga karyawan disini menjadi terganggu. Tapi, apa tidak ada pembicaraan lain yang bisa lebih bermakna dari urusan pribadi orang lain?
"Begitu lah Bu. Seperti yang sudah terjadi disini." Jawabku sekenanya.
"Kenapa masih berurusan sama mereka sih Bu, coba saja di turuti kemauan mereka pasti beres dan tidak akan membuat keributan di kantor ini."
Aku menyesal tidak mengindahkan ajak Rara untuk makan siang bersamanya. Lebih baik aku menjadi obat nyamuk ketimbang harus menjawab pertanyaan warga julid seperti rekan kerjaku ini.
Orang-orang hanya bisa mengkritik seolah pendapat dan pandangannya tentang apa yang aku hadapi cukup mudah jika aku melakukan begini dan begitu. Namun mereka tidak tahu begitu banyak yang harus aku pertimbangan bukan semata-mata harus menuruti emosi saja.
"Ya begitu lah Bu." Jawab ku yang tidak nyambung, sengaja untuk tidak memperpanjang pembicaraan kami yang membuatku jengah.
"Ih, Bu Indah ini. Dikasi masukan kok kayak tidak suka begitu. Pantas saja di benci sama mertua kalau modelan begini." Sindirnya yang merasa diabaikan dengan wajah masam.
Aku menghela napas panjang. Tidak ingin lebih lama berada di dekatnya, segera ku habiskan makan siangku tanpa suara. Lalu bergegas membayar begitu telah selesai.
Keadaan kantor yang seperti ini sudah tidak membuatku nyaman karena ulah mantan Ibu mertua dan Wina yang kerap datang memberi masalah. Ini baru satu orang seperti Sinta, dan kurasa masih banyak Sinta-sinta lain yang mungkin saja sudah jenuh melihat keributan kantor karenaku.
Sepertinya tawaran untuk pindah ke kantor cabang akan aku bicarakan kepada kedua orang tua ku. Mungkin ini jalan sebagai mana awal mula aku memulai kehidupan baru setelah menjadi janda.
Bersambung...
*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊
__ADS_1