Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 64 Perasaan Apa ini


__ADS_3

Bab 64


Perasaan Apa Ini


Pemakaman baru saja berlalu, namun aku sesekali masih meneteskan air mata menghadapi kenyataan yang terjadi. Mbak Mira sudah di kebumikan, beristirahat ditempat peristirahatan terakhirnya.


Mas Fandi masih setia menunggui makam Mbak Mira hingga satu persatu orang-orang mulai melangkah pergi. Tidak jauh dari Mas Fandi, juga ada seorang wanita yang setia menunggunya.


Wanita itu adalah wanita yang menggendong Almira. Wanita yang ku rasa aneh gelagatnya.


"Kita tunggu sebentar lagi, aku takut terjadi apa-apa sama Fandi."


Aku mengangguk, menjawab saran Roy. Karena sepertinya Mas Fandi sangat terpukul kehilangan Mbak Mira.


Mas Fandi mulai beranjak di ikuti oleh wanita itu. Ia berjalan mendekati kami.


"Sabar Bro. Kuatkan hati dan pikiranmu." Ujar Roy menepuk bahu Mas Fandi.


Mas Fandi mengangguk.


"Indah, setelah 7 hari nanti, kita bicarakan mengenai permintaan Mira padamu."


"Iya Mas." Jawabku.


Aku tidak mungkin selamanya berpura-pura tidak ingat akan permintaan terakhir Mbak Mira. Cepat atau lambat hal itu pasti terjadi.


"Permintaan apa Mas? Kok aku tidak tahu?" Tanya wanita itu.


"Siska, perkenalkan ini Indah. Dia sahabat terdekat Kakak mu Mira."


"Indah..." Aku mengulurkan tanganku mengajak wanita yang di panggil siska itu untuk berkenalan.


"Siska." Jawabnya meraih tanganku.


"Dia Adikku Indah."


"Oh, iya Mas."


Tampak wanita itu seperti tidak suka Mas Fandi menyematkan kata adik padanya.


"Mas belum jawab pertanyaanku. Mbak Mira minta apa memangnya sama dia." Tanya Siska sambil menunjuk ku dengan dagunya.


Ada apa ya? Kenapa dengan Adik Mas Fandi ini?


"Siska, ini urusanku dengan Indah. Kamu pulanglah dulu."


"Tidak Mas, aku mau menemani Mas. Aku tidak mau Mas kenapa-kenapa dalam keadaan sedih begini."


Mas Fandi tampak menghela napas tak kuasa berdebat dengan Siska, Adiknya.


"Datanglah acara tahlilan 3 hari dan 7 hari nanti." Ujar Mas Fandi kepada kami berdua, aku dan Roy.


Roy mengangguk begitu juga aku.

__ADS_1


Kemudian Mas Fandi mulai melangkah pergi di gandeng oleh Siska Adiknya.


Siska sempat melirikku dengan sinis. Ada apa dengan Wanita itu? Apa aku telah berbuat salah padanya?


"Dia adik angkat Fandi. Orang tua Fandi mengajaknya kerumah ketika menemukannya waktu usia 5 tahun. Kata Fandi, kemungkinan dulu dia di buang oleh orang tuanya dengan meninggalkannya di tepi di jalan yang di kelilingi hutan begitu saja."


Hatiku terenyuh mendengar kenyataan akan diri Siska. Tidak menyangka di balik sikap ketidak sukaannya kepadaku, ia miliki masa kecil yang kurang bahagia.


"Kita pulang?" Ajak Roy kemudian.


"Iya, aku mau mengambil motorku untuk pergi ketempat kerja."


"Biar aku antar."


"Tapi..."


"Jangan menolak."


Meski perlakukan Roy membuatku nyaman, tapi aku merasa tidak enak atas kebaikan Roy padaku. Padahal aku akan menikah dengan sahabatnya. Tapi ia masih peduli padaku walau tidak lagi menggombal seperti dulu.


Kenapa dengan sikap Roy seperti ini membuatku malah semakin betah berada di dekatnya. Padahal kalau dulu aku sangat takut padanya, bahkan aku ingin menghindar rasanya.


"Nnti acara 3 hari dan 7 hari kita pergi bersama, aku akan menjemputmu. Lalu soal proyeknya Fandi selanjutnya, hubungi saja aku. Sementara aku yang handle semasa berdukanya."


"Baiklah."


Roy pun melajukan mobil membelah jalan menuju kantor tempatku bekerja. Jalanan yang mulai macet membuat perjalanan kami menjadi sedikit lama.


"Uuhh..."


"Kamu kenapa?" Tanya Roy melirik ke arahku sedikit cemas.


"Tidak apa-apa." Jawab aku berkilah.


"Pasti ada apa-apa." Ujar Roy yang menyeka keringat dingin di pelipisku dengan jarinya.


Aku tidak dapat menahan sakit di perutku hingga aku melenguh kembali.


"Magh ku kambuh." Ujarku tersadar di jok mobil sambil memejamkan mata menahan sakit yang mendera.


Roy sedikit melajukan mobilnya ketika jalan mulai lenggang. Kemudian ia berhenti di sebuah Apotek di pinggir jalan.


Aku mengamati apa yang lelaki itu lakukan. Tidak lama ia keluar dengan membawa sebuah bungkusan.


"Kita cari makan dulu, ini hampir menjelang siang."


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Perhatian lelaki ini sungguh membuatku merasa aman dan nyaman. Aku menurut saja apa yang sudah ia rencanakan. Kami pun berhenti di sebuah kafe yang menawarkan makanan.


Roy membukakan pintu mobil untukku. Setelah aku keluar dari mobil, ia menggenggam tanganku untuk melangkah bersama masuk ke dalam.


Aku berdebar-debar, entah ini karena pengaruh sakit magh yang kurasa atau karena genggaman tangan Roy yang hangat.


"Tanganmu dingin."

__ADS_1


Bukankah ini salah? Roy dan aku sama-sama tahu aku akan menikah dengan Fandi. Tetapi sikap Roy yang hangat kepadaku malah membuatku nyaman. Dan ia terus memberi perhatian walau tanpa senyum menggoda yang sering ia tujukan dulu.


Roy memesankan beberapa makanan untuk kami.


"Minum dulu obat mu sebelum makan." Ujar lelaki itu menyodorkan bungkusan obat yang tadi ia beli di Apotek.


Aku meminum obat sirup yang di ruangkan oleh Roy ke wadahnya, lalu meminum air mineral yang sudah di bukakan tutupnya oleh Roy.


Apa aku boleh menerima kebaikan Roy seperti ini? Aku sungguh terlena akan sikapnya. Aku menjadi lemah karenanya perhatiannya.


Makanan pun datang setelah 15 menit kami menunggu. Aku dan Roy pun menikmati makan siang itu tanpa banyak bicara. Lalu setelah itu, sesuai janjinya ia mengantarkan aku pergi ke kantor.


***


Malam tiga hari pun tiba. Kami Tiba di kediaman Mas Fandi sebelum acara tahlilan di mulai. Roy duduk diantara kaum pria dan aku pun duduk diantara kaum wanita.


Ku lihat Almira sedang di gendong wanita yang bernama Siska. Aku pun mendekati mereka karena begitu merindukan malaikat kecil itu.


Siska bangun dari duduknya melangkah menjauh dari keramaian orang-orang. Ia masuk ke ruangan lainnya yang tidak terlalu ramai.


Ah, mungkin si kecil merasa terganggu hingga ia berpindah tempat. Aku pun mengikuti mereka dan berjalan mendekat.


"Assalamualaikum, Siska." Salamku menyapa.


"Waalaikumsalam. Mau apa?" Tanyanya sedikit ketus.


Hatiku sempat merasa tidak nyaman dengan nada bicara Siska.


"Boleh aku menggendong Almira?"


"Buat apa? Almira sedang tidur. Nanti dia terbangun lagi."


Ah, aku merasa wanita ini benar-benar tidak menyukaiku dari caranya bersikap dan cara bicaranya yang sedikit kasar.


"Aku rindu ingin melihat malaikat kecil ini." Kataku jujur.


"Jangan sok carmuk sama Mas Fandi ya!"


Aku mengerutkan keningku di tuduh demikian.


"Carmuk? Maksudnya gimana ya?" Tanya ku yang masih bisa menahan sabar.


"Halah, kamu yang paling tahu sisi dirimu! Janganlah sok polos begitu."


"Bener loh ini saya tidak mengerti. Maksudnya apa?"


Aku masih bersabar menghadapi Adik Mas Fandi yang menurutku aneh dengan sikapnya yang protektif terhadap Mas Fandi.


"Kamu pasti mau mau menggantikan si Mira itu kan?"


Astagfirullah, kenapa wanita ini begitu kasar seperti tidak menyukai alm. Mbak Mira? Lalu dari mana dia tahu kalau aku di minta Mbak Mira merawat anak dan suaminya. Apa Mas Fandi sudah cerita kepada wanita ini ya?


"Jangan mimpi!" Ujar wanita itu lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2