Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 102 Ajakan Menikah


__ADS_3

Bab 102


Ajakan Menikah


(POV Nuning)


Perdebatan antara ibu dan anak itu terdengar jelas di telingaku. Walau pun pintu ruangan itu sudah ditutup rapat, masih terdengar suara-suara mereka dan menyebut diriku.


"Aku akan menikahinya tapi juga aku ingin menikahi Nuning."


Walau tidak begitu nyaring, tapi tetap saja membuat aku terkejut mendengar ucapan Pak Fandi yang katanya ingin menikahiku juga. Benarkah itu? Lalu bagaimana dengan Siska?


"Aku hamil anakmu Mas! Kenapa kamu juga harus menikah dengan wanita itu?! Pasti perempuan itu sudah menghasutmu kan?! Iya kan?!"


Benar saja, Siska pasti menentang keinginan Pak Fandi. Aku saja nyaris tidak percaya dengan keinginan Pak Fandi yang ingin memperistri dua orang sekaligus. Oh tidak, aku tidak siap di madu.


"Dia wanita baik-baik Siska! Dan aku telah jatuh cinta padanya. Jika dalam rumah tangga aku tidak ada kebahagiaan padamu, aku ingin memiliki kebahagiaan dengannya. Bukankah kamu hanya minta pertanggung jawaban? Aku akan tanggung jawab atas kehamilanmu tapi tidak memberikan cintaku untukmu!"


Hatiku berdebar-debar mendengar pengakuan Pak Fandi secara tidak langsung. Benarkah itu, bahwa dia telah jatuh cinta padaku? Sejak kapan?


Ah, malu sekali rasanya. Apalagi Indah dan Roy tampak senyum-senyum melihat ke arahku, mereka pasti juga mendengarkan apa yang aku dengar.


"Baiklah, Fandi. Jika kamu ingin menikahi Nuning silahkan. Tapi kamu harus ingat sebagai seorang suami, kamu harus berlaku adil terhadap istri-istrimu baik itu nafkah lahir maupun nafkah batin."


Ternyata Ibu Pak Fandi menyetujui permintaan Pak Fandi yang terkesan memaksa menurutku. Perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan. Apalagi ini menyangkut hidup bersama dalam satu atap. Ditambah memiliki isteri seperti seorang Siska, tentunya akan menjadi tekanan batin buat Pak Fandi. Tapi bila pernikahan ini terjadi, bukankah kami berdua akan menjadi kutub Utara dan Selatan yang saling bertentangan?


Astagfirullah, sepertinya aku terlalu ikut campur urusan mereka. Tetapi aku juga akhirnya terlibat disini jika Pak Fandi benar-benar menikahiku. Bagaimana kehidupan kami kelak berada satu atap bersama? Tidak bisa aku bayangkan. Tapi aku juga tidak bisa melihat Almira diperlakukan buruk oleh Siska kelak. Sungguh kasihan balita itu.


Ah, dilema..


"Maaf Bu, untuk nafkah lahir aku akan berlaku adil kepada keduanya, tapi tidak terhadap nafkah batin!" Sudah aku katakan aku tidak mencintai Siska. Aku hanya akan bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya, tapi jika itu memang benar anakku. Bila hasil DNA terhadap anak yang dikandung Siska ternyata itu bukan anakku, maka aku akan menceraikannya. Dan itu pasti!"


"Tidak bisa begitu Mas!" Suara Siska terdengar tidak terima dengan keputusan yang dibuat oleh Pak Fandi.


"Sudahlah Siska. Dengarkan apa mau Fandi. Kamu mau hamil dan tidak ada yang bertanggung jawab?!"


"Tapi Bu... Aku tidak ingin berbagi suami."

__ADS_1


Sama, aku juga tidak ingin berbagi suami. Aku bukan wanita yang mudah rela untuk membagi apa yang aku miliki terutama pasangan hidup.


"Sudahlah kalau kamu tidak mau! Biar saja perutmu membesar tidak ada Bapaknya. Jangan harap kamu keluar rumah lagi setelah ini!"


"Buuuu...." Suara Siska terdengar merengek kepada sang Ibu.


"Ayo pulang! Jangan buat keributan disini! Malu di dengar orang." Ujar Bu Naima kembali.


"Ceklek!!" Pintu terbuka.


Aku, Indah dan Roy sempat terkejut karena Bu Naima tiba-tiba keluar dari ruangan itu dengan wajah galak. Lalu sedetik kemudian berubah tenang ketika melihatku.


"Nuning, lain waktu Ibu ingin bicara denganmu. Boleh?" Tanyanya.


"Boleh Bu..." Jawabku.


Bu Naima mengangguk lalu tersenyum kepadaku.


"Buat apa sih Bu ngomong sama dia?!"


"Diem kamu! Ayo pulang!!" Sergah Bu Naima kepada Siska.


Merengut, Siska mengikuti langkah kaki ibunya menyusuri lorong meninggalkan ruangan VIP kamar Almira dirawat.


Setelah kepergian Ibunya dan Siska, Pak Fandi lalu ngajak kami masuk kembali ke dalam.


"Jadi Siska hamil? Apa itu anakmu Bro? Wah, top cer juga kamu Bro."


"Entahlah aku sendiri ragu dia hamil anakku."


"Pantas saja kau ingin melakukan tes DNA. Aku punya kenalan yang mungkin bisa membantumu Bro." Ujar Roy.


"Benarkah? bicarakan lagi nanti itu berdua. Lebih dulu Aku ingin membicarakan rencanaku ke depannya dengan Nuning." Kata Pak Fandi sambil menatapku.


Jantungku langsung berdebar-debar seperti genderang yang bertalu-talu.


"Saya Pak?" Tanyaku yang tidak berbobot karena jelas tadi Pak Fandi menyebut namaku.

__ADS_1


Hanya saja hari ini masih tidak percaya dengan apa yang belum lama aku dengar.


"Iya kamu. Mungkin kamu sedikit banyak sudah mendengar percakapan kami tadi."


Memang benar aku sudah mendengar percakapan mereka tapi tidak menyangka Pak Fandi akan mengajakku bicara secepat ini.


"Mumpung ada Roy dan indah, aku juga ingin mendengar pendapat kalian. Ayo, duduklah." Ajak Pak Fandi.


Kami bertiga pun duduk di sofa berbentuk L dalam ruangan itu. Rasanya hatiku berdebar-debar tak menentu. Apa kira-kira yang ingin dibicarakan oleh Pak Pandi. Sudah pasti menjurus ke arah rencananya untuk menikahiku, tapi tetap saja hati ini masih berdebar-debar menunggu kalimat yang akan ia ucapkan dari bibirnya.


"Nuning, aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Sebenarnya aku juga ingin lebih lama mengenalmu dulu. Hanya saja situasi dan keadaan memaksaku untuk melakukannya dengan cepat. Kalian tahu sendiri, istriku belum lama meninggal, belum hampir 1 tahun. Pada dasarnya aku belum ingin menikah lagi. Tapi oleh Siska, aku jadi terpaksa melakukannya. Tapi mengenai dirimu, aku lebih ingin menikah denganmu tanpa rasa terpaksa. Karena aku mulai merasakan nyaman terhadapmu. Bisakah kita mengenal lebih dalam dan lebih dekat setelah kita menikah nanti? Anggap saja kita berpacaran setelah menikah. Bukankah itu manis?"


Aku memang tidak menyukai yang namanya pacaran. Aku memilih menikah dan berpacaran setelahnya, adalah keinginanku sejak aku merasa cukup dewasa. Tapi, apa ini benar-benar tidak terlalu cepat? Apa kata orang-orang nanti? Pak Fandi baru saja kehilangan istrinya dan sudah menikah lagi.


Sungguh aku bingung. Rasanya aku ingin minta waktu untuk berpikir.


"Kamu terlihat bingung Mbak, boleh aku ceritakan satu hal yang terjadi dalam hidup kami bertiga?" Ujar Roy mencoba membuka pandangan sepupunya.


"Maksudnya siapa Roy? Kalian begitu ya?"


"Iya, aku, Indah dan juga Fandi. Pada awalnya yang akan menikah dengan Indah adalah Fandi atas permintaan mendiang dan istrinya. Tapi karena Siska, pernikahan itu batal. Jadi aku yang menggantikan Fandi menikahi Indah. Namun sebelum itu, aku memang telah jatuh cinta pada Ney ku."


Di sela-sela menjelaskan sempat-sempatnya Roy menggoda istrinya sambil mengedipkan matanya sebelah menatap istrinya. Dasar bucin...


Aku cukup terkejut dan tidak menyangka ada kejadian seperti itu. Tadinya aku pikir Indah telah hamil duluan, sehingga mereka melakukan pernikahan secara mendadak tanpa memberitahu keluarga yang lain. Rupanya seperti ini kisah yang terjadi. Aku sudah berpikiran buruk terhadap mereka.


"Tapi Siska bagaimana?" Tanya ku.


"Siska nanti akan menjadi urusanku. Roy mungkin akan membantu rencanaku. Kalau kamu sudah setuju, aku akan melamarmu kepada orang tuamu."Ujar Fandi tegas.


"Bisakah saya minta waktu untuk berpikir beberapa hari Pak?" Ini bukan keputusan yang mudah, apalagi akan dijalani seumur hidup." Ujarku.


"Tentu saja boleh, bahkan kamu boleh menolak jika kamu memang merasa berat." Kata Fandi meski hatinya berharap banyak.


Aku menggangguk, tapi tak mampu berkata apa-apa. Jujur saja hati ini tiada henti berdebar hingga aku tidak merasa tenang karena pikiranku masih kalut dengan apa yang aku dengar. Jika boleh digambarkan hati ini campur aduk rasanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2