
Bab 51
Ketahuan
(POV Author)
Wina baru saja pulang dari pulang setelah waktu menunjukan pukul 17.25. Seperti biasa, ia terkadang tersenyum sendiri dan itu membuat Ratih curiga ketika melihatnya.
Ratih memperhatikan Wina yang hendak masuk ke kamarnya. Ratih mempertajam penglihatannya ketika menemukan berkas kemerahan di leher Wina.
Jejak kemerahan itu membuat Ratih memiliki dua dugaan. Bisa saja itu bekas gigitan nyamuk atau jejak dari seseorang yang sengaja di tinggalkan disana.
Ratih mendekat untuk memastikan. Namun setelah mendekat, ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir ketika angin menerpa dan mengenai Wina, disitu lah Ratih mencium jejak wangi parfum yang sangat ia kenal.
Dalam hati dan pikiran Ratih mulia curiga, apakah mungkin Wina telah melakukan sesuatu di belakangnya. Tapi bila melihat perut Wina yang semakin membuncit rasanya tidak masuk akal. Namun kelakuan Wina yang akhir-akhir ini sedikit berubah membuat Ratih mencurangi hal itu.
"Kamu habis bertemu seseorang?" Tanya Ratih berusaha menyelidiki.
"Terserah aku dong mau ketemu siapa atau tidak yang jelas itu bukan urusanmu!"
Ratih hanya bisa mengepalkan tangannya. Saat ini ia masih belum bisa membuktikan kecurigaannya terhadap Wina. Wina pun berlalu masuk ke kamarnya.
Wina langsung berchat ria dengan kekasih gelapnya. Jatuh cinta untuk kesekian kalinya membuat ia terlena dan lupa kalau dirinya masih berstatuska istri Heru. Semenjak Heru ditahan, Wina hanya sekali menjenguk suaminya itu. Wina seolah-olah merasa dirinya telah menjadi janda yang ditinggal suaminya.
Hari-hari berikutnya, Wina selalu mencari cara bagaimana ia bisa bertemu dengan sang kekasih. Apalagi begitu banyak perintah dari Ibu mertua yang harus ia turuti. membuatnya sulit untuk keluar menemui Hendra.
"Bu biar aku saja yang membantu Ibu hari ini." Ujar Ratih mengajukan diri.
"Kamu? Tumben?"
"Tidak apa-apa Bu, Ratih hanya bosan di kamar saja. Apalagi hari ini tidak ada janji ketemu sama Mas Hendra." Ujar Ratih.
Mendengar percakapan Ratih dan Ibu mertuanya, Wina tersenyum senang. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Wina. Ia pun segera menyusun rencana agar bisa ketemu dengan kekasih gelapnya Hendra.
Ratih tersenyum seringai melihat perubahan di wajah Wina yang tampak senang dengan apa yang ia ucapkan. Setelah ia sendiri pun memiliki rencana yang tidak Wina ketahui.
"Bu, aku mau mengunjungi Mas Heru. Sudah lama aku tidak melihatnya. Anaknya sudah rindu ingin bertemu." Ujar Wina sambil mengusap perutnya yang semakin buncit.
Bu Yarsih menatap cukup lama sebelum akhirnya berkata.
"Jangan lama-lama!"
__ADS_1
Wina tersenyum mengangguk, lalu melirik sinis Ratih walau pun gadis itu sudah membantu rencananya.
Tanpa menunggu lebih lama, wanita itu segera menaiki ojol yang kebetulan sudah menjemput dirinya.
Begitu Wina sudah mulai jalan, Ratih pun segara mengambil helm dan menaiki sepeda motornya.
"Loh, mau kemana kamu Ratih?! Ibu siapa yang bantuin?"
Ratih mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu rupiah, dan langsung di genggamkan ke tangan Ibunya.
"Ibu bisa kan jaga sendiri?" Tanya Ratih memastikan lagi. Walau pun ia sudah tahu jawaban apa yang akan di lontarkan Ibunya.
Ekspresi Bu Yarsih langsung berubah sumringah melihat uang di tangannya.
"Iya, bisa."
Begitu mendengar jawaban Ibunya, Ratih langsung melaju mengejar ojol yang membawa Wina.
Wina yang tidak tahu di ikuti oleh Ratih, merasa santai saja seperti biasanya. Hingga ia sampai rumah tujuan setiap kali ia bertemu dengan Hendra. Satpam seperti biasanya membukakan pagar untuknya dan mempersilahkan dirinya masuk.
Ratih mengamati dari kejauhan. Ia memperhatikan sekitar rumah yang di masuki oleh Wina.
"Sudah ku duga, tidak mungkin dia menjenguk Mas Heru di penjara. Tapi itu rumah siapa ya?" Tanya Ratih pada angin.
Cukup lama Ratih menunggu hingga ia pun mulai merasa jenuh. Ia memandang pintu rumah itu sambil memikirkan cara agar dapat melihat pemilik rumah.
Timbullan ide Ratih untuk menyuruh Wina lekas pulang dengan alasan Ibu menyuruhnya untuk pulang. Ratih pun mengeluarkan gawainya untuk menelpon Wina.
Satu kali panggilan Ratih tidak diangkat oleh wanita itu. Dua kali hingga yang ke lima kali baru ah panggilan Ratih di angkat oleh Wina.
"Kenapa sih?!"
Suara bercampur deru napas Wina yang seperti kelelahan terdengar di telinga Ratih.
Apa dia melakukan di saat sedang hamil begitu? Batin Ratih bertanya-tanya.
"Pulang! Ibu mencarimu dan menyuruh pulang segera."
"Tapi kan aku sudah ijin sama Ibu?!"
"Ya mana aku tahu?! Kata Ibu kamu boleh angkut semua bajumu sekalian kalau tidak mau pulang!"
__ADS_1
"Ck!"
Terdengar Wina berdecak kasar sebelum ia menutup telponnya. Dan itu membuat Ratih tersenyum puas telah mengerjai gadis itu.
Setelah 15 menit menunggu lagi, akhirnya Wina keluar di antar oleh seseorang sampai di depan pintu. Ratih pun menajamkan penglihatannya.
Darah Ratih merayap naik sampai ke ubun-ubun. Jantungnya berdetak dengan cepat dengan deru napas yang bergelut emosi.
Sebuah pandangan yang menyiksa mata dan hatinya ketika melihat dua orang yang ia kenal saling cipika-cipiki, dan tersenyum mesra antara satu dan lainnya.
Tangan Ratih terkepal hingga kuku-kuku tangannya memutih.
Jadi benar dugaan ku selama ini?! Wanita ja*la*ng itu berusaha merebut Papa dariku! Batin Ratih yang merasa amat marah.
"Tunggu pembalasanku!" Ucap Ratih yang marah pada angin.
Ratih lebih dulu melaju meninggalkan rumah itu. Ia ingin segera sampai rumah dan membuat perhitungan dengan Wina.
"Dasar pe*la*kor! Mau dulu atau pun sekarang dia sama sekali tidak berubah. Wanita pembawa si*al dalam keluargaku! Karena dia Mas Heru sampai di penjara dan kehilangan pekerjaannya. Karena dia, aku dan Ibuku harus banting tulang untuk kebutuhan kami. Setelah Mas Heru di penjara, lalu dia menjadikan Papa ku mangsa barunya?! Cih, enak bener!"
Sepanjang jalan Ratih berbicara sendiri menyalurkan emosinya. Ia bertekad akan memberikan pelajaran bagi Wina agar tidak main-main dengannya
Sampai dirumah, bukannya mengucapkan salam tapi Ratih langsung menuju ke dapur. Ia mengambil minyak goreng lalu di tuangkan sedikit ke dalam gelas.
Ratih membawa minyak goreng itu sampai ke depan pintu kamar Wina. Ia pun membuka pintu itu dan menaburkan minyak secara merata tepat di lantai yang kira-kira akan di injak Wina ketika ia akan masuk ke kamarnya.
Senyum maut Ratih terlukis jelas di wajahnya. Ia pun segera masuk ke kamarnya begitu mendengar suara motor lain yang berhenti di depan rumahnya.
Wina turun dari motor sang ojol dan segera masuk kerumah setelah membayar ongkosnya. Ia pun membuka pintu kamarnya dan...
Bugh!!
"Aaaaaa....!"
Jeritan panjang pun terdengar. Lalu disusul rintihan kesakitan dan tangisan.
"Wina, kamu ini ya datang-datang bikin ribut! Loh, kamu kenapa?"
Bu Yarsih yang tadinya mengomel karena kegaduhan yang di buat Wina tiba-tiba panik melihat Wina yang terduduk di lantai, mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Wajah Wina memucat dan terus mengerang kesakitan. Darah segar mulai keluar dari celah paha Wina dan hal itu membuat Bu Yarsih semakin panik.
"Toloooong!! Toloooong!!"
__ADS_1
Ratih bernegara teriakan Ibunya berdebar-debar tak menentu. Gadis itu tahu pasti telah terjadi sesuatu terhadap Wina karena ulahnya.
Bersambung...