Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 62 Anak


__ADS_3

Bab 62


Anak


Sepulang dari kantor aku berniat menjenguk Mbak Mira dan Almira, bayi mungil yang waktu itu belum sempat aku lihat. Kali ini aku datang sendiri dengan sepeda motorku.


Sudah 3 hari Mbak Mira masih tidak sadarkan diri. Kabar itu ku terima setelah bertukar pesan tadi pagi dengan Mas Fandi.


Ku parkirkan sepeda motorku di halaman parkir Rumah Sakit. Lalu melangkah menuju ruang ICU di lantai 3 Rumah sakit ini.


Sore ini Rumah Sakit tampak sedikit ramai oleh keluarga pasien yang datang menjenguk. Satu persatu ruangan ku lewati menuju lift untuk membawaku ke lantai 3 menuju ruang ICU.


Sampai disana kulihat Mas Fandi tampak masih setia menunggu Mbak Mira dalam ruangan kaca itu. Aku kemudian mengirimkan pesan kepada Mas Fandi kalau aku sudah ada di depan ruang ICU.


Mas Fandi pun keluar ruangan menemuiku.


"Assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam, kamu datang sendiri, Indah?"


"Ya, Mas. Ini aku bawakan buah-buahan."


Aku memberikan parsel yang ku siapkan untuk di bawa ke Rumah Sakit.


"Terima kasih, masuklah. Aku akan menunggu di luar."


Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam ruang dimana Mbak Mira terbaring tak bergeming.


"Assalamualaikum, Mbak Mira." Salamku menyapa meski ia tak bisa menjawab.


Aku duduk di kursi di samping ranjang besi yang menahan bobot Mbak Mira, menatap dengan sedih wajah pucat yang terlihat terlelap dengan mata terpejam.


Ku raih tangan yang tak bergeming itu dan mengusapnya dengan lembut.


"Cepatlah bangun Mbak, Almira sudah menunggumu." Lirih ku.


Aku mengusap lembut kepala wanita yang selalu tersenyum bila memandangku. Wanita yang pertama kali mengajakku bersahabat dan yang menganggap aku sebagai saudaranya. Rasa tak percaya masih saja kurasakan dengan apa yang menimpa Mbak Mira.

__ADS_1


Mbak Mira di diagnosa oleh Dokter mengalami pendarahan otak dan patah tulang kaki sebelah kanan. Sungguh miris kecelakaan yang menimpa Mbak Mira.


"Mbak, cepatlah bangun. Agar dirimu bisa merawat sendiri bayi cantik yang kamu lahirkan. Bukankah Mbak Mira dan Mas Fandi sangat menantikan kehadiran bayi kalian? Namanya Almira, Mbak nama yang cantik walau aku belum sempat melihatnya, tapi aku yakin namanya secantik hati dan wajahnya seperti dirimu."


Aku tak kuasa menahan air mata. Bisa ku bayangkan betapa si kecil akan memerlukan kasih sayang ibunya jika Mbak Mira masih koma seperti ini. Apalagi sampai Mbak Mira meninggalkan dunia ini. Hati ku pilu membayangkan seorang anak tumbuh tanpa merasakan kasih sayang seorang Ibu.


Memang benar ada wanita pengganti ibu yaitu nenek atau bibinya. Tapi ikatan batinnya tentu berbeda antara Ibu dan anak, cucu dan neneknya atau ponakan dan bibinya.


Ku usap air mata di pipi ketika Mas Fandi memasuki ruangan. Aku berbalik dan berdiri menghadap pria yang tampak sendu menunggu kesadaran istrinya itu.


"Mas maaf ya, aku tidak bisa berlama-lama. Aku ingin melihat Almira kecil. Waktu itu aku belum sempat melihatnya."


"Baiklah Indah. Maafkan sudah membuatmu repot."


"Tidak Mas, aku yang memang ingin datang kemari." Kataku sambil memandangi Mbak Mira sebelum aku melangkah pergi.


Sore itu Mbak Mira tampak sangat cantik di mataku. Seakan-akan membuatku tidak ingin mengalihkan pandanganku darinya.


"Almira ada di ruangan anak, aku baru saja dari sana melihatnya. Dia sedang tidur setelah di beri minum susu formula." Ujar Mas Fandi hingga aku mengalihkan pandanganku dari Mbak Mira menatap dirinya.


Aku mengangguk.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Aku meninggalkan ruang ICU setelah pamit kepada Mas Fandi. Berjalan perlahan mencari ruang anak melalui panah penunjuk di persimpangan koridor Rumah Sakit.


Di sudut koridor aku menemukan ruang anak-anak. Bayi Mbak Mira dan Mas Fandi masuk inkubator karena lahir prematur.


Aku meminta ijin kepada suster untuk melihat Almira dari balik kaca inkubator. Wajah mungil bak malaikat kecil tanpa dosa itu membuat hatiku menghangat. Ingin sekali aku menyentuh pipinya yang kemerahan dan menggendongnya dalam dekapanku.


Begitu bahagianya setiap orang tua yang diberkahi dengan diberikannya kepercayaan untuk memiliki anak.


Namun kadang ada orang tua yang tidak bersyukur dengan menyia-nyiakan anaknya. Membuang setelah melahirkan atau di tinggal di jalan. Padahal begitu banyak yang berharap bisa memiliki keturunan termasuk aku ketika masih menjadi istri Mas Heru.


Ah, apa kabar lelaki itu? Semoga saja dia sudah menyadari kesalahannya dan bertobat pada-Nya.


Teringat dulu bagaimana aku sering di salahkan oleh mantan Ibu mertua karena tidak bisa memberikan keturunan untuk mereka. Hingga mantan Ibu mertuaku itu merestui pernikahan Mas Heru tanpa ijin dariku.

__ADS_1


"Almira sayang, semoga kamu menjadi anak sholeha dan kuat ya sayang."


Air mata mulai mengembun di pelupuk mata. Membayangkan kembali jika Almira harus kehilangan Ibunya. Sungguh hatiku pilu membayangkannya. Semoga saja Mbak Mira bisa cepat sadar dan kembali sehat agar si kecil Almira tidak kehilangan kasih sayang Ibu kandungannya.


"Ya Allah, ya Rabb, hilangkanlah kesusahan dan berilah Mbak Mira kesembuhan, hanya Engkau lah Zat Yang Maha Menyembuhkan." Doaku lirih dan menyeka air mata.


Aku melangkah pergi setelah kurasa cukup melihat bayi cantik Mbak Mira dan Mas Fandi. Menuju parkiran rumah sakit dan mengendarai pulang sepeda motorku sebelum maghrib tiba.


Di sepanjang jalan wajah Almira menari-mari di pelupuk mataku. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Almira. Aku terus terbayang malaikat kecil itu dan rasanya ingin memeluk tubuh mungil itu dalam dekapanku. Apa seperti ini rasanya jika aku memiliki seorang anak kelak?


Sungguh karunia luar biasa jika Tuhan mempercayai diriku untuk menjadi seorang ibu kelak.


***


(POV Author)


"Bagaimana keadaan Mira?"


"Masih sama. Belum ada perkembangan apa-apa. Dan Indah baru saja pergi dari sini, mungkin ia sedang menjenguk Almira."


"Kamu tidak mengatakannya kan Bro?"


"Tidak, sesuai kesepakatan kita."


"Ya sebaiknya begitu. Aku pun ingin memastikan lebih. Bagaimana perasaannya yang sebenarnya padaku."


"Sekali lagi aku minta maaf atas permintaan Mira, Bro, hal itu pasti menyulitkanmu."


"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, kamu jangan sering minta maaf begitu. Kamu lupa aku orang yang seperti apa? Kita saling mengenal sejak kecil, jatuh bangun bersama dalam berusaha."


"Aku tahu."


"Baiklah, setelah pulang kerja aku akan mampir kesana. Kamu ingin di bawakan apa?"


"Tidak usah repot, aku bisa memesan makanan lewat aplikasi."


"Dan belum tentu kamu memesannyakan? Sudahlah aku tahu bagaimana hatimu. Aku akan kesana sekarang saja."

__ADS_1


Percakapan lewat telpon pun berakhir. Roy merapikan barang-barang lalu bersiap meninggalkan kantor menuju Rumah Sakit tempat Mira di rawat.


Bersambung...


__ADS_2