
Bab 36
Bukan Lemah Hanya Ingin Berbuat Baik
"Kau lagi ape In?"
"Masak Mak, masak nasi hehe..."
"Kau masak nasi je? Ape laok engkau In? Kau tak ade laok ke? Kasihan anak Emak. Nanti Emak akan minta Ayah Engkau untok ngirimkan duit biar anak Emak tak kekurangan disane."
"Hehehe, ade Mak. Tapi belom Indah beli. Indah belom mandi lagi. Nanti Indah ke warung kalau dah mandi."
"Bagaimane rasanye sekarang In, kau susah tak? Cakap ke Mak kalau kau rase susah di sane."
"Tak Mak. Indah baek-baek je disini. Ade tak ade Mas Heru same saje rasenye. Indah dah terbiase Mak."
"Sukorlah, anak Emak dah bise nerime semuenye."
"Putosan pengadilan melimpahkan sejumlah harte untok In. Tapi kemarin begitu Indah nak ambil barang-barang tu balek, Mas Heru dah kabor, die bawak semue barang-barang In. Sampai rumah tu pon die jual. Die tak bagi tahu In same sekali. Indah kesal Mak.."
Terdengar helaan napas berat dari ujung telepon seberang sana. Ibuku sepertinya menahan rasa sakit setelah mendengar penuturan dariku.
"Ape yang harus Indah buat Mak?"Tanya ku lagi.
"Dah lah, lepaskan harte yang nantinye tak akan membawe berkah untok die. Menghadapi budak bengal macam Heru cume bikin hati kite saket hati dengan kelakuan die yang macam hantu tu."
Aku mendengarkan nasehat ibuku dengan seksama.
"Harte tak dibawak mati. Memang kite hidop pon memerlukan harte untok menunjang kehidupan kite sehari-hari. Tapi ingat, segale hal yang diperebutkan, tak akan membawe berkah. Tapi kalau kau nak mengadukan perkara ini ke jalur hukum, bise saje. Emak hanye mengingatkan tak baek menyimpan dendam dalam hati. Kau memang di rugikan oleh Heru, tapi Mak percaye Allah tak tidok Nak. Akan ada balasan bagi orang-orang tamak dan serakah."
Nasehat Ibuku memang benarnya adanya. Tapi, aku merasa perlu melaporkan kejahatan Mas Heru yang sudah tidak bisa aku tolerir lagi. Ini sebagai gertakkan dan pemberi efek jera padanya.
Apa aku salah jika sekali ini saja aku menurutkan egoku?
Kelakuan Mas Heru yang semakin menjadi-jadi rasanya harus ku hentikan disini dengan memberikan pelajaran baginya.
__ADS_1
"Mas Heru itu bibit penipu, dan In tak ingin banyak korban laen selaen In. In rase kali ini Mas Heru harus di laporkan karena mencuri hak milik Indah, Mak."
"Ape kau nak laporkan die ke kantor dinas die?"
"Tadak Mak, In maseh kasihan dengan calon anak mereke. Apelagi Mas Heru tulang punggung keluarge. Biar pon Indah benci sangat dengan Mas Heru, tapi Indah tak ingin hati Indah di tutup dengan kebencian yang mendarah daging."
"Hmmm, kejahatan memanglah patut di laporkan kalau memang untok pembelajaran bagi die. Tapi ingat In, belajar untok iklas dan rele pon perlu kite lakukan sebagaimane kite percaye Tuhan itu ade dan pasti akan memberi ganjaran bagi orang-orang macam Heru."
"Iye Mak."
"Dah, Emak nak ke kebon nyusol Ayah engkau. Kau jage kesehatan disane, jangan lupak makan."
"Baek Mak."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Tidak salah Ibu ku memberi nasehat sebagai orang tua yang inginkan hal terbaik untuk anaknya baik itu di dunia maupun akhirat. Dan aku pun hanya manusia biasa yang punya kelemahan serta hati yang rapuh meski aku mencoba untuk tetap tegar dan berdiri tegak.
Sekuat apapun aku mencoba menahan dan mencoba menjadi wanita yang kuat, namun aku tetaplah wanita yang terkadang tidak mampu menahan air mata.
***
"Selamat siang Pak Sandi."
Sapaku ketika tiba di kantor Advokat siang itu. Aku menyempatkan diri di sela jam istirahat kantor untuk konsultasi masalah ku dengan Mas Heru.
"Siang Bu Indah. Bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya baik Pak."
"Jadi apa ada keluhan lagi yang membutuhkan bantuan saya?" Tanya Pak Sandi langsung ke intinya.
"Benar Pak. Mengenai pelimpahan hak atas rumah dan isinya oleh putusan Hakim Pengadilan Agama, rumah itu dan beserta isinya sudah di bawa kabur oleh Mas Heru. Rumah itu telah dijual tanpa sepengetahuan saya. Untuk itu, saya memohon bantuan dari Bapak untuk mengurus proses mulai dari pelaporan sampai selesai." Tuturku menatap serius Pak Sandi.
__ADS_1
Pak Sandi menghela napas panjang.
"Rupanya mantan suami anda ini sangat tidak bersyukur dan sungguh tidak tahu diri. Bu Indah yang sudah baik begini masih memikirkan masa depan calon anak mereka dengan tidak melaporkan perbuatan Heru ke kantor dinasnya, masih saja di perlakukan tidak adil."
"Benar Pak, bisa saja saya membalas perbuatan Mas Heru dengan melaporkannya pada atasannya. Tapi saya punya Tuhan Pak, saya takut dosa kalau berbuat secara tidak manusiawi apalagi Mas Heru satu-satunya tulang punggung keluarga. Walaupun begitu perbuatan Mas Heru tetap akan saya balas tetapi dengan cara yang cantik."
"Tapi, mengenai melaporkan Pak Heru ke pihak berwajib bukankah akan berdampak pada pekerja dan ekonomi keluarganya?"
"Saya hanya ingin dia sedikit merasakan efek jera Pak. Jika telah di laporkan tentu ia merasa was-was dengan kehidupannya. Tapi bila mana ia telah mengembalikan hak saya, maka tuntutan hukum itu akan saya cabut. Dan ini merupakan kesempatan terakhir dari saya sebagai manusia yang punya batas kesabaran." Ungkapku.
"Berarti Bu Indah ingin mengajukan syarat begitu?"
"Kurang lebih seperti itu Pak."
"Dari saya pribadi, sayang sekali rasanya melepas orang seperti Pak Heru itu untuk di maafkan dan di beri kesempatan. Tapi baiklah, jika itu sudah menjadi keinginan Bu Indah. Saya akan menyiapkan surat perjanjian di atas materai. Jadi, jika Pak Heru melanggar isi perjanjian, maka ia akan segera di tahan."
"Iya, seperti itu saja Pak."
Jika orang lain menjadi aku, mungkin mereka menyalahkan atas tindakan yang aku ambil ini. Tapi setiap manusia berbeda prinsip dan keinginan. Namun untuk masalah poligami, hal itu mutlak tidak dapat aku terima. Karena sejatinya aku tidak menyukai pengkhianatan dan kekerasan dalam rumah tangga bila sampai itu terjadi.
Berbeda halnya jika aku di vonis mandul, atau rahimku di angkat. Mungkin aku akan berusaha menerima poligami. Dan aku yakin aku tidak sedang mandul, rahim ku subur dan baik-baik saja karena aku sudah pernah memeriksakannya ke dokter ahli kandungan.
Menghadapi Mas Heru sekeluarga bukanlah hal yang mudah. Setiap ucapan mereka yang keluar bagai belati yang menyayat hati. Bahkan mereka tidak segan-segan mempermalukan aku di depan umum. Apabila Mas Heru sampai masuk penjara, sudah pasti aku akan menjadi bulan-bulanan mereka.
Ini kesempatan terakhir yang akan ku berikan untuk mereka sebagai insan yang mencoba berbuat baik.
Konsultasi masalah kasus Mas Heru dengan Pak Sandi berjalan dengan lancar. Kami pun melaporkan Mas Heru atas tindak pidana pencurian dan menjeratnya dengan pasal Pasal 362 KUHP. Pasal ini menjelaskan tentang pencurian, yang terjadi ketika seseorang mengambil barang milik orang lain dengan maksud untuk memiliki barang tersebut secara melawan hukum. Pasal ini juga menyebutkan bahwa pencurian dapat dihukum dengan pidana penjara selama maksimal 5 tahun.
Semoga saja, tindakan ini mampu berikan efek jera kepada Mas Heru.
Berkas laporan sudah masuk ke Kepolisian. Surat Penangkapan akan segera turun. Aku tinggal menunggu kabar dan hasil yang aku inginkan.
Bersambung...
*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
__ADS_1
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊