Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 13 Tetangga Rese


__ADS_3

Bab 13


Tetangga Rese


"Indah...! Indah...!"


Suara seorang wanita memanggil namaku ketika aku sedang menyiram bunga di teras rumah ku. Aku mencari arah suara, dan ternyata Mbak mila sedang menatap ku di balik pembatas tembok pagar rumah Mbak Surti yang hanya setinggi dada.


Sepertinya Mbak Mila sedang main kerumah Mbak Surti.


"Ya Mbak?" Jawab ku sambil meletakkan gayung dan mendekat padanya.


Tidak enak rasanya jika berbicara berjauhan dan setengah berteriak.


"Ada apa ya Mbak?" Tanya ku hati-hati.


Bicara dengan Mbak Mila ini harus hati hati-hati. karena wanita yang berusia sekitar 5 tahun lebih tua dari ku ini bisa di tambah bisa juga berkurang jumlah kata dan kalimatnya jika dia bercerita ke orang lain. Mbak Mila terkenal sebagai wanita yang suka bergosip dan kepo ingin tahu urusan orang lain. Kata warga sini, Mbak Mila adalah lambe tureh berjalan.


Kalau sudah memanggil begini berarti ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu. Dan aku takut apa yang akan kami bicarakan meyebar kemana-mana.


"Itu siapa sih yang di bawa Pak Heru tempo hari?"


Nah benar saja dugaan ku.


"Maksudnya siapa Mbak?" Tanya ku pura-pura tidak tahu.


"Eleh, situ jangan pura-pura tidak tahu. Kemarin itu saya lihat Pak Heru gandeng wanita lain."


Deg, perasaan ku mulai tidak nyaman, takut sumber biang kerok di komplek ini koar kemana-mana jika sampai dia benar-benar melihat Mas Heru dengan Wina tempo hari.


"Masa sih Mbak, Mas Heru kan lagi di Surabaya." Aku berusaha tetap berkilah.


"Tapi bener kok, tidak mungkin mata saya rabun. Wong saya masih muda gini."


"Tapi kalau Mas Heru pulang pasti dia ngabarin saya Dulu."

__ADS_1


"Saya yakin itu suami kamu Indah." Mbak Mila tetap ngotot.


"Ada apa sih?" Tanya Mbak Surti sambil mendekat ke arah kami.


"Itu Loh Sur, yang saya bilang tempo hari. Nah mumpung ada Mbak Indahnya kan lebih enak kalau kita bertanya memastikan supaya tidak timbul fitnah, iya toh?"


"Sudah lah Mbak Mila, siapa tahu Mbak Mila salah lihat." Ujar Mbak Surti.


Berbeda dengan Mbak Mila, Mbak Surti ini jarang sekali mau ikut bergosip. Sikapnya yang tenang dan ramah membuatku betah bertetangga dengannya.


"Tidak mungkin salah Sur, jelas-jelas itu Pak Heru loh." Mbak Mila tetap kekeh.


"Kalau memang itu Pak Heru, seharusnya Pak Heru sekarang ada di sini kan? Karena setahu saya, Pak Heru itu datang pasti sekitar semingguan paling sebentar nginapnya. Dan kalau memang ada Pak Heru, tentu kemarin-kemarin sudah kelihatan toh?"


Perdebatan antara Mbak Surti dan Mbak Mila semakin panjang. Aku hanya mendengarkan saja tanpa ingin campur karena yang mereka bicarakan berhubungan dengan rumah tanggaku. Aku takut kalau-kalau aku salah bicara hingga timbul kecurigaan di pikiran mereka.


"Bu! Ibu... ! Di cariin Bapak itu!"


Teriak anak Mbak Mila bernama Tia berlari menghampiri Ibunya.


"Ih Ibu, Tia juga lagi asik main sama Ira tadi. Eh, Bapak suruh Tia nyariin Ibu. Kata Bapak ndak kopi ndak ada uang belanja."


Nah loh, Mbak Mila ternyata dapet ultimatum dari suaminya melalui anak mereka. Semoga saja Mbak Mila mau pulang ke rumahnya. Jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang begitu berat untuk ku jawab.


"Pulang dulu Mbak, nanti Pak Bahri ngamuk Mbak juga yang repot." Saran Surti yang ku dukung dengan anggukan kepala.


"Ck! Ya sudah. Bapak mu ini bikin repot saja. Ayo pulang!" Gerutu Mbak Mila dan mengajak anaknya yang bernama Tia pulang.


Aku bernapas lega, setidaknya satu kekhawatiran ku hilang sudah.


Aku dan Mbak Surti menatap punggung Mbak Mila yang kian menjauh. Lalu hendak menyiram kembali bunga-bunga yang belum sempat aku siram tadi.


"Yang sabar ya Indah, saya tahu ini tidak mudah. Tapi percaya Tuhan punya rencana yang baik untuk Dek Indah." Ucap tiba-tiba Mbak Surti yang seketika membuat aku terkejut.


Aku tidak menyangka ternyata Mbak Surti mengetahui permasalahan yang sedang aku hadapi. Tapi aku berusaha tenang, siapa tahu itu baru dugaan saja.

__ADS_1


"Maksudnya Mbak?" Tanya Ku pura-pura tidak tahu.


"Saya ada di dalam rumah. Dan semua perdebatan di hari itu saya mendengar tanpa sengaja. Saya turut prihatin atas masalah yang sedang Dek Indah hadapi. Tapi saya juga tidak ingin mencampuri. Jika Dek Indah butuh teman untuk bicara, Saya siap mendengarkan." Ujar wanita berusia 40an tahun itu sambil tersenyum ramah.


Aku masih bingung menanggapi apa yang baru saja aku dengar. Tapi setidaknya aku berterima kasih, Mbak Surti tidak mengatakannya kepada Mbak Mila.


"Terima Kasih Mbak. Jujur Saya masih bingung mau bilang apa."


"Tidak apa-apa, kalau Dek Indah tidak mau cerita. Saya tidak memaksa. Ya sudah, ayo kita lanjut lagi kegiatan kita. Saya juga mau masak ini sebentar lagi mau maghrib."


"" Iya silahkan Mbak Surti."Ujar ku sambil membalas senyum ramahnya.


Begitu Mbak Surti sudah hilang dari balik pintunya, aku pun melakukan sisa pekerjaanku menyiram tanaman.


***


Senja semakin memamerkan warna jingga keemasannya. Masjid-masjid mulai bersalawat sebelum mengumandangkan adzan memanggil umat islam untuk menjalankan perintah sang Khaliq.


Aku pun menyudahi pekerjaan ku. Menutup pintu dan menguncinya, lalu segera membersihkan diri dan berwudhu untuk bersiap melakukan 3 rakaat ku.


Seruan adzan membelah langit. Aku pun membentang sajadahku dan bersimpuh kepada Illahi.


Tiada tempat yang lebih baik selain mengadu kepada Allah. Mengharap sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin hanya kepada Allah. Entah kenapa air mata ini mengalir kembali. Hati ini begitu lemah di hadapan Allah.


Aku terlalu mencintai Mas Heru hingga Allah memberikan cobaan kepadaku, bahwa tidak ada makhluk apa pun yang boleh dicintai melebihi Allah. Dan akhirnya Allah membuka mataku, memperlihatkan keburukan Mas Heru yang mendua di belakangku.


Sungguh aku malu, malu kepada Allah karena aku terlalu mencintai Mas Heru. Aku bersimpuh memohon ampunanNya, meminta kekuatan hati untuk bisa melalui ini semua. Dan ku pasrahkan semua kepada Allah, karena aku yakin rencana Allah adalah yang terbaik untukku.


Setelah melakukan shalat, aku menuju ke dapur dan duduk di meja makan. Menikmati makan malam sendirian seperti malam-malam sebelumnya.


Kadang ada rasa rindu menghampiri saat indah makan bersama Mas Heru. Namun teringat lagi saat menghampiri Mas Haru di rumah dinasnya, hati yang sendu berubah menjadi panas dan sakit seperti luka yang tersiram garam.


Kuat, aku harus kuat melepas Mas Heru...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2