
Bab 49
Keluarga Toxic
(POV Author)
Hari-hari Wina jalani seperti biasa. Pagi setelah adzan subuh berkumandang, seperti biasa Wina bangun dan membersihkan rumah mertuanya. Menyapu, mengepel lantai, mencuci tumpukan piring kotor dan bahkan kini ia sedang duduk menghadap setumpuk cucian pakaian kotor yang sudah ia rendam sejak menyapu tadi.
Biasanya semua pekerjaan itu dilakukan Wina dengan wajah masam. Namun berbeda hari ini, senyum kadang kala terbit sembari ia menyikat kotoran di pakaian yang membandel.
Bagaimana Wina tidak tersenyum pagi ini. Begitu membuka mata dan memeriksa pesan di gawainya, Wina menemukan sebuah screenshot bukti transferan dari Hendra.
Uang sejumlah lima ratus ribu yang di berikan untuk jajannya diterima Wina dengan hati senang. Ratih yang melihat Wina kadang tersenyum itu merasa tidak senang.
"Nih."
Lagi-lagi Ratih melempar pakaian kotor ke arah Wina. Namun berbeda kali ini, Wina tidak berwajah masam diperlakukan Ratih seperti itu. Ia cukup sabar dan dengan santai menerima pakaian itu dan merendamnya ke dalam baskom yang berisi air sabun.
Ratih cukup heran dengan perubahan sikap Wina padanya.
"Tumben kamu tidak marah?" Ratih bertanya.
"Kata Dokter kandungan, aku harus banyak tersenyum dan tidak boleh stres agar perut ku tidak sakit." Kilah Wina beralasan.
"Iya bagus lah. Stres hilang, gila yang datang. Senyum-senyum sendiri tidak jelas!" Sindir Ratih lalu berlalu pergi.
Dibelakang kepergian Ratih Wina berdecih, menatap tidak suka kepada gadis itu.
"Lihat saja, akan ku balas kesombonganmu itu!"
Wina melanjutkan pekerjaannya dan menjemur pakaian dibelakang rumah.
Semua sudah beres dikerjakan. Wina duduk sebentar di kursi meja makan untuk menghilang lelahnya.
"Kok jam segini Ibu belum masak ya?" Tanya Wina pada angin.
Wina merasa Heran, waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, tapi Ibu mertuanya belum sekali pun muncul ke dapur. Padahal jam segitu biasanya Ibu mertuanya sudah selesai memasak.
Walau bukan makanan mewah, tapi cukup hemat bagi Wina untuk mengisi perutnya tanpa harus keluar uang tabungannya.
Wina mulai merasa lapar, apalagi sejak subuh sudah banyak pekerjaan rumah yang ia kerjakan.
"Ceklek!"
Suara pintu dibuka, Ibu mertuanya pun keluar dari kamar.
__ADS_1
"Bu, kenapa belum masak?" Tanya Wina yang sudah merasa lapar.
"Hari ini tidak ada masak. Warung sepi, tidak ada yang membeli. Jadi tidak ada uang untuk belanja!" Jawab Si Ibu ketus.
"Loh, bukannya waktu itu Ibu ada di kasih uang sama pacar Ratih?"
"Uang itu sudah habis untuk mengisi arisan Ibu."
"Tapi calon cucu Ibu ini lapar Bu." Wina mulai mengeluarkan jurusnya.
Bu Yarsih mendelik sini. Kalau bukan karena ada calon cucunya di dalam perut Wina, mungkin wanita itu sudah ia usir karena hanya menjadi benalu di rumah itu.
"Nih."
Bu Yarsih mengeluarkan uang 15 ribu di atas meja.
"Uang untuk apa ini Bu?"
"Uang makan cucuku hari ini sampai malam."
"Tapi Bu, mana cukup segini?!" Protes Wina.
"Kamu ini ya! Tidak bersyukur sudah di kasih makan gratis disini. Kalau saja tidak ada calon cucuku di perutmu itu sudah aku usir kamu dari sini." Ucap Bu Yarsih keceplosan.
"Ooo, jadi Ibu mau ngusir aku dari sini?!"
Bu Yarsih jadi salah tingkah karena ulahnya sendiri.
"Iya, kalau kamu malas-malasan dan tidak menurut, akan aku usir dari rumah ini!" Kata Bu Yarsih yang akhirnya membuat pengakuan.
Wajah Wina berubah masam. Mau tidak mau ia pun mengambil uang 15 ribu itu dan berlalu tanpa permisi, pergi menuju penjual bubur dan nasi uduk yang tidak jauh berada dari rumah Ibu mertuanya.
"Sebel! Sudah capek-capek bersihin rumah, malah cuma di kasih 15 ribu buat makan sampai malam. Makan apa yang 5 ribuan disini? Masa iya aku cuma makan bubur pagi, siang, malam?! Dasar Nenek tua pelit!" Sungut Wina sambil berjalan menuju warung menjual sarapan pagi.
Tiba di warung Wina hampir saja tidak dapat tempat duduk karena banyaknya warga sekitar yang membeli sarapan di tempat itu.Ia pun bergabung dengan orang lain di tempat itu.
"Dia itu isteri si Heru yang masuk penjara itu! Anaknya Bu Yarsih."
"Loh, anaknya yang PNS itu? Di pecat doang?!"
"Ssttt.. Jangan keras-keras!"
Wina sebetulnya bisa mendengar percakapan yang tidak jauh dari duduknya itu meski mereka memelankan suaranya. Wanita itu mempertajam pendengarannya untuk mendengar percakapan mereka.
"Terus?"
__ADS_1
"Aku dengerin curhat Mbak Kati yang tinggal disebelah mereka. Katanya tiap hari ribut mulu itu rumah. Kayak tidak punya etika, Bu Yarsih dan Ratih itu teriak-teriak terus kayak tarzan aja yang tinggal di hutan. Sudah gitu , Bu Juleha pernah beli gula disana, katanya timbangannya kurang. Belum lagi nih ya, Bu Yarsih banggain pacar anaknya di Ratih itu. Padahal pacarannya itu udh tua loh."
"Masa sih Mbak?! Parah banget deh keluarga itu. Tua begitu apa ya bukan suami orang ya? "
"Katanya sih Duda. Tapi aku tidak percaya."
"Paling simpen itu. Eh, tapi memang tidak benar ya keluarga itu. Si Wina itu kan juga merebut Heru kan? Istrinya dulu itu kan bukan yang ini."
"Hooh, yang ini pelakor keknya. Gara dia kan Heru di pecat sampe di penjara."
Tatapan kedua wanita yang membicarakan Wina dan keluarga Heru memandang sinis punggung Wina, kebetulan Wina duduk memunggungi mereka.
Wina tidak menanggapi sedikitpun meski ia mendengar semuanya. Wanita itu menghabiskan makanannya dan ingin segera pergi dari warung itu.
Begitu selesai, Wina segera membayar dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Hih, kayak mereka tidak punya dosa saja. Mereka belum ngerasain aja jadi aku gimana. Hidup sebatang kara, tidak punya tempat bersandar jadi wajar dong aku nyari tempat yang aman dan nyaman untukku!" Sungut Wina.
"Warung tutup hari ini, apa aku menemui Mas Hendra saja ya? Tapi apa Ratih tidak menemuinya hari ini?" Wina bingung sendiri bertanya pada angin.
Akhirnya dia mengeluarkan gawainya dan mengirim pesan pada Hendra.
Semenit kemudian pesan itu di balas dan isi pesan itu mengatakan kalau dia boleh datang siang ini ke rumah yang biasa menjadi tempat mereka bertemu.
Senyum lebar menghiasi wajah Wina. Ia sedikit melajukan langkahnya guna segera berdandan yang cantik untuk menemui Hendra.
Wina tidak peduli dengan keadaan perutnya yang semakin membuncit. Yang penting uang dan kasih sayang mengalir pikirannya. Sampai sejauh ini mereka masih belum melakukan hubungan intim seperti yang di lakukan Ratih kepada Hendra. Namun keduanya telah sepakat, setelah Wina melahirkan ia akan bercerai dari Heru. Karena jika melakukan perceraian disaat sekarang ini pun percuma, hakim pasti tidak mengabulkan dengan kondisinya yang sedang hamil.
Ratih memperhatikan gerak-gerik Wina yang tersenyum sendiri dan berdandan rapi seperti hendak mau pergi.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Ratih sinis.
"Bukan urusan mu!" Jawab Wina tak kalah sinis.
Ratih kesal memandang kepergian Wina yang langsung menaiki motor ojol pesanannya. Perutnya mulai lapar karena tidak ada satupun makanan di meja makan. Ia pun pengambil dompetnya dan pergi mencari penjual makanan terdekat.
Ratih yang jarang membaur dengan tetangga sekitar menjadi objek pandang orang-orang yang ia lewati. Bahkan di antara mereka ada juga yang berbisik. Ratih tidak peduli dan terusan saja melangkah menuju tempat tujuannya.
Beberapa camilan dan mie instan di ambil Ratih lalu membayarnya ke kasir. Namun naasnya camilan-camilan itu jatuh karena tangan Ratih yang penuh dan tanpa sengaja juga menyenggol bahu seorang wanita.
"Ck!"
Ratih berdecak kesal lalu memungut camilan yang jatuh.
Tanpa sengaja ia mendengar sesuatu yang membuatnya tiba-tiba merinding, dan hendak segera kabur dari sana.
__ADS_1
Bersambung...