
Bab 67
Rencana Pernikahan Kontrak
"Aku ingin kamu berkata jujur mengenai apa yang kamu rasakan, sebab itu akan mempengaruhi apa yang akan aku katakan setelahnya."
Aku mend*es*ah, membuang napas yang serasa menghimpit di dada. Kemudian aku mencoba menyelami perasaan ku sendiri.
"Sejujurnya aku...." Suaraku tertahan serasa enggan untuk keluar. Malu sekali rasanya mengatakan apa yang aku rasakan di hadapan para pria ini.
Aku memejamkan mata, kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Jujur, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu Mas, kamu hanya ku anggap sahabat. Dan Roy..."
Ah, lidah ku kelu mengenai lelaki itu.
"Kenapa dengan ku?" Tanya Roy dengan lembut.
Lelaki ini paling bisa membuat wajahku terasa panas, dan malu karenanya.
"Aku merasa mulai menyukai Roy." Kataku pada Mas Fandi tanpa berani melihat ke arah Roy.
"Aku juga mencintaimu Indah." Ungkap Roy membalas ucapanku dengan tersenyum manis.
Aku malu sampai Mas Fandi terkekeh melihat kami.
"Tapi kita sudah berjanji dengan Almarhumah, Indah. Pernikahan ini akan tetap kita laksanakan sesuai janji kita pada Mira. Hanya saja ada beberapa hal yang harus kamu ketahui dulu. Kita akan melakukan pernikahan kontrak selama 6 bulan dan paling lama 1 tahun."
"Pernikahan kontrak?" Aku mengulangi kata-kata Mas Fandi untuk menyakinkan diriku bahwa aku tidak salah dengar.
"Benar Indah, kita akan melakukan pernikahan kontrak. Dengan begitu janji kita kepada Mira terpenuhi dan tentunya setelah kontrak berakhir kalian bisa menikah." Jelas Mas Fandi.
"Maaf Roy, aku meminjam kekasihmu dulu. Aku janji akan menjaga Indah seperti adikku sendiri." Ujarnya lagi.
"Tenanglah, aku tidak masalah. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya." Kata Roy.
"Jadi kalian sudah saling sepakat?"
"Ya." Jawab Roy.
"Aku pikir pernikahan kontrak hanya ada di novel-novel saja."
Mas Fandi terkekeh. "Ya, aku juga menurut dari novel. Dan ini bacalah..."
Mas Fandi menyodorkan sebuah kertas yang baru saja ia ambil dari laci meja kerjanya. Aku menerima kertas itu lalu membacanya.
Ternyata isi dari kertas itu adalah kontrak pernikahan yang akan kami lakukan dengan poin-poin yang harus kami taati bersama. Poin-poin itu menyebutkan antara lain : 1). Pernikahan kontrak di lakukan paling cepat 6 bulan dan paling lama setahun. 2). Tidak melakukan hubungan badan, hanya boleh skin skip pada umumnya. 3). Tidak boleh membocorkan perihal perjanjian. 4). Berpisah bila sudah sampai waktunya atau atas kesepakatan bersama.
"Jika kamu setuju tanda tanganlah. Dan Roy akan menjadi saksi."
Aku menatap Roy, dan pria itu menganggukan kepala.
"Apa tidak apa-apa menikah seperti ini?" Tanya ku.
"Maksudnya?"
"Tidak di dasari rasa cinta."
"Banyak orang yang menikah lewat perjodohan dan tidak semua dari mereka berlandaskan rasa cinta."
Aku juga tahu hal itu. Baiklah semoga saja keputusan ini tidak salah. Aku pun menandatangani surat kontrak itu bersama Mas Fandi, juga Roy sebagai saksi.
"Aku ada syaratnya." Kataku.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Mas Fandi.
"Aku hanya ingin nikah siri saja. Agar urusan kedepannya tidak rumit."
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Apa aku harus berhenti?" Tanyaku
"Tidak perlu. Kamu tetap bisa bekerja seperti biasanya."
Aku merenung sesaat untuk perjanjian yang baru saja aku tanda tangani.
"Sudah selesai? Aku akan mengantarkannya pulang Bro." Ujar Roy
"Pergilah, hati-hati..."
Kami pun keluar dari ruang kerja Mas Fandi. Berpamitan dengan keluarga dan sanak saudara lalu pulang menuju rumahku.
Dalam perjalanan Roy tak henti-hentinya tersenyum membuatku malu. Aku tahu mengapa dia sampai tersenyum terus seperti itu. Itu pasti karena pengakuan ku tadi. Duh, malunya aku...
"Apa kita sekarang sudah mulai pacaran" Tanya Roy sambil meraih tanganku dan menggenggamnya
Apa ini nyata? Ini seperti dunia novel dan aku pemerannya. Menikah kontrak dan memiliki hubungan dengan pria lain selain calon suami.
"Apa baik mengatakan iya tetapi aku akan menikah dengan orang lain?"
"Kamu hanya menunaikan janjimu."
"Tapi aku takut sebenarnya. Ini seperti memainkan sebuah ikatan sakral."
"Baiklah kalau kamu tidak ingin menganggap kita pacaran. Aku tidak apa-apa. Karena aku tahu, pasti akan menjadi beban buatmu. Tapi aku akan setia menunggu."
Baiklah, kamu bisa Indah. Lakukan dengan ikhlas dan kamu bisa melewatinya. Dalam hati aku menyemangati diri sendiri.
Keesokan harinya.
Di waktu senggang jam kerja di kantor, aku mencoba menelpon Ayahku untuk menceritakan masalah pernikahanku dengan Mas Fandi. Dan jangan di tanya lagi, tentu saja Ayahku sangat terkejut. Tidak ada yang ku tutupi dari Ayahku, apapun itu. Sampai isi hatiku kepada siapa aku berlabuh Ayahku pun tahu.
Berbeda dengan Ibuku. Aku tidak berani menceritakan masalah ini karena pasti Ibuku akan marah besar padaku.
"Ayah nak bertemu dolok dengan Nak Fandi, Ayah nak die yang ngomong langsung ke Ayah. Masalah Emak engkau, nanti biar Ayah yang bagi tahu."
"Iye Ayah."
"Dekat hari nikah pon tak ape. Sekalian kau berdue menikah disini."
"Ye, Ayah...nanti In segere bagi tahu Mas Fandi."
"Dah, Ayah nak lanjot ke kebon dolok. Kau baek-baek lah di sanak. Selalu bagi tahu Ayah kalau ade ape-ape."
"Ye, Ayah."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Panggilan pun berakhir. Satu masalah teratasi walaupun aku sempat berdebar-debar menghadapi Ayahku. Syukurlah Ayahku bukan tipe orang yang mengomel atau marah dengan berteriak-teriak. Karena itu, aku selalu nyaman menceritakan masalahku kepada Beliau.
"Tok...Tok... Tok!" Suara pintu diketuk.
"Bu Indah, ada yang mencari." Kata salah seorang bawahanku di depan pintu membuyarkan lamunanku.
Pintu ruangan kerjaku memang tidak pernah tertutup. Para karyawan dengan leluasa bisa melihat apa yang sedang aku kerjakan. Kapan aku sibuk dan kapan aku sedang punya waktu luang.
__ADS_1
"Siapa To?"
"Belum kenalan saya Bu, jadi tidak tahu."
"Bisa saja kamu."
"Tapi ganteng loh Bu. Kalau saya cewek pasti sudah naksir."
"Jangan To!"
"Lah, kenapa Bu?"
"Sayakan cewek, biar saya saja yang naksir."
"Ah, Ibu. Bisa juga bercanda. Hehehe..."
"Ya sudah, panggil kemari saja ya To."
"Siap Bu."
Bawahanku yang satu ini memang suka bercanda. Kalau dia tidak masuk kerja, sepi rasanya.
Derap langkah kaki yang berjalan membuatku menunggu karena rasa penasaran dengan suara ketukan pantofel yang beradu dengan lantai.
Segaris lengkung di bibir membuatku tertegun dan mendadak ingin menutup wajahku yang mungkin saja memerah karenanya. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Roy.
"Assalamualaikum bidadariku..."
Anto tersenyum-senyum mendengar salam yang di ucapkan Roy, membuatku makin ingin kabur saja dari sana karena malu.
"To, beresin dulu kerjaanmu." Ujar ku.
"Lah, di usir halus. Pintunya mau sekalian di tutup Bu?"
Duh, Anto di perjelasnya kata-kata ku di depan Roy. Semakin malu rasanya.
"Jangan To, Waliku jauh kalau sampe aku di gerbek disini." Kataku meluruskan.
"Hehehe, bisa saja Bu Indah."
"Udah To, sana beresin kerjaanmu."
"Kopinya Bu?"
Ada saja alasan Anto ingin lebih lama menyaksikan kebersamaan kami.
"Kamu mau kopi Roy?"
"Tidak usah, aku kemari untuk mengajakmu makan siang dan sekalian membahas masa pemeliharaan bangunan." Ujar Roy.
"Kamu dengar To?"
"Siap Bu. Silahkan pacaran..."
Anto langsung kabur setelah berkata demikian.
"Aku suka bawahanmu yang ini." Ujar Roy terkekeh geli.
"Bawahan?" Tanya ku mengulang sambil melihat pakaian bawahan yang aku kenakan.
"Bukan yang itu..." Kata Roy sambil mencubit hidungku pelan.
Bersambung...
__ADS_1