Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 85 Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Bab 85


Pacaran Setelah Menikah


(POV Author)


Malam kian larut, bulan tak menampakkan bias cahayanya, hanya bunyi suara kodok yang bersahut-sahutan memanggil hujan.


Roy dan Indah sudah berbaring di ranjang yang berukuran king size. Duanya belum memejamkan mata hanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya lampu yang temaram.


Tangan Roy bergerak perlahan meraih tangan Indah dan menggenggamnya. Jari-jari mereka saling bertautan mengisi celah kekosongan.


"Apa kamu menyesal menikah denganku Ney?"


"Pernikahan kita belum sampai 24 jam Hon, bagaimana aku bisa bilang menyesal sekarang?"


"Lalu, apa kamu menyesali pernikahanmu yang dulu?"


"Mungkin sudah saatnya aku ceritakan padamu ya Hon. Mantan suamiku selingkuh di ruang dinasnya di Surabaya waktu itu. Pada saat itu usia pernikahan kami baru berjalan hampir dua tahun. Sebulan sekali bahkan pernah tiga bulan sekali ia baru pulang ke Kalimantan menemuiku. Lalu di hari itu, setelah 3 bulan tidak bertemu, aku memutuskan untuk cuti seminggu dan menemuinya di Surabaya. Tapi kenyataan pahit yang aku dapati disana. Dia disana sudah menikah lagi tanpa aku ketahui. Aku tidak terima di duakan hingga aku memutuskan bercerai darinya. Dan kamu tahu, bahkan keluarganya pun tahu dia menikah lagi. Dan katanya, itu semua salahku yang tidak dapat memberikan keturunan. Mereka selama ini hanya memanfaatkanku dan orang tuaku. Aku merasa malu pernah sampai buta mencintainya."


Indah membuang napas berat, seolah-olah ada bongkah batu besar menghimpit dadanya.


Roy mengangkat genggaman tangan mereka dan mengecup lembut punggung tangan istrinya.


Seketika batu di dada Indah mencair, berganti kehangatan yang menjalar di setiap aliran darahnya. Kecupan lembut yang Roy berikan mampu membuat perasaan Indah menjadi tenang.


"Pasti dulu berat ya Ney. Aku janji tidak akan seperti dirinya. Dan aku ingin kamu percaya padaku, meski kedepannya nanti pasti banyak godaan yang datang, tapi hati dan pikiranku hanya untukmu Ney sayang..."


"Hehehe, ucapannya juga dulu begitu Hon."


Roy langsung memiringkan tubuhnya menghadap Indah. Indah pun mengalihkan posisi kepalanya menghadap ke wajah tampan suaminya.


"Astaga pria itu! Bikin rusak lelaki sejati dan bertanggung jawab plus tampan seperti diriku saja. Kamu jangan khawatir Ney, kamu tahu dirumah ini ada macan betina yang super galak? Kamu boleh mengadu pada beliau jika aku berbuat salah."


Bisa-bisanya Uminya di bilang macan galak. Bagaimana bila wanita paruh baya itu sampai tahu. Ngeri yang jelas.


"Aku banyak kekurangannya Hon."


"Cuma status janda doang, tapi itu tidak berarti apa-apa bagiku Ney."


"Kata mereka aku mandul."


"Kamu tidak percaya dirimu sendiri Ney?"


Indah menggeleng.


"Aku percaya Tuhan belum memberi saja Hon."


"Bagus, terus berpikirlah yang positif saja. Dan kita berusaha bersama, tentunya setelah kamu siap."


"Kamu tidak marah?"


"Untuk apa? Bahkan aku sedang menikmati setiap momen bersamamu. Oh ya, kita belum melakukan ini sejak awal, tahu-tahu sudah langsung menikah."


"Apa maksudnya Hon?" Tanya Indah bingung.


"Pacaran yuk!"


Indah terkekeh. Benar-benar suaminya tidak pernah menyerah.

__ADS_1


"Jawab dong Ney..." Ujar Roy lagi.


Indah mengangguk sambil tersenyum. Senyum bahagia dan tulus menerima yang baru kali ini Roy lihat begitu mempesona.


"Duh, gemes... mmuach!"


Tanpa rencana Roy langsung menyambar bibir Indah dan mendaratkan kecupan singkat di sana hingga membuat mata Indah seketika membulat dan tubuhnya menegang. Jantungnya berdetak dengan cepat memompa darah hingga wajahnya memerah.


"Jangan lupa bernapas Ney sayang..."Ujar Roy yang tentunya semakin membuat Indah memerah.


Roy tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih dan lesung pipi yang menawan di pipi kanannya.


"Ah, sebaiknya kita segera tidur, jika tidak aku takut akan menyambarmu malam ini juga." Ujar Roy.


Indah mengangguk. Keduanya pun sama-sama memejamkan mata berusaha untuk tidur. Beberapa saat kemudian dengkuran halus terdengar dari napas Indah yang sudah berhembus dengan teratur. Rupanya Indah benar-benar tertidur sambil bergenggaman tangan dengan suaminya.


Berbeda dengan Indah, Roy mati-matian berusaha untuk tidur. Bukan menidurkan matanya, namun sesuatu di bawah sana yang ternyata bangun dan tidak mau tidur lagi.


Roy terpaksa bangkit dari ranjangnya perlahan, dan menuju kamar mandi untuk bersolo karir. Ia tidak tega membangunkan sang istri yang tampak kelelahan dan juga mengingat janjinya yang tidak akan memaksa sampai Indah benar-benar siap.


Sementara itu di luar kamar.


"Psst... Psst..! Um..?! Umi...?! Psst...!"


Umi menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya.


"Umi ngapain disitu?!" Teriak Teguh dalam mode suara berbisik melihat sang Umi menempelkan telinganya di dinding pintu kamar Roy.


"Sssttt! Sini!!" Perintah Umi agar putranya mendekat.


Teguh pun melangkah pelan-pelan mendekati Uminya.


"Ngapain sih, Umi di depan kamarnya Abang?" Tanya Teguh berbisik.


"Umi nguping? Bilangin Abang loh ya."


"Ishh! Umi bukan mau nguping yang itu!"


"Terus itu apa coba?"


"Umi takut Abangmu menyakiti istrinya."


"Dih Umi, itu kan biasa Mi sakit-sakit enak. Umi kayak gak pernah merasa aja."


"Tahu dari mana kamu?! Kamu sudah pernah mencobanya?!" Kini tatapan Umi berubah galak memandang Teguh yang langsung menciut.


"Dih Umi, Teguh masih ingat dosa Mi."


"Lah terus tahu dari mana?!"


"Mi, hape pintar kan udah canggih Mi. Apalagi aplikasinya yang dj tawarkan pun beragam sesuai kebutuhan."


"Jangan macam-macam kamu ya?!"


"Gak Mi. Teguh mana berani."


"Ehem!!"


Suara deheman barito mengalihkan pandangan Ibu dan anak itu. Keduanya tersenyum nyengir melihat Abi menatap mereka diam tanpa kata.

__ADS_1


"Tidur sana Guh, dah malam." Ujar sang Umi tersenyum manis pada anaknya.


Seketika tubuh Teguh merinding melihat sang Umi sedetik kemudian langsung tersenyum. Teguh tahu Uminya pasti sedang berdrama sekarang. Apalagi Uminya bukan penggemar siaran ikan terbang, tetapi penggemar oppa-oppa yang tidak ingat usia. Umi juga penggemar sinetron Timur Tengah dengan aktor yang memiliki bentuk hidung mancung seperti Abi mereka, bukan aca-aca nehi-nehi yang suka menari-nari dan berlari minta dikejar dan bersembunyi di balik pohon rindang sambil memegang dada yang berdebar.


"Iya Mi. Umi sama Abi juga jangan tidur malam-malam besokkan mau ke toko." Balas Teguh ikut memeriahkan drama Uminya.


Ibu dan anak itu terlihat akur dan penuh perhatian di depan Abi mereka yang masih menatap tanpa bicara.


"Bi, Teguh ke kamar ya?" Pamit Teguh santai walau hatinya menjerit ketakutan.


"Hmm."


Teguh pun segera kabur melangkah dengan cepat.


"Yuk Bi tidur, entar kita kesiangan lagi besok." Ujar sang Umi menggandeng lengan suaminya untuk beranjak ke kamar mereka.


***


Keesokan harinya.


Sesuai yang direncanakan, Indah dan Roy menjenguk Ibu Naima ke Rumah Sakit. Kedua pasutri itu tampak mesra dengan selalu bergandengan tangan kemana-mana. Hingga tiba di ruangan dimana Ibu dari sahabat mereka di rawat.


"Assalamualaikum..." Salam Indah kepada semua yang ada di kamar Itu.


"Waalaikumsalam..." Jawab Fandi, Ibunya dan juga Roy yang mendengarkan.


Hanya ada Fandi yang menjaga Ibunya pagi menjelang siang itu. Indah pun lalu memberikan bingkisan buah segar yang tadi ia beli bersama Roy sebelum menuju ke sana.


"Duduklah..." Ajak Fandi mempersilakan keduanya duduk.


"Ibu bagaimana?" Tanya Indah langsung pada poin pentingnya.


"Alhamdulillah Ibu sudah merasa nyaman. Tapi masih di pantau hingga besok." Jawab Fandi.


"Sukurkah. Tante semoga cepat sehat kembali ya..." Doa tulus dari Roy.


"Aamiin, terima kasih ya Roy." Jawab Ibu Naima.


"Bu, mereka berdua sudah menikah kemarin. Roy menggantikan aku menikahi Indah, karena dia memang mencintainya." Ujar Fandi.


"Lalu kamu gimana?" Tanya sang Ibu kepada putranya.


"Aku tidak apa-apa Bu. Mungkin kami tidak bisa memenuhi permintaan Mira, tapi aku juga tidak bisa menikahi Siska."


"Ibu tidak tahu Adikmu menaruh rasa sebesar itu terhadapmu. Tapi benar katanya, kalian bisa menikah kalian kalian tidak sedarah."


"Maaf Bu, aku tidak bisa. Dia menjebakku dengan memberikan minuman yang mengandung obat tidur dan juga perangsang. Dan dia dengan sengaja masuk tanpa ijin ke kamarku, dan melakukannya walau aku dalam keadaan tidak sadar."


Indah dan Roy hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan Ibu dan anak itu.


"Tidak mungkin Siska seperti itu Fandi..."


"Buktinya ada Bu, dan dia pandai menutupi sifat aslinya. Aku sudah tidak mempercayai dia sebagai Siska yang dulu. Dan ada lagi yang kita tidak ketahui selama ini sengaja sifatnya. Bukan aku yang pertama menyentuhnya Bu. Aku sudah memastikan itu."


"Jadi maksudmu dia terlibat pergaulan bebas?"


"Bisa di lihat dari caranya yang berusaha mendapatku Bu, ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya."


Ibu Naima tampak kecewa mendengar kenyataan tentang putri angkatnya. Padahal ia begitu menyayangi putrinya itu tanpa membedakan kasih sayang dengan anak kandungnya.

__ADS_1


Raut wajah sendu sang Ibu memenuhi wajahnya. Fandi tahu hal ini memang begitu ngecewakan. Tapi dia juga tidak ingin mendiamkan masalah ini karena kelakuan Siska yang mulai salah.


Bersambung...


__ADS_2